
Hari hari berlalu dengan cepat,semua keadaan sudah membaik,perusahaan Arman sudah mulai stabil kembali
A&Akafe juga sudah mulai normal kembali aktif seperti dulu meski mereka kehilangan banyak pelanggan
hanya beberapa tamu yang masih datang kekafe itu,kebanyakan dari mereka yang datang adalah turis asing
Karena warga setempat yang mengetahui kejadian lalu,enggan untuk kembali kekafe itu
Awan berdiri di dekat pintu dapur menyaksikan keadaan kafe yang tak seramai dulu
Jika keadaan seperti ini terus berlanjut bisa di pastikan kafe itu akan bangkrut
Di hari yang sama namun di tempat lain,Jingga tengah di rias oleh mua,karena hari ini adalah hari pernikahanya dengan Reno
Mua itu kesulitan merias wajah Jingga,karena Jingga tak henti menangis
"nona,berhentilah menangis,kami kesulitan merias anda,sebentar lagi acara akan segera di mulai"ucap salah satu mua
Namun Jingga tak mengindahkan ucapan dari mua itu,air matanya tak berhenti menetes
para mua itu saling pandang dan bingung dengan keadaan mempelai wanita
Hingga terdengar suara pintu di ketuk dari luar,salah satu mua itu membuka pintu dan membungkuk hormat kala melihat siapa yang datang
Tuan Ferdi memang sengaja datang untuk mengecek keadaan Jingga,ia takut gadis itu berbuat ulah dan menggagalkan rencananya
"bagaimana,apa sudah siap"tanya tuan Ferdi pada mua itu
"maaf tuan,tapi nona terus menangis kami kesulitan meriasnya"ucap mua itu takut takut
Tuan Ferdi geram mendengar penuturan mua itu,ia lantas masuk dan meminta semua mua artis itu keluar
__ADS_1
lalu mua yang berjumplah 3 orang itu pergi dari ruangan meninggalkan tuan Ferdi dan Jingga berdua
Setelah tinggal mereka berdua,tuan Ferdi mengintimidasi Jingga
ia tak ingin di permalukan oleh Jingga itu sebabnya ia melakukan hal itu
10 menit kemudian tuan Ferdi keluar dari ruangan Jingga,dan meminta mua itu untuk merias Jingga,lalu setelahnya berjalan pergi
Mua itu masuk kedalam ruangan,setelah tuan Ferdi berlalu dari sana
Kini di hadapan mua Jingga tak lagi menangis,namun ia hanya diam saja,seperti patung akan menoleh jika di suruh,tatapanya kosong persis seperti patung hidup,namun mua itu mencoba tak memperdulikan hal itu,justru itu mempermudah pekerjaanya
Di tempat lain Awan kedatangan tamu yang sudah lama ia tunggu,orang itu adalah orang suruhanya yang ia minta untuk mencari tahu kenapa sikap Jingga berubah
Meski enggan Awan tetap menerima berkas laporan tentang Jingga dari orang suruhanya itu,namun ia enggan untuk membacanya,ia letakan begitu saja berkas itu di atas meja
Merasa tugasnya sudah selesai orang suruhan Awan itu berlalu dari sana,dan Awan pun mempersilahkanya
karena terlalu fokus pada berkas yang ia pegang,tanpa sengaja Awan menyenggol minuman di meja dan tumpah mengenai berkas laporan tentang Jingga
Awan mengusap berkas yang basah itu lalu tanpa sengaja berkas itu terbuka
Awan membaca sekilas tentang kata rumah sakit,membuatnya penasaran dan mulai membaca tentang keseluruhan hasil penyelidikan orang suruhanya
Matanya membulat sempurna kala mengetahui bahwa sang pujaan hati mengidap penyakit yang mematikan
Ia berpikir mungkin ini alasanya,mengapa Jingga melukai hatinya ia tak ingin Awan bersedih kala ia pergi nanti
Awan langsung berdiri dan menyambar kunci mobil tak lupa juga membawa serta berkas yang berisi tentang laporan kesehatan Jingga
Sementara kini di tempat ijab kabul Jingga sudah selesai di rias dan sudah memakai gaun pengantin yang ibdah
__ADS_1
Ia berjalan menuruni tangga di apit para mua,karena ia tak memiliki sanak saudara atau teman yang ia undang
Di bawah sana terlihat Reno sudah berdiri gagah dengan menggunakan setelan tuxedo warna hitam,semakin membuatnya terlihat tampan
Ia bengong melihat kedatangan Jingga yang tampak begitu cantik,namun yang ia lamunkan bukan tentang kecantikan Jingga tapi tentang hatinya,yang tak lagi berdebar dan bahagia,padahal dulu ini adalah hal yang begitu ia nantikan
Jingga berjalan dengan begitu anggun,kemudian sampai di anak tangga terakhir ia di sambut oleh ayahnya,Hadi wijaya memberikan tanganya agar Jingga memegang lenganya,karena Hadi wijaya akan mengantarkan putrinya menuju kehidupan barunya
Meski masih merasa janggal,namun ia mengesampingkan perasaannya,ia mencoba menerima keputusan putrinya
Saat tinggal menuju beberapa langkah lagi sampai pada Reno,kepala Jingga terasa sangat berat dan pusing,dan jika ia mengalami itu,ia akan mimisan lalu pingsan
Namun kali ini rasanya lebih sakit dari yang biasanya,tak mampu lagi berdiri dengan tegak,ia mulai roboh hendak terjatuh
Dalam sisa sisa kesadaranya,ia berharap jika ia bisa melihat wajah pria yang ia cintai untuk terakhir kalinya,karena dokter Wirawan bilang,jika umurnya tak lama lagi,mungkin esok lusa atau bahkan sekarang
"Tuhan,ijinkan aku melihat kekasihku untuk yang terakhir kali,jika ini adalah akhir dari hidupku"ucapanya dalam hati,di antara gerakannya yang hendak terjatuh
Saat tubuhnya hendak terjatuh Awan yang baru saja datang,langsung berlari kearahnya saat melihatnya hendak terjatuh
Semua orang melihat kearah mereka,tuan Ferdi terkejut bukan maen,sementara Reno hanya diam saja seolah tak terjadi apa apa,
Tuan Ferdi hendak berjalan kearah mereka,namun langkahnya terhenti kala sesorang yang juga baru datang mencegahnya dan membisikan sesuatu,seketika mata tuan Ferdi membola terkejut dengan apa yang ia dengar
Ia menangkap tubuh yang semakin hari semakin kurus itu
Seperti mimpi Jingga melihat wajah kekasihnya ada di hadapanya tengah memeluk dirinya
Ia membelai lembut wajah kekasihnya itu,dan lagi lagi air mata mengalir dari mata indahnya"kak"ucapnya parau
"iya,ini aku bertahanlah"ucapnya sendu
__ADS_1