JINGGA

JINGGA
146


__ADS_3

“Iya rencananya mau bikin surprise, eh gak taunya malah aku yang di bikin terkejut. Emang gitu ya mas kelakuannya kalau kerja? Luar biasah sekali, baru beberapa hari lo aku lahiran, sudah ada gitu yang nempel-nempel” ucap Jingga kemudian, akhirnya wanita itu mulai membuka suaranya, melayangkan aksi protes dan marahnya pada sang suami.


“Sayang, kamu jangan salah paham dulu kenapa. Jangan seperti itu juga lihatin akunya. Aku merasa seperti sedang tertangkap satpol PP. Sungguh yang aku tidak ada maksud yang lainnya. Aku hanya membantu mengeluarkan binatang itu dari matanya. Kamu masih marah sayang?”


“Kenapa gak di congkel saja matanya, sekalian biar keluar binatang dan bendanya” ujar Jingga dengan kesal.


Waduh sadis bener istriku kalau lagi ngambek seperti ini.


“Menurut kamu, aku di rumah ngapain? Aku menunggumu mas. Aku menunggu setiap kepulangan kamu. Aku yang terkurung bersama anak kita di sini tidak pernah kemana-mana. Sementara kamu di sana berduaan dengan wanita lain. Pake acara mepet-mepet segala!. Aku yang di rumah khawatir, suamiku belum sempat sarapan tadi. Eh yang di sana ternyata!”


“Sayang sungguh kamu sedang salah paham. Bukankah sudah ku jelaskan tadi jika semua ini terjadi tanpa sengaja. Aku hanya membantu sebagai sesama manusia. Sudah tidak ada yang lebih dari itu”


“Kamu tahu Mas Dahlia itu siapa? “


“Dahlia hanya sebatas rekan kerjaku”


“Rekan kerja? Rekan kerja yang bisa dekat-dekatan seperti itu? Luar biasah”


Waduh kalau lagi cemburu tiada terkira kata-katanya.


“Kamu tuh sudah buat aku kecewa mas. Tau gitu aku tidak usah datang ke sana”Jingga masih berusaha untuk mengontrol hatinya, namun entah mengapa rentetan kalimat keluar begitu saja dari mulutnya. Ia benar-benar merasa sangat dongkol hatinya.


Fajar memilih untuk meraih tubuh Jingga dan kembali memeluknya dengan erat. Lebih erat bahkan dari yang tadi. Hingga membuat Gendhis turut meronta mendorong wajahnya untuk menjauh.


“Lihat anakmu saya turut protes tak terima”


“Sudahlah sayang ngambeknya.Sekarang kamu ganti baju dulu. Kita jalan-jalan malam. Kamu sudah lama bukan tidak pernah lagi lihat lampu-lampu jalanan ketika malam. Sini biar Gendhis sama aku, kamu siap-siap dulu” Fajar mengambil alih Gendhis dan menimang-nimang anaknya.


“Mau kemana emangnya?” jawab Jingga masih dalam mode ketusnya.


“Ada aja yang pasti bisa membuatmu bahagia”


Sebenarnya Jingga tidak benar-benar marah, ia hanya begitu cemburu dan takut kehilangan suaminya. Itu sebabnya ia bertindak di luar kebiasaannya selama ini.


“Gendhis di titipkan sama Mama saja ya, aku takut jia nanti dia masuk angin kalau pulangnya malam-malam. Kasihan kulitnya masih sangat sensitif”


“Tapi lebih kasihan lagi Mama harus menjaga Gendhis”


“Sudahlah, bukankah di rumah juga banyak orang. Mari kita nikmati malam ini berdua, sebagai ungkapan penebusan rasa bersalahku padamu sayang”

__ADS_1


“Terserah deh mas, aku manut saja”


“Aku suka istri yang penurut” ucap Fajar kemudian. Ia meraih tangan Jingga dan mengecupnya dengan pelan.


Sesuai dengan rencana berangkatlah mereka hanya berdua tanpa membawa Gendhis. Fajar mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir atau pelayan yang lainnya. Ia benar-benar ingin menikmati malam ini hanya berdua dengan istrinya.


Jingga duduk di sebelah kemudi. Matanya menatap binar-binar lampu jalanan. Bibirnya sedikit terangkat ke atas, membentuk lengkung. Suasana hatinya mulai membaik, terlebih sepanjang perjalanan Fajar, memutarkan deretan lagi-lagu romantis untuk mereka berdua.


“Kamu suka sayang?” Tangan Fajar menggenggam telapak istrinya, sementara satu tangan lainnya masih fokus dalam kemudinya.


Jingga menganggukkan kepala sebagai respon atas jawabannya.


“Kamu ingin makan apa?” tanyanya kembali ketika mereka sudah lebih dari setengah jam berkeliling Surabaya.


“Terserah Mas saja”


Waduh kata-kata keramat kembali keluar. Terserah memiliki arti yang sangat luas, salah menafsirkan sedikit saja bisa membawa malapetaka, terlebih setelah guncangan yang terjadi di antara keduanya tadi.


Dengan segala pertimbangan yang ada, Fajar memilih salah satu restoran termegah di Surabaya. Restoran tersebut berada di bagian Barat Surabaya dekat dengan pantai kenjeran. Kekuatan uang kembali berbicara, hanya dalam hitungan menit segala persiapan yang di inginkan Fajar telah rampung terselesaikan.


Ia lekas mengandeng istrinya, membawanya untuk melangkah masuk menikmati makan malam romantis


tersebut. Fajar memesan satu meja yang berada di lantai paling atas. Di sana ia dapat melihat pemandangan lampu-lampu malam Surabaya yang indah.


membuatmu kecewa” tak terhitung Fajar melantunkan kata maaf pada istrinya.


