JINGGA

JINGGA
170


__ADS_3

“Sekarang Mas mau makan apa?”


Siang yang terik membuat Fajar lebih tertarik untuk makan yang berkuah. Pilihan menu


jatuh pada saur asem dan aneka lalapan ikan. Ia tak memesan  daging dalam makan kali ini. Rasanya aneka pepesan jauh lebih menggoda dari yang lainnya.


“Aku mau ini, ini, ini dan ini” jemarinya lincah menunjuk deretan menu yang ada di buku menu.


“Mas apa banyak sekali”


“Biarlah. Biar bi Minah dan juga Asih bisa merasakan makan yang enak”


Jingga tersenyum mendengar jawaban suaminya. Pria itu semakin hari semakin banyak


berubah pada kebaikan. Hatinya jauh lebih peka dan teringat sesama. Tak berselang lama pesanan makanan mereka telah sampai dan di hidangkan di atas meja. Jingga memilih untuk memanggil Asih dan Bi Minah untuk makan bersama.


“Bi Minah, kira-kira dari sini kita ke mana lagi untuk bisa sampai di rumah oma?” tanya Jingga di sela-sela acara makan siang mereka.


“Seingat saya dulu, setelah makan dari sini. Tuan Bramantyo menuju suatu daerah tempat pembuatan patung-patung dari batu. Nah kawasan rumah nenek Non Jingga tak jauh


dari sana”


“Mas tahu kawasan daerah pembuatan patung-patung dari batu di mana?”


“Aku rasa tempatnya tak jauh diri sini”


“Benar Tuan, dari sini kita mengikuti jalan besar hingga perbatasan kota. Barulah kita masuk di wilayah itu. Kalau tidak salah di bagian depan sana ada petunjuk jalannya, saya masih ingat itu”


“Baiklah, trimakasih ya Bi. Bagaimana makannya sudah selsai semuanya? Apa kita bisa melanjutkan perjalanan kembali?”


Jingga semakin bersemangat untuk bisa sampai di rumah neneknya. Setelah ini akan tahu satu-satunya keluarga yang tersisa di dunia.


Mobil kembali berjalan dengan kecepatan cukup pelan. Membelah teriknya matahari siang di bumi mojopahit. Bi Minah sebagai petunjuk jalan mencoba mengingat-ingat dengan pasti di mana lokasi tempat yang mereka cari saat ini.


“Saya rasa dari jalan besar ini, kita masuk ke kanan Tuan. Nanti akan ada area perasaan dan seperti perkampungan warga”


“Seperti apa Bi? Gambaran rumah Nenekku?”


“Rumah nenek Non Jingga itu dulu terletak di tengah-tengah hamparan sawah yang sangat


luas. Kalau saat ini saya tidak tahu. Sepertinya daerah sekitar sini banyak berubah. Dulu di sepanjang jalan ini tak ada rumah-rumah dan pertokoan. Kawasan ini dulu seperti hutan yang memiliki tumbuhan banyak di setiap sisinya”


Jingga mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia mengikuti setiap arahan Bi Minah


dengan resah. Sepanjang perjalanan ia berdoa, berharap bisa berjumpa dengan neneknya.


“Sampai di sini saya lupa Tuan, harus ke mana?” Bi Minah menggaruk-garuk kepalanya yang


berbalut jilbab instan warna hitam. Matanya mengedar menatap sekeliling area berharap ingatannya lekas kembali.


“Siapa nama beliau Bi? Biar aku coba tanya warga di sekitar sini”


“Nama beliau Bu Kinanti”


Tak Banyak bicara ketika memasuki sebuh desa, Fajar lekas menepikan mobilnya dan menuju salah satu warga yang sedang berkumpul bersama. Ia menanyakan prihal Bu Kinanti.


“Pak permisi, mau tanya. Bapak tau alamat Bu Kinanti?”


“Bu Kinanti? Bu Kinanti yang mana?”


Bi Minah yang menyadari kebingungan Fajar lekas turut turun bersama. Ia menejelaskan prihal wanita yang di carinya.


“Saya rasa di sini tidak ada yang namanya Bu Kinanti dan usianya segitu” terang beberapa orang yang sedang duduk menikmati kpi hitam di depannya.


Deg...


Wajah Jingga mulai sedikit mendung ketika mendengar jawaban dari warga. Fajar yang


menyadari perubahan ekpresi wajah istrinya lekas mengelus lembut lengan Jingga.


