
Deru suara mesin mobil Fajar, mulai memasuki pekarangan rumah. Tak biasanya pria itupulang jauh lebih awal dari biasanya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah hendakmenemui istrinya. Rupanya Bu Nadin, Oma dan Jingga berada di ruang keluarga.Mereka sedang bermain bersama dengan Gendis.
Seperti biasah Jingga akan menyambut kedatangan suaminya. Ia berjalan maju pada Fajar lekas meraih tangan Fajar, menciumnya dengan penuh takzim. Ia juga memberikan
senyuman sekilas pada suaminya. Nampaknya itu senyum keterpaksaan. Terlihat dari guratan pipi yang sama sekali tak terangkat untuk naik ke atas.
“Ma, aku ke kamar dulu ya mau menaruh tas dan baju mas Fajar” pamit Jingga pada mertuanya. Ia menitipkan Gendhis pada Nyonya Oma dan juga Ibu mertuanya.
“Iya urus saja suamimu dulu. Mumpung dia pulang lebih awal” Bu Nadin mengibaskan
tangannya pada anak dan menantunya mengusir mereka agar lekas menuju kamarnya.
Jingga berjalan lebih dulu di hadapan Fajar. Tangannya sibuk membawa jas dan juga tas suaminya. Ia berjalan dalam diam, tak mengeluarkan sepatah katapun saat itu,
Hanya ketukan dari alas kaki yang mengisi keheningan perjalanan menuju kamar mereka.
Astaga ternyata horor sekali kalau lagi marah.
Fajar mengaruk-garuk rambutnya yang tak gatal, ia mengikuti setiap langkah Jingga dalam diam.
Ceklek....
Pintu terbuka, Jingga lekas memasuki kamarnya. Meletakkan tas dan jas Fajar sebagaimana mestinya. Ia masih diam tak bersuara dan masih enggan untuk menatap sang suami. Namun Jingga, tetap menjalankan perannya.
Ia mulai beranjak ke kamar mandi, untuk mengisi bak mandi Fajar. Menyiapkan beberapa aroma terapi untuk suaminya berendam. Tak lupa Jingga, juga menyiapkan baju ganti yang di letakkan di sisi ranjangnya.
Masih dalam suasana diam dan membisu. Sorenya warna senja yang indah seakan sirna
begitu saja. Bergantian awan hitam yang cenderung mendung dan siap untuk menghantarkan halilintar yang datang.
“Sayang” ucap Fajar, mencoba untuk membuka keheningan. Ia meraih tangan Jingga. Menyentuhnya dengan lembut sejurus kemudian ia mencium tangan itu dengan penuh cinta.
Tak ada respon yang berarti yang di berikan Jingga. Wanita itu diam saja engan untuk berucap. Wajahnya terlihat masam dan enggan untuk menatap sang suami.
“Sayang, maafkan aku. Biarlah aku menjelaskan semuanya” Fajar kembali berucap. melembutkan suaranya selembut kain sutra. Tidak biasanya seorang Fajar yang dingin akan berkata lembut pada lawan bicaranya.
Diam.
Jingga masih diam saja, enggan untuk merespon. Ia mengalihkan pandangannya menatap ke segala arah. Demi menghindari kontak mata dengan Fajar.
“Sayang ayolah, jangan seperti ini. Jangan diam saja katakan sesuatu, Aku rindu sekali denganmu”
“Buruan mandi, airnya keburu dingin” Jingga membuka suaranya dengan sedikit kesal. Ia
masih enggan untuk berbicara panjang lebar pada suaminya.
“Baiklah. Trimakasih ya sayang. Sudah menyiapkan aku air untuk mandi. Kamu memang istri terhebat” Fajar mencubit lembut pipi istrinya. Jingga tak bereaksi apapun, wanita itu masih menabuh genderang perang pada suaminya.
Fajar lekas masuk ke dalam kamar mandi dengan segera, sementara Jingga, ia memilih untuk
kembali bergabung bersama anak dan mertuanya yang berada di ruang keluarga.
“Lho kok cepat nak?”
__ADS_1
“Mas Fajar sedang mandi Ma. Sepertinya Gendhis haus Ma, saya akan memberinya asi
sebentar” Jingga mengambil anaknya dari pangkuan Bu Nadin. Ia hendak membawa
bayi kecil itu ke kamarnya.
“Ah iya sepertinya dia lapar. Lihat saja dia sudah menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber makanannya” Bu Nadin menoel-noel lembut pipi gembul Gendhis, yang di ikuti dengan arah gerakan kepala bayi, mengikuti jemari Bu Nadin.
Jingga membawa Gendhis dalam kamar bayinya, Ia mulai merebahkan diri. Memberikan sumber
makanan pada sang anak. Bagi Jingga posisi menyusui seperti ini sangat menyenangkan saat ia dan sang anak dapat melakukan kontak mata dan sentuhan secara langsung.
Ia membelai-belai lembut kepala dan tangan Gendhis. Dalam beberapa kesempatan ia juga memberikan kecupan manis di kening anaknya. Lama sekali Gendhis menyusu hingga menghabiskan bagian kanan maupun kiri kantung asi mamanya.
“Sayang sudah kenyang ya minumnya. Sekarang Gendhis mandi dulu ya nak. Mama siapkan
mandinya Gendhis dulu” Jingga memindahkan Gendhis dalam box bayi. Ia memberikan
mainan di sisi kanan dan kirinya. Meskipun bayi itu belum bisa memainkan setidaknya ada temannya, Batin Jingga dalam hati.
Sekalipun di rumah itu banyak pelayan dan ada beberapa suster yang di siapkan khusus
untuk menjaga Gendhis, namun Jingga tetep ingin berperan langsung dalam kehidupan anaknya. Jika dalam waktu yang lenggang dan sedang tidak dalam keadaan mendesak ia akan memandikan sendiri anaknya.
