
Deru suara kendaraan roda empat mulai memasuki pelantaran rumah Hermawan. Rumah
megah tiga lantai dengan nuansa putih serta memiliki area pekarangan yang sangat luas. Hamparan rerumputan nan hijau menyapa siapa saja yang mulai menginjakkan kakinya di sana.
Cukup pelan Fajar dan Jingga mulai mencapai halaman tersebut. Melewati ruas demi ruas
sudut yang ada. Rumah terlihat sangat sepi seakan tak berpenghuni. Tak ada penerangan yang berarti dalam rumah itu. Hanya ada satu lampu yang menyala di bagian teras dan ruang tamu. Tak ada satpam yang berjaga di bagian depan rumah. Pintunya dalam keadaan terbuka.
Dalam ragu Jingga, mulai memasuki rumah yang menjadi saksi bisu hidupnya selama lebih
dari dua puluh tahun. Ia berpegangan tangan pada sang suami, seolah mencari sumber kekuatan di sana. Dalam hening dan keraguan ia mencoba untuk tetap melangkah. Perlahan tangannya terulur untuk mengetuk pintu besar yang ada di depannya. Berharap masih ada orang yang tersisa dalam rumah itu.
“Assalamualaikum” ucap Fajar, dengan cukup keras.
Tok..tok..tok..
Ia mengetuk pintu berkali-kali dan mengucapkan salam. Jingga masih terdiam saja. Matanya mengedar sibuk mengamati sekitar sudut rumah yang memiliki banyak kenangan.
“Waalaikumsalam” jawab seorang wanita, terdengar derap langkah kakinya dengan pelan. Sepertinya wanita itu meragu untuk membukakan pintu kami. Tapi kami mengucapkan salam berkali-kali, membuatnya mau tak mau lekas beranjak dan membukakan pintu.
Ceklek..
Pintu terbuka.
Sosok wanita tua dengan memakai daster batik warna coklat, rambutnya di gelung di belakang
dengan sebagain lagi tak terikat dengan rapi. Ia membiarkan begitu saja rambutnya menjuntai ke depan mengenai sebagian keningnya.
“Bik Minah”
“Jingga!” jawab wanita itu setengah tercengang kaget.
“Iya ini saya” Jingga tak banyak bicara, ia lekas menghambur menuju pelukan rekan sesama pelayannya ketika masih bekerja di rumah itu.
“Masyaallah” ia menangis sesenggukan ketika memeluk Jingga, seakan telah lama sekali tak
berjumpa dengan wanita di depannya.
“Ini suamiku”
“Iya aku tahu, kalian menikah di sini”
“Bolehkah aku masuk bi?”
Alih-alih memberikan jawaban wanita sepuh tersebut lekas menyeret Jingga dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Jingga kembali di buat heran dengan kondisi rumah yang tampak sepi bahkan seperti tak
berpenghuni. Cahaya yang dinyalakan cukup sedikit bahkan cenderung mini.
“Bik, kenapa lampunya tidak di nyalakan?” tanya Jingga di tengah-tengah kegelapan dalam ruang tamu.
“Jingga bukan bermaksud apa-apa. Tapi jika bibi nyalakan lampu di rumah ini. Lantas bagaimana bibi bisa membayar tagihan listriknya nanti. Rumah ini terllau luas”
__ADS_1
Jingga terdiam mendengar jawabannya.
“Kenapa sepi sekali di mana yang lainnya? Atau kerana ruangan gelap jadi aku tidak bisa melihat yang lain?”
Lagi-lagi Bi Asih hanya mampu untuk menggelengkan kepalanya saja.
“Kenapa Bi?” Jingga mengulang kembali pertanyaannya.
“Sebaiknya nyalakan lampunya saja dulu. Biar ngobrolnya enak dan lebih santai. Untuk urusan biaya listrik nanti saya yang akan tangung” serkas Fajar dengan mencari keberadaan saklar di rumah itu.
“Dimana tempat menyalakan lampunya?” ia kembali bertanya ketika tak kunjung menemukan
letak sakralnya.
“Biar saya yang menyalakan. Tunggu di sini sebentar”
Dengan langkah yang sukar wanita tua itu mulai bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan pelan untuk menghidupkan sumber cahaya di sana. Sementara Jingga dan Fajar duduk di kursi ruang tamu dengan saling bersebelahan.
“Aku sudah lama menunggu kedatanganmu Jingga. Selepas kabar kematian yang menimpa Nyonya Lia berikut Non Dahlia, aku mulai mencari keberadaan mu, namun sayang aku tak kunjung untuk menemukan itu. Sekarang atas kuasa Allah kamu datang kamari”
Bi Asih melempar senyum memandang tamunya malam ini.
