JINGGA

JINGGA
139


__ADS_3

Deg...


Hati Dahlia seketika memanas mendengar penuturan Fajar. Jemarinya saling meremas pada blazer yang ia kenakan. Harga dirinya merasa telah di injak-injak dengan terang-terangan saat itu, terlebih di depan orang tua dan beberapa orang yang ada dalam satu meja. Bibirnya masih mencoba tersenyum, namun tidak dengan sorot matanya.


“Oh seperti itu, tapi asal kamu tahu saja Fajar, dia hanya seorang pelayan di rumah kami. Dia tidak lebih dari pada seorang budak yang di merdekakan oleh Papaku. Di rawat dan di sekolahkan sebagaimana mestinya”


“Kau benar Dahlia, untuk itu aku ingin berterima kasih padamu dan pada Om Hermawan. Yang telah rela merawat jodohku, hingga bisa tumbuh menjadi sosok gadis dewasa yang cantik, anggun dan sangat mempesona” Fajar tersenyum setengah mengejek. Ia memuji kecantikan istrinya di hadapan Dahlia. Hati Dahlia semakin memanas, bagiama bisa dia seorang  putri dalam keluarga itu, harus di bandingkan dengan pelayan biasah.


“Tunggu saja pembalasanku setelah ini. Akan ku buat kau bertekuk lutut di hadapanku!” desisnya dalam hati. Dahlia masih memasang senyum yang sama di bibirnya. Ia tak ingin menunjukan rasa cemburunya di hadapan Fajar.


“Ah tentu saja, kami sudah menganggap Jingga seperti saudara sendiri. Betul begitu Pa? Oh ya karena kita sudah seperti saudara, jadi boleh dong kapan-kapan kalau aku berkunjung ke tempat kalian. Aku ingin melihat keponakanku. Dengar-dengar kabar dia sudah lahir”


“Maaf untuk saat ini anak kami masih belum bisa di jenguk. Mungkin suatu saat nanti. Permisi saya mau memberikan pengarahan di depan” Fajar memilih untuk berlalu, maju ke depan memaparkan beberapa bagian yang seharusnya bukan tugasnya melainkan tugas Reza. Ia malas sekali ketika harus berhubungan dengan Dahlia dan juga Hermawan. Ia melangkah dengan tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Lihat Pa, betapa sombongnya dia. Berani sekali memuji budak itu di hadapanku”


“Itu bukan masalah besar, Papa yakin kamu tau caranya untuk menarik hati Fajar, jika tidak dengan cara yang halus lakukan seperti bisah. Kamu juga bisa melibatkan anak dan istrinya” bisik Hermawan pada anaknya. Sejurus kemudian mereka kembali fokus mendengarkan pemaparan yang Fajar berikan.


“Papa lihat lah, dia benar-benar suami idamanku” ucap Dahlia di tengah-tengah persentasi yang Fajar berikan saat itu.


“Hem” jawab Hermawan dengan malas.


*****


Kantor Dirgantara.

__ADS_1


“Tuan, bagiamana ini? Kita sudah mencoba melakukan yang terbaik, tapi beberapa investor tidak ada yang mau bergabung dengan tim kita” tanya Reza, dua jam sudah mereka melakukan meeting di salah satu hotel terbesar di Surabaya, kini sampailah mereka kembali di Dirgantara. Ada rasa kecewa yang di rasa oleh Fajar, ini kali pertama ia melakukan persentasi dan tidak mendapat banyak dukungan. Meskipun semua projek dan pemaparannya sangat bagus.


Fajar terdiam untuk sesaat, segala rencana yang telah di rancang sejak awal tiba-tiba harus berubah semenjak kebocoran sistem keamanan di perusahannya. Berkali-kali ia memijat pelipisnya yang sedikit pusing.


“Permisi Tuan, di depan ada tamu yang hendak bertemu” ucap salah satu sekretaris yang berada di depan ruangan Fajar.


“Siapa?”


“Dari Cakrawala grup”


Fajar melirik sekilas pada Reza, seakan sedang meminta pertimbangan dari bawahannya.


“Saya tidak tahu apa keperluan mereka ke sini Tuan” jawab Reza kemudian.


“Baiklah, suruh mereka masuk”


“Selamat siang Tuan Fajar, senang bertemu kembali dengan anda” sapa Dahlia, ia kembali mengulurkan tangan hendak berjabat tangan, Tak lupa ia juga memasang senyum termanisnya. Dahlia sengaja menganti bajunya dengan baju yang lebih menantang dari pertemuan tadi pagi. Rok span nya memiliki panjang selutut, namun belahan rok tersebut terbuka hingga hampir ke atas. Ia sengaja mengunakan model seperti itu untuk memperlihatkan kakinya yang jenjang.


