
Ceklek...
Pintu terbuka.
“Susi!!!” ucap Jingga dan Fajar secara bersamaan ketika melihat Susi sedang tertidur di lantai kamar mereka, dengan memegang selimut di tangannya.
“Tuan, Non Jingga” Susi gelagapan ketika namanya di sebut oleh suara familiar yang begitu ia takuti di rumah itu.
“Anu...itu...itu..” jawabnya dengan terbata-bata dan wajah yang sudah pias ketakutan.
“Itu Tuan, Maaf saya ketiduran. Saya tidak sengaja. Tadi saya cuma mau ambil selimut dan jaket ini untuk Non Jingga” sejurus kemudian Susi, dapat dengan lancar mengucapkan kalimat. Ia menunduk ketakutan, terlebih ketika melihat ekpresi Fajar yang tak bersahabat malam itu.
“Sudah gak papa. Maaf sudah banyak merepotkan kamu hari ini. Istirahat saja di kamarmu. Kita juga mau istirahat” ucap Jingga mempersilahkan Susi untuk keluar dari kamarnya.
“Hah! Bagaimana bisa dia ketiduran seperti itu. Bukankah tugasnya adalah menjagamu selama aku tidak di rumah. Benar-benar pelayan yang lalai” gerutu Fajar dengan menghempaskan badannya di atas kasur yang empuk.
“Sudahlah Mas, kasihan Susi sejak tadi pagi tak istirahat sama sekali. Dia slalu menemaniku. Sini biar aku bantu lepas sepatunya”
Jingga duduk berjongkok di sisi ranjang. Perutnya yang mulai membesar membuatnya kesulitan untuk duduk dan melepas sepatu suaminya. Sementara satu tangan Fajar terluka dan sulit untuk di gerakan.
“Jangan seperti itu sayang, aku bisa membuka sendiri sepatuku”
“Tapi tangan Mas Fajar, masih sakit”
“Hatiku jauh lebih sakit ketika melihatmu sedang kesusahan seperti itu. Ayo berdiri dan tidur di sini. Biar aku lepas sendiri sepatuku” Fajar menepuk-nepuk sisi ranjang sebelahnya sebagai isyarat pada Jingga untuk naik ke atas bersamanya.
“Mas”
Suara rengekan itu kembali terdengar dan mendayu-dayu.
“Jadi apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
“Hem...”
__ADS_1
“Tidak ada sayang, tidurlah ini sudah malam. Jangan mempermasalahkan luka sekecil ini. Aku sehat dan tidak apa-apa. Bahkan jika kamu mau buktinya aku bisa membuktikan kalau aku benar-benar sehat” Fajar tersenyum nakal, satu matanya dikedipkan sesaat.
“Astaga Mas tangannya masih sakit, Masih pakai perban”
“Yang sakit hanya tangan, sedang bagian tubuh yang lain masih berfungsi sebagaimana mestinya” Fajar, mulai mengikis jarak mendekat pada sang istri.
****
Sang surya mulai menyapa indahnya dunia, suara kicauan dari burung-burung saling bersahutan membentuk irama yang menenangkan jiwa. Pagi itu Jingga, menggeser pintu wardrobe sambil bersholawat kecil.
Ia baru saja selesai mandi untuk yang kedua kalinya, tentu saja ini karena ulah Fajar, yang melakukan serangan tiba-tiba selepas sholat subuh. Hari ini Jingga dan Fajar berencana untuk melakukan pemeriksaan kandungan, sekaligus untuk melihat perkembangan luka pada tangan Fajar.
Tapi ada sedikit masalah. Sebagian baju yang ada di almari penyimpanan mulai mengetat dan tak nyaman untuk di gunakan. Jemari Jingga, mulai membongkar satu persatu tumpukan bajunya untuk mencari gamis yang lebih longgar untuk di pakai.
Jingga memang tak memiliki baju yang banyak, Sebagian besar baju yang mengisi almarinya adalah pemberian dari Bu Nadin. Sementara baju Jingga sendiri sudah tidak layak untuk di pakai, mengingat statusnya sebagai Nyonya Fajar Dirgantara, sedang baju Jingga dulu hanya berupa kaos lusuh dan beberapa celana bahan biasah.
