
Mungkin benar kata pepatah,jika ranjang adalah solusi untuk setiap masalah rumah tangga ooppsss salah mereka kan belom menikah hehe
Lisa membuat pola pola abstrak di dada polos Reno
Gerakan itu kembali memancing gairah Reno,namun menyadari kondisi Lisa yang tengah hamil muda,Reno mencoba meredam gairahnya,dengan cara ia menggunakan tangan kirinya untuk menangkap jari tangan Lisa yang nakal,ia genggam dan ia kecup kelima jari itu dengan sayang
setelahnya Reno menoleh dan mendapati senyum manis Lisa
Reno kini menyadari betul tentang perasaanya pads Lisa,untuk itulah ia akan menerima masalalu Lisa serta anak yang ia kandung dengan ikhlas andai Lisa bersedia berjanji untuk berubah dan menjalani rumah tangga dengan benar
Reno sadar ia juga tidak sempurna,untuk itulah kini ia akan meminta Lisa untuk sama sama berubah
"Lisa,ceritakan padaku apa hubunganmu dengan Hadi wijaya"tanya Reno
"kamu mengenalnya"jawab Lisa,menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula
Reno menarik nafas dalam,seakan ia membutuhkan tenaga ekstra untuk mengangkat sebuah beban
Lalu Reno menceritakan tentang siapa Hadi wijaya serta bagaimans hubungan mereka dulunya
Dan mendengar cerita Reno,Lisa sontak terkejut mengetahui bahwa wanita yang membuat Reno patah hati seperti ini
Ia terkejut namun bimbang haruskah ia berterimakasih pada Jingga karena nya lah ia bisa bertemu dengan Reno
Atau sebaliknya membenci Jingga karena mematahkan hati seorang Reno,pria yang sangat ia cintai
Namun Lisa juga cemburu sekaligus minder,cemburu karena Reno mencintai Jingga hingga begitu dalam,sedangkan dirinya tak mendapatkan cinta itu meski kini ia telah mengandung darah dagingnya
minder karena memang rasanya ia tak pantas untuk di saingkan dengan Jingga,wanita cantik,baik,cerdas,berkelas dan pastinya tak hina seperti dirinya
"Lis"tanya Reno sambil menggenggam tangan Lisa,setelah ia selesai bercerita namun Lisa tak memberikan tanggapan
"hmmm"jawab Lisa bingung
"kenapa kamu diam,ada hubungan apa kamu dengan nya"tanya Reno untuk kesekian kali
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan Reno,Lisa pun menceritakan awal pertemuanya dengan Jingga,lalu mereka menjadi dekat dan bertetangga,namun Lisa tak menceritakan tentang penculikan itu,ia hanya bercerita jika ia pergi karena tak ingin di paksa menggugurkan kandunganya
Reno juga tak lagi mempermasalahkan tentan foto pria yang bersama Lisa dulu,karena ia sudah berjanji akan menerima Lisa apapun itu
Reno tersenyum lega,ketika apa yang ia pikirkan tak seperti kenyataanya
Namun ia meminta Lisa untuk tak menceritakan dulu pada Jingga dan ayahnya tentang dirinya
Lisa mengangguk setuju,lalu setelah nya mereka membersihkan diri bergantian,karena jika mereka bersama dalam satu kamar mandi,sudah bisa di pastikan mereka tak kan jadi membersihkan diri,justru yang ada mereka akan kembali bermandikan keringat dan peluh
Masih di hari yang sama dan di di tempat yang sama,kini Reno tengah memeluk Lisa dari belakang,sambil menikmati langit senja yang begitu indah oleh kilau warna keemasanya
Di sini Reno ingin mengutarakan keinginanya untuk menjadikan Lisa wanita satu satu nya dalam hidup mereka,namun ia juga akan meminta Lisa untuk melakukan hal yang sama
"Lis"
"hmmm"
