JINGGA

JINGGA
136


__ADS_3

Satu minggu sudah kepulangan Dahlia dari rumah sakit. Wanita itu tampak terlihat lebih lebih sehat. Bahkan tubuhnya jauh lebih berisi jika di bandingkan beberapa waktu yang lalu. Dahlia memang menggila, semenjak Pak Hermawan memaafkannya dan menerima kembali kehadirannya, ia seakan lupa diri dengan tubuhnya. Dahlia makan dalam jumlah yang cukup besar, bahkan terkesan rakus. Tak jarang beberapa dari pelayan banyak yang menggelengkan kepala mereka merasa heran.


Pagi itu, keluarga Hermawan sedang sarapan bersama. Seperti biasah Pak Hermawan akan duduk di kursi kebesarannya. Ia mulai memasukan suap demi suap nasi ke dalam mulutnya dengan pelan. Menikmati setiap butir nasi yang masuk dalam kerongkongannya.


Pemandangan berbeda terlihat dari piring yang ada di hadapan Dahlia. Wanita itu, mengambil seluruh menu yang ada di meja makan tanpa kecuali. Ia memasukan ke dalam mulutnya dengan cukup cepat tanpa melihat ke bagian sisi kanan dan kiri. Tak ada ritual doa sebelum acara sarapan di mulai.


“Dahlia, pelan-pelan nak. Nanti kamu bisa tersedak” instruksi Bu Lia, yang merasa kasihan melihat anaknya. Dalam benaknya berfikir, sungguh malang nasib sang anak, hingga merasakan makan yang enak saja harus serakus itu.


Pak Hermawan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia menghentikan sejenak aktivitas mengunyahnya. Pandangan matanya tertuju pada sang putri.


“Dahlia, jangan seperti itu. Perbaiki pola makan mu. Jaga tubuhmu agar terlihat lebih indah. Bukankah kau menginginkan Fajar kembali padamu. Lantas jika semua yang ada di hadapanmu masuk dalam perut. Bagaimana bisa tubuhmu lekas kembali seperti sedia kala?”


Uhuk..uhuk...


Dahlia, tersedak. Nasi dalam kerongkongannya terasa ingin keluar saat itu juga ketika mendengar penuturan sang Papa.


“Minumlah” Bu Lia, segera memberikan segelas air putih pada anaknya. Dahlia sontak menegak seluruh air putih dalam gelas tersebut hingga habis tak bersisa.


Lagi-lagi Pak Hermawan harus menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Apa rencana Papa, setelah ini?” Tanya Bu Lia. Mencoba untuk kembali menetralkan suasana sarapan pagi itu.


Pak Angga diam sejenak. Ia tampak berfikir keras saat itu. Tangannya berada di bagian dada menangkup selayaknya orang yang sedang berdoa. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata. Sejurus kemudian ia berbicara dengan pelan.


“Aku pikir kamu harus membawa Dahlia ke salon. Lakukan perawatan kecantikan menyeluruh tubuh untuknya hari ini. Belikan baju-baju keluaran terbaru yang banyak. Aku ingin Dahlia, dalam waktu dekat ini bergabung di kantor”


Dahlia tersenyum penuh harap.


Mendengar ucapan Pak Hermawan, seakan memberikan angin segar untuknya. Ia bahagia tiada terkira. Inilah moment yang telah lama di tunggunya sejak dulu. Bisa bekerja dan bergabung di perusahaan sang Papa.


Dahulu Pak Hermawan tidak pernah memberikan kesempatan pada Dahlia untuk bisa bekerja di kantor miliknya. Ia tak ingin putri cantiknya kelelahan yang berarti ketika harus memikirkan segala tugas dan beban yang ada di kantor. Ia membiarkan Dahlia, hidup dalam kesenangan tanpa tanggung jawab yang berarti. Menghambur-hamburkan uang adalah bagian dari hidupnya yang sudah melekat bahkan mendarah daging.


Dahulu Pak Hermawan, berfikir jika Fajar adalah menantunya. Sosok laki-laki tangguh yang bertanggung jawab. Ia berharap Cakrawala dan Dirgantara bergabung membentuk suatu kekuataan yang besar di bawah tangannya. Lantas menjadikan Fajar, sebagai tangan kanannya kelak untuk meneruskan perusahaan. Tentunya dengan mendampingi Dahlia di sisinya.

__ADS_1


“Hah! Sungguh Pa. Papa akan mengirimiku ke salon setelah ini” Dahlia memilih untuk menghentikan aktivitas mengunyahnya dengan segera. Ia bahkan meletakan sendok dan garpu tempat di sisi kanan piringnya.


