JINGGA

JINGGA
134


__ADS_3

Kantor Dirgantara.


Waktu menunjukan pukul sembilan pagi. Semua karyawan sedang sibuk, mereka berada di depan layar monitor masing-masing, sedang menyelesaikan rangkain job dis yang telah tersedia.


Fajar baru saja memasuki lobi kantor. Ini kali pertama ia terlambat untuk berangkat bekerja selama memimpin perusahannya. Ia masih enggan untuk berangkat bekerja. Raganya sudah di kantor tapi jiwanya tertinggal di rumah bersama anak dan istrinya. Membayangkan wajah Gendhis yang polos dan menggeliat adalah moment yang paling di sukai Fajar beberapa hari ini. Ia melangkah dengan pelan, bahkan cenderung melambat dari biasanya. Hanya saja ia lebih banyak tersenyum pada siapa saja yang menyapanya.


“Tuan, mohon maaf sebelumnya. Bisakah anda sedikit mempercepat langkah Tuan?” bisik Reza yang berjalan di belakang Fajar. Ia sedikit mempercepat langkahnya untuk bisa mensejajarkan diri dengan atasannya.


“Aku baru telat sehari! Lagian aku yang bos di sini. Beraninya kau menyuruhku!” jawab Fajar dengan sedikit melototkan matanya ke arah Reza. Menyadari perbuatannya yang salah, membuat nyali Reza menciut. Ia lebih memilih untuk diam meski sebenarnya ada sesuatu hal besar yang ingin di sampaikan.


Sepuluh menit kemudian, sampailah Fajar di ruangannya. Ia mulai duduk dan bersandar di kuri kebesarannya. Perjalanan dari lobi menuju ruangannya biasanya tidak lebih dari lima menit, namun pagi itu Fajar, memilih untu memperlambat perjalannya hanya sekedar untuk menunggu ucapan selamat dari bawahannya atas kelahiran putri pertamanya.


“Apa yang ingin kamu sampaikan Za?” tanyanya dengan menatap tajam wajah Reza, yang kini sedang berdiri di hadapannya.


“Tuan, ada sedikit masalah yang terjadi”


“Hanya sedikit saja, kenapa kamu sudah repot dan panik?, masalah yang besar saja kita biasa hadapi” jawab Fajar dengan entengnya. Beberapa hari tidak ke kantor membuatnya sedikit santai.


“Tuan ini” Reza menyerahkan beberapa dokumen warna biru pada Fajar. Sementara Fajar, ia menerima dokumen itu. Tangannya mulai membuka isi dalam dokumen. Mata elangnya memindai dengan seksama apa yang tertulis di sana.


Diam untuk sejenak. Ruangannya mendadak terasa begitu dingin, hingga membuat bulu kuduk Reza rasanya menegang. Ia harus bersiap-siap menghadapai cacian dan makian setelah ini.


“Apa maksud semua ini Za?” Fajar melempar dokumen itu ke arah Reza.


“Kenapa bisa seperti ini?”


“Jadi ini yang kamu bilang ada sedikit masalah? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Hem”


“Ini bukan hanya masalah kecil, ini adalah masalah besar untuk perusahan kita Za, kamu ngerti tidak?” Fajar menyorot dengan tajam, seketika ia mengubah posisi duduknya, sedikit menjauh dari meja kerja. Jemarinya bertopang dagu tampak sedang berfikir keras.


“Hah, baru seminggu tidak masuk saja semuanya sudah kacau balau seperti ini!”


“Za, jangan diam saja!” lagi-lagi Fajar menyorot tajam pada asistennya.

__ADS_1


“Mohon maaf Tuan, semua terjadi begitu saja. Saya baru mendapat kabar pukul delapan tadi”


“Beberapa perangkat keamanan di perusahan kita mengalami kekacauan. Kami masih berusaha untuk mencari penyebabnya” Ia memundurkan diri dan sedikit membungkukkan badannya.


Sebuah serangan virus dadakan dari seorang ahli IT, ia memutus semua koneksi data yang ada di perusahaan Fajar. Baik itu perusahaan yang ada di Surabaya maupun yang di luar Surabaya. Lebih dari itu, beberapa investor penting dan koleganya mendadak memutus hubungan kerja sepihak tanpa alasan yang jelas.


“Siapa yang berani-beraninya ingin membobol perusahaan ini?” tatap Fajar dengan sinis pada lawan bicaranya.