“Maafkan aku juga mas yang sudah terlampau cemburu dengan keadaan yang ada. Aku tak suka kamu dekat-dekat dengan wanita lain. Terlebih wanita ular seperti dia”


“Tak masalah sayang, itu artinya kamu benar-benar sayang sama aku. Mari kita nikmati makan malam ini”


Suara musik yang di pesan secara khusus oleh Fajar mulai beralun, menyanyikan lagu-lagu yang menenangkan jiwa. Membuat siapa saja yang mendengar pasti larut dalam geloranya.


“Mau berdansa?”


“Aku tidak bisa berdansa mas”


“Aku akan mengajarimu” Fajar berdiri di samping istrinya, jemarinya terulur untuk mengajak sang permaisuri berdansa. Jingga pun menuruti permintaan suaminya. Kini pasangan suami istri kembali merajut madunya pernikahan. Mata mereka saling memandang tanpa jera. Keduanya saling tersenyum memberikan ketenagan. Di tambah lagi wangi aroma terapi yang ada membuat mereka terlena dalam keadaan.


“Aku masih punya kejutan yang lebih dari ini” Bisik Fajar di sela-sela dansa mereka tepat di telinga Jingga. Ia juga memberikan sedikit gigitan kecil di sana.

__ADS_1


Jingga terkekeh geli, tapi ia begitu menikmati malam ini.


“Kita makan dulu ya mas sudah lapar”


“Baiklah sayang”


Makan malam di mulai, Fajar dengan telaten menyuapi suap demi suap makanan ke dalam mulut istrinya. Pandangannya fokus menatap wajah Jingga yang begitu lahap menikmati makan.


“Setelah ini mau kemana?”


“Terserah mas saja, katanya mau ke tempat yang indah”


“Iya, aku ingin membawamu ke tempat yang indah. Sudah lama bukan kita tak merasakan yang indah-indah. Aku rasa waktunya juga sudah pas. Bolehlah” Fajar mengedipkan satu matanya menggoda sang istri.


Tak ingin membuang-buang waktu yang lama. Fajar lekas menarik tangan istrinya, membawanya ke suatu tempat yang telah di pesan khusus. Tempat itu masih satu kawasan dengan Restoran mereka makan saat ini. Mobil mulai melaju dengan kecepatan cenderung pelan mengingat jaraknya yang hanaya beberapa meter saja.


Mobil mulai memasuki pelantaran basemen sebuah hotel megah. Fajar mulai menarik tangan istrinya dengan pelan. Membawanya ke resepsionis untuk memesan kamar. Jingga yang menyadari apa yang akan terjadi, ia mengikuti saja semua yang di lakukan suaminya.


“Sudah boleh kan?”


“Ini sudah lebih dari empat puluh hari” bisiknya di telinga sang istri ketika mereka berjalan menuju kamar yang telah di pesan.


******


Hari itu Dahlia merasa sangat bahagia ketika satu misinya telah tercapai untuk menggangu hubungan Fajar dan Jingga. Ia memilih untuk berendam menggunakan aroma terapi favoritnya. Cukup lama sekali ia berendam di sana, menikmati setiap terpaan angin yang mengenai tubuhnya. Kamar mandi Dahlia di desain khusu terbuka selayaknya vila di Bali. Ia memang menyukai alam sehingga membuat kamar mandi dengan sentuhan-sentuhan batu-batuan alam dan juga beberapa tanaman hias di sana.


Lantunan bait-bait nyanyian juga mulai terdengar dari cicitnya yang sumbar. Meskipun tidak memiliki suara yang indah namun seorang Dahlia begitu percaya diri mengangaungkan nada-nada itu. Ia tak peduli pada telinga yang turut mendengarkan suaranya. Yang terpenting adalah ia bahagia dengan apa yang di lakukannya.


Lelah berendam dalam waktu yang lama, membuatnya bangkit. Hari masih terlalu sore untuk ukuran seorang Dahlia jika harus menghabiskan untuk tidur. Ia pun bangkit dan memeriksa ponselnya berharap ada sesuatu yang menarik yang dapat di lakukannya.


“Ah benar saja, rasanya aku sudah lama sekali tak menghabiskan waktu dengan teman-teman” desis Dahlia dalam hati, ketika membaca salah satu pesan wa yang ada dalam grupnya.


“Boleh juga kalau mau main ke sana” Ia menghempaskan ponselnya di atas ranjang, dan lekas memilih beberapa baju yang cocok untuk malam itu.


Tak banyak pertimbangan yang ada, ia lekas melesat menuju ke titik yang telah di kirim beberapa teman-temannya. Salah satu club malam yang berada di Surabaya bagian barat. Ia pun berangkat sendiri tanpa sopir ataupun pelayan yang menemani. Dahlia sendiri merasa risih jika setiap kegiatannya harus di ikuti oleh bodyguard. Ia mengendap-endap dengan pelan ketika hendak keluar dari rumah utamanya.


Jedug..jedug..jedug...


Alunan musik malam mulai mengisi kebisingan ruangan. Baju yang kekurangan bahan mayoritas di gunakan penduduk di sana. Tangan mereka terangkat ke atas dengan tubuh yang melekuk-lekuk, menikmati setiap alunan musik yang berdendang.

__ADS_1


“Dahlia. Long time no see” beberapa teman datang saling berpelukan dan memberikan salam.


“Kamu masih kaya kan? Apa sudah bangkrut? Kok tidak pernah terlihat lagi?”


__ADS_2