“Yang lain ke mana? Di bagian depan tadi juga tidak ada satpam yang menjaga?” tanya Jingga dengan heran.
Mereka sudah pulang ke tempat masing-masing. Ada yang mencari pekerjaan baru. Ada yang
pulang kampung ke desanya. Ada pula yang masih menjadi pengangguran sampai hari ini.
“Pulang? Kenapa harus pulang?”
tidak jelas kepemilikannya akan jatuh pada siapa nantinya. Sementara biaya operasionalnya sungguh luar biasa besarnya”
Huf...
Jingga menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lekas menjatuhkan beban tubuhnya pada sandaran kursi sofa yang ia duduki.
Fajar duduk dengan cukup tenangnya, ia mengamati setiap detail interior dalam rumah
itu. Ia sama sekali tak pernah datang ke rumah itu kecuali saat hari pernikahan mereka dulu.
Bi Minah menatap Jingga dengan lekat, seakan ada hal yang ingin di sampaikan. Namun ia bingung harus memulai dari mana.
“Bi, apakah Bibi punya kontak dari teman-teman yang kerja di sini? Jika ada apakah aku boleh memintanya?”
“Tentu saja boleh. Tapi untuk apa?”
“Aku ingin menyuruh mereka untuk kembali bekerja” jawab Jingga dengan singkat.
Bi Minah, menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tampak kurang yakin.
“Mereka punya keluarga yang harus di hidup'i nak. Banyak hal yang mereka tanggung. Mereka
tidak bisa jika bekerja seperti bibi saat ini yang tanpa gaji maupun fasilitas yang lainnya”
__ADS_1
“Aku akan menggaji mereka. Asal mereka bersedia untuk kembali bekerja di sini. Turut
andil dalam merawat rumah ini”
Bi Minah mendongak menatap lawan bicaranya.
“Bagiamana bisa, bukankah Tuan Hermawan sekarang sedang di tangani pihak kepolisian.
Sementara Non Dahlia dan Nyonya telah wafat.
“Apakah Bi Minah mengetahui sesuatu tentang keluarga ini?” Jingga bertanya dengan pelan,
ia menatap wajah tua yang penuh dengan keriput.
“Bi Minah, sudah lebih dari dua puluh tahun bekerja di sini. Sejak aku kecil aku sudah mengenal Bi Minah. Jika Bi Minah mengetahui sesuatu hal, tolong ceritakan padaku. Aku berhak tahu akan semua yang terjadi” Mata Jingga menatap nanar pada lawan bicaranya. Ia berpindah posisi duduk untuk bersebelahan dengan Bi Minah. Menggenggam erat tangan yang berbalut kulit kering tersebut.
Untuk sesaat Bi Minah hanya diam saja, ia membuang pandangannya ke segala arah.
Mencoba untuk menghindari tatapan mata Jingga.
“Bi, katakanlah. Jangan takut, bukankah semuanya sudah berakhir”
Ia kembali mencoba untuk menyakinkan keadaan yang ada saat ini “semua akan baik-baik saja bicaralah” Mohon Jingga dengan penuh harap. Tak ada lagi yang bisa bercerita dalam rumah itu selain Bi Minah.
Bi Minah, mulai bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah yang tertatih ia berjalan pelan menatap jendela yang ada di bagian ruang tamu utama. Ia memejamkan mata untuk sesaat dan mencoba untuk menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Hatinya bergemuruh hebat. Rahasia puluhan tahun yang tersimpan rapat akan
segera terbuka. Sesuai dengan janjinya dulu pada sang majikan.
“Bi katakan, jangan takut. Ada kami yang melindungi mu. Jika bibi memang mengetahui
sesuatu coba ceritakan pada kami.sungguh istriku berhak tahu akan semua yang
terjadi padanya” kini Fajar, turut berucap untuk bisa menyakinkan wanita sepuh tersebut.
“Berjanjilah satu hal padaku Jingga”
“Iya Bi, apa?”
Jingga semakin penasaran di buatnya.
“Jangan pernah membenciku karena telah menutupi semua ini. Semua terjadi kerana ketidak mampuanku untuk bercerita. Aku tidak punya banyak keberanian untuk membukanya
dulu”
Jingga menganggukkan kepalanya dengan patuh, sebagai isyarat jika ia akan menepati
janjinya.
“Katakanlah”
Diam.
Bu Minah kembali diam, menata kalimat dan menyempurnakan ingatannya yang lalu.
__ADS_1
Ia masih dalam posisi berdiri menatap malam dari balik korden yang ada di jendela
ruang tengah.