JINGGA

JINGGA
103


__ADS_3

“Pokoknya mau gado-gado yang ada di hajatan khitan anak orang. Aku mau makannya bareng sama orang-orang yang lagi kondangan”


Jingga memainkan jemarinya, entah mengapa semenjak mengetahui jika hamil kadar keimutannya meningkat melebihi rata-rata, meskipun tingkahnya sungguh luar biasa menjengkelkan.


“Baik Tuan Putri, kalau itu memang maunya anak kita. Apa sih yang tidak buat kalian”


“Sekarang makan apa? yang ada dulu ya, kasian bayi kita keburu lapar. Nanti kita pulang dulu ke rumah Mama sekalian ganti baju. Masak istri Fajar Dirgantara ke kondangan pakai baju seperti ini kan kurang cetar. Lihat nih Mas, juga hanya pakai kaos saja. Kita pulang dulu ya ganti baju”


Jingga terdiam untuk sesaat, ia sedang mempertimbangkan ucapan sang suami dan beberapa kali melirik penampilannya yang hanya memakai celana panjang serta kaos santai, begitu juga dengan suaminya.


“Hem baiklah kalau begitu, tapi janji ya nanti cari gado-gado, awas saja kalau tidak”


“Iya siap tuan putri”.


.


.


.


Kediaman keluarga Dirgantara.


“Aku tak pernah membayangkan, ternyata memiliki istri yang sedang hamil sangat merepotkan. Bahkan lebih repot dari pada harus meeting, lembur dan memenangkan sebuah proyek” Ucap Fajar, dengan memijat kepalanya yang terasa sedikit sakit setalah memani Jingg hari ini.


“Apa kamu bilang?”


Oma memandang Fajar dengan tatapan sinis. Saat itu Oma dan Fajar sedang duduk di tepi kolam renang. Mereka sedang mengamati Jingga dan Bu Nadin yang membuat rujak manis.


Selepas kabar kehamilannya di terima di keluarga Dirgantara. Bu Nadin lekas memesan beberapa buah mangga yang masam dan aneka buah lainnya untuk menyambut menantunya. Konon sebagian besar wanita hamil menyukai buah yang terasa masam. Keduanya terlihat sedang asyik membuat rujak buah. Bahkan Bu Nadin, turun tangan sendri untuk membuat bumbunya, beliau tidak mau di bantu oleh pelayan.


“Beraninya kau mengatakan hal semacam itu? Kau tahu di perut istrimu ada cicitku. Penerus Dirgantara, jangan macam-macam kamu”


Oma mengarahkan tongkatnya tepat di hadapan wajah Fajar, hingga membuat pria itu reflek memundurkan badannya.


Huft..


Fajar kembali menghela nafas panjang. Ia bahkan tidak di beri kesempatan walau hanya sekedar bercerita bukan mengeluh.


“Sebagai laki-laki sejati kamu harus bisa menjaga istri dan anakmu. Mereka adalah harga diri dan harta terbesarmu. Turuti semua kemauan istrimu, asal kau tau hamil itu tidak enak, susah harus menahan segala macam rasa yang tak enak”

__ADS_1


“Hem, kalau seperti ini, aku rasa cukup punya anak satu saja Oma” rintihnya kembali ketika teringat akan mencari gado-gado di hajatan khitan anak orang.


“Oma tidak yakin jika kamu hanya ingin punya anak satu, terlebih melihat usahamu yang begitu getol setiap hari tanpa jeda”


Fajar ingin menenggelamkan wajahnya saat itu juga. Ia yang arogan dan cool di mata semua orang, tapi tidak di mata Omanya.


“Mas sini cobain, ini rujaknya sudah jadi” Tangan Jingga melambai-lambai memanggil suaminya yang sedang berada di sebrang kolam. Tak ingin membuat masalah baru dan membuat istrinya menunggu Fajar lekas menuju istrinya.


“Coba ini”


Tanpa aba-aba, Jingga menyodorkan satu potong mangga berukuran besar ke dalam mulut suaminya.


“Enak?”


Hemmm


Fajaj menahan rasa masam yang tiada terkira.


“Telen!” intruksinya kemudian.


Ya Allah kenapa jadi sadis sekali istriku.


