
“Jangan buat aku menunggu terlalu lama!”
Uang memanglah bukan segala-galanya. Tapi segala butuh uang, dengan banyaknya uang yang dimiliki Fajar, ia tak menampik jika itu snagat berguna terlebih ketika harus menghadapi situasi yang demikian.
Salah satu laden (orang yang bertugas melayani tamu dalam sebuah hajatan), datang menghampiri Jingga. Ia membawa beberapa kue tradisional khas jawa yang di bikin sendiri oleh sang pemilik hajat. Seperti jenang, ketan salak dan juga wajik. Beberapa makanan yang sudah jarang di temui jika tidak ke pasar tradisional.
“Nona, cobalah kue ini. Kue ini di buat dari olahan ketan. Rasanya manis dan gurih yang berkolabrasi menjadi satu. Cobalah, bagi ibu hamil makanan ini sangat baik untuk meningkatkan mood” laden tersebut menyodorkan dua piring besar yang berisi aneka makanan.
“Nyonya, cobalah jajan ini tidak keras. Saya rasa Nyonya akan dapat dengan mudah untuk memakannya” Tawarnya dengan membawa satu piring pada Oma.
Oma mendelik seketika, ia hampir saja murka ketika ada orang yang meragukan kemampuannya untuk sekedar mengunyah makan seperti ini. Sementara Bu Nadin, sekuat tenaga ia menahan tawa. Ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah demi menghindari tatapan mata Oma.
“Kamu kira saya sudah tua? Hingga makan begini saja tak mampu!” seperti biasa Oma, akan mengarahkan tongkat saktinya tepat di hadapan orang yang berhadapan dengannya.
“Ah tidak Nyonya, aku rasa Nyonya tidak terlalu tua. Hanya saja sedikit tidak muda lagi. Lihat saja kerutan di wajah dan tangan Nyonya” Ia mengulum senyum, tak menyadari sedang berhadapan dengan siapa saat ini.
“Kau berani menghinaku!” Oma semakin mengarahkan tongkatnya hingga menempel di leher laden tersebut, kontan membuat ia memundurkan diri beberapa langkah ke belakang.
“Maaf Nyoya, maaf atas segala kelancangan saya. Nyonya tidak tua lihat saja cara berpakain Nyonya dan dandanan Nyonya masih seperti usia tiga puluh tahunan” Ia mengatakan dengan tersendat saat tongkat itu masih belum beralih dari lehernya. Sementara Jingga, ia harus tersedak ketika mendengar ucapan yang tidak semestinya mendeskripsikan diri Nyonya Omanya.
Fajar hanya diam saja, tak kuasa menahan tawa melihat tingkah tiga wanita ajaib yang ada di dekatnya.
“Tuan, gado-gado di sana sudah siap. Sebaiknya kita lekas membawa Non Jingga ke sana saat ini juga” Bisik sopir yang telah memastikan semuanya berjalan dengan baik.
“Ok”
“Sayang, ayo katanya mau makan gado-gado, di sana ada orang hajatan lagi. Semoga saja ada gado-gado di sana” Ucap Fajar, seraya menarik lembut tangan istrinya.
Jingga tersenyum matanya berbinar, ia tak sabar hendak mencicipi gado-gado dengan lelehan saos kacang yang melimpah di atasnya.
.
.
__ADS_1
.
Menempuh perjalana yang tak kurang lebih dari sepuluh menit, sampailah mereka di salah satu hajatan berikutnya. Kali ini kehadiran Fajar dan romongan di sambut sangat baik oleh sang pemilik hajat, megingat mereka sudah tau prihal kedatanganya.
“Silahkan Nona” sapanya dengan mengarahkan untuk masuk ke dalam tenda acara.
“Silahkan Nyonya, Oma dan Tuan” Ia membungkuk saat mempersilahkan untuk masuk ke dalam.
Tak banyak bicara. Jingga lekas mencari keberadaan meja yang di gunakan untuk menyiapkan makanan. Tangannya terulur membuka tutup yang berasal dari kertas koran, maklum hajatan rakyat biasa tidak ada yang istimewa.
Rawon,
Soto.
Bakso.
Gado-gado.