Pak Hermawan mengangguk.


“Bersiaplah. Mama ajak putrimu berhias”


Tentu saja ucapan Pak Hermawan di sambut hangat oleh Bu Lia, wanita mana yang tak bahagia ketika di suruh berbelanja dan ke salon. Terlebih suaminya memberikan fasilitas kartu yang tak berlimit.


.


.


.


Dua wanita yang gila kecantikan dan barang-barang branded sedang melancarkan aksinya. Pagi itu, selepas keberangkatan Pak Hermawan ke kantor, Dahlia dan Bu Lia segera melancarkan aksi mereka. Keduanya berangkat dengan di antarakan sopir menuju salah satu klinik kecantikan terbesar dan terbaik di Suaranya. Keduanya saling bergandengan tangan saat memasuki area klinik kecantikan.


“Hah, Ma aku senang sekali. Rasanya sudah lama sekali tidak melakukan perawatan di sini. Lihatlah Ma, bahkan tanganku terasa sudah bersisik seperti ular” Dahlia memperlihatkan tangannya yang terlihat kering dan kasar.


“Hah, kamu jadi wanita bodoh sih. Coba punya otak tuh di pakai sedikit untuk berfikir” cibir Bu Lia dengan kesal.


“Makan tuh cinta, yang ada sekarang hidupmu menderita bukan? Hah dasar anak bodoh. Tinggal menurut semua kata orang tua sudah jadi Nyonya besar kamu sekarang!”


“Mama” rengeknya kembali.


“Apa? Jangan menjatuhkan harga diri Mama lagi. Percantik dirimu. Sungguh sangat memalukan jika kamu harus kalah degan wanita budak itu”


Jlep.


Kata-kata Bu Lia kembali membuat hati Dahlia memanas. Wanita itu terasa tertampar dengan keadaan yang ada. Bu Lia menyadarkan jika saat ini posisinya kalah dengan Jingga.


“Ada yang bisa saya bantu Bu?”


“Berikan perawatan terbaik untuk kami berdua. Ingat perawatan yang terbaik dan termahal” Wanita itu melepas kacamata hitam yang bartender di atas hidungnya. Ia meletakkan tas mahalnya di depan meja resepsionis, sengaja sedikit menggeser tangan resepsionis agar perhatiannya tertuju pada tas keluaran terbaru yang ada dalam tangannya.

__ADS_1


“Baik Bu, silahkan di tunggu dulu” jawab resepsionis klinik dengan sangat sopan.


“Hah menunggu! Beraninya kalian menyuruh kami menunggu!. Aku mau sekarang, segera persiapkan perawatan untuk kami. Aku akan membayar mahal” ucapnya dengan sombong.


“Baik Bu”


“Heh, ulangi lagi?”


“Baik Bu”


“Beraninya kamu manggil saya Bu. Panggil Nyonya, saya ini pemilik Cakrawala grup. Perusahan minuman kemasan tersebar di Surabaya” Bu Lia mengibaskan tangannya. Ia membuka kipas kecil yang ada dalam tasnya.


“Baik Nyonya”


.


.


.


Kediaman Dirgantara.


Masih dalam bentangan langit biru yang sama. Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Jika di kediaman Hermawan sedang bersuka cita maka tidak dengan Fajar. Pria itu duduk termenung di balkon kamarnya. Matanya menatap ke segala arah tanpa tujuan, seakan sedang ak fokus dengan apa yang di lihatnya. Berkali-kali ia menghela nafas panjang. Dan menghembuskan dengan dalam.


“Mas, ada apa?” tanya Jingga, yang menyadari perubahan suaminya sejak semalam. Pria itu cenderung lebih banyak diam. Biasanya dia akan cerewet di pagi hari. Walau hanya sekedar untuk menggoda anak dan istrinya.


Jingga datang mendekat. Saat itu, ia sedang mempersiapkan baju ganti Fajar dan beberapa perlengkapan kantor lainnya.


Fajar menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia mencoba untuk tersenyum meski Jingga, tahu senyum itu dalam paksaan.


“Mas ada apa? Cerita?”


Wanita itu mendekat pada sang suami. Membawakan secangkir kopi dan meletakkan di atas meja kecil yang ada di balkon kamar mereka.

__ADS_1


Fajar masih terdiam untuk sesaat, pandangan matanya berubah ke bawah seakan sedang melihat isi kopi dalam cangkir tersebut.


__ADS_2