“Apakah kita ada janji sebelumnya?”


“Tidak Tuan Fajar, tidak ada. Hanya saja kami dari Cakrawala ingin mengajak kerja sama dengan perusahaan Tuan”


“Kerja sama? Kerja sama seperti apa? Bukankah kita memang sudah melakukan kerja sama sebelumnya? Lantas seperti apa lagi yang harus di lakukan?”


“Tenang Tuan, saya tahu jika saat ini perusahaan Tuan Fajar, sedang mengalami sedikit masalah. Ya, mungkin itu bukan masalah yang berarti tapi saya rasa jika di biarkan lama-lama akan menjadi besar. Bahkan bisa-bisa Tuan Fajar akan kehilangan semua rekan bisnis Tuan”

__ADS_1


“Maksud kamu?”


“Begini Tuan, saya melihat beberapa waktu terakhir ini penjualan produk Tuan mengalami penurunan yang bisa di katakan luar biasah. Kami ingin mengajak kerja sama. Saya akan menjadi investor terbesar dan pemegang saham terbesar di perusahan Tuan, agar Tuan Fajar bisa kembali berjaya seperti sedia kala” terang Dahlia dengan pelan, ia senagaja berucap dengan pelan mendayu-dayu.


“Saya rasa tidak perlu, saya masih bisa untuk menangani semua ini” tolak Fajar dengan tegas.


“Ayolah Tuan, ini tidak hanya untukmu dan keluargamu, tapi juga untuk kesejahteraan dan keberlangsungan hidup karyawanmu yang lainnya” desak Dahlia kembali.


“Tidak Nona Dahlia, prihal dana perusahan kami masih memiliki cadangan yang aman saya rasa tidak memerlukan itu” tolak Fajar kembali dengan tegas, ia benar-benar tak ingin terlalu banyak bergantung atau pun berurusan dengan Hermawan dan keturunannya.


“Baiklah kalau begitu, kalau kita bekerja sama dalam bidang promosi bagaimana? Saya rasa Tuan Fajar cukup tahu jika selain berkembang dalam bidang usaha minuman kemasan. Cakrawala Grup juga ahli dalam pemasaran. Kami adalah penyedia jasa pemasaran terbesar di Indonesia saat ini. Kami siap jika Tuan Fajar memerlukan bantuan untuk promosi. Baik dalam berupa iklan elektronik maupun yang lainnya” Dahlia tak kehilangan akal, ia masih berusaha untuk membujuk Fajar agar mau bekerja sama dengannya. Ia ingin pertemuannya semakin intens dengan laki-laki itu.


Fajar kembali terdiam, apa yang di katakan Dahlia memang benar adanya. Jika Cakrawala juga memegang peran penting dalam iklan. Tentu saja jika produknya masuk dalam salah satu produksi iklannya akan sangat menguntungkan. Selama ini produk yang memakai jasa iklan dari Cakrawala slalu melejit penjualannya. Mereka memiliki tim kreator yang kompeten.


“Untuk tawaran ini kami akan berbincang dulu dengan yang lainnya. Saya juga harus memastikan bagaimana kondisi tim di divisi pemasaran kami” jawab Fajar, ia masih mempertimbangkan tawaran yang di berikan Dahlia.


“Baik, kalau begitu Tuan Fajar, kami tunggu kabar baiknya. Kami harap Tuan Fajar mau bekerja sama dengan mengunakan jasa tim promosi kami”


“Saya akan slalu menunggu konfirmasi dari anda. Ini adalah nomer pribadi saya. Tuan Fajar bisa menghubungi kapan saja jika dan di mana saja. Saya slalu siaga” Dahlia menyerahkan sebuah kartu nama pada Fajar. Dengan malas Fajar menerima kartu tersebut.


“Baik, saya rasa cukup untuk pertemuan kita hari ini, kami permisi dulu” Dahlia pamit undur diri, ia kembali berjabat tangan dengan Fajar dan melempar senyum. Ia melangkah dengan anggun, pelan dan sangat pelan sekali berlengok-lenggok layaknya seorang model hingga menuju pintu untuk keluar.


“Nona, apakah anda yakin dengan ini? Apakah Dirgantara mau mengunakan jasa iklan kita” tanya Boy dengan ragu.


Dahlia tersenyum lebar.

__ADS_1


“Hah kita lihat saja setelah ini”


__ADS_2