Mata Jingga berair ketika melihat beberapa piring gado-gado sedang berjajar rapi di sana.
“Makanlah sepuasmu sayang” Fajar tersenyum dan mengambilkan sepiring gado-gado untu istrinya.
“Silahkan Nona, silahkan di nikmati makanan seadanya di hajatan kami” Tawar pemilik rumah dengan sangat ramah. Ia tersenyum sumringah terlebih setelah mendapat amplop dari Fajar yang jumlahnya tidaklah sedikit.
“Silahkan di habiskan Non, jika mau saya akan membungkus untuk Non” Tawarnya kembali dengan sopan.
Jingga duduk bergabung dengan beberapa tamu undnagan yang lain, begitu juga dengan Oma dan Bu Nadin mereka duduk menikmati sejumlah makana yang terhidang dengan di temani live musik elekton khas acara rakyat biasa.
Mata Jingga berkaca-kaca, ketika melihat gado-gado dalam pangkuannya. Jemarinya gemeteran hendak memasukan sesuap lontong dalam mulutnya.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Fajar memastikan ketika melihat tingkah aneh pada istrinya.
“Aku....”
__ADS_1
“Aku ...”
“Aku bahagia bisa melihat gado-gado” tangisnya tak dapat di bendung, tumpah begitu saja berderai-derai di pipinya. Sesensitiv itu ibu hamil.
“Sini biar aku supain saja” Tangan Fajar, terulur meraih piring dalam pangkuan Jingga, perlahan jemarinya menyapu lelehan bening yang hinggap di pipinya.
“Makanlah sayang. Apapu yang kamu mau katakan. Aku akan berusaha untuk memberikan yang terbai bagi anak dan istriku”
Laki-laki itu duduk menghadap ke arah istrinya, jemarinya dengan cukup telaten untuk menyuapi suap demi suap gado-gado. Kontan pemandangan tersebut membuat iri kaum hawa yang melihatnya.
Tak terasa hampir dua jam lebih keluarga Dirgantara turut memeriahkan acara khitanan tersebut. Kehadiran Fajar beserta rombongan cukup menyita perhatian warga sekitar, betapa tidak Oma akan memberikan lembaran uang warna merah, bagi siapa saja yang turut bernyanyi bersama malam itu. Oma larut dalam keadaan, ia tenggelam mengingat masa mudanya dulu.
****
“Saya rasa Cakrawala grup, sudah mulai curiga dengan kerja sama yang telah kita tawarkan Tuan. Mereka beberapa kali meminta saya untuk mengirimkan dokument lengkap prihal perusahaan yang ada di Cina”
Reza yang baru pulang dari Malang, harus kembali di hadapkan dengan permasalah naru. Kali ini terkait dengan perusahan yang akan di rilis oleh Fajar.
Fajar terdiam tak menunjukan ekpresi apapun. Hanya saja bibirnya samar-samar membentuk senyum yang sangat tipis. Diam-diam tanpa sepengetahuan Reza, pria itu sudah bergerak cepat. Memindahkan beberapa aset yang ada di sana atas namay Dirgantara Grup.
“Apa rencana Tuan setelah ini?”
Reza kembali membuka suara ketika ia bertanya tak kunjung mendapat jawaban. Sementara hatinya sudah diliputti rasa cemas yang tiada terkira mengingat Cakrrawala gurup terkenal dengan kebringasan dan kelicikan dari pemiliknya.
“Biarlah mereka curiga, aku tidak peduli dan aku tidak takut!” Sorot matanya menatap dengan penuh dendam di sana.
“Baik Tuan”
Reza hendak undur diri meningalkan ruangan atasannya.
“Tunggu!” satu kata yang membuat hati Reza kembali resah, ia takut akan mendapat tugas yang diluar nalar kembali.
“Awas’i pryotek pembangunan pabrik baru kita yang di Cina. Pastikan semua berjalan sesuai dengan rencana awal. Jangan beri celah untuk Cakrawala berbuat curang walau hanya berupa semen satu sak”
__ADS_1
“Satu lagi, perketatan pengawasan di rumah utama. Aku takut mereka akan menyerangku melalui istri dan calon anakku!”
“Baik Tuan”