JINGGA

JINGGA
95


__ADS_3

“Huk...huk...”


“Astaga apa yang terjadi? Kenapa Non Jingga, menyemprotkan semua ruangan di rumah ini dengan parfum Tuan Fajar?” Susi, mengibas-ngibaskan tangannya. Hidupnya terkontaminasi bau yang luar biasa menyengat. Jika biasanya bau parfum ini sangat menenangkan, namun tidak dengan sekarang.


Sudah dua hari ini Jingga, menyemprotkan parfum-parfum ke seluruh ruangan yang ia lewati. Termasuk dengan hari ini, ia menyemprot semua sudut di ruang tengah dengan parfum suaminya.


“Beginikan harum kalau begini, aku bisa membaca novel, melihat serial drama dengan tenang” Jingga, duduk di sofa warna coklat muda, satu kakinya terangkat ke atas menyilang. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman.


“Kalau seperti ini bukan harum lagi Non, yang ada malah bikin kepala menjadi pusing” gerutu Susi, yang tak tahan dengan bau menyengat parfum Fajar.


Frus...frus...suara semprotan parfum.


Jingga, kembali menyemprotkan parfum tersebut. Kini ia menyemprot di bagian baju dan telapak tangannya.


“Diamlah Sus, kamu tidak tahu rasanya kangen dengan suami. Ketika aku mencium bau wangi parfumnya, aku dapat merasakan jika kini Mas Fajar berada di sampingku” Jingga tersenyum damai, ia masih sibuk menyemprotkan beberapa parfum ke sudut ruangan yang lain.


“Tapi Non, ini sudah di luar batas. Terlalu banyak, Non Jingga sudah menghabiskan lebih dari tujuh botol parfum dalam tiga hari”


“Astaga tujuh botol parfum mahal, harganya puluhan juta setiap botolnya!” pekik Susi, dengan tatapan melongo. Ia sedang membayangkan berapa jumlah uang yang di buang secara percuma oleh Jingga. Jemarinya sibuk menghitung dan kepalanya menggeleng-gelengkan dengan pelan.


“Ya ampun Non, ini sudah bisa di gunakan untuk membeli sawah di kampung”


“Apa perlu saya carikan pengharum ruangan Non, seperti Stelo atau Glade. Astaga ini hentikan ini terlalu berlebih!” Susi mengikuti setiap gerakan Jingga, tangannya melambai-lambai menyuruh untuk berhenti.


“Ya Allah, kenapa kamu jadi cerewet sekali Sus, ini kan parfum  milik suamiku. Belinya pakai uang mas Fajar kenapa kamu yang repot?”


“Saya hanya takut jika Tuan Fajar akan marah Non” Susi meringis, ketika melihat beberapa deret stok parfum Fajar yang mulai kandas.


“Tidak akan pernah marah. Mas Fajar sudah cinta sama aku sekarang” Jingga masih sibuk menyemprotkan parfum-parfum tersebut di beberapa sisi. Tidak hanya itu, tingkah aneh Jingga beberapa hari ini ialah ia kerap kali menggunakan baju Fajar.

__ADS_1


Ya benar saja, Jingga lebih suka menggunakan kaos atau kemeja Fajar terlebih yang belum sempat di cuci. Ia akan menggunakannya untuk tidur.


“Aneh, kenapa Non Jingga akhir-akhir ini bersikap aneh? Apa non Jingga ketempelan jin? Saya rasa kita harus lekas rukiyah Non” Tawar Susi memberikan solusi ketika tidak biasa mendapati perubahan pada Nona mudanya.


“Astaga Sus, kamu kenapa sih? Buang jauh-jauh pikiran buruk mu. Aku ini hanya sedang kangen sama suamiku” mendadak Jingga, menunjukan wajah yang melo, ia memeluk tubuhnya sendiri sekan sedang mencari kehangatan dalam dekapan Fajar melalui kemeja yang di pakainya.


“Duh Non, maafkan saya. Jangan bersedih. Apa Non Jingga ingin makan sesuatu? Biar aku buatkan, Non Jingga belum makan sama sekali sejak tadi pagi”


Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Aku tak mau perutku terasa tidak enak sekali. Aku hanya ingin suamiku” Jingga kembali menyemprotkan beberapa semprotan di bantal yang sedang di pangkunya.


