
“Papa maafkan aku, aku memang salah tidak berfikir dulu sebelum bertindak. Aku memang bodoh, tolong maafkan aku, jangan diam saja seperti ini”
"Sudah cukup bermain-main di luar!? sudah lelah hidup miskin?”
“Kamu yang memilih untuk lari, kamu yang memilih untuk meningalkan rumah ini bukan? Lantas kenapa sekarang kamu yang mengiba untuk kembali lagi? Heh!”
“Aku tahu. Aku rasa kamu sudah tahu jika laki-laki pilihanmu tak lebih dari seorang pria busuk yang bertopeng di balik wajahnya yang lagu. Benar bukan?”
Pak Hermawan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Dahlia. Ya, benar saja amak semata wayang Pak Hermawan dan Bu Lia sudah kembali. Ia kembali setelah hampir setahun lebih meningalkan rumah orang tuanya, meningalkan pernikahan yang sudah di susun rapi oleh Papanya.
Ia kembali dengan penampilan yang berbeda. Dahlia yang dulu hidungnya berlinang harta, kini hidup dalam keterbatasan finansial. Tak ada baju mewah yang melekat pada tubuhnya. Tak ada perhiasan mahal yang menghiasi tubuh indahnya. Ia kembali dengan berantakan. Baju lusuh cenderung model lama bahkan tanpa sentuhan setrika, kini melekat membalut erat tubuhnya.
“Untuk apa kamu kembali sekarang?”
“Sudah terlambat!”
“Terlambat!”
Hermawan berteriak dengan sangat keras, hingga suara itu menggelegar memenuhi seisi rumahnya. Siapa saja yang mendengar teriakan itu pasti ketakutan, tak khayal banyak pelayan yang lekas melarikan diri. Mereka memilih untuk ke dapur menepi dari riuh drama keluarga yang sedang bersi tegang saat itu.
“Pa, sudah lah. Pelankan nada bicaramu. Kamu sedang berhadapan dengan anakmu. Bukan musuhmu” Serkas Bu Lia yang tak terima anaknya di bentak-bentak seperti itu.
“Anak? Kau bilang anakku? Setelah apa yang di lakukan padaku” hah, lucu” Hermawan tertawa untuk beberapa saat.
“Kau sebagai anak tak punya rasa terimakasih sedikit pun dengan orang tuamu. Kau tahu Papa sudah bersusah payah untuk menjodohkan mu dengan Fajar. Papa sudah melakukan banyak hal untuk itu, demi kamu. Demi kehidupanmu yang semakin layak dan mapan. Demi kekuasan keluarga kita agar semakin berjaya. Kamu tahu itu!”
“Tapi, tapi apa balasanmu? Kau malah pergi di saat hari pernikahanmu. Kau lari dengan pria yang tidak jelas asal-usulnya. Bahkan pekerjaan dan kehidupannya juga jauh dari kata layak”
__ADS_1
“Kau sudah bosan hidup miskin bukan?, hingga membuatmu ingin kembali lagi kemari?”
Dahlia masih menangis terisak-isak di bawah kaki sang Papa. Semua yang telah di katakan Pak Hermawan memang benar adanya. Ia terlalu abai, ia telah lalai demi kesenangan sesaat. Ia lebih memilih kekasihnya yang tak punya masa depan dan rela kabur di hari pernikahannya. Meskipun dia juga tahu, jika menikah dengan Fajar belum tentu hidupnya akan bahagia. Terlebih ia tahu Fajar secara terang-terangan menolak perjodohan mereka.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku Pa?”
“Ma, tolong ampuni aku. Maafkan atas semua yang telah terjadi. Papa ampun, kita bisa selesaikan semuanya dengan baik-baik. Kita minta kepada keluarga Dirgantara untuk kembali melanjutkan perjodohan ini”
hiks...hiks...hiks....
Dahlia masih terisak menangisi segala yang telah terjadi, bahkan dalam beberapa waktu nafasnya terasa sangat berat karena terlalu lama menangis.
“Terlambat!”
Terlambat!”
“Terlambat!”
Mata Dahlia terbelalak sempurna. Ia yang tersungkur di lantai lekas bangkit dengan sekuat tenaga. Menatap wajah sang Papa dengan penuh tanda tanya.
