
Ning..nang...ning...gung....
Suara alunan gamelan membelah langit Surabaya, dengan irama yang mendayu-dayu dan menenangkan. Deretan bunga asli warna-warni, yang mekar dan memiliki wangi semerbak terpampang dari pintu masuk rumah hingga di bagian dalam tempat acara. Bunga ini laksana sebagai penyambut bagi para handi taulan yang di undang dalam acara tersebut.
Rumah di dekor dengan sedemikian rupa. Terdapat dua tenda dalam ukuran yang cukup besar, terbentang di bagian halaman pintu masuk rumah Fajar. Sementara di bagian dalam rumahnya sudah di sulap selayaknya keraton kerajaan yang sedang mengadakan pesta. Warna pink terlihat mendominasi di setiap sudut ruangan.
Seorang wanita hamil dengan kebaya warna hijau telah bersiap sejak dua jam yang lalu. Ia di rias layaknya seperti putri raja dalam keraton. Menggunakan kebaya lengkap dengan jarik, memakai bandana yang terbuat dari rajutan bunga melati. Melati tersebut melintang menghiasi kepala yang di balut dengan hijab warna senada dengan bajunya.
Bahagia.
Begitulah gambar yang terlihat dari raut wajah cantik Jingga Sekar Ayu Kemuning. Pagi ini Nyonya muda di keluarga Dirgantara, sedang mengadakan acara tingkepan, tujuh bulanan untuk menyambut kehadiran bayi mereka yang akan lahir beberapa bulan lagi.
Tingkepan sendiri merupakan tradisi budaya Jawa yang di selenggarakan dalam rangka memperingati tujuh bulan kehamilan. Acara tingkepban sendiri memiliki makna bahwa pendidikan bagi sang anak telah di tanamkan sejak anak masih berada dalam rahim sang ibu. Sebagai rasa syukur dari orang tua pada yang maha kuasa atas hadirnya calon anak di tengah-tengah kehidupan mereka nantinya.
Jingga dan Fajar memakai baju senada. Jika Jingga menggunakan kebaya warna hijau maka Fajar, ia memakai jarik warna hijau pula dengan rangkain melati yang melingkar di lehernya. Kedua calon orang tua muda ini bersiap untuk memasuki acara. Mereka saling bergandengan tangan, berjalan dengan cukup pelan untuk menyapa tamu undangan yang ada.
Cukup pelan Fajar menapaki langkah demi langkah karpet merah yang ada, mengingat Jingga baru sembuh dari patah tulang. Wanita hamil itu baru bisa berjalan kembali beberapa hari yang lalu sebelum acara tingkeban di gelar.
Acara dimulai tepat pukul delapan pagi. Keluarga Dirgantara mengadakan acara tasyakuran ini dengan cukup meriah, mengingat ini adalah kehadiran calon cucu pertama di keluarga mereka. Baik kolega dari Pak Angga maupun Fajar banyak yang hadir pagi itu.
Acara di mulai dengan pembacaan doa seperti biasah. Mc akan mulai menyapa handi taulan yang telah hadir, dan membuka dengan bacaan ayat-ayat Al-Quran yang di lanjutkan dengan bacaan surah Luqman dan Maryam.
Ning...nung...gung....
Alunan gamelan yang beralun dengan pelan membaut siapa saja yang mendengarnya akan terbuai dan merasakan kedamaian di sana.
Dalam acara tingkepan ini di bagi menjadi beberapa sesi yakni siraman, memasukan telur ayam ke sarung, upacara ganti busana, angrem, brojol, pecah kelapa dan jualan rujak.
__ADS_1
Ning...nang..ning..gung.
Suara alunan gamelan masih mengiringi Perjalanan Fajar dan Jingga yang berjalan melewati sejumlah undangan menuju tempat siraman. Keduanya saling bergandengan dan melempar senyum pada seluruh tamu undangan yang berjajar rapi membentuk pagar di sisi kanan dan kiri mereka.
Tak berselang lama, sampailah kedua calon Ibu dan Bapak ini di salah satu singgasana yang akan di gunakan untuk acara siraman. Fajar dengan cukup pelan, menggandeng istrinya, membimbing untuk duduk di singgasana yang telah di sediakan. Singgasana tersebut di dekor secara khusus dengan di hiasi banyak bunga layaknya pelaminan pada umumnya.
Jingga terduduk dengan damai. Tangannya menangkup berada di bagian depan. Sementara Fajar, ia berdiri bersiap untuk melakukan siraman pada sang istri dan calon anaknya. Dalam tradisi ini, air yang di gunakan untuk Jingga mandi, berasal dari beberapa sumber mata air. Fajar secara khusus meyiapkan sendiri air yang akan di gunakan untuk istrinya mandi.
Sebelum acara siraman di mulai Jingga melakukan sungkeman, memohon maaf kepada Fajar beserta keluarga yang lainnya. Dalam acara siraman ini, sesepuh atau keluarga yang menyiram berjumlah tujuh orang termasuk Fajar sebagai calon ayah. Kini Oma, sebagai sesepuh tertua dalam keluarga Dirgantara mulai menyiramkan beberapa ceduk air di kepala Jingga. Ia menyiram dengan cukup pelan, tak lupa memberikan do’a-do’a di sana untuk keselamatan sang cucu dan cicitnya.
Ritual siraman dalam tingkepan ini sebagai pengharapan agar kelak bayi yang di lahirkan suci dan bersih. Sementara tujuh orang berasal dari kata jawa yakni pitu. Makna pitu sendiri merupakan pitulungan (pertolongan). Hal ini sebagai bentuk pengharapan agar kelak bayi yang di lahirkan mendapat pertolongan Tuhan beserta orang-orang di sekitarnya.
