
Reflek Jingga mengalihkan pandangannya menuju pitu masuk kamar, ia setengah berlari untuk lekas membuka pintu tersebut.
“Nak, hati-hati lukamu belum sepenuhnya kering!” teriak Bu Nadin yang cemas ketika melihat Jingga berlari menuju sumber suara.
Hah...hah...hah....
Fajar mengatur nafasnya, tubuhnya setengah membungkuk dengan keringat yang mulai membasahi dahinya. Ia berlari dari taman rumah lantai satu menuju lantai dua ke kamar anaknya.
“Mas, ada apa? Tenanglah” Jingga pun turut panik melihat keadaan sang suami, dalam benaknya sudah terbayang hal-hal buruk yang menimpa Gendhis.
“Sayang, Gendhis sudah di perbolehkan untuk pulang. Nanti sore kita di perkenankan untuk menjemputnya” jawabnya dengan nafas yang masih terengah-engah. Terlalu bahagia membuatnya bertindak di luar nalar yang justru membuat semua isi rumah panik dengan tindakannya.
Jingga masih melongo menatap sang suami, ia tak mengucapkan sepatah katapun.
“Kamu tidak suka anak kita sudah boleh pulang?”
Jingga masih diam di tempat memperhatikan Fajar.
“Sayang anak kita sudah di perbolehkan pulang, bersiaplah nanti sore ita akan menjemput dia” ucap Fajar kembali, dengan tangan yang melambai-lambai di hadapan wajah Jingga.
“Lain kali kalau mau kasih berita yang tenang, terlebih ini berita gembira. Jangan teriak-teriak seperti orang yang kesurupan seperti itu. Sudah tau kondisi anaknya baru dalam tahap observasi. Bukannya menenangkan malah bikin spot jantung saja. Asal kamu tahu teriakan kamu yang baru saja itu membuat jantung Oma harus bekerja lebih keras dari biasanya!” ucap Oma dengan mengarahkan tongkatnya di hadapan wajah Fajar, Tongkat tersebut tepat di arahkan di bagian wajahnya hingga kerap kali membuat Fajar harus melangkah mundur ketika berhadapan dengan Oma.
“Beneran Mas, anak kita sudah boleh pulang?”
“Iya sayang. Kamu siap-siap dulu ya, nanti selepas asar kita jemput Gendhis bersama-sama”
Tak ingin mengambil resiko yang berarti. Kabar kepulangan Gendhis terdengar oleh sang kakek Pak Angga. Beliau secara khusus membentuk tim untuk menjaga keselamatan Gendhis beserta keluarga yang lain dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Ia membawa dua buah mobil pengawalan, satu di bagian depan dan satu lagi di bagian belakang mobil yang di kendarai keluarga. Pak Angga tidak mengizinkan untuk Fajar dan Jingga berada dalam satu mobil yang sama. Mereka berada dalam mobil yang terpisah hanya saja saling beriringan satu sama lain.
__ADS_1
Tak ada persiapan khusus yang di siapkan Bu Nadin sore itu. Sesuai dengan permintaan Jingga yang tak menginginkan adanya pesta untuk penyambutan cucu mereka. Bu Nadin hanya memasak nasi tumpeng kuning lengkap dengan segala pelengkapnya. Ia juga menyuruh pelayan untuk membuat aneka bubur. Seperti bubur merah, bubur menir dan bubur sengkolo selayaknya tasyakuran bayi pada umumnya. Hanya saja mereka memasak dalam kapasitas kecil.
Kepulangan Gendhis akan di sambut dengan tasyakuran kecil-kecilan. Bu Nadin hanya mengadakan makan bersama dengan seluruh penghuni rumah, pelayan, penjaga keamanan, tukang bersih-bersih dan beberapa pengawal lainnya.
Oma turut serta ke rumah sakit untuk menjemput sang cicit. Semua persiapan kecil-kecilan di rumah di handle oleh Bu Nadin. Sebagian tugas pelayan telah di bagi. Ada yang bertugas untuk memasak ada pula yang bertugas untuk bersih-bersih. Dari sebelum keberangkatan Jingga dan Fajar tadi, pelayan sudah di sibukkan dengan bersih-bersih seluruh isi rumah tanpa terkecuali halaman yang ada di sisi kanan dan kiri, depan maupun belakang.
Bu Nadin ingin memastikan tempat tinggal baru untuk sang cucu benar-benar bersih dan steril dari kuman penyakit.
“Makanannya kalau sudah siap taruh di bagian sana” Bu Nadin menunjuk arah ruang makan. Dalam ruang makan yang berukuran sangat luas. Terdapat meja yang berukuran sangat besar di sana. Deretan kursi berjajar. Ruang makan yang biasanya di gunakan untuk makan keluarga di dekor sedikit berbeda. Ia menambahkan beberapa balon-balon kecil dan hiasan kertas di bagian temboknya.
Ruang makan ini terhubung langsung dengan kolam renang pribadi. Hanya ada pembatas berupa pintu kaca berukuran sangat besar di sana. Pintu dapat di buka maupun di tutup sesuai dengan kebutuhan yang ada. Sore itu Bu Nadin menginstruksi untuk membuka pintu pembatas kolam dan ruang makan. Ia juga menambahkan beberapa meja kecil berbentuk bulat lengkap dengan kursinya di bagian halaman tepi kolam. Sengaja memang sebagai tempat para pelayan untuk makan bersama nanti.