“Tidak mungkin, itu tidak mungkin Jingga hanya seorang pelayan. Mana mungkin keluarga Dirgantara mau menerimanya” ia setengah tersenyum mengatakan itu, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang menolak takdir yang ada.
“Tidak mungkin bagaiman, memang itulah fakta yang ada”
“Ma ini tidak benar kan Ma? Tidak benar kan Ma? Tidak mungkin kan budak itu sekarang menjadi Nyonya besar di keluarga Dirgantara. Aku jauh lebih baik dari segala hal Ma di bandingkan dia”
Dahlia menggeser tubuhnya ke samping. Ia menatap bola mata Bu Lia mencari kebenaran dari apa yang telah di katakan Papanya.
__ADS_1
“Ma jangan diam saja. Jawab pertanyaanku. Ini tidak benar kan?” Dahlia sedikit mengguncangkan tubuh Bu Lia mencari jawaban atas pertanyaan yang telah ia lontarkan.
Sementara Bu Lia, beliau hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai isyarat atas kebenaran pernyataan yang di ucapkan suaminya. Matanya berlinang, ia tak tega melihat sang putri hancur hatinya.
“Tidak, tida mungkin”
“Tidak mungkin bagaimana? Kau tahu Dahlia, bahkan sekarang mereka sudah memiliki seorang anak!”
Ucap Pak Hermawan dengan penuh kekecewaan. Ia sedih, ia kecewa anak yang di gadang-gadang masa depannya tidak mau menuruti perintah ya. Namun setelah semuanya jauh terjadi seperti ini, dia kembali. Kembali dengan kehancuran yang mendera dirinya. Sebagai orang tua hatinya sakit. Sakit melihat anaknya terluka tapi tak bisa di pungkiri rasa kecewa itu masih membekas mendalam di benaknya.
“Papa, kenapa membiarkan semuanya terjadi. Kenapa Papa tidak mencegah pernikahan itu, bukankah Papa sudah bilang jika akulah yang akan menikah dengan Fajar. Bukan Jingga”
Kini Dahlia yang mengamuk, ia menuntut sebuah penjelasan atas apa yang telah terjadi setahun yang lalu. Ia tidak terima calon suaminya di renggut paksa oleh wanita lain. Terlebih wanita itu adalah pelayannya sejak kecil.
“Hah, bodohnya kau Dahlia. Kau yang memilih untuk meningalkan acara pernikahanmu. Kau yang kabur, lantas sekarang kamu yang marah-marah menuntut penjelasan dari kami?”
Ucap Pak Hermawan dengan dingin namun mampu menusuk relung hati sang anak. Malam itu kediaman Hermawan sedang tidak baik-baik saja. Drama keluarga sedang terjadi di sana.
“Sudahlah Pa, sudahlah Dahlia, semuanya sudah terjadi. Kita tidak bisa menyalahkan satu sama lain semua sudah menjadi suratan dari yang kuasa”
“Berbicara suratan dari yang kuasa kamu tahu apa tentang itu?. Aku sudah merancang semuanya sejak dari dulu. Sejak Dahlia masih kecil, aku memimpikan perusahan Dirgantara dan Cakrawala bersatu menjadi satu di bawah kekuasan tanganku!”
“Pa, sudahlah semua sudah terjadi. Apa kamu tega melihat anakmu seperti ini? Anak kita sedang hancur Pa, dia butuh kita sebagai pendukungnya. Kalau bukan pada kita, lantas pada siapa lagi dia akan bersandar dan berkeluh kesah?” Desis Bu Lia, tak terima jika anaknya di marah-marahi meski ia tahu semua juga atas dasar kesalahan yang telah Dahlia perbuat.
“Lantas? Aku harus memaafkan dia begitu? Menerima kembali dia untuk tinggal di sini? Cih” Hermawan memalingkan wajahnya tak terima.
“Terus untuk apa Papa membangun kerajaan bisnis seperti ini. Untuk apa Papa mencari harta sebanyak ini jika tidak untuk kehidupan kita. Untuk apa Pa? Untuk apa?”
__ADS_1
Tibalah saatnya Bu Lia, meninggikan nada bicaranya. Kepalanya terasa sakit sekali melihat perdebatan malam itu yang tak kunjung berkahir.