Jingga menyerahkan sepiring penuh rujak buah itu pada suaminya dan pergi begitu saja menuju kamar mereka.


.


.


.


Menjelang pukul lima sore, Jingga sudah beriap untuk beragkat kondanagan, meskipun mereka tak tahu harus datang ke hajatan siapa saat itu. Ia memakai gaun dari butik ternama. Seperti biasa, Bu Nadin dan Oma tak akan membiarkan cucu menantunya memakai baju yang murah terlebih akan bertemu dengan banyak orang nantinya.


Ia memakai dres warna pink dengan sedikit sentuhan payet di bagian dada. Lengan tangannya memengembang seperti balon. Penampilan Jingga terkesan sederhana namun elegan, terlebih dengan tambahan pasmina dengan sedikit sentuhan bros kecil yang berlambangkan huruh “C” sukses menyita perhatian banyak pasang mata. Tanpa harus menjelaskan pada siapa saja yang melihat penampilan Jingga sudah terlihat mahal.


Mereka berangkat tak hanya berdua. Kini Bu Nadin dan Oma turut serta dalam rombongan, misi pencarian gado-gado demi bayi dalam kandungan Jingga.


Kalian tanya reaksi Fajar bagaimana?


Wajah Fajar sudah terlihat panik sejak para wanita itu mulai naik ke dalam satu mobil. Bagaimana tidak, ia harus di hadapakna dengan tiga wanita yang banyak maunya. Lebih parahya lagi, ia tak dapat melawan titah dari semua waita yang ada dalam mobilnya.

__ADS_1


“Jalan Pak” instruskinya pada sopir.


Perlahan mobil mulai berjalan meingalkan area tempat tinggalnya. Fajar tak mungkin mencari hajatan di sekitar tempat tinggal mereka, mengingat di sana adalah kawasan elit. Sudah dapat di pastikan jika sedang punya hajat mereka akan menyewa gedung. Sedang yang di minta Jingga adalah hajatan yang berada di kampung-kampung biasah.


Mobil berjalan, Fajar memilih untuk memasuki wilayah Nginden. Sepanjang jalan pikiranya cemas, takut tak mampu untuk memenuhi permintaan istriya.


Tak butuh waktu yang lama, dalam tiga puluh menit perjalana sampailah mereka di salah satu hajatan orang. Ketiga wanita itu lekas turun menuju tenda yang ada. Sementara Jingga, ia lekas menuju meja tempat makan di sana untuk mencari keberadaan gado-gado.


Kehadiran keluarga Dirgantara, yang tanpa undangan tentu menyita banyak perhatian dari pemilik hajat maupun tamu undangan yang lain. Tatapan mereka menatap asing pada tamu yang baru saja datang tak di undang. Menyadari hal itu, sang sopir lekas mendapat intrusi dari Fajar untuk menjelaskan pada pemilik hajat. Tak lupa mereka memberikan amplop untuk pemilik hajat.


Matanya memindai dua meja besar di sana.


Rawon. Soto dan nasi pecel.


Ia tak menemukan keberadaan gado-gado di sana.


“Mas gak ada gado-gadonya” Jingga merengek, tangannya berpegangan pada punggung suaminya. Semenetara Oma dan Bu Nadin berdiri di belakang mereka.


Hiks...hiks....


Matanya berembun, perasaannya mendadak melo seketika. “Oma tolong tenangkan istriku. Aku harus melakukan sesuatu”


.


.


.


“Di mana lagi ada orang yang sedang melangsungkan khitanan anaknya di daerah sini?” Tanya Fajar pada salah satu warga yang sedang datang dalam acara kondangan tersebut.


“Di jalan Panglima no 53 Pak. Di sana ada orang yang sedang menghitankan anaknya”


“Apa di sana ada gado-gada?”


“Saya tidak tahu Pak, tapi saya rasa tidak. Kebanyakan di sini menu yag tersedia hanya bakso, soto, rawon dan juga pecel”


“Cepat pergi ke sana, suruh mereka menyediaka gado-gado dalam mejanya” Tangan Fajar terulur memberikan sejumlah uang yang berada dalam amplop coklat.


“Jangan buat aku menunggu terlalu lama!”

__ADS_1


__ADS_2