
“Kau mau kemana?” ucap salah satu anak buah Fajar, ia menarik paksa baju yang di
gunakan Hermawan.
“Sial” umpatnya dalam hati, ia lekas berbalik arah hendak menyerang lawannya namun
sayang kekuatan dan postur tubuh yang tak berimbang membuatnya menciut terlebih dahulu, terlebih tidak ada anak buahnya yang bisa melindunginya kali ini.
“Kau hendak ke mana? Selesaikan dulu masalahmu!” pekiknya pria itu kembali, ia lekas
menarik paksa baju Hermawan dan membawanya untuk melangkah ke tempat yang telah di siapkan. Ia memperlakukan Hermawan dengan sangat kasar, seperti saat pria itu memperlakukan Jingga sebelumnya.
“Kau laki-laki lemah yang hanya bisa berlindung di balik anak buah dan uangmu, sekarang coba tunjukan kekuatanmu jika berhadapan hanya denganku. Tunjukan!”
Hermawan terdiam tak berkutik, rasanya jika mau melawan juga percuma, ia lebih memilih
untuk memutar otaknya dengan segera.
“Kau mau apa? Kau butuh uang bukan? Aku bisa memberiku lebih besar dari yang Fajar
berikan asalkan”
“Asalkan apa?” jawab pria itu dengan cukup lantang.
“Asalkan kau mau melepaskan ku dengan segera. Aku berjanji padamu akan memberikan imbalan
yang fantastis, lebih darti itu. Aku jga akan memberikan mu jabatan yang tinggi di perusahaan milikku. Bagaimana apa kau setuju?”
Pria itu terdiam untuk beberapa saat, ia seakan sedang mempertimbangkan apa yang Hermawan katakan padanya.
“Dasar mata duitan” desis Hermawan dalam hati dan tersenyum miring.
“Bagiamana? Kau ingin hidup dengan mewah bukan?” lagi-lagi Hermawan memperjelas tawarannya.
“Hah, sayangnya aku tak butuh uang haram darimu. Uang yang didapat dari mengambil
alih hak orang lain!”
“Ayo ikut aku!”
Keduanya terlibat aksi saling menyeret satu sama lain, perlu usaha yang lebih besar memang untuk bisa membawa Hermawan kembali masuk ke dalam hotel dan mempertemukannya dengan Fajar. Mengingat tubuh pria itu yang gemuk dan tak bertenaga.
“Tunggu, apa yang kamu lakukan dengan Tuanku?”
“Kau tak lihat bukan? Aku sedang membawanya untuk masuk! Minggir!”
“Hadapi kami dulu!”
Perkelahian kembali terjadi yang melibatkan Hermawan berikut anak buahnya dan anak buah
Fajar. Keduanya saling menyerang dengan jumlah pasukan yang berimbang. Sementara sebagian dari anak buah Hermawan masih menuangkan bensin di beberapa sudut hotel. Ia tak menyadari jika saat ini Hermawan sedang kembali ke dalam
sana. Yang ia tahu Hermawan telah keluar terlebih dahulu.
.
__ADS_1
.
.
“Dahlia ayo cepat kita harus keluar dari tempat ini”
“Ma, tunggu kakiku terasa sangat sakit dan sulit sekali untuk di gerakan”
“Ayo cepat lari, kamu mau masuk penjara atau mati di tangan mereka heh!”
“Tapi Ma, bagaimana bisa. Kakiku terkilir dan ini rasanya sangat sakit sekali”
Dahlia dan Bu Lia masih berada di lantai dua. Keduanya kembali ke sana untuk menyembunyikan Gendhis dari jangkauan Fajar dan Jingga. Namun sialnya saat mereka hendak melangkah untuk menuruni anak tangga. Kaki Dahlia terkilir, ia masih memakai sepatu hak tingga dalam keadaan semacam ini.
Jingga dan juga Asih masih mencari keberadaan Gendhis. Suara tangis bayi itu tidak terdengar lagi, entah apa yang terjadi apakah ia sedang tertidur, pingsan atau sedang merasakan sakit yang mendera tubuhnya. Jingga dan Asih memilih untuk membuka satu persatu kamar yang ada di sana.
Seluruh anak buah Hermawan yang berada di lantai dua sudah terkapar tak berdaya di tangan Fajar dan anak buahnya. Mereka telah menyerah dan mengaku kalah, bahkan mereka semua sudah di giring oleh anak buah Fajar menuju lantai satu hendak di masukan ke dalam mobil box. Biarlah polisi yang akan bertindak setelah ini.
Masih di lantai dua. Fajar dan Reza turun serta mencari keberadaan Gendhis yang tak kunjung di temukan. Tidak hanya di dalam kamar, mereka bahkan mencari Gendhis di dapur hotel dan seluruh ruangan yang ada.
