
“Mas Fajar....”
Rintih Jingga di tengah kerumunan orang-orang yang melaluinya. Ia menangis ketakutan dan resah. Terlebih ketika melihat riuh dan teriakan dari orang-orang yang meminta tolong pagi itu.
Kepulan asap semakin menyebar di seluruh lorong-lorong yang ada di poli kandungan dan sekitarnya. Jingga masih terdiam di tempat yang sama, ia memeluk perutnya berusaha untuk melindungi dari tabrakan manusia yang hendak mencari jalan untuk keluar.
Aduh....
Rintihnya kembali saat baru saja memajukan langkahnya beberapa jengkal. Tubuh Jingga, kembali tertabrak oleh puluhan manusia yang sedang di kejar api. Badannya yang tak terlalu besar membuatnya dapat terombang-ambing dengan mudah oleh pengunjung rumah sakit lainnya.
Ia terjatuh, naasnya ia terjatuh tepat di tengah-tengah koridor rumah sakit hingga membuatnya berkali-kali harus mendapati injakan dari beberapa penghuni rumah sakit lainnya.
Aduh...
Satu kakinya terinjak oleh orang yang tak di kenal. Jingga meringis berusaha sekuat tenaga untuk menepi. Ia menggeser tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada, tanpa berdiri. Tangannya masih dalam posisi yang sama memeluk perut untuk melindungi sang anak.
Sementara Reza, yang mendengar kabar jika di poli kandungan sedang terjadi kebakaran lekas berlari dengan kecepatan penuh. Ia menggunakan segala kekuatan yang ada untuk bisa sampai di poli kandungan dengan segera.
Matanya memindai satu persatu manusia yang tersisa di sana, mencari keberadaan sang majikan. Hatinya cemas, takut sesuatu hal buruk terjadi pada Nona mudanya. Reza, melawan arah. Jika sebagian besar orang yang ada dalam poli kandungan berhamburan untuk keluar dari sana, maka tidak dengannya. Ia semakin masuk, membelah kepulan asap dan puluhan orang yang hendak mencari jalan keluar.
Nona...
Nona...
Non Jingga bisa mendengar saya...
Suara itu menggema di tengah kepanikan manusia. Reza tak putus asa, ia masih mencari keberadaan sang majikan walau kepulan asap kian banyak memenuhi sepanjang koridor rumah sakit. Berharap Jingga bisa mendengar suaranya, dan lekas merespon panggilan itu.
.
.
.
Sayang, sebentar lagi semuanya akan berakhir, semua hakmu yang telah hilang akan lekas kembali. Kamu akan mendapatkan keadilan yang telah hilang. Jika Tuhan merestui, kamu juga akan kembali berkumpul dengan keluargamu yang masih tersisa.
Fajar tersenyum sesaat setelah menutup sambungan telfon dari seseorang yang ada di seberang sana. Ia menggeser galeri dalam ponselnya. Matanya memandang wajah sang istri yang sedang tersenyum damai penuh pesona.
Aku tak sabar ingin memberitahumu tentang kabar bahagia ini sayang.
Lagi-lagi ia mengulum senyum, seolah segala rencana yang telah tersusun rapi akan segera terealisasikan. Tak ingin berlama-lama dalam angan yang ada. Fajar menutup kunci ponselnya, ia memasukan kembali pada saku celana yang ia gunakan.
Fajar melangkah dengan tenang, hendak kembali menuju ke dalam rumah sakit. Namun, ketenangan dan senyumnya hanya sesaat, ia kembali resah kala mendapati puluhan bahkan ratusan orang sedang berhamburan untuk keluar dari rumah sakit.
“Ada apa ini?” tanya Fajar dengan raut wajah yang panik.
Tak ada jawaban, hanya suara riuh dari ratusan orang yang saling dorong, mereka berusaha untuk meloloskan diri lekas keluar dari rumah sakit.