“Sayang bagaimana rasanya?” bisik Fajar di sela-sela acara siraman. Ia sedikit menundukkan tubuhnya dan mencondongkan pada sang istri,
“Dingin, tapi aku senang” jawabnya dengan tersenyum, guratan wajah bahagia terpampang jelas di sana.
Serangkaian acara yang dilakukan tak luput mengundang gelak tawa dari hadirin undangan yang ada. Terlebih beberapa kali Fajar, bertingkah sedikit konyol untuk menggoda istrinya, tentu saja semua itu di lakukan agar Jingga tidak lelah dan tegang.
“Mas...” rengeknya kala Fajar tak kunjung menggelindingkan telur tersebut ke bawah. Tangannya justru bermain-main di dalam sarung sana, entah memegang apa saja yang membuat Jingga harus menahan geli tiada terkira di hadapan banyak undangan.
Acara di lanjutkan dengan upacara ganti busana. Busana yang akan di pakai Jingga pagi itu, terdiri dari tujuh buah jenis kain dengan motif yang berbeda-beda. Sebagai dasar Jingga, memakaikan kain warna putih yang sudah melekat pada tubuhnya. Kain putih yang di kenakan Jingga, sebagai simbol jika bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci. Sejurus kemudian ia berganti pakaian sebanyak tujuh kali.
Setiap selesai ganti pakaian akan di iringi dengan pertanyaan “Sudah pantas belum?”
“Belum pantas” jawab riuh dari undangan yang hadir dalam acara pagi itu. Hal ini berlangsung hingga Jingga berganti pakaian untuk yang ketujuh kalinya.
“Bagaimana sudah pantas belum?” tanya pembawa acara saat pemakaian baju yang ke tujuh.
__ADS_1
“Sudah” jawabnya dengan kompak.
Baju ke tujuh yang di gunakan Jingga dalam acara ini adalah kain dengan warna coklat muda cenderung kuning. Kain ini di pilih secara khusus oleh Oma yang memiliki makna sido derajat. Kain yang paling bagus di antara ketujuh yang lainnya. Dalam kain ini, sebagai lambang dan pengharapan agar kelak bayi yang dilahirkan mendapat derajat yang baik dalam hidupnya.
Acara selanjutnya di lanjutan dengan pemutusan benang lawe atau janur yang di lilitkan di perut Jingga. Fajar secara langsung memutus benang tersebut sebagai simbol agar kelak persalinan yang di lakukan dapat berjalan dengan mudah.
Setiap rangkain acara yang di lakukan tak luput dari perhatian para undangan yang hadir. Tak jarang dari mereka yang mengarahkan kamera ponselnya untuk mendokumentasikan setiap acara yang di lakukan pagi ini.
Acara di lanjutan dengan angrerman. Jingga yang di bantu Fajar, bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan dengan pelan untuk menduduki baju-baju yang telah ia pakai sebelumnya. Jingga duduk dengan tenang di sana. Dalam prosesi ini melambangkan jika Jingga akan menjaga kehamilannya dengan ikhlas dan kasih sayang. Fajar yang berada di sisinya mulai meraih sepiring nasi tumpeng dan bubur merah putih. Ia menyuapi dengan sangat telaten, sebagai simbol kasih sayang seorang suami pada istrinya.
Ritual selanjutnya yang dilakukan adalah upacara brojol. Dimana dalam upacara ini akan memasukan dua buah kelapa gading yang bergambar Jenaka dan juga Srikandi. Kedua kelapa ini di masukan secara pelan ke dalam sarung yang di kenakan Jingga hingga turun ke bawah. Kemudian Bu Nadin sebagai calon nenek berada di bagian bawah untuk mengambil kelapa tersebut. Gambar Jenaka dan Srikandi di pilih agar kelak bayi yang dilahirkan memiliki paras yang rupawan seperti apa yang tergambar dalam kelapa tersebut.
Acara di lanjutkan dengan memecah cengir. Meski Fajar dan Jingga sdah melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka, tapi apa salahnya turut menjalankan ritual ini sebagai kenang-kenangan nantinya. Konon dalam acara memecah cengkir ini akan kelihatan laki-laki atau perempuan anak mereka nantinya. Selain itu memecah cengkir ini juga bertujuan agar kelak anak yang dilahirkan memiliki kelurusan pikir dalam mengarungi bahtera hidup.
Rangkain prosesi tingkeban di tutup dengan ritual dodol rujak, di mana dalam prosesi ini Jingga dan Fajar sedang berjualan rujak. Para tamu yang hadir dalam cara ini di perkenankan untuk membeli rujak pada Jingga. Mereka akan di membeli dengan uang yang berbetuk kreweng atau pecahan genting sebagai alat tukarnya.
Sepanjang acara tak henti-hentinya senyum mengembang sempurna di wajah Jingga. Meski terselip sedikit rasa sedih ketika teringat jika tak ada satupun dari keluarganya yang hadir dalam acara ini.
“Jangan bersedih, tetaplah untuk tersenyum” Fajar sedikit menyenggol legan istrinya, kala sekilas melirik wajah Jingga tampak sedikit sendu saat memberikan rujak pada undangan.
“Aku akan mencari keluargamu setelah ini” bisik Fajar kemudian.
Jingga diam saja, ia tidak berani berharap lebih. Mengingat sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sebatang kara di dunia ini.
“Jingga apa kabarmu?” suara familiar yang terbiasa Jingga dengar sebelumnya. Seorang wanita paruh baya yang ternyata turut hadir dalam acara tujuh bulanan yang di gelar keluarganya.
Jingga terdiam untuk sesaat.
__ADS_1
“Sudah jadi orang kaya rupanya!”