
mobil milik Jingga terparkir rapi di perkiran hotel bintang lima,ia turun dan berjalan menuju restoran,tempat pertemuanya dengan tuan Ferdi ayahnya Reno
Sampai di retoran ia di sambut oleh pelayan,dan pelayan itu pula yang mengantarkanya pada ruangan dimana tuan Ferdi berada
Di dalam ruangan terlihat tuan Ferdi duduk dengan asisten yang berdiri di sampingnya
Jingga berjalan mendekat,lalu membungkukan badan hormat di depan tuan Ferdi
"silahkan duduk"ucap tegas dari tuan Ferdi
Jingga lalu menarik kursi dan duduk"bagaimana nak Jingga apa kamu sudah memilik jawaban atas tawaran ku kemaren"ucap tuan Ferdi langsung tak ingin bertele tele,karena untuk inilah tujuanya
memang sebenarnya hubungan mereka sudah dekat karena ayahnya Reno dan Jingga berteman,dan mereka sering bertemu hingga tak ada panggilan formal diantara mereka saat tak ada klien lain
"iya om,maaf saya tidak bisa memilih kedua hal dari yang om tawarkan pada saya"jawab Jingga tegas dan tak ada keraguan
Tuan Ferdi tercengang dengan jawaban dari Jingga"itu artinya kau siap kehilangan perusahaan ini"
"iya om,karena saya tak ingin memaksakan hal yang tak mampu lagi saya genggam"
Mendengar jawaban dari Jingga seolah menohok relung hati tuan Ferdi,kata katanya seolah menyindirnya karena tak mampu menerima kenyataan
Namun ia tak perduli dengan itu lagi,karena kekecewaanya pada Jingga menutup hati nuraninya
Ia lalu meminta asistenya menyerahkan berkas berkas yang di bawanya
Jingga menerimanya,dan membacanya sekilas,lalu mwngambil pena yang di sodorkan oleh asisten tuan Ferdi,dan menandatangani berkas tersebut
Lalu setelahnya,ia berpamitan dan melangkah pergi dari restoran bintang lima itu
Ia menyetir mobilnya menuju rumah miliknya,sampai di rumah ia disambut oleh ayahnya
Ia berlari menghambur kedalam pelukan sang ayah,ia menangis sejadi jadinya,kini air mata yang ia tahan dari tadi ia tumpahkan di pelukan sang ayah
rasa sedih dan kecewa yang ia rasakan,karena tak pecus menjaga perusahaan yang di bangun ayahnya dari nol
sang ayah membalas pelukan putrinya,berusaha menenangkan putrinya dengan menepuk punggungnya pelan,mengerti perasaan putrinya saat ini
*flashback
Sore tadi ketika Jingga menerima panggilan telfon
__ADS_1
"hallo"
"hai,"
"kak,maaf kemaren kemaren aku sibuk"ucapnya sedih karena mengabaikan kekasihnya
"iya aku mengerti,karena tak mungkin kekasihku sengaja mengabaikan aku"
Jingga bahagia sekali mendengar kata kata sang kekasih
"kak,,----"Jingga tak meneruskan ucapanya,ragu
"ada apa"balas Awan karena tak mendapati kekasihnya meneruskan ucapanya
Jingga masih diam"katakanlah,aku ada saat kau bahagia dan juga saat sedihmu"ucap Awan tulus
Kini luruh sudah air mata keharuan Jingga,bersyukur memiliki kekasih yang tulus padanya
"kak,jika aku tak memiliki apapun lagi,apa kakak masih akan terus bersamaku????"akhirnya kata kata itu keluar dengan lancar
"apakah masih ada cinta di hatimu untukku????"
