JINGGA

JINGGA
94


__ADS_3

“Jangan memaksaku untuk makan, Mas Fajar tak tau apa yang aku rasakan akhir-akhir ini, semenjak kepergian Mas beberapa waktu yang lalu, perutku terasa penuh ketika melihat makanan. Aku tidak nyaman rasanya semuanya terasa begitu mengkhawatirkan. Aku juga tak tau dengan perasaanku ini. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas di sana” Hiks...hiks...


“Aku juga merasa mual ketika menggunakan parfum yang biasanya aku gunakan. Sudah beberapa hari ini aku slalu menggunakan parfum Mas agar terasa dekat” hiks..hiks...wanita itu masih menangis, ia menyembunyikan wajah sendunya di balik bantal.


Fajar masih mencoba untuk mengerti keadaan yang ada. Sungguh saat itu juga ia ingin masuk melewati layar ponselnya demi bisa menyentuh wajah sang istri.


Ada rasa sedih ketika mendapati keadaan Jingga yang terasa tak nyaman dengan segala macam yang ada, tapi ia juga bahagia ketika istrinya bergantung dan tak bisa lepas darinya.


“Sayang dengarkan ku” instruksi laki-laki itu dengan sangat pelang, tak ingin membuat hati istrinya semakin ambyar.


“Apapun yang terjadi pada tubuhmu saat ini, kamu harus makan!, ingat harus makan. Istri sholeha tidak boleh menentang pesan dari suaminya” lagi-lagi Fajar, mengambil jalan pintas dengan membawa dalil-dalil tugas istri Sholeha demi untuk kesehatan istrinya.


Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Sayang, makanlah aku mohon, aku akan memberimu apapun asal kamu mau makan” rintih Fajar, di titik nadirnya yang sudah tak tahu lagi harus bagaimana caranya untuk membujuk istrinya.


Jingga mendongak menatap layar ponsel yang ada di depannya.


“Yakin?”


“Mas Fajar janji?”


“Iya janji, kamu boleh minta apa saja asal mau makan dengan teratur selama aku tidak ada di rumah”


Jingga tersenyum kecil. Mendadak dalam otaknya teringat akan cinta-citanya semasa kecil. Ia paling suka melihat cerita yang berbau dongeng Cinderella dan kerajaan-kerajaan. Ia berharap Fajar, dapat mempertemukannya dengan mereka semua.


Jika Fajar tidak bisa mempertemukan dengan tokoh-tokoh pemeran Cinderella, Jingga akan menyuruh Fajar untuk menggunakan kostum ala kerajaan. Setidaknya rasa penasaran akan tinggal di negri dongeng akan lekas terbayarkan. Ia juga berniat untuk meminta di buatkan miniatur kerajaan nantinya.


Jingga sedikit tersenyum kala membayangkan semua mimpinya akan lekas terwujud.


“Makan ya” wajah Fajar memelas.


Sementara Jingga, mengangguk dengan pelan. Meski tak bisa di bohongi jika rasanya begitu malas sekali ketika melihat nasi.


Tak butuh waktu yang lama, bahkan sebelum panggilan vidio berakhir Susi sudah datang membawa baki yang berisi aneka makanan dan buah untuknya.


“Mas rengeknya kembali dengan mendayu-dayu.


“Makan ya, aku mau melihatmu makan saat ini”


“Saya permisi dulu Non” Susi meletakkan aneka makanan tepat di hadapan Jingga.

__ADS_1


“Tunggu saja di situ, aku tidak lama makannya” merasa tak enak dengan tuan dan Nonanya, Susi memilih untuk duduk di lantai bawah dekat dengan pintu masu kamar.


“Kamu ngapain di sana?”


“Duduklah di situ” tangan Jingga, terulur menunjuk sofa yang ada di sudut ruangan. Jingga adalah majikan yang memperlakukan sangat baik pekerja-pekerja di rumahnya. Tak khayal membaut semua pekerja di sana betah, bahkan mereka sama sekali tak merasa menjadi seorang pelayan.


Hoek....


Jingga merasakan mual ketika beberapa bulir nasi masuk kedalam mulutnya.


“Kenapa sayang? Apakah kamu sakit?”