“Kita coba bertanya pada yang lain ya? Kamu tenang saja. Kita akan sama-sama mencari


keberadaan nenek kamu”

__ADS_1


Mobil kembali berjalan dengan pelan memasuki area pedesaan yang masih cukup asri tempatnya. Fajar meraih ponsel dalam saku celananya. Ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk turut menyebar mencari keberadaan nenek Jingga.


“Mas coba kita tanya sama ibu-ibu yang ada di sana”


“Baiklah tuan putri mari kita coba”


Mobil kembali menepi, mendekati gerombolan ibu-ibu yang sedang menjahit tas-tas kecil. Sepertinya di wilayah ini juga merupakan sentra pembuatan sovenir. Mengingat dari memasuki area desa sudah di sambutan dengan deretan Ibu-Ibu pekerja pembuatan aneka sovenir.


“Selamat siang bu. Mohn maaf menggangu waktunya. Saya mau tanya apakah di desa ini ada


yang namnya buk Kinanti? Usianya kira-kira tujuh puluh lima tahunan” terang Fajar dengan pelan dan sopan.


“Bu Kinanti yang mana ya mas? Alamatnya di mana?”


“Wah itu saya tidak tahu Bu”


“Kalau fotonya ada? Biar coba saya lihat”


“Kebetulan juga tidak punya Bu”


“Walah Mas, cari orang gak tau yang di maksud yang mana. Bagaimana mau ketemu nantinya”


Untuk pertana kalinya Fajar, kena omel oleh Ibu-ibu yang ada di sana. Bi Minah kembali turun untuk menemani Fajar.


“Bu Kinanti yang dulu punya usaha minuman kemasan itu lo bu. Kalau tidak salah dulu


rumahnya yang mempunyai halaman luas. Ada dua pohon mangga besar di depannya”


“Oh mbah Kinanti itu yang di maksud” Ibu-ibu kompak menjawab dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


“Sayangnya beliau sudah tidak lagi tinggal di sini. Beberapa tahun yang lalu ia pindah”


Wajah Jingga yang baru saja bersemu kembali pias ketika mendengar kabar tersebut.


“Kira-kira ibu tahu kemana pindahnya?”


“Kalau tidak salah, beliau pindah ke dese sebelah. Tempatnya lumayan jauh dari sini tapi masih dapat di jangkau dengan mobil”


“Kira-kira kemana kita harus mencari Bu? Bisa minta tolong di antarkan” ucap Fajar dengan


“Tapi kami sedang bekerja”


“Saya akan membayar untuk itu. Salah satu saja ibu yang ikut dengan saya. Nanti saya antarkan kembali”


Lagi-lagi kekuatan uang dapat dengan mudah, untuk kita bisa meraih sesuatu yang di harapkan. Sekalipun uang bukanlah segalanya, tapi dengan uang segala usaha dapat di lakukan dengan lebih mudah dan efisien. Selagi itu tidak merugikan


orang lain dan lebih ke memberikan manfaat.


Salah satu ibu yang sedang menjahit di sana mulai turut bergabung untuk menaiki mobil


Fajar. Sebuah harapan kembali di genggam Jingga untuk bisa berjumpa keluarganya.


Mobil berjalan dengan pelan, mengingat lokasi wilayah yang terjal dan juga berkerikil.


“Bu apakah masih jauh?” tanya Jingga dengan resah.


“Saya rasa tidak, di bagian depan kita tinggal masuk ke dalam gang. Rumah beliau yang


mempunyai banyak pohon di bagian depannya”


Tak berselang lama, sampailah mereka di rumah yang di tunjukan ibu-ibu tersebut. Tangan Jingga sudah bergetar hebat membayangkan pertemuan dengan satu-satunya keluarga


yang dia punya.


“Assalamualaikum Bu Kinan...”


Tak ada jawaban rumah terlihat sepi.


“Assalamualaikum” Jingga dan yang lainnya kembali bersuara untuk memanggil penghuni di dalam sana.


“Waalaikumsalam” terdengar suara jawaban dari seorang wanita tua yang berada di salam sana.


Jingga menunggu dengan cemas, tangannya mulai gemetaran. Keningnya basah oleh

__ADS_1


keringat. Ia tak sabar untuk berjumpa dengan neneknya.


