JINGGA

JINGGA
125


__ADS_3

Fajar terdiam, ia kembali menatap Dokter Ambar dengan penuh pengharapan.


“Oeeeek....”


Suara tangis bayi memecah keheningan dalam ruang tersebut. Bayi kecil dalam gendongan Fajar menangis dengan kencang. Lebih dari itu, ia menggeliat dan mengeluarkan satu tangannya yang telah terbedong dengan rapi.


“Dokter!” seru Fajar, suara dan tangannya saling bergetar.


“Permisi Tuan, saya harus melakukan tindakan” Dokter Ambar meraih paksa bayi dalam gendongan Fajar.


“Sebaiknya Tuan tunggu di luar dulu” perintahnya kemudian, ia dengan segera memasangkan beberapa alat bantu pada tubuh bayi mungil itu.


“Lakukan apapun yang terbaik untuk keselamatan anak saya!”


Dokter Ambar mengangguk patuh, salah satu perawat lekas menutup ruang bayi dengan segera.


Sementara Fajar, ia keluar dengan wajah yang berbeda. Ia tak menyangka jika Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjadi orang tua. Fajar menatap tangan kosongnya dan tersenyum penuh makna.


“Papa tutut berduka cita ya nak, semoga Allah memberikan kekuatan untukmu dan Jingga. Percayakah di setiap ujian yang ada pasti ada hikmahnya” suara Pak Angga yang tiba-tiba terucap dengan lirih. Beliau dengan sengaja menyusul Fajar, takut jika sang anak tak kuasa menghadapi ini semua.


“Pah, anakku masih hidup pa, dia masih ada” ucap Fajar kemudian, dengan memeluk sang Papa.


“Papa tahu nak, jika kamu sedang sedih. Tapi tolong jangan seperti ini. Kamu harus ikhlas semua pasti akan baik-baik saja. Bantu istrimu untuk bangkit”


“Tida Pa, anakku masih hidup” Fajar menatap wajah sang Papa.


“Sudahlah nak, bukankah setiap yang bernyawa juga pasti akan mati. Papa harap kamu bisa menerima keadaan ini” Pak Angga merengkuh anaknya. Ia menepuk-nepuk pundak Fajar.


“Pa, sungguh aku tidak sedang berkhayal. Aku bicara yang sesungguhnya, jika anakku masih hidup. Ia sedang dalam pengawasan Dokter Ambar saat ini. Tadi aku memeluknya, menciumnya berkali-kali hingga suatu keajaiban membuatnya bisa bergerak kembali” Terang Fajar, mencoba untuk menyakinkan, sementara Pak Angga hanya bisa melongo mendengar penuturan sang anak.


.


.


.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja? Bagaimana rasanya?” Fajar menepuk-nepuk pipi Jingga dengan lembut. Lagi-lagi ia harus melihat sang istri terkapar tak berdaya seperti ini.


“Sayang apakah masih terasa sakit?”


“Sayang” Fajar mengelus lembut telapak tangan Jingga. Wanita itu tak kunjung membuka mata setelah prosedur operasi tadi.


“Sus, apa yang terjadi? Kenapa istri saya tak kunjung membuka matanya?” tanya Fajar pada salah satu perawat yang sedang mengganti infus Jingga.


“Tolong bersabar Tuan. Nyonya Jingga masih dalam pengaruh obat”

__ADS_1


Fajar mengangguk mengerti. Ia sama sekali tak beranjak dari sisi istrinya, jemarinya mengelus lembut mencoba memberikan semangat dan kekuatan.


“Mas” suaranya lirih nyaris tak terdengar, wajahnya masih pucat pasi. Fajar mendongak menatap sang istri.


“Anak kita bagaimana?”


“Anak kita sudah lahir, dia perempuan cantik sama seperti kamu”


“Dimana dia?”


“Dia masih dalam perawatan Dokter. Anak kita sehat sayang, jangan khawatir” Fajar mengelus punggung tangan istrinya, sesekali ia mengecup lembut tangan itu.


“Mas aku mau lihat anakku”


“Dia lahir dalam kondisi prematur sayang, usia kandungan kamu belum genap delapan bulan, jadi saat ini dia masih di dalam inkubator”


“Aku mau melihatnya mas”


“Baiklah” Fajar bangkit dari dudunya, ia mengambil kursi roda yang ada di pojok kamar, membantu memindahkan Jingga dan mendorong untuk melihat sang anak. Mata Jingga mengedar menatap sekeliling, sekelebat rasa cemas tiba-tiba hinggap di hatinya.


“Mas tolong jaga anak kita, aku tak mau jika terjadi hal buruk sama dia”


“Iya sayang tantu saja, itu sudah pasti”


“Mas anak kita” Mata Jingga berkaca-kaca melihat bayi yang berukuran sangat kecil sedang menggeliat di dalam inkubator.


“Mas kasihan, dia sangat kecil sekali” air mata Jingga menetes bagitu saja ketika melihat kondisi sang anak yang memakai banyak sekali alat bantu pernafasan.


“Dia kuat sayang, dia wanita yang hebat. Sama seperti kamu”


“Mas, mau kasih nama siapa?” Jingga mendongak menatap Fajar yang ada di belakangnya.


“Gendhis”


“Aku mau kasih nama dia Gendhis Niema Dirgantara”


“Iya dia akan menjadi wanita yang manis dan kuat serta menguasai segalanya” ucap Fajar kemudian dengan senyum mengambang di wajahnya.


“Bagaimana sayang? Kamu menyukainya?”


Jingga menganggukkan kepala.


Hay Gendhis sapanya pada sang anak yang masih memejamkan mata dengan damai di dalam inkubator.


.

__ADS_1


.


.


.


“Za, tolong periksa seluruh CCTV yang ada di dalam rumah. Pastikan semuanya menyala dengan baik. Periksa juga kandungan yang ada dalam minuman yang ada di gelas Jingga. Aku mau semua peristiwa yang terjadi padaku dan istriku lekas di usut dengan tuntas” Mata Fajar menatap dengan tajam, lagi-lagi ia telah lengah dan membiarkan istrinya hampir meregang nyawa untuk kedua kalinya.


“Baik Tuan”


“Aku menunggu kabar darimu segera”


“Baik Tuan”


Reza pamit, ia lekas pergi menjalankan segala tugas yang di berikan oleh Fajar, sementara Fajar masih menunggu sang istri di rumah sakit. Ia tidak akan meninggalkan Jingga hingga wanita itu benar-benar sehat dengan sempurna.


.


.


.


Kantor Dirgantara.


Pagi yang cerah, hari ini adalah meeting penting bagi semua investor yang yang menanamkan modalnya di pabrik Cina. Pak Angga datang sebagai ganti dari Fajar. Untuk sementara waktu ia mengambil alih segala pekerjaan Fajar yang mengharuskan ia keluar rumah.


Meeting di mulai, suasana terlihat tegang, semua saling berlomba-lomba untuk menampilkan ide dan menunjukan kekuasaannya. Seperi biasah Hermawan juga turut serta dalam meeting tersebut. Ia dengan sengaja memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan Pak Angga.


“Kabar yang aku dengar, menantumu melahirkan? Bagaimana kondisinya?” seperti biasah ia akan bosa-basi pada lawan mainnya.


“Baik” jawab Pak Angga dengan singkat.


“Apakah mereka selamat?” tanyanya kemudian.


Pak Angga lekas menatap Hermawan dengan perasaan yang aneh.


“Maksud kamu?”


“Oh tidak, aku hanya ingin memastikan saja bagaimana kondisi mereka saat ini. Kamu tahu bukan aku ini sudah seperti orang tua kandung Jingga sendiri. Ia seja kecil tinggal bersama kami bukan? Tentu saja aku sangat mengkhawatirkan kondisinya. Bukankah cucumu adalah cucuku juga” ucap Hermawan mengalihkan pembicaraan.


“Mereka baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik. Aku sangat bahagia sekali saat ini. Jadi bolehlah lah sepulang dari meeting ini nanti ku traktir kamu untuk bersenang-senang. Aku ingin membagi kebahagian yang aku miliki saat ini” Pak Angga tersenyum menatap Hermawan.


“Ah tentu saja boleh kalau begitu” Jawabnya dengan tersenyum di wajah, namun kedua jemarinya yang berada di bawah saling meremas tak terima kebahagian yang di raih sahabatnya.


"Bolehlah selepas nanti kita makan, aku mau menjenguk menantumu"

__ADS_1


__ADS_2