"tentu saja kak,aku hanya akan mencintaimu"jawab Jingga yakin
Oh rasanya Jingga ingin melompat karena kegirangan,hatinya seakan di penuhi bunga yang bermekaran
Flashback off
*
Malam telah berlalu,kini pagi kembali menyapa,suara riuh menguasai kantor Wijaya Group,ada yang menangis,marah,kesal,kecewa,dan juga suara suara benda di masukan kedalam kardus,karena pagi itu semua kariawan di pecat secara tidak hormat
Dan orang orang suruhan tuan Ferdi sudah datang guna mengosongkan kantor,selain menarik saham miliknya,tuan Ferdi juga membeli perusahaan itu dan seluruh aset milik Hadi Wijaya,termasuk butik dan Rumah,guna membayar gaji kariawan dan menutup hutang di bank
Dan setelah semua sah menjadi miliknya ia menghancurkan perusahaan itu,meratakan nya dengan tanah
Sebenarnya ia bisa saja mengambil alih kuasa perusahaan namun karena kecewa yang teramat dalam,ia ingin menghancurkan segala yang berhubungan dengan Jingga
Bahkan kini Jingga dan ayahnya pun mengemasi barang barang miliknya dan bersiap pindah ke kontrakan kecil,karena rumah itu juga akan di hancurkan oleh tuan Ferdi
Tak ada ampun dan belas kasih yang tersisa,kini ayahnya Reno tengan menyaksikan vidio kantor Wijaya Group yang sudah mulai di eksekusi,melihat bangunan megah itu hancur tak bersisa tak membuat kobaran di hatinya padam
__ADS_1
Ia lalu melihat rekaman dari kediaman Wijaya,di sana ia melihat alat alat berat sudah berjejer rapi di depan rumah,tinggal menunggu ayah dan anak itu keluar
Jingga keluar membawa dua koper besar yang ia tariik keluar,satu miliknya dan satu lagi milik ayahnya
Hadi wijaya terlihat memegang bingkai foto,itu adalah bingkai foto mereka bertiga,
Dan saat mereka sampai di luar gerbang,alat berat itu mulai mengeksekusi rumah itu
Melihat rumahnya hancur Jingga dan sang ayah berpelukan saling menguatkan,mereka melerai pelukan itu,dan tersenyum berjalan menjauh dari area itu
Dan pemandangan itu tak luput dari penglihata Ferdi ayahnya Reno,yang semakin menyesakkan dada
Karena meski ia sudah menghancurkan kehidupan Jingga,tapi mereka masih mampu tersenyum
Sedangkan ia,ia memiliki segalanya,harta kedudukan,bahkan rencana nya kini berjalan dengan mulus
Bahkan ia juga yang merncanakan penipuan di butik milik Jingga
Ia juga yang meminta para klien dan orang orang yang Jingga kenal untuk tak membantu Jingga,dengan harapan Jingga akan menyetujui keinginannya
Namun apa ini,saat seorang yang telah hancur,dan harusnya menangis tersedu sedu kini masih dapat menghadirkan senyum
Sementara dia jangan kan untuk tersenyum,bahkan merasa senangpun tidak
Justru dadanya makin terasa sesak dan pengap,amarahnya semakin menjadi
Ia kira ia akan puas dan mampu tertawa,tertawa keras di atas kehancuran Jingga
Namun kini nyatanya tak ada yang baik baik saja,hatinya semakin sakit dan sedih
Air matanya justru mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya
Ia tak merasa puas,ia kecewa dengan dirinya yang tak mampu bahagia dan tertawa menyaksikan kehancuran itu
Seharusnya sebagai ayah,ia membantu putranya yang kini tengah tersesat dan kehilangan arah,bukan sibuk melampiaskan amarah dan memelihara dendam
Karena tak selamanya terwujudnya suatu keinginan mampu membuat kita bahagia
namun amarah yang kini membakar jiwanya tak mampu menyadarkan nya,bahwa tawa dan air mata adalah bumbu kehidupan yang nyata,yang akan membuat kita menemukan rasa yang tak terduga
Semua itu justru membuatnya semakin gelap mata,muncul berbagai ide licik hinggap di kepalanya
__ADS_1
Ia keluar dari ruanganya dan bersiap memulai rencana liciknya
Meninggalkan ruangan yang kembali berantakan seperti hari kemaren