JINGGA

JINGGA
156


__ADS_3

“Mas Fajar” Fajar berlari untuk memeluk istrinya. Sementara Reza lekas membuka rantai yang mengikat kaki Jingga.


“Apa yang terjadi? Di mana Gendhis?” tanya Fajar dengan panik ketika ia hanya melihat Jingga dan Asih yang sedang meringkuk ketakutan di dalam sana.


“Mereka membawa Gendhis mas, mereka membawa anak kita. Tolong selamatkan Gendhis”


“Mereka siapa? Siapa yang melakukan semua ini pada mu?” Fajar meneliti beberapa bagian


tubuh Jingga yang terlihat lebam-lebam.


“Hermawan!” jawab Jingga dengan tegas dan mata yang berkaca-kaca.


“Manusia iblis berani kau menggangu ketenangan keluargaku!” Fajar pun murka sorot matanya berkobar kebencian yang tiada terkira.


“Za lakukan sesuai dengan rencana!”


“Mereka ada di mana?” bisik Fajar dengan pelan


“Mereka ada di kamar ujung di lantai sini, sepertinya di hampir sisi ruangan ini terdapat penjaga yang bertugas. Bagaimana bisa Mas Fajar dan reza untuk masuk ke sini? Bukankah di bagian bawah terdapat banyak penjaga?”


“Itu bukan hal yang sulit untuk kami, mereka sedang makan saat ini, jadi keadaan


terlihat lenggang. Za bagi beberapa anggota agar menyebar di bagian sisi, pastikan pula polisi akan datang secepatnya”


“Baik Tuan”


“Saat ini kita harus menyelamatkan Gendhis”


Fajar mulai membagi tugasnya, ia meminta Reza membawa keluar Jingga dan Asih terlebih


dahulu melalui jendela yang ia gunakan untuk masuk tadi.


“Tapi Tuan saya takut, ini terlalu tinggi. Bagaimana jika saya terjatuh dan mati?” ucap


Asih ketika melirik ke bawah, jendela ini terasa sangat tinggi untuk ukuran wanita sepertinya.


“Coba dulu”


Benar-benar pilihan yang sulit bagi Asih, bertahan di sini juga akan mati karena di bunuh Hermawan atau mempercepat jalannya menuju sang pencipta dengan meloncat melewati jendela yang ada.


Bruk..


“Apa yang yang terjadi?” teriak pengawal Hermawan dengan keras ketika ia menyadari


jika ada keributan di dalam sana.


“Hah, bagaimana bisa ada penyusup yang masuk ke sini?”


“Musnahkan!” perintah pimpinan pasukan tersebut.


Baku hantam tak dapat di elakan lagi, terjadilah perkelahian antara lima penjaga kamar


tersebut melawan Fajar dan Reza. Cukup menegangkan untuk Jingga dan juga Asih,


ini kali pertama mereka menyaksikan orang sedang berkelahi secara live.


Bug..


Satu pukulan mendarat tepat di pipi Fajar, pria itu lekas melengos, satu tangannya memegang pipinya yang terkena hantaman.


“Kau berani menyentuhku!” ucapnya dengan sangat garang. Fajar lekas menarik paksa


kerah baju pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Bug..


Bug..


Bug..


Beberapa pukulan mendarat di bagian tubuhnya, pria itu meringis kesakitan.


Bug.


Lagi-lagi Fajar harus mendapat serangan dari bagian belakang, hal yang sama juga di alami


Reza, kedua lelaki sedang berusaha untuk menaklukan lawannya. Jingga dan Asih


masih berada sisi sisi pojok kamar keduanya saling berpelukan dan meringkuk bersama. Sesekali mereka memejamkan mata merasa ketakutan.


Bug..


Bug...


Satu


tendangan mendarat di bagian perut  Reza,


ia meringis sejenak dan kembali bangkit untuk menghempaskan beberapa laan yang


ada di hadapannya.


Bug..


Bug...


Dua lawan telah tumbang di tempat, setelah mendapat tendangan dari belakang oleh


“Apa yang terjadi?” suara kericuhan memancing Hermawan yang berada di kamar bagian


ujung untuk turut hadir di sana. Ia berlari cepat menuju kamar tempat penyekapan Jingga.


“Hah” desisnya dengan arogan ketika melihat beberapa anak buahnya sudah terkapar di


atas lantai.