Susi menghela nafas panjang, butuh kesabaran untuk menemani Jingga beberapa hari ini. Wanita yang biasanya begitu mandiri dan pengertian tiba-tiba berubah ujud menjadi wanita yang menyebalkan dan semaunya sendiri.


Kini Jingga, sedang berbaring di sofa dengan menikmati serial drama korea yang ia suka.


“Aku tahu” Tiba-tiba Jingga, bangkit dari tempat pembaringannya. Satu jemarinya terangkat ke atas dengan senyum yang berbinar.


“Ada apa Non” Susi sudah memasang wajah cemas, dalam hati sudah berfikir apa lagi yang akan di lakukan majikannya setelah ini.


Susi melongo mendengar penuturan Jingga. Ia tak dapat mengucapkan sebuah kata untuk itu.


Kini tangan Jingga, terulur ia meraih ponsel yang ada di atas meja. Jemarinya mulai beradu untuk memesan pernak-pernik ala kerajaan di salah satu market place.


“Non apa ini tidak berlebihan? Saya takut Tuan Fajar akan marah nanti kalau pulang” wajah Susi benar-benar memelas, ia juga takut di pecat ketika mendapati sikap Jingga yang di luar batas.


“Kau tau Sus, aku sama sekali tidak pernah berbelanja dengan menggunakan kartu pemberian suamiku” Jingga menunjukan blac card pada Susi.


“Aku rasa Mas Fajar tidak akan mempermasalahkan jika aku menggunakan ini. Justru dia akan marah kalau aku sama sekali tak menggunakannya. Sebaiknya kamu diam saja, dan tunggu semua barang-barang datang, lalu bantu aku mewujudkan istanaku” Jingga tersenyum girang membayangkan akan memiliki kerajaan di dalam rumahnya.


.

__ADS_1


.


.


Dua jam kemudian.


Dua jam kemudian, semua barang-barang yang di pesan Jingga sudah sampai di rumah. Ia mulai mendekor ruang tengah menjadi kerajaan kecil miliknya. Tangannya saling beradu menata beberapa pernak-pernik untuk istananya. Jingga membeli banyak sekali lampu-lampu. Lampu yang di letakkan di atas kuningan berbentuk panjang seperti tiang. Jingga juga membeli bunga-bunga lengkap dengan vasnya, mulai dari vas yang berukuran kecil hingga besar. Ia juga membeli beberapa ukiran khas jaman dahulu. Lebih dari itu Jingga juga membeli kain dengan jumlah berlembar-lembar kemudian di letakan di beberapa sudut sisi di rumahnya.


“Ah ini nyaman sekali, aku tinggal menunggu kedatangan raja”. Ia tersenyum dan kembali menyemprot beberapa kain yang baru terpasang sebagai dekor dengan parfum Fajar.


“Non, jangan capek-capek, non Jingga sama sekali belum makan dan istirahat hari ini”


Ya Allah bagaimana bisa Tuan Fajar melihat ini semua, aku tidak bisa membayangkan wajah kesalnya. Wajahnya yang dingin di paksa untuk bermain menjadi raja dan ratu, astaga.


“Non Jingga makan ya” tawar Susi, kini ia membawa langsung beberapa makanan di depannya.


“Seorang putri dalam kerajaan biasanya makan buah dan roti seperti ini Non” Susi meletakkan beberapa roti selai dan buah tepat di hadapan majikannya, ia tak memberikan Jingga nasi, karena wanita itu sama sekali tak bisa mencium bau nasi.


“Hah, tau dari mana kamu Sus kalau seorang putri di kerajaan makan roti semacam ini?”


“Ya kan gak mungkin Non, kalau seorang putri makannya kolak. Angsle atau mie setan” Susi memutar bola matanya dengan malas. Berkali-kali tangannya mengelus lembut dadanya yang kian naik turun.


Semoga tekanan darahku tidak naik terus, semoga Tuan Fajar lekas pulang.


Jingga mengangguk patuh, ia mulai mempertimbangkan ucapan Susi.


.


.

__ADS_1


.


“Apa yang terjadi?”


__ADS_2