
Tengah malam adalah waktu terbaik untuk kembali bekerja, setelah seharian penuh melewati drama dan sandiwara. Fajar terbangun dari tidurnya, setelah beberapa jam lalu menutup mata demi memenuhi permintaan sang istri untuk lekas tidur bersama. Hening, sunyi seakan dunia hanya berfokus padanya dan pekerjaan yang ada.
Jemari Fajar kembali membuka laci yang ada di almari bajunya. Ia mengambil tas hitam berukuran cukup besar di sana. Matanya memandang pada dua bendel kertas kiriman dari Reza beberapa waktu yang lalu saat masih berada di Cina.
Mata Fajar, menatap lekat pada dua bendel kertas tebal yang ada di tangannya. Dari bagian luar bentuknya nyaris sama tak ada beda sama sekali. Hanya ada beberapa tanda tangan yang sedikit berbeda. Jika di lihat sekilas orang akan mengatakan jika keduanya sama.
Tunggu!
Kenapa nama pemilik aset, tanda tangan dan stampelnya juga berbeda?
Luar biasa pandai sekali kamu bermain. Fajar kembali menatap lekat bendelan kertas tersebut, dari sana ia dapat melihat seberapa banyak harta yang di miliki keluarga Bramantyo waktu dulu.
Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, ketika tangannya membuka lembar demi lembar tulisan di sana.
Jingga....
Jingga...
Jingga Sekar Ayu Kemuning, sebagian isi dari aset tersebut atas nama istrinya, lalu kenapa selama ini istrinya hanya menjadi seorang pelayan dalam keluarga Hermawan?
Ratusan pertanyaan kembali mengudara dalam otaknya. Rentetan kemungkinan yang terjadi telah Fajar pikirkan sebelumnya.
Fajar kembali membuka tas hitam yang kini tergeletak di sisi kanan tempatnya duduk.
Satu bendel yang bertuliskan catatan kriminal Hermawan.
Hah, apa lagi ini? Jadi seperti apa sebenarnya orang yang sedang ku hadapi saat ini.
__ADS_1
Fajar membuang nafasnya dengan kasar. Ia melirik sekilas istrinya yang tampak sedikit terusik dengan pergerakannya yang tiba-tiba.
“Mas....”
Waktu menunjukan pukul dua dini hari, Fajar tak kunjung dapat memejamkan matanya. Ia masih memeriksa beberapa pekerjaan yang sempat tertunda tadi pagi. Pegerakan Jingga yang tiba-tiba membuyarkan konsentrasinya.
“Ada apa sayang?”
“Kok belum tidur?” Tanya wanita itu dengan mengucek-ngucek mata dan sedikit menggeliatkan tubuhnya.
“Sudah sayang tadi, terbangun lagi sebentar” Fajar tersenyum dan membelai lembut rambut istrinya.
“Kamu kenapa bangun? Ini masih malam sayang. Apakah dia rewel?”
Tangan Fajar terulur untuk menyentuh perut istrinya, ia mengusap dengan lembut calon anaknya.
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Aku lapar” jawab Jingga dengan malu, ia sedikit menutup setengah wajahnya dengan selimut.
“Ok sebentar ya”
Tangan Fajar meraih pesawat telfon yang ada di sisi ranjang hendak menghubungi pelayan.
“Jangan bangunkan mereka kasian masih malam, pasti mereka juga capek semua. Biarkan aku makan makanan yang ada saja. Atau aku mau membuat mie instan”
Jingga mulai bangkit dari ranjangnya. Ia terduduk untuk beberapa saat sebelum menyibak selimut yang menutupi tubuhnya,lalu menggulung rambutnya.
__ADS_1
“Tidak sayang. Kamu tidak boleh makan makanan instan”
Tangan Fajar mencekal dengan pelan pergelangan istrinya.
“Tapi aku lapar mas, aku tak bisa tidur jika lapar. Rasanya ususku seperti di remas-remas” Rengeknya dengan manja.
“Biar aku saja yang masakain”
“Memang bisa?”
“Bagaimana kalau kita coba” Seperti biasa Fajar akan menaik turunkan alisnya. Ia meraih tangan Jingga dan menggandengnya untuk keluar dari kamar.
“Mas ini di rumah, aku tida akan mungkin tersesat. Jadi tolong lepaskan tanganku”
“Tidak mau, kalau kamu jatuh bagaimana? Aku hanya tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padamu. Tak ingin menambah masalah, Jingga menurut saja semua kata suaminya. Saat ini yang terpenting adalah makan untuk mengisi perutnya yang meronta-ronta sejak tadi.
Sesampainya di dapur, Fajar lekas membuka almari pendingin mencari beberapa bahan makanan yang dapat dengan mudah untuk di masak malam itu. Ia tak lagi menawarkan sesuatu pada Jingga, takut jika ibu hamil itu akan meminta yang aneh-aneh nantinya.
“Baik, sambil menunggu makanannya jadi, Tuan putri silahkan makan ini dulu”
Fajar memberikan beberapa potong roti tawar dengan selai coklat di hadapan istrinya. Ia juga mengupaskan beberapa buah apel dan jeruk yang diletakkan tepat di sisi piringnya.
“Mas yakin bisa? Biar aku saja yang masak. Aku masih kuat kok kalau cuma masak doang”
“Tidak sayang. Kamu tidak boleh capek-capek. Duduklah dengan tenang di situ” Perintah Fajar dengan mulai memakai celemek di tubuhnya.
Jingga duduk di meja makan, mulai memasukan beberapa lembar potong roti tawar pada mulutnya. Matanya dengan sigap mengamati setiap pergerakan yang Fajar lakukan. Hati Jingga terusik ketika melihat Fajar sedang memotong bawang merah. Ia beranjak dari tempat duduknya dan turut bergabung ingin membantu mengupas.
__ADS_1
Hoek...
Hoek.