“Ada apa ini?” tanya Fajar kembali dengan setengah berteriak hingga mencuri anestesi beberapa orang yang ada di sana.
“Kebakaran” jawab salah satu orang dengan berlari menyelamatkan diri.
“Dimana?” Teriak Fajar panik.
“Poli kandungan!” Suara itu semakin menjauh, hingga hilang tertelan lautan manusia, yang masih berhamburan mencari jalan untuk keluar dari sana.
__ADS_1
Fajar terdiam sesaat. Dunianya terasa berhenti untuk berputar saat itu. Pikirannya mendadak hilang kendali, ia linglung untuk sesaat. Sejurus kemudian ia teringat akan satu nama.
Jingga!
Istriku!
Fajar semain panik, tak kala melihat kepulan asap yang mulai beredar hingga ke lobi rumah sakit. Ia menjambak rambutnya dengan kasar. Berlari menerjang untuk melawan arah lautan manusia demi bisa masuk ke sana.
“Pak, di atas sedang kebakaran. Sangat bahaya jika anda ke sana!” cegah beberapa satpam yang berdiri di area lobi menuju lantai dua.
“Saya mau mencari istri saya”
“Bahaya pak, api sudah menyebar. Kita tunggu pemadam kebakaran dulu” Mereka menghalangi Fajar yang hendak naik ke poli kandungan.
“Hah, menunggu pemadam kebakaran! Kamu pikir aku bisa tenang? Istriku ada di sana!” Mata Fajar melirik dengan tajam, kedua tangannya mengepal. Hatinya yang gundah seakan semakin membuatnya panas tiada terkira.
“Tapi Pak, di sana bahaya sekali!” instruksi satpam kemudian. Mereka masih mencoba untuk menghalangi langkah Fajar.
“Aku tak peduli!” ia berlari masuk ke dalam, menyingkirkan kedua satpam tersebut dengan segala kekuatan yang ada.
“Minggir!”
.
.
.
Tolong...
Suara Jingga melemah, jilbabnya sudah tidak beraturan. Celananya penuh dengan warna hitam sisa-sisa asap yang ada. Kakinya melemas dan sulit untuk di gerakan. Ia bahkan tak bisa untuk berdiri, seluruh tubuhnya terasa remuk redam tiada terkira.
Tolong..
Tolong...
Jingga sudah merasa di ambang batas kemampuannya untuk bertahan. Dadanya yang mulai sesak serta pandangannya yang mulai kabur membuatnya menyerah akan hidup ini. Ia menyerahkan segalanya pada yang maha kuasa akan segala kemungkinan yang terjadi. Sejurus kemudian semuanya menjadi gelap tiada terkira.
Jingga pingsan.
Ia kehilangan kesadaran di tengah-tengah kepanikan manusia yang mencari jalan untuk keluar. Reza mulai memasuki area ruang tunggu poli kandungan. Ia berkali-kali mengibaskan asap yang melalui wajah dan hidungnya. Mengumpulkan seluruh tenaga yang ada untuk mencari sang majikan. Matanya kembali memindai lorong yang ada di depannya.
Putih dan gelap.
Hanya kepulan asap yang ada, membuat jarak pandang matanya terbatas. Ia masih berlari dan memanggil-manggil nama Jingga di tengah kepanikan yang ada.
Non Jingga...
Non Jingga...
Sama sekali tak ada jawaban. Hanya suara riuh dari beberapa orang yang masih terdengar memenuhi seluruh lorong yang ada.
Reza terdiam beberapa saat, ia kembali mengibas kepulan asap yang mengenai wajahnya. Matanya terasa perih tapi nalurinya sebagai sesama manusia berbicara harus menemukan Jingga saat itu juga.
Ia kembali terdiam untuk sesaat, menghentikan langkahnya dan memindai sekitar area yang ada.
__ADS_1
Non Jingga...
Pandangan mata Reza, tertuju pada seorang wanita yang terkulai lemas tak berdaya di tepi koridor rumah sakit. Wanita itu terjatuh di lantai dengan baju yang sudah lusuh.