“Ternyata di sini anak dan istriku” Fajar baru saja datang setelah mencari keberadaan Jingga yang menghilang. Seperti biasah pria itu akan melingkarkan tangannya di perut Jingga. Saat itu Jingga sedang menata baju yang akan di pakai Gendhis.
Jingga diam tidak memberikan respon atas kedatangan suaminya. Ia lebih memilih fokus
Ya Allah, ternyata kalau marah lebih horor dari Suzana.
“Sayang, aku bisa bantu apa?”
Diam.
Jingga diam saja enggan menjawab pertanyaan suaminya. Sungguh hatinya masih sangat
kecewa. Ia harus menelan pil pahit ketika ingin memberikan kejutan pada suaminya, namun justru ia yang harus di kejutkan dengan keadaan yang ada.
“Sayang jangan diam saja, katakan sesuatu”
Jingga tak bergeming, ia meraih tubuh Gendhis dan mulai memandikan ananya.
Fajar menatap setiap aktivitas yang di lakukan istrinya. “Sayang, aku harus bantu apa?” tanyanya kembali dengan memainkan air yang di gunakan untuk mandi anaknya. Sementara Gendhis bayi itu tertawa ketika sang papa datang dan menggelitiknya pelan.
Sepuluh menit kemudian, Jingga masih bungkam. Ia menganti baju Gendhis menyemprotkan parfum di bajunya. Ia juga memakaikan bandana di kepala sang anak.
“Anak Papa cantik sekali sih, harum pula. Persis sama Mamanya” Jika biasanya Fajar
dan Jingga berdebat perihal kemiripan sang anak dan merebutkan tingkat kemiripannya, maka tidak berlaku dengan sekarang. Jingga lebih memilih diam tak menghiraukan setiap kata yang di ucapkan suaminya.
“Sayang, akan aku jelaskan semuanya”
“Tadi itu Dahlia sedang kemasukan hewan atau benda di matanya. Matanya memerah dan berair. Kebetulan di dalam ruangan sedang tida ada siapa-siapa. Reza sedang mengambil dokumen di bawah, sementara Boy sedang ke parkiran mengambil beberapa berkas yang tertinggal di mobil” Fajar terdiam untuk beberapa saat. Ia
__ADS_1
menjeda ucapannya. Melirik sekilas reaksi istrinya.
Jingga masih diam saja enggan untuk bersuara. Ia lebih memilih untuk menimang-nimang
Gendhis dalam pangkuannya.
“Sayang aku hanya membantu dia mengeluarkan binatang dari matanya. Sudah tidak lebih,
aku tidak melakukan yang lebih dari itu. Sayang aku harus bagaimana untuk
membuatmu percaya padaku?”
“Terus binatangnya ada? Hem? Emang ada binatang yang masuk dalam ruangan kamu mas?. Hewan apa? Cicak, nyamuk atau semut atau bahkan gajah?huh”
“Aku rasa ruang kamu di desain khusus agar tak ada satu pun binatang yang bisa masuk
di sana. Bukankah ada OB juga yang setiap hari memastikan jika ruang kamu harus bersih!” cerca Jingga kemudian dengan ketus. Ia teringat akan ancaman yang di lakukannya beberapa hari yang lalu. Jingga yakin hanya bagian dari akal-akalan Dahlia untuk menarik perhatian suaminya.
Fajar terdiam untuk sesaat. Ia menggaruk rambutnya yang terasa tak gatal sama sekali.
“Kenapa? Kenapa diam saja? Betulkan apa yang ku katakan? Tidak mungkin ada binatang yang
masuk ke dalam matanya. Kecuali ulat!”
Jingga melengos enggan menatap suaminya.
“Ulat?” tanya Fajar heran.
“Ya wanita ulat itu yang masuk dalam tanganmu!”
“Jadi kamu cemburu sayang?” Fajar mendekat, menempel ke istrinya.
“Jadi seperti ini istriku ketika marah dan cemburu?”
“Bodo amat” Jingga memilih untuk menghindar dari suaminya.
“Sayang, ayolah. Cintaku hanya untukmu. Ini hanya sebuah kesalah pahaman saja. Kamu tahu
bukan di sini, di sini hanya ada kamu. Hanya ada satu nama dan satu jiwa, tidak akan berubah dan tidak akan pernah berubah” Fajar meraih tangan istrinya, menempelkan pada dadanya yang berdetak lebih kuat dari biasanya.
Jingga masih diam saja. Entah mengapa ia masih merasa sakit hati. Ancaman Dahlia begitu terngiang di benaknya. Ia tak ingin kehilangan kebahagiannya untuk kesekian kalinya kerena wanita itu.
“Sayang, sudah ya marahnya” Fajar memeluk istrinya dengan paksa, membawa Gendhis turut
dalam pelukan mereka. Jingga masih diam saja tak membalas pelukan suaminya tapi entah mengapa air matanya meluncur begitu saja dari pelupuk matanya. Sementara Gendhis bayi itu tertawa riang. Ia memukul-mukul wajah Fajar dengan tangan mungilnya.
“Sayang baikan ya? Jangan marah lagi. Aku tak sanggup bila harus kau diamkan seperti ini. Duniaku mendadak terasa gersang dan juga gelap ketika tak ada senyum yang terbit dari wajah cantikmu”
“Maaf ya sudah membuatmu menangis hari ini” Fajar mengusap lembut wajah istrinya, menghapus air mata yang meleleh di pipinya.
Jingga masih diam saja tak memberikan reaksi.
Ya Allah bagaimana aku harus membujuk istriku agar tak marah dan kembali berdamai?
__ADS_1