“Nyonya, apa kita juga membuat ikan bakar malam ini?” tanya salah satu pelayan senior yang berlari kecil dari arah dapur menghampirinya.
“Hem, aku rasa iya. Ibu yang baru melahirkan butuh banyak protein yang baik untuk kelancaran ASInya”
“Kalau begitu ikan apa Nyonya? Biar saya bisa lekas siapkan”
“Oh ya satu lagi. Jangan masak terlalu pedas. Buatlah sambal yang terpisah saja nantinya. Aku tidak mau menantu dan cucuku sakit perut karena makan pedas”
“Baik Nyonya” dengan sangat santun pelayan itu membungkukkan badannya dan beranjak menuju ke dapur untuk mempersiapkan segala yang di minta majikannya. Dalam rumah utama Pak Angga, terdapat kulkas freezer yang berukuran sangat besar sekai. Berbagai macam ikan dan daging ada di sana. Lemari pendingin itu sengaja di siapkan khusus agar mampu menampung dalam jumlah sangat banyak.
Lebih dari itu, di bagian sisi kanan rumah terdapat satu ruang seperti swalayan kecil. Di sana terdapat berbagai jenis kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan untuk memasak. Para pelayan dapat mengambil apa saja yang di butuhkan untuk memasak setiap waktu. Swalayan buka dalam waktu dua puluh empat jam, terdapat para penjaga yang saling bergantian untuk menjaganya. Para pelayan juga di perkenankan untuk mengambil segala kebutuhan mereka di sana. Seperti sabun mandi, shampo dan aneka camilan kecil.
Satu jam berlalu, dengan kekuatan super dari banyaknya pelayan semua hidangan sudah tersedia dan tertata rapi di atas meja.
“Bagiamana apa ada yang masih kurang?” Bu Nadin, berkeliling di sekitar area ruang makan dan kolam. Matanya memindai satu persatu hidangan yang ada di sana.
“Jamu Nyonya” Jawab salah satu pelayan yang kebetulan berdiri tepat di bagian sisi kanan Bu Nadin.
__ADS_1
“Jamu?”
“Iya Nyonya, Oma berkata jika beliau akan menyiapkan sendiri jamu untuk Non Jingga. Kami tidak tahu letaknya di mana?”
“Hah, sudahlah biarlah nanti Oma yang menyiapkan sendiri” Kini Bu Nadin beranjak meningalkan ruang makan ia lekas bersiap untuk mandi dan menyambut kedatangan keluarga barunya.
****
Rumah Sakit
Mobil Fajar dan juga rombongan sudah mulai memasuki halaman rumah sakit. Fajar turun terlebih dahulu, mengingat ia berada dalam barisan mobil terdepan saat itu. Perlahan ia turun dan berjalan menuju mobil yang ada di belakangnya. Dengan perlahan ia mulai membukakan pintu mobil untuk Oma dan Jingga. Ia sengaja ingin melakukannya sendiri tanpa bantuan para pengawal yang ada di mobil itu.
“Sayang, pelan-pelan” tangannya menyambut Jingga yang hendak turun dari mobil.
Jingga tersenyum menatap sang suami. Ia benar-benar di perlakukan seperti ratu saat ini. Ia lekas menggandeng istrinya membantunya untuk berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
“Heh anak muda!. Mentang-mentang sudah punya istri terus Oma di biarkan turun sendiri?” suara Oma melengking, keluar begit saja dari mulutnya yang pedas. Ia melambai-lambaikan tongkatnya hingga terlihat di luar mobil. Sebenarnya Oma bisa saja meminta pelayan lainnya untuk membukakan pintu mobil, hanya saja ia menginginkan sang cucu yang melakukannya.
“Astaga Oma” Fajar kembali memutar langkahnya untuk menuju sang Oma.
“Silahkan, Ibu suri yang terhormat” Fajar membungkukan badannya, ia mulai mengarahkan tangannya untuk membantu Oma turun dari mobil yang di kendarainya. Jingga tak kuasa menahan tawa, ia tertawa geli melihat tingkah Oma yang haus perhatian Fajar.
Rombongan mulai berjalan menuju tempat bayi Gendhis berada. Sebagian dari mereka bertugas untuk tetap berada di luar rumah sakit mengawasi keadaan yang ada. Memastikan semua aman-aman saja.
“Dokter, bagaimana keadaan anak kami?” tanya Fajar, membuka percakapan saat berada di ruang bayi bersama Dokter Ambar.
“Bayi anda cukup sehat, bahkan di luar prediksi kami. Kami menjadwalkan kepulangan Gendhis minggu depan. Tapi ternyata bayi Tuan menunjukan perkembangan yang luar biasa pesatnya. Semua jaringan tubuhnya sudah berfungsi selayaknya bayi cukup umur. Jadi kami memutuskan untuk mengizinkan Tuan dan Nyonya membawanya pulang”
Dokter Ambar mulai mengeluarkan Gendhis dari inkubator. Dengan cukup pelan ia mulai menyerahkan Gendhis di gendongan Jingga.
__ADS_1
“Berat badan bayi masih kurang dan dalam tahap pemantauan Tuan, saya sarankan untuk tetap rutin kontrol ke rumah sakit sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan”
Jingga dan Fajar mengangguk patuh.