Astaga Non Jingga.
Reza kembali mendekat memastikan jika yang di lihat tidaklah salah. Ia mencoba memastikan meskipun dengan perasaan yang ragu, mengingat pandangan yang tak maksimal tertutup kepulan asap.
Non Jingga!
Reza berada dalam jara terdekat. Ia yakin jika itu adalah sang majikan. Tak banyak bicara laki-laki itu mengangkat Jingga tanpa aba-aba. Ia menutup tubuh Jingga dengan jas yang di pakainya demi melindungi dari panasnya api yang mulai menjalar kemana-mana.
Raut wajah Reza panik, nyawa sang majikan sedang di pertaruhkan, terlebih ia membawa dua nyawa dalam satu genggaman saat itu. Sekuat tenaga Reza berlari menyusuri koridor rumah sakit mencari jalan untuk keluar dari sana.
Huh..huh..huh...
Ia berlari dengan kecepatan penuh di sisa-sisa tenaga yang ada. Entah ia sendiri tak tahu dari mana datangnya kekuatan yang hinggap di tubuhnya, hingga mampu membawa sang majikan berlari cukup jauh menuruni anak tangga menuju lobi rumah sakit.
Pelipis Reza sudah penuh dengan warna hitam, keringat mengucur deras di sana. Tak ada yang lebih penting dari nyawa sang majikan beserta calon anaknya. Ia berhutang budi banyak pada Fajar akan hidupnya. Sudah sepatutnya kini ia membayar kontan apa yang telah majikannya korbankan untuknya dulu.
Tuan...
Teriak Reza, yang masih berlari dengan membawa Jingga di tangannya. Ia mencoba menghentikan langkah Fajar yang hendak menuju poli kandungan.
Tuan...
Sekuat tenaga ia kembali berteriak memanggil Fajar. Menyadari suara familiar di telinganya membuat Fajar menoleh ke sumber suara.
Reza!
Matanya menatap tajam pada wanita yang ada dalam gendongan sang asisten.
“Tuan, Nyonya Jingga” wajah panik Reza datang menghampiri Fajar yang tak kalah paniknya.
“Jingga!” Seru Fajar kemudian, tanpa banyak bicara ia meraih tubuh istrinya dari dekapan Reza dan membawanya keluar dari sana.
Reza dapat bernafas lega, setidaknya ia bisa mengembalikan sang Nona pada suaminya dalam keadaan selamat, meski kondisi Jingga belum dapat di pastikan baik-baik saja sata itu.
“Siapkan mobil!” instruksinya kemudian, memberikan akses pada Reza untuk keluar terlebih dahulu mengambil mobil mereka yang ada di ujung parkiran.
“Baik Tuan”
Fajar menepuk-nepuk pipi sang istri, memanggil-manggil nama sang istri berharap ia memberikan respon akan sentuhan tangan tersebut.
Jingga terdiam, ia tak bergeming sedikitpun. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya cenderung pendek dan lemah. Fajar menatap wanitanya dengan panik. Terlebih ketika melihat wajah dan baju yang di kenakan Jingga begitu lusuh terkena banyak noda. Sudah dapat di pastikan jika wanita itu terinjak oleh gerombolan orang-orang. Ia memeluk dengan sendu istrinya berharap sesuatu hal buruk tidak terjadi pada anaks dan istrinya.
.
.
.
“Rumah sakit, cari rumah sakit terdekat dari sini!” ucap Fajar ketika mobil yang di kendarai Reza telah sampai di depan pelantaran rumah sait.
“Baik Tuan”
__ADS_1
Mobil melesat dengan kecepatan penuh, tak peduli rambu-rambu lalu lintas yang ada. Reza memilih untuk menerobosnya, ia membelah padatnya jalanan pagi itu. Suara klakson tak henti-hentinya mengudara di balik kemudinya.
“Berhenti”