JINGGA

JINGGA
menjalani hidup


__ADS_3

di sebuah kamar Jingga sedang membantu sang suami memakai baju kerja


Ia mengaitkan kancing kemeja warna biru langit milik Awan,awalnya Awan menolak Jingga membantunya karena tak ingin merepotkan sang istri,namun Jingga memaksa dengan alasan ingin membahagiakan suami


Hingga Awan menerima hal itu,memakai pakaian yang Jingga siapkan,posisinya kini begitu dekat,Awan tak bosan memandang wajah cantik yang selama ini membayang ketika ia menutup mata


tatapan Awan yang intens membuat Jingga salah tingkah dan malu,bahkan di kancing kemeja yang terakhir ia kesulitan mengaitkanya,dan melihat Jingga yang tanganya gemetar dengan wajah merah menahan malu,membuat Awan menahan tawa,ia tersenyum simpul melihat istrinya malu malu,padahal semalam mereka telah menyatu dan melihat serta meraba satu sama lain


Awan melingkarkan kedua tanganya di pinggang ramping sang istri,lalu mendekatkan wajahnya guna meraih bibir merah muda sang istri


Jingga gelagapan merasakan bibir kenyal sang suami menempel di bibirnya,matanya membulat sempurna seperti hendak keluar dari kelopaknya namun sejurus kemudian ia memejamkan mata itu dan membalas lembut lum**** lembut sang suami


Ciuman di pagi hari yang penuh cinta dan ketulusan,saat Jingga tengah terbuai oleh sentuhan Awan,Awan mengaitkan kancing kemeja terakhir miliknya dengan cepat,menggunakan satu tangannya,sementara tangan yang lainya ia biarkan melingkar pinggang ramping istrinya


Saat kancing itu kini terpasang sempurna,Awan melepaskan tautan bibir itu,memandang intens wajah sang istri yang malu malu


Jingga yang tak kuasa memandang wajah suami yang sering kali membuatnya berdebar debar itu,memilih menunduk dan melihat kearah dada Awan,dimana disana terlihat jelas kancing itu kini terpasang sempurna,seingatnya tadi ia belum menyelesaikan tugasnya


Melihat sang istri melamun,Awan mencondongkan diri kesamping telinga sang istri,dan berbisik lembut"i love you,istriku"ucapnya tulus


Mendengar ucapan dari sang suami membuat Jingga semakin meleleh,ia tak rela kebersamaannya itu segera berakhir

__ADS_1


Ia lantas memeluk tubuh sang suami,menikmati harum maskulin yang begitu menenangkan baginya


Ia memejamkan mata merasai kebahagian dan ketenangan


lama mereka berpelukan menikmati ketulusan cinta dari pasangan,hingga mereka di pisahkan oleh waktu,dimana Awan harus kembali bekerja,karena ia belum sempat ambil cuti karena pernikahan dadakanya itu


Sementara Jingga sudah tak di ijinkan Awan bekerja lagi,karena kondisinya yang melemah


mereka berdua lantas turun sambil bergandengan tangan,kehadiran mereka di sambut hangat oleh keluaranya,di ruang makan ibu,Lintang dan Hadi wijaya sudah duduk di kursi masing masing dan siap menyantap sarapan pagi mereka


Mereka mengira jika Awan dan Jingga mungkin tidak akan turun untuk sarapan sehingga mereka memulai makan tanoa menunggu keduanya ,namun prediksi mereka salah


Lalu setelahnya Awan duduk di kursi yang kosong sementara Jingga mengambilkan sarapan untuk sang suami baru setelahnya ia mengambil sarapan untuk dirinya sendiri


Melihat kebahagian anak dan menantunya membuat hati ibu seperti teriris sembilu manakala menyadari hal itu tak kan berlangsung lama,mungkinsaja esok atau lusa kebahagian putranya itu akan menghilang


hal yang sama juga terjadi pada Hadi wijaya,ia tak kuasa jika mengingat penyakit putrinya,hatinya sakit teramat sakit


Lintang yang melihat sang ibu tak baik baik saja,menyentuh tangan sang ibu lembut,menyadari sentuhan dari putrinya ibu menoleh dan terlihat Lintang menganggukan kepala,mengisyaratkan pada ibu untuk tenang dan iklas


sarapan pagi itu selesai,Awan berangkat ke kafe di antarkan Jingga sampai di depan,ia melambaikan tangan kala mobil Awan melaju pergi meninggalkan rumah

__ADS_1


Jingga berbalik dan terlihat ayahnya berdiri di depan pintu,menunggunya


Jingga datang menghampiri ayahnya lalu memeluk tubuh renta itu erat


Hadi wijaya tak kuasa menahan kesedihanya,tanpa bisa ia cegah air mata itu lolos dari pelupuk matanya


Jingga melerai pelukan dari ayahnya,lalu menghapus pelan air mata di wajah sang ayah


Jingga mengerti perasaan ayahnya,namun sekuat tenaga ia menahan air matanya dan berusaha mengulas senyum,menandakan jika ia baik baik saja


"pa,,,,maaf kan Jingga pa,karena tak menceritakan ini pada papa"ucapnya sendu dan membuat air mata yang sedari tadi ia tahan luruh tanpa bisa di cegah


Sementara sang ayah yang tak dapat lagi berucap hanya bisa mengangguk tanda mengerti meski jujur hatinya tak baik baik saja


dan hal itu di sasikan oleh ibu mertua Jingga,ia datang dan bergabung,lalu memeluk menantunya itu dengan sayang sebentar lalu melerai pelukan itu,lalu membelai wajah menantunya seraya berkata"sabar ya nak,kita hadapi semuanya bersama"ucapnya tulus dan membuat Jingga terenyuh


"terimakasih bu"ucapnya lalu memeluk kembali mertuanya


Lintang yang melihatnya pun ikut bergabung,dan kini mereka bertiga saling memeluk dan menangis,entahlah Jingga merasa senang sekaligus sedih,senang mendapat dukungan dari orang orang terkasihnya,namun juga sedih menyadari kenyataan jika dia tak bisa merasakan kebahagian ini lama lama


Sementara ibu dan Lintang mereka sama sedih menyadari penyakit Jingga,mereka berpikir bagaimana nantinya Awan menjalani hidupnya setelah kepergian Jingga

__ADS_1


__ADS_2