Jingga kembali membuka pintu almari di bagian sisi kanan kamarnya. Berharap di sana menemukan sesuatu yang pantas untuk di pakai periksa kandungan. Namun sayang, usahanya sia-sia. Ia tak menemukan baju yang layak untuk di pakai.
Jingga terdiam tak menjawab. Pikirannya masih fokus menatap tumpukan baju yang ada di depannya.
“Sayang” Fajar melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Luka tembakan yang mengenai tangannya sama sekali tak membuatnya merasakan kesakitan yang lebih.
Jingga terhenyak. Ia lekas menoleh ke belakang dan mendapati tangan Fajar yang sudah melingkar di pinggangnya.
“Ada apa sayang?” bisik mesra pada istrinya.
“Aku bingung Mas, harus pakai baju yang mana. Sebagian besar bajuku sudah menyempit jika di gunakan. Aku tak menyangka jika pertumbuhan dia begitu cepat sekali. Padahal ini baru beberapa bulan saja” Rengek Jingga, degan memperhatikan bentuk badannya yang terasa semakin membesar kemana-mana.
“Aku terlalu gendut Mas, aku rasa setelah ini harus diet jika tidak!” Jingga terbelalak dan membekap mulutnya sendiri membayangkan bentuk tubuhnya yang kian membesar.
“Jangan coba-coba untuk melakukan diet atau aku akan marah denganmu!”
“Pakai saja yang ada, nanti selepas dari rumah sakit kita beli baju yang banyak. Lagian semenjak hamil kamu belum beli baju sama sekali bukan?. Aku rasa kamu harus mengganti isi lemari ini dengan pakaian yang baru” Fajar menunjuk keseluruhan isi lemari Jingga.
__ADS_1
“Tidak Mas, tidak perlu. Kita beli beberapa saja untuk ganti”
“Kamu masih meragukan kemampuan suamimu istriku?” Fajar meraih dagu Jingga dan sedikit mengangkatnya hingga membuat mata mereka saling bertemu dan menatap.
Jingga tersenyum melihat wajah suaminya.
“Tidak suamiku sayang, aku tidak meragukanmu. Aku bahkan percaya, jangankan mengganti isi almari ini dengan baju yang baru. Membeli pabrik baju saja suamiku yang tampan ini lebih dari mampu” Ia tersenyum dan menyentuh dada bidang suaminya yang masih basah terkena air selepas mandi.
“Hanya saja sayang kalau baju-baju ini di buang begitu saja. Lagian selepas aku melahirkan baju-baju ini masih bisa untuk di pakai. Jadi belikan saja ku beberapa potong baju untuk Ibu hamil”
“Bagus, itu yang aku suka darimu” Fajar menoel lembut hidung istrinya.
Jingga kembali beranjak, mendekat dan menggeser pintu lemari yang ada. Ia kembali mencari baju yang masih bisa di pakai. Sepuluh menit berlalu. Ia menemukan satu baju pemberian Nyonya Oma yang masih nyaman untuk di pakai pagi itu.
Celana bentuk kulot dengan bagian pinggang berbentuk tali yang dapat di sesuaikan dengan kondisi perut. Serta satu atasan baju yang mengembang di bagian perutnya. Jika di lihat sekilas baju tersebut terlihat seperti baju hamil.
“Mas lihat” Jingga menuju ke arah Fajar yang saat itu sedang duduk di sofa dan sibuk dengan tab yang ada di tangannya.
“Gendut kan ya?” Tanyanya dengan mengerucutkan mulut.
“Tidak sayang”
“Iya gendut, lihat saja”
“Tidak sayang, kamu tidak gendut itu masih langsing”
“Hah, bagaimana bisa seperti ini di bilang langsing. Celananya saja sudah susah untuk di buat gerak. Padahal biasanya celana ini begitu longgar ketika di gunakan”
“Aku gendut kan?”
“Tidak sayang. Kamu tidak gendut hanya saja kokoh” Jawab Fajar dengan menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab seperti apa? Gendut salah, langsing pun juga salah.
Kontan ucapan Fajar tersebut membuat wanita hamil itu merajuk.
__ADS_1