mendapati jawaban itu dari Lisa membuat Reno lantas melerai pelukanya dan membalikan tubuhnya,kini mereka jadi berhadapan
Mendengar ucapan Reno,Lisa terpaku seketika,ia tak menyangka jika Reno akan melamarnya
"Lisa"ucap Reno lagi yang tak mendapat jawaban dari Lisa
Seketika Lisa tersadar dari keterkejutanya,ia berusaha merasai genggaman tangan hangat Reno,ia menggunakan tangan kananya yang tadi memegang pagar balkon,membelai lembut wajah tampan Reno,merasakan wajah di hadapanya ini nyata,Lisa menganggukan kepala tanda setuju
senang rasanya ketika Reno mendapat jawaban dari Lisa,lalu ia kembali merengkuh tubuh lemah itu kedalam pelukanya yang hangat
Sementara di tempat lain,air mata tak berhenti menetes di wajah mulus Jingga,ketika ia mendapati kenyataan bahwa penyakitnya kini bertambah semakin parah
Obat yang dokter berikan tak dapat menghabat pertumbuhan sel kangker yang ia derita
Dokter memvonis jika hidupnya hanya tinggal tiga bulan lagi,ia tak ingin mempercayai ucapan dokter,karena baginya hidup mati seseorang itu ada di tangan sang pemilik hidup,bukan daro seorang dokter,namun merasakan kondisi tubuhnya yang akhir akhir ini sering lelah dan pusing,membuat ia sedikit banyak terpengaruh dengan ucapan dokter
Falahsback
__ADS_1
Setelah acara pengucapan janji suci,Awan mengantarkan Jingga kembali ke apartemen karena tadi ia melihat wajah Lisa yang memucat
Namun ketika sampai di lobi,Awan mendapat telfon dari kafe dan harus pergi kesana,membuat ia tak jadi mengantar Jingga sampai ke unit tempat tinggal Jingga
Jingga mengerti dengan keadaan Awan yang sibuk mengurus kafe dan cabang yang semakin menunjukan kualitasnya
Setelah mendapat persetujuan dari Jingga,Awan lantas berjalan cepat meninggalkan Jingga dan menuju tempat mobilnya terparkir,melajukanya menuju kafe miliknya
Lalu Jingga bergegas menuju lift,dan ingin segera menemui Lisa,melihat keadaanya di dalam
Namun saat di dalam lift,kepalanya terasa sangat pusing dan membuatnya hampir terjatuh,untuk ada seorang pria muda yang sigap membantunya
Di ambang kesadaranya Jingga meminta pria itu mengantar kerumah sakit,sebelum akhirnya ia pingsan
Di ruangan yang serba putih Jingga tersadar dari pingsanya,di sana ada perawat yang tengah mengecek kondisi nya
Suster yang kini memeriksanya adalah suster Elsa,perawat yang memang menangani penyakit Jingga,kebetulan pria muda tadi mengantarkan Jingga kerumah sakit tempat ia berobat
Tak lama dari itu datang pula dokter Wirawan,dokter yang menangani penyakit Jingga,disana Jingga menanyakan mengenai penyakitnya,karena akhir akhir ini tubuhnya sering pusing dan lelah
Dokter membaca sdkilan hasil lab dan laporan yang Elsa tulis,dengan berat hati dokter menyampaikan pada Jingga mengenai kondisinya yang semakin memburuk
Menyadari kondisinya yang kian parah membuat Jingga syok dan tak percaya
Pupus sudah harapanya untuk sembuh,Jingga juga menanyakan apakah tidak ada pengobatan lain atau cara lain yang bisa di tempuh untuk bisa mengobati penyakitnya
Namun dokter menjawab dengan gelengan kepala dan wajah sendu
Lalu setelahnya meninggalkan Jingga sendiri di ruangan itu
Dengan tertatih tatih Jingga ikut meninggalkan ruangan setelah dokter keluar,namun sekuat ia memaksa untuk kuat,namun kini langkahnya terhenti
Ia duduk di bangku taman rumah sakit,di temani dengan linangan air mata
Flashback off
__ADS_1