Reza, menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Kami masih berusaha untuk mencari penyebabnya Tuan”


“Pergilah, selesaikan masalah ini dengan cepat, jangan sampai sistem keamanan perusahaan lumpuh total. Dan lakukan serangan balasan pada mereka yang mengirimnya”


“Baik Tuan”


Reza lekas keluar dari ruangan Fajar untuk menjalankan perintah atasannya. Sementara Fajar, ia tampak resah, beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.


Ini sangat berbahaya, bisa-bisa perusahan akan bangkrut dalam waktu sekejap.


Kantor Cakrawala


Dalam ruangannya yang luas, berada di gedung tertinggi. Hermawan sedang fokus menatap layar monitor yang ada di depannya. Ia bersama dengan Yoga, salah satu orang kepercayaannya sedang mengotak-atik komputer. Jemari Yoga, saling bergerak dengan sangat cepat di atas kaybord. Matanya memindai dengan awas deretan koding yang tertera di layar monitor.


Yoga seorang ahli IT sedang menunjukan kehebatannya di hadapan Hermawan. Sebuah jabatan dan iming-iming hadiah yang besar sedang terpampang di depan mata. Yoga tak ingin menyianyiakan kesempatan itu. Ia dengan segera melaksanakan tugasnya.


Yoga mulai meluncurkan kembali serangan demi serangan. Hingga membuat tim lawan kelabakan pagi itu. Senyumnya terukir di bibirnya.


“Tuan, apa lagi yang harus saya lakukan?” Tanyanya dengan melirik Hermawan yang kini sedang duduk di sebelahnya. Mata Hermawan pun menyorot dengan tajam, mengamati setiap yang terjadi pagi itu.


“Lakukan terus menerus, sampai mereka kelimpungan” Hermawan tertawa lega melihat hasil kerja anak buahnya.


Ini yang kau mau bukan?, ini hanya bagian kecil dari rasa sakit yang terjadi pada anakku. Kalian harus menanggung semuanya. Akan ku pastikan jika kalian akan hancur dan akan mengiba memohon bantuan dariku.

__ADS_1


***


Kembali ke Kantor Dirgantara.


“Za, bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?” tanya Fajar, dengan gusar. Ia berjalan ke sana dan kemari. Seluruh anggota tim IT terbaik di perusahannya sudah berkumpul dalam ruang meeting. Mereka sedang sibuk memukul serangan pihak lawan, agat tidak semakin menjalar kemana-mana.


Reza menggelengkan kepalanya pelan.


“Kami, sedang berusaha Tuan. Sepertinya mereka adalah monster IT hebat. Bahkan semuanya jaringan mereka sama sekali tidak bisa terdeteksi oleh tim kita” Jawab Reza dengan ragu.


“Hah, bagaimana bisa seperti ini?” keluh Fajar kemudian, ia masih dalam posisi berdiri, menatap satu persatu staff IT terhebat di perusahannya.


“Jangan ada yang berani pulang sebelum kalian menyelesaikan tugasmu ini. Pastikan semua kembali normal sebelum pagi kembali datang!”


.


.


.


“Cukup”.


“Aku rasa cukup sampai di sini pelajaran pertama kita. Anggap saja ini hanya pemanasan” Ucap Hermawan, ia menepuk pundak Yoga, yang masih sibuk dengan layar dan keyboard yang ada di hadapan mereka.


“Kenapa Tuan? Ini belum selesai. Saya bisa melumpuhkan total sistem keamanan perusahan mereka” jawab Yoga, yang tampak bingung dengan keinginan atasannya.


“Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran kecil untuknya. Aku tidak ingin membuatnya curiga akan semua yang terjadi. Bagiamana pun juga anakku menginginkan dia”


“Anggap saja ini sebagai hiburan atas kesedihan yang ku alami setalah semalam tadi”


Hermawan tertawa dengan nyaring dalam ruangannya. Ia kembali menyulut rokok yang ada di depan meja, menyesapnya dengan dalam dan menghembuskan asapnya tepat di wajah lawan bicaranya.


“Cobalah. Aku yakin kamu pasti belum pernah merasakan rokok orang kaya” ucap Hermawan dengan menyodorkan bungkusan rokok yang sudah terbuka pada Reza.

__ADS_1


“Maaf Tuan, tapi saya tidak merokok”


“Hah! Laki-laki macam apa yang tida merokok. Cih” Desis Hermawan mengejek ragu.


__ADS_2