
“Gendhis Mas, anak kita. Kamu sudah lupa kalau sekarang punya anak?”
“Anak?” Fajar membuka matanya dengan pelan, tangannya masih melingkar di perut Jingga.
“Sudahlah, biarkan saja. Di sana sudah ada mama dan beberapa baby sister yang lainnya. Kamu tenang aja, ayo tidur lagi”.
“Mas, hih....” Teriak Jingga dengan kesal
“Sudahlah lihat bapaknya saja, sama manisnya dengan anaknya” Fajar menarik tangan Jingga dan merebahkan di sisinya.
Ia memberontak untuk bangun tapi tenaga Fajar jauh lebih besar darinya. Mau tidak mau Jingga kembali tidur di sebelah sang suami.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi. Saat itu sinar matahari sudah muncul di permukaan. Hawa panas mulai menyengat. Gendhis yang di pangku Bu Nadin telah selesai berjemur. Bayi kecil itu kini sudah mandi dan wangi. Bu Nadin memakaikan setelan baju warna pink dengan motif boneka. Tak lupa ia juga menyematkan sepatu kecil yang sangat mungil. Sedikit sentuhan bandana warna senada dengan baju, melingkar di kepalanya.
“Cicitku cantik sekali pagi ini” puji Oma kemudian. Ia mengelus-elus pipi Gendhis yang merona alami.
“Ini mamanya di mana? Apa masih belum bangun?” tanya Oma kemudian ketika mengamati sekitar masih belum juga melihat keberadaan Jingga atau pun Fajar.
“Apa Fajar tidak bekerja, jam segini belum bersiap?” Oma berdiri dengan satu tangan terletak di punggung. Matanya masih memindai sekitar mencari kemunculan sang cucu.
“Sus, coba lihat, apa mereka masih tertidur?”
“Anu Nyonya, Tuan Fajar dan Non Jingga, masih tertidur. Pintu kamarnya masih tertutup rapat. Tirainya juga belum terbuka” jawab Susi dengan ragu, ia takut salah memberikan informasi.
“Astaga, benar-benar. Ini pasti kerjaan Fajar yang menahan istrinya untuk tidak turun-turun”
Oma begitu geram dengan tingkah cucunya. Ia lekas berdiri menuju kamar sang cucu dengan langkah supernya. Sejurus kemudian ia memukul-mukul pintu kamar itu dengan tongkatnya.
“Fajar bangun!” teriaknya dari luar, entah mengapa Oma dan Fajar seperti kucing dan tikus saat bertemu. Mereka akan saling bertengkar ringan, namun jauh dari lubuk hati saling menyayangi. Beberapa waktu terakhir ini Oma, begitu bahagia ketika melihat cucunya menderita.
“Fajar!” lagi-lagi ia memukul-mukul pintu kamar cucunya dengan tongkat, hingga membuat penghuni kamar gelagapan dan buru-buru membuka pintunya.
“Oma ada apa sih teriak-teriak ini masih pagi” Jingga bangkit dari ranjangnya, ia lekas berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
“Tuh lihat sudah pukul delapan, kamu bilang masih pagi?”
“Mana Jingga?” tanpa permisi Oma masuk begitu saja ke dalam kamar.
“Oma tolong” rengek Jingga, setelah keluar dari kamar mandi.
“Hem, sudah kuduga ini pasti perbuatan kamu, yang sudah menahan istrimu untuk tidak lekas turun. Baiklah demi keamanan maka muli besok Jingga akan tidur di kamar Gendhis dengan Oma. Sampai usia Gendhis genap empat puluh hari (setelah selapan)” ucap Oma, matanya melotot ke arah Fajar.
Hah
“Oma, mana bisa seperti itu. Aturan dari mana coba? Yang ada suami istri harus tidur satu ranjang dan satu kamar. Demi keharmonisan hubungan. Demi memupuk rasa saling sayang” dengus Fajar dengan kesal. Pagi itu ia memberikan ceramah pada orang yang lebih tua.
