JINGGA

JINGGA
158


__ADS_3

“Oek..oek..oek...”


Suara tangis bayi mulai terdengar kembali ketika kobaran api sudah sangat besar.


“Gendhis!”


“Genghis putriku” Fajar berbelok arah dari tempatnya sekarang, ia berlari dengan sangat


kencang menuju ke sumber suara. Pada bagian depan pria itu sudah ada kobaran api yang mulai menjalar. Tangannya mengibas-ibas untuk mencari jalan masuk ke kamar tersebut.


Bruk..


Satu tendangan yang keras membuat ia mampu menjebol pintu kamar. Telinganya lekas mencoba untuk kembali memastikan arah sumner suara yang ada. Ia berlari dengan kencang menuju sebuah ranjang yang ada di bagian tengah kamar. Tangan Fajar terulur untuk membuang selimut, bantal juga guling yang ada di atas ranjang


tersebut.


“Dimana kamu nak?”


“Menangislah agar Papa bisa menyelamatkanmu”


“Ya Allah tolonglah putriku” Mata Fajar mulai meneteskan air mata. Air mata kesedihan berikut panasnya api dan asap, mereka seakan berlomba untuk menelannya dalam kepahitan saat itu.


“Oek oek...”


Masih dalam ruang yang sama, suara bayi itu kembali terdengar, bahkan lebih jelas dari pada sebelumnya.


“Almari”


Bruk..bruk ia membuka almari dengan paksa, mengeluarkan semua isi yang ada di sana dengan hati-hati, ia takut jika bayinya di letakan di sana dan salah melempar.


“Ah tidak ada, di mana lagi aku harus mencari mu nak?”


Di luar hotel kobaran api terlihat sudah membumbung tinggi ke angkasa, kepulan


asapnya merajalela memenuhi cakrawala hingga membuatnya terlihat hitam dan pekat.


Jingga menangis dengan tersedu-sedu di bagian pelantaran hotel. Tubuh dan kakinya melemas, sudah tidak dapat lagi menahan beban tubuhnya. Ia tersungkur di atas tanah dengan wajah dan baju yang penuh warna hitam.


“Asih anak dan suamiku masih ada di sana? Kenapa kamu membawaku keluar dari sini? Untuk apa hidup jika orang-orang yang aku cintai masih belum tentu nyawanya akan


selamat” ia meraung menangis sejadi-jadinya. Asih tak kuasa untuk melihatnya, ini sungguh tragis. Jika mereka berdua bisa selamat namun yang lain tidak. Ini akan membawa beban mental tersendiri bagi Jingga berikut dengan Asih.


Niu..niu..niu..


Lima mobil pemadam kebakaran mulai memasuki area hotel. Dengan cekatan mereka


memadamkan api di bagian luar. Sementara beberapa yang lainnya masuk ke dalam


untuk mengevakuasi korban yang masih tertinggal.

__ADS_1


Jingga yang melihat beberapa petugas pemadam kebakaran memasuki hotel, membuatnya


bangkit dari duduknya. Ia turut ikut berlari hendak masuk ke dalam sana.


“Ibu mau ke mana?”


“Saya harus masuk pak. Anak dan suami saya masih di dalam”


“Tidak bisa Bu, ini terlalu berbahaya. Sebaiknya ibu tunggu di luar saya. Kami dan tim


akan berusaha untuk mencari mereka”


“Tidak Pak, saya harus masuk. Saya harus masuk. Saya harus memastikan jika semua keluarga saya selamat”


Jingga kembali berlari untuk memaksa masuk. Asih tidak dapat berbuat banyak wanita itu


sudah kewalahan untuk menghadapi Jingga. Tenaganya juga sudah melemah sejak


kemarin ia mendapat siksaan baik dari Bu Lia maupun Dahlia. Ia memilih untuk berpasrah dan berdoa akan keselamatan semuanya.


“Tolong selamatkan Nona saya, tolong cegah dia untuk masuk” ucap Asih di sisa-sisa tangisnya, ia masih duduk di tanah tak memiliki kekuatan untuk bangkit dari sana.


“Bu tolong percayakan pada tim. Kami sedang berusaha. Tolong jangan perlambat kerja


kami seperti ini. Kami harus segera menyelamatkan korban yang masih tertinggal


di dalam sana”


sebagain lagi menghadang Jingga untuk masuk ke sana. Ada pula yang bertugas untuk memberikan pertolongan pertama pada korban yang berhasil di evakuasi.