“Perutku mual Mas, aku tidak bisa makan seperti ini” wajah Jingga murung, seakan sedang merasakan ketidaknyamanan di sana.


“Aku panggil dokter ya”


Jingga tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalnya dengan pelan.


“Coba makan lagi sedikit saja, pelan-pelan” Fajar kembali memerintah pada istrinya.


Hoek...hoek...


Lagi-lagi Jingga, merasakan mual yang tiada terkira ketika sendok bersentuhan dengan mulutnya.


Fajar bingung harus berbuat apa. Melihat wajah Jingga yang sedikit pucat dan sayu membuatnya semakin tak fokus.


“Makan salad buahnya saja sayang”


Tangan Jingga terulur, mengambil semangkuk salad buah segar yang ada di depannya.


Hem ini segar sekali.


Jingga tak menghiraukan tatapan Fajar, ia kembali memasukan potongan-potongan buah ke dalam mulutnya. Jauh di sebrang sana Fajar tersenyum lega.


“Sekarang minum susunya”


“Aku tak mau, ini tidak enak sekali baunya” rintihnya dengan kesal karena slalu di paksa untuk makan.


“Cobalah sedikit saja”


Hoek....

__ADS_1


Jingga memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.


Seketika senyum Fajar kembali meredup ketika melihat beberapa potongan buah berjejeran di lantai.


Huft keduanya saling menghembuskan nafas dengan kasar.


“Aku tak bisa” Jingga kembali menangis sesenggukan dan membiarkan layar ponselnya menyala begitu saja.


****


Cina


Waktu menunjukan pukul 8 pagi di sana. Entah mengapa Fajar merasakan pergerakan waktu terasa begitu lama, terlebih jika mengingat wajah Jingga yang sendu semakin membuatnya frustasi dengan keadaan yang ada. Berkali-kali Reza, menyenggol lembut lengan atasannya agar kembali fokus pada meeting pagi itu.


“Mohon maaf jika saya lancang, tapi apa yang membuat Tuan Fajar, tidak fokus saat ini?” Reza, mengemas beberapa lembar dokumen yang ada di depan mejanya.


Fajar masih terdiam, ia memilih untuk bertopang dagu dengan tatapan mata yang kosong.


“Ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk bisa mengungkap kebenaran dari Cakrawala Grup Tuan, saya rasa kita harus lebih fokus dan hati-hati untuk itu” terang Reza kembali mengingat tujuan awal mereka ke Cina beberapa waktu ini.


“Kau benar Za, ini adalah moment yang telah lama aku tunggu. Aku harap semua kebenaran dan keadilan akan lekas terungkap. Aku tak bisa membiarkan kezaliman terlalu lama mendera, terlebih ini berkaitan dengan kehidupan istriku. Mereka harus membalas mahal dengan apa yang telah di perbuat pada Jingga”.


Fajar meraih secangkir kopi yang ada di hadapannya, meneguknya dengan pelan dan menutupnya kembali.


“Pastikan semua kebutuhan di rumah tercukupi dengan baik, pastikan pula semua sigap 24 jam untuk Jingga.” titah Fajar sebelum ia bangkit dari singgasananya dan memilih untuk keluar mencari minuman dingin.


“Tuan Fajar mau ke mana?”


“Aku rasa sedang membutuhkan minuman segar, entah mengapa aku merasa kopi di sini terasa hambar tak berati”


“Sebaiknya Tuan Fajar di sini saja, biar saya yang mencarikan minuman dingin untuk Tuan”


“Hem kau benar, sebaiknya aku menunggu di sini. Carikan aku jus strawberry”


“Hah!” Reza tampak kaget dengan permintaan atasannya.


“Oh ya carilah jus strawberry yang masih masam. Aku tak mau yang tingkat kematangannya berlebih. Satu lagi aku mau buah strawberry yang di jadikan jus berjumlah ganjil” Titahnya dengan santai.


“Hah. Apa yang terjadi dengan Tuan?”


“Kenapa? Aku rasa tidak ada yang aneh dengan permintaanku”

__ADS_1


“Sejak kapan Tuan Fajar, menyukai buah strawberry? Terlebih yang rasanya masam?”


__ADS_2