“Bagus, rupanya pahlawan telah datang” ia bahkan masih menyempatkan diri untuk bertepuk


tangan menyambut kedatangan Fajar berikut Reza.


“Kembalikan anakku!”


“Hah, kau mau anakmu!”


“Kembalikan Gendhis, dimana kau menyembunyikan anakku?”


“Anak, sudah mati!”


Hermawan tertawa terbahak-bahak.


“Kau gila”


Bug...


Fajar yang tak kuasa dengan keadaan lekas melayangkan pukulan pada Hermawan.


Satu pukulan membuat pria tua itu mundur ke belakang.

__ADS_1


“Hah, kau melawanku rupanya. Padahal aku sudah memberikan tawaran yang terbaik pada


kalian”


“Aku tak peduli dengan tawaranmu”


Kini perkelahian besar kembali terjadi, jika tadi hanya melibatkan n Fajar, Reza berikut lima orang suruhan Hermawan. Kini jumlahnya tak terhitung berapa banyaknya. Hermawan memanggil seluruh pasukan yang berjaga di dalam hotel


tersebut. Hal yang sama juga di lakukan oleh Fajar, ia memanggil seluruh pasukan yang telah di bawanya tadi.


Perlahan Jingga mulai mengendap-endap keluar, menyusuri bagian hotel yang tampak


lenggang. Ia bersama dengan Asih dengan mencari keberadaan Gendhis. Semenjak


terdengar baku hantam yang terjadi Dahlia dan Bu Lia memilih untuk berdiam diri di suatu tempat untuk bersembunyi.


Bruk...


Pintu salah satu kamat terbuka yang berada di bagian lantai satu, rupanya Dahlia dan Bu Lia telah membawa Gendhis ke sana.


“Kembalikan anakku!”


“Tidak akan, aku lebih memilih untuk membunuh bayi ini dari pada harus mengembalikannya


padamu”


Jika di lantai dua pihak lelaki sedang beradu kekuatan maka di lantai dasar pihak


perempuan yang sedang beradu. Jingga membawa sapu yang ada di tangannya sebagai


senjata untuk membela diri, sementara Asih wanita itu membuntuti dari belakang.


Aksi kejar-kejaran tak dapat di elakan lagi. Bu Lia yang sedang menggendong Gendis


berlari menuju tangga yang ada di bagian sisi kanan menuju lantai dua, ketika ia harus berhadapan dengan Jingga yang sedang murka. Entah apa yang terjadi setelah membalas pukulan Dahlia ia memilih untuk mengejar Bu Lia dengan membawa sapunya.


Nalurinya sebagai ibu sedang bekerja, ia tak peduli akan dosa yang tercipta kerana telah


menyakiti sesama hamba Allah, yang ada dalam benaknya sata ini adalah keselamatan Gendhis. Bayi itu terlalu kecil berada dalam situasi yang mencekam seperti saat ini.


Ceklek....


Bu Lia meletakan begitu saja Gendhis pada salah satu kamar yang kosong, entah kamar nomor berapa yang ia masuki sata itu. Selepas meletakan Gendhis di sana ia lekas berlari untuk kembali menuju lantai satu.


Hermawan beserta anak buahnya mulai kewalahan dengan keadaan ang ada. Sungguh ini di luar prediksi mereka. Mereka tak menyangka jika Fajar dapat dengan mudah untuk menemukan keberadaanya.


Hermawan dan tiga pasukannya memilih untuk turun ke lantai dasar. Fajar dan Reza beserta


yang lain masih di atas saling melakukan penerangan.


“Cepat siramkan minyak ini di semua sisi sudut hotel” titahnya pada anak buah yang


membawa ciregen besar di tangannya.


“Apa yang akan kita lakukan Tuan?”


“Bakar hotel ini, pastikan anak dan istriku selamat dan sudah keluar dari sana”


“Baik Tuan”


Hermawan memilih untuk keluar lebih dulu dari hotel tersebut melewati pintu bagian belakang, ia berlari dengan sangat kencang untuk bisa menembus pintu kecil di sana. Ia terlanjur mengunci seluruh akses pintu utama hotel tersebut jadi mau tidak mau ia harus melewati jalan belakang yang sempit.


Tubuhnya yang besar membuatnya kesulitan untuk berjalan dengan cepat.

__ADS_1


“Kau mau kemana?”


__ADS_2