"Halah, itu hanya akal-akalan mu saja'
“Aturan orang jawa untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan sebelum waktunya tiba. Jangan membantah, Oma tidak suka di bantah!” Jingga berkali-kali menjulurkan lidahnya ke arah Fajar. Sementara Fajar menatap istrinya dengan frustasi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana menghabiskan malam, tanpa guling hidup yang sudah menemani hidupnya beberapa waktu ini. Oma lekas menggandeng Jingga membawanya keluar untuk bertemu Gendhis.
.
.
.
Hari memang sudah pagi. Kicauan burung saling silih berganti, menggaung memenuhi bagian sisi taman rumah sakit. Ia menari-nari, dengan menunjukan pesona suaranya yang menyentuh. Namun, suara kicauan itu tak mampu membuat hati mendengarnya merasa tenang.
Pagi itu, Bu Lia dan Pak Angga duduk di kursi tunggu. Mereka bersandar pada kursi panjang dari stainless, wajahnya murung. Bajunya lusuh dengan rambut yang sudah berantakan. Benar saja, pasangan orang tua yang tak lagi muda ini, sudah sejak semalam tidak tidur. Mereka berdiri di depan ruang ICU menunggu kabar sang putri.
Koridor rumah sakit masih sepi, hanya ada beberapa orang yang saling bergantian menunggu sanak saudaranya yang telah sakit.
“Papa, sebaiknya pulang dulu. Biar Mama yang menjaga Dahlia di sini”
“Mama, saja yang pulang. Biar aku yang menjaganya di sini. Pulanglah istirahat dulu di rumah”
Bu Lia menggelengkan kepalanya dengan pelan “Tidak Pa, aku di sini saja sampai Dahlia siuman” Ia menatap sang putri melewati celah kecil yang ada di pintu kamar. Sudah sejak tadi malam Dahlia tak kunjung membuka mata. Beberapa alat bantu pernafasan terpasang di tubuhnya.
Menurut Dokter, ia mendapat serangan asma secara dadakan. Sejak kecil Dahlia memang pengidap asma, lebih dari itu, ia juga alergi pada hawa dingin. Dahlia tidak bisa hidup dalam tekanan. Ia juga tidak di perkenankan untuk banyak pikiran. Jika hal itu terjadi maka sudah dapat di pastikan jika asmanya akan mudah kambuh.
“Dokter bagaimana kondisi anak kami?” tanya Bu Lia, ketika melihat Dokter yang baru saja keluar dari ruang visit kamar Dahlia.
“Dahlia mengalami serangan asma dadakan Pak Bu. Saat ini kondisinya belum stabil. Ia mengalami peradangan dan penyempitan pada saluran pernafasan. Paru-parunya mengalami iritasi, sehingga saluran pernafasannya menyempit, udara yang masuk ke dalam paru-paru mejadi terbatas. Ini banyak pemicunya, bisa jadi ia terlalu stres atau dalam kondisi banyak tekanan”
__ADS_1
“Untuk saat ini saturasi Dahlia masih di bawah 70%, kondisinya masih jauh dari kata stabil. Kami akan terus memantau perkembangannya” Tutur Dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU tempat Dahlia di rawat.
Bu Lia terdiam, namun matanya yang berbicara. Ia menangis menatap sendu pada sang anak yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
“Trimakasih Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk anak kami”
.
.
.
“Lihat anakmu sekarang. Apa kamu masih harus diam saja di sini?”
“Lakukan sesuatu Pa? Aku tidak mau kehilangan Dahlia untuk yang kedua kalinya”
“Pergi Pa!”
“Pergi!” Bu Lia berteriak dengan frustasi, ia tak tahu harus berbuat apa untuk anaknya. Ia hanya bisa menyalahkan keadaan menuntut pada suaminya untuk melakukan sesuatu. Tangannya mencengkram kuat kemeja sang suami yang telah lusuh, setelah semalam tidak berganti pakaian.
“Aku bilang lakukan sesuatu!”
Hermawan memilih untu pergi meningalkan anak dan istrinya untuk sementara. