
Kini semua rombongan mulai beranjak meningalkan rumah sakit. Bayi Gendhis tertidur dalam dekapan Mamanya. Ia melangkah dengan pelan. Sepanjang berjalan menuju mobil mata Fajar tak bisa lepas dari pandangan istrinya.
“Silahkan sayang. Baik-baik ya di sana” ucap Fajar ketika membukakan pintu mobil untuk istri dan anaknya. Ia mencium sekilas kening Gendhis yang berujung pada tangisan bayi itu.
“Tuh kan jangan di gangguin napa. Kan kasian orang lagi tidur kok ya nak”
Cup..cup..cup...
Jingga menimang anaknya dengan pelan, mencoba memberikan ketenangan pada sang anak.
“Kau berani menggangunya!” mata Oma, menyorot tajam pada Fajar.
“Astaga Oma, aku ini bapaknya” rintih Fajar mencari pembelaan.
“Dan aku nenek buyutnya. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik ketenagan cicitku! Pergi sana!” Oma menutup pintu mobilnya dengan keras. Lagi-lagi Fajar, harus kembali ke mobilnya dengan lesu.
.
.
.
.
Kediaman Dirgantara
Suprise....
Deru suara mesin mobil yang saling beriringan mulai memasuki pekarangan rumah. Bu Nadin, Pak Angga dan segenap jajaran pelayan yang lainnya telah bersiap menanti kehadiran anggota keluarga mereka. Para pelayan secara khusus memakai baju putih yang berkolaborasi dengan warna pink. Mereka berjajar dari pintu masuk halaman hingga sampai di depan pintu masuk ruang tamu. Seluruh pelayan menundukan badannya dengan sopan ketika mobil mulai melewati mereka. Sementara Pak Angga dan Bu Nadin berdiri di depan pintu ruang tamu.
“Selamat datang putri cantik” Ucap Bu Nadin, ketika melihat Jingga mulai turun dari mobilnya dengan menggendong bayi di tangannya . Ia lekas bergegas menghampiri menantunya meraih bayi mungil yang ada dalam dekapan sang Mama.
“Masyaallah kamu cantik sekali nak” Pujinya Bu Nadin ketika melihat bayi merah itu menggeliat dalam dekapannya.
__ADS_1
“Bawa masuk, ini sudah surub (waktu menjelang magrib) tidak baik anak bayi berada di luar rumah, nanti sawanen” ucap Oma dengan menggiring Bu Nadin beserta Jingga masuk ke dalam rumah.
Surprise
“Semoga kamu senang nak” Pak Angga melihat Jingga dan Fajar secara bergantian.
“Maya Allah, saya terharu bisa berada di tengah-tengah keluarga ini. Semuanya baik sekali pada saya” Seperti biasah Jingga akan meneteskan sedikit air matanya ketika di perlakukan istimewa oleh keluarga Fajar.
“Sudah, sudah jangan menangis. Makanlah kalian pasti sudah lapar. Anggap saja ini adalah syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Gendhis”
“Pa, bantu pimpin do’anya. Kasian para pelayan pasti sudah lapar” perintah Bu Nadin, dia enggan untuk turut makan bersama. Ia lebih tertarik untuk melihat cucunya.
“Fajar saja yang memimpin do’anya. Dia kan bapaknya” terang Pak Angga.
“Tapi Papa lebih tua, aku rasa Papa lebih pantas untuk memimpin do’anya”
“Tidak-tidak, kamu saja. Berikan sedikit sambutan pada mereka” Pak Angga mendorong tubuh Fajar untuk berada di tengah lingkaran para pelayan malam itu.
“Baiklah”
Berdo’a di mulai....
Berdoa selesai.
“Mari silahkan di nikmati semua hidangan yang ada di sini. Makanlah sepuas kalian, nikmati malam ini dengan santai” ucap Fajar sebagai penutup.
Malam itu di kediaman keluarga Dirgantara sedang mengelar suka cita. Mereka membaur bersama pelayan-pelayan dan pekerja lainnya yang ada dalam rumah. Membaur menjadi satu, memperlakukan mereka layaknya tamu yang agung untuk menikmati acara tasyakuran kecil-kecilan. Terlihat pancaran wajah bahagia yang menghiasi malam itu.
Para pelayan di perkenankan untuk menikmati setiap hidangan yang ada tanpa terkecuali dan tanpa membedakan satu sama lain. Semuanya benar-benar melebur menjadi satu layaknya sebuah keluarga.
“Jingga, makanlah yang banyak nak, pilih semua menu yang kamu suka. Kamu harus makan makanan yang bergizi, biar Asimu mengalir deras” ucap Bu Nadin ketika melihat Jingga tampak kebingungan memilih menu yang ada di hadapannya.
“Sudah kamu makan saja, biar Gendhis Mama yang gendong”
__ADS_1
“Fajar perhatikan istrimu makannya. Pastikan dia makan dalam kondisi yang cukup. Ambilkan buah juga untuknya” perintah Bu Nadin kemudian dengan melirik Fajar yang sedang asyik menikmati hidangannya sendiri.
Malam kian larut, namun acara tasyakuran kecil-kecilan enggan untuk berakhir. Fajar dan Pak Angga turut duduk bersama dengan beberapa pelayan pria lainnya. Mereka sedang bermain kartu bersama. Malam itu hampir tidak ada sekat di antara majikan dan pelayan, semua merayakan dengan bahagia.
“Nyonya makanlah dulu. Biar Gendhis saya yang gendong” Tawar Susi pelayan setia Jingga.
“Tidak, aku tidak lapar. Biar aku saja yang mengendong cucuku” terlalu bahagia membuat Bu Nadin enggan untuk berjarak dengan cucunya. Pak Angga yang mendengar jawaban itu lekas bangkit dari tempat duduknya. Ia meraih satu piring nasi, mengisinya dengan beberapa menu makanan yang tersedia. Pak Angga duduk di hadapan Bu Nadin menyuapi sendok demi sendok untuk istrinya.
“Pah, kalau begini aku berasa muda lagi. Aku merasa kita sedang mengendong Fajar”
Pak Angga tersenyum keduanya larut dalam kenangan masa muda saat baru pertama kali memiliki anak dulu.
****
Hiks...hiks...hiks....
Suara tangisan menggema mengisi seluruh ruangan ruang tamu yang di dominasi warna putih.
“Ampun Pah, ampuni aku. Aku memang bersalah telah pergi begitu saja tanpa kabar dan tanpa pamit”
Suara seorang wanita sedang terisak-isak. Ia bersimpuh memegang kaki sang Ayah, mengharap sebuah pengampunan di sana. Di dalam ruang yang yang luas bertabur lampu krisatal ia menangis. Menangisi takdir yang telah ia pilih sebelumnya.
Diam.
Laki-laki paruh baya itu diam seribu bahasa, Ia masih berdiri dengan kakinya yang kokoh tak bergeming, tak menatap raut wajah sang anak sedikitpun.
“Mama...Mama....”
“Ma maafkan aku, aku salah telah mempermalukan keluarga kita. Ma maafkan aku” ucapnya dengan menggeser duduknya. Ia masih dalam posisi yang sama berjongkok untuk berpindah di sisi kaki sang Mama.
Wanita paruh baya yang duduk di sofa warna abu itu hanya diam saja. Ia bingung harus berbuat apa. Ingin rasanya memeluk sang putri merengkuhnya dalam dekapannya. Namun ia tak punya nyali ketika melihat pria yang ada di sebelahnya.
“Ma maafkan aku” lagi-lagi perempuan itu bersimpuh. Ia berkali-kali mencium kaki sang Mama sebagai wujud rasa penyesalan atas perbuatan yang telah ia lakukan.
__ADS_1
“Kamu pikir dengan kamu meminta maaf semua akan kembali seperi sedia kala?” suara dingin yang sedikit bergetar mulai mencuri anastesi yang lainnya.
Tangis wanita itu kembali pecah sejadi-jadinya.