“Kebakaran”
“Kebakaran”
“Kebakaran”
Suara riuh yang berasal dari lantai satu, semua orang berhamburan untuk menyelamatkan diri masing-masing, tak terkecuali anak buah Hermawan dan Fajar. Mereka bahkan lupa jika telah terlibat dalam perkelahian besar beberapa waktu yang lalu. Reflek mereka saling melepaskan dan mencari perlindungan masing-masing. Semua berbondong-bondong untuk keluar dari hotel tersebut,
“Hah, kebakaran? Apa yang terjadi?”
temukan sampai saat ini?”
Jingga menangis sejadi-jadinya di tengah kepiluan yang ada.
“Kamu turun dulu sama Asih. Biar aku yang mencari anak kita”
“Mas bagaimana bisa aku turun, sementara anakku masih belum di temukan keberadaanya.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan putri kita”
Keduanya terlibat perdebatan di lantai dua, sementara di lantai satu api sudah menjalar
kemana-mana.
“Sayang percaya padaku aku akan menemukan Gendhis. Cepat keluar dari sini!” perintah
Fajar dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tapi Mas”
“Jangan banyak bicara, aku harus lekas mencari anak kita”
“Za berpencar segera, kerahkan anak buah yang tersisa di lantai dua untuk menyisir ruangan”
“Baik Tuan”
__ADS_1
Di tengah kepanikan dan kecemasan Fajar, Reza berikut beberapa anak buah yang tersisa sedang panik untuk mencari Gendhis. Asih membawa paksa majikannya untuk turun ke bawah, meskipun di selingi dengan pemberontakan yang di lakukan Jingga.
“Non, tolong jangan mempersulit kerja Tuan Fajar. Kita harus lekas keluar dari sini! Percayalah Tuan Fajar tidak akan diam saja membiarkan anaknya. Aku yakin ia pasti berusaha untuk itu”
“Tapi anakku masih di sana Asih. Bagaimana aku bisa tenang? Gendhis belum di temukan.
Ia terlalu kecil dalam posisi seperti ini”
“Non Jingga, percayalah akan sebuah keajaiban dari yang Maha Berkuasa”
Asih tak peduli dengan jabatannya yang ada sekarang, ia memilih untuk menyeret Jingga. Membawa wanita itu untuk lekas keluar dari sana, sebelum api bertambah berkobar hebat. Dalam benaknya hanya satu, jika ia masih di dalam sana bersama Jingga, hanya akan menambah pekerjaan Fajar dan Reza untuk mengevakuasinya.
“Ma, kenapa ada api?”
“Ma, bagaimana kita bisa keluar jika seperti ini. Kakiku sangat sakit sekali untuk di gerakan Ma”
“Ayolah Dahlia, mama tidak mau mati terpanggang di sini”
Bu Lia mulai panik ketika mendapati korden yang ada di sisi kanan tempatnya berdiri telah terbakar, bahkan beberapa furniture di sampingnya juga sudah mulai terkena rembetan api.
“Ayo Dahlia” ia menyeret paksa sang anak yang saat itu tidak dapat berdiri.
“Ah ma ini sakit sekali”
“Cepat, ayo cepat!” dalam kondisi yang panik, ia berusaha untuk keluar dari sana menyeret tangan sang anak dengan paksa.
Kobaran api semakin membesar, Bu Lia terjebak di bagian belakang. Rupanya kebakaran yang
terjadi di hotel tersebut di mulai dari area bagian penyimpanan yang berada di belakang gedung tersebut.
“Ma tunggu aku!” pekik Dahlia dengan keras ketika menyadari jika sang mama mulai
terlihat jauh dari jangkauannya.
Benar saja, wanita itu memilih untuk berlari meninggalkan Dahlia yang kesulitan
berjalan. Bu Lia memilih berlari dengan cepat di sisa-sisa jalan yang ada. Namun sayang jalaur yang di ambil salah, jalan yang di kira tak ada apinya justru malah terbakar lebih dahulu. Wanita paruh baya itu terjebak dalam lorong koridor yang panas.
Ia memutuskan untuk berbalik arah ke arah Dahlia, namun sayang usahanya sia-sia
ruangan tersebut sudah terkepung oleh api, ia sekan sedang menuju jalan kematiannya sendiri dan meningalkan anaknya.
“Mama”
“Mama” teriak Dahlia di tengah kepulan asap, matanya terasa perih jangkauan pandangannya telah menipis, ia kehilangan jejak sang ibu. Alih-alih mencari jalan keluar, wanita itu malah tertunduk akan ketakutannya melihat kobaran
api yang menyala-nyala.
Di luar hotel, Hermawan sedang tertawa terbahak-bahak, ia sedang membayangkan
Fajar berikut keluarganya terpanggang di dalam sana. Benar, pria itu berhasil lolos dan bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari hotel. Ia turun berlari menyelamatkan diri berama anak buahnya dan anak buah Fajar, ketika baru saja terjadi kebakaran. Mereka lekas berpencar melesat untuk mencari keselamatan.
“Oek..oek..oek...”
Suara tangis bayi mulai terdengar kembali ketika kobaran api sudah sangat besar.
__ADS_1
“Gendhis!”