“Mas aku takut”


“Tenang saja sayang. Semoga apa yang kita cari lekas ketemu” Fajar memeluk pundak istrinya. Ia mencoba untuk memberikan ketenangan di sana. Jemarinya memegang telapak tangan Jingga yang basah dan terasa begitu dingin.


Hal serupa juga di rasa oleh Bi Minah. Ia begitu cemas menunggu anita tua itu keluar dari rumahnya. Pikirannya mencoba untuk mengingat wajah yang puluhan tahun lalu pernah ia jumpai. Ia memandang sekitar area rumah dengan resah.


Ceklek...


Pintu terbuka...


Seorang wanita tua memakai gamis motif bunga warna navi mulai keluar dari balik pintu. Wajahnya teduh, ia sedang memegang al-quran di tangannya sepertinya beliau sedang mengaji. Jilbabnya besar menjuntai menutupi sebagin tubuhnya yang tak bisa berdiri dengan tegak. Matanya memandang lekat pada tamu yang ada di depan pintu.


“Waalaikumsalam” ia kembali menjawab salam dengan berjuta pertanyaan di kepalanya. Ia bahkan belum pernah melihat tamunya ini sebelumnya.


“Bu Kinan, ini ada tamu dari kota” ucap Ibu-ibu yang mengantarkan Jingga. Ia mencoba


untuk memecah keheningan yang tercipta.


Jingga masih terdiam tak bersuara. Matanya sibuk mengamati setiap lekuk dari Bu Kinan


yang konon adalah neneknya. Sejurus kemudian matanya mulai berair. Ia tak sanggup lagi dan lekas berhamburan memeluk wanita tua yang ada di depannya.


Tak banyak bicara yang di ucapkan. Wanita tua itu turut memeluk Jingga dalam kebingungannya. Namun ia berusaha untuk terlihat tenang dengan membalas rengkuhan Jingga. Ia bahkan mengelus punggung Jingga dengan lembut.


“Masyaallah, nak ayu ini siapa? Apa tidak salah orang?” tanyanya ketika Jingga tak kunjung


untuk melepaskan pelukannya.


“Bu Kinan, ini Jingga. Cucu Ibu, putri dari tuan Bramantyo dan Nyonya Ayu” jawab Bi Minah kemudian dengan pelan dan santun.


Deg...


Bu Kinan tak dapat bersuara lagi. Ia lekas memeluk Jingga dengan semakin erat. Tak


ada kata yang terlontar dari mulutnya, ia hanya mampu menitikkan air mata saja. Keduanya


wanita tersebut masih dalam posisi yang sama saling berpelukan dan menumpahkan segala rasa yang ada.


“Jingga”


“Kamu Jingga cucuku. Jingga kecil yang dulu sering aku gendong kemana-mana? Kamu sudah


sebesar ini nak”


Ia menangkup pipi Jingga memandang lekat aja cucunya yang sudah puluhan tahun tak


berjumpa.


“Masyaallah Jingga cucuku” Ia kemabli membawa Jingga dalam rengkuhannya.


“Nenek, nenek maafkan aku yang baru bisa menemukanmu sekarang. Aku tidak tahu tentang


diriku. Hal besar terjadi padaku beberapa tahun yang lalu” ucap Jingga dengan Terbata-bata, ia sungguh kesulitan dalam berucap.


“Ayo masuk-masuk dulu silahkan”


Bu Kinan tak melepaskan pegangan tangannya dengan Jingga, ia membawa sang cucu untuk masuk ke dalam rumahnya. Mempersilahkan yang lainnya untuk turut masuk bersama siang itu.


“Aku masih tak menyangka jika Tuhan akan kembali mempertemukan kita nak. Aku sempat


putus asa untuk itu, aku bahkan sempat merasakan lelah untuk merayu pencipta”


Jingga tak beranjak, ia duduk di sebelah wanita yang ternyata benar neneknya. Wajah mereka


terlihat memiliki kemiripan ketika sedang duduk berdekatan seperti ini. Bi Minah, Asih berikut Fajar turut menyumbangkan sedikit air matanya ketika melihat pertemuan Jingga dengan neneknya.


“Nenek, ternyata aku masih punya nenek. Nenek maafkan aku”


“Tidak ada yang perlu minta maaf, ini bukan salahmu. Ini keadaan yang memisahkan kita


semuanya”

__ADS_1


Pandangan nenek kinan mulai beralih pada beberapa orang yang ada di ruang tamu rumahnya.


“Mereka ini siapa?”


__ADS_2