“Gendhis. Gendhis kamu di mana nak? Kamu dengan Papa, jika kamu mendengar panggilan Papa tolong beri respon. Menangislah sayang, menangislah” teriak Fajar dengan sangat


keras, matanya masih mengedar mencari sekitar kamar memastikan jika Gendhis ada.


“Oek oek oek...”


Suara itu terdengar semakin jelas.


“Kamar mandi, ya di kamar mandi”


Tanpa banyak pertimbangan Fajar lekas mendobrak pintu kamar mandi yang terkunci. Ia sungguh tak habis pikir dengan ulah keluarga Hermawan, bisa-bisanya mereka melakukan


seperti ini atas nama harta dan kekuasaan.


“Gendhis kamu di mana nak. Ayo menangislah lebih kencang lagi” Ia berlari untuk semakin


masuk ke dalam kamar mandi.


“Gendhis”

__ADS_1


Mata Fajar terbelalak ketika mendapati anaknya terletak di bath tub kamar mandi. Bayi itu


menangis seperti sedang ketakutan melihat kondisi sekitarnya. Ia berguling-guling memohon pertolongan.


“Ya Allah anakku” Fajar menangis melihat bayinya yang bercucuran air mata. Ia lekas


mengambil Gendhis saat itu juga merengkuhnya dalam pelukan yang erat. Ia juga menyempatkan diri untuk mencium wajah anaknya.


“Astaga badanmu sampai panas sekali seperti ini nak. Tenang ya kita pasti selamat. Kita


akan keluar bersama-sama”


Matanya melirik sekitar kamar, mencari sesuatu yang dapat di gunakan untuk membalut tubuh Gendhis agar tidak terkena kobaran api yang semakin membesar. Fajar lekas meletakan Gendhis di atas kasur, membalut bayi itu dengan bad cover yang ada lalu melapisi dengan handuk yang sudah di basahi. Ia lekas memeluk erat sang


anak. Mencari jalan untuk keluar dari sana.


“Sebelah sana, aku harus mencari jalan pintas untuk turun ke bawah. Aku tidak bisa jika


harus melewati tangga. Di luar kobaran api sudah memenuhi penjuru ruangan” ucapnya dalam hati mencari solusi untuk keselamatannya dan Gendhis.


“Jendela itu”


Fajar melihat jendela yang letaknya masih satu lorong dengan kamar ia menemukan persembunyian Gendhis.


“Aku harus ke sana sebelum api semakin merambat untuk memakan area sana”


Ia kembali berlari dengan terengah-engah menuju satu-satunya jendela yang masih utuh di lorong tersebut.


Bruk..


Beberapa interior dan konstruksi bangunan sudah mulai jatuh ke tanah terkena kobaran


api. Reza sudah berhasil di evakuasi oleh pemadam kebakaran. Ia berada di lantai satu. Sementara di lantai dua, tak ada satupun petugas yang berani ke sana mengingat kondisi api yang sudah semakin besar.


Reza pun merasa bersalah tak bisa membantu majikannya. Ia meringis menahan segala


rasa sakit yang mendera tubuhnya yang di balut rasa sakit yang menimpa hatinya. Ini kali pertama ia gagal dalam menjalankan tugasnya dari Fajar. Hingga membuat pria itu tak mampu bersuara namun air matanya yang berbicara.


“Bersiaplah nak kita akan turun setelah ini” Fajar melirik bagian bawah bangunan yang langsung terhubung dengan pekarangan belakang hotel. Ia mencari tempat yang pas untuk pendaratan, mengingat di bagian bawah sana terdapat semak belukar yang sudah sangat tinggi. Ia juga khawatir jika selamat dari kobaran api tapi tidak


dengan ular ataupun yang lainnya.


“Sudahlah yang penting usaha dulu, selebihnya aku pasrahkan padamu ya allah akan keselamatan kami”


Tanpa pikir panjang Fajar lekas melompat ke bawah, mengingat kobaran api sudah


merambat memakan helaian korden yang ada di sisi jendela.


“Allah” teriaknya dengan memeluk erat anaknya yang masih bayi.

__ADS_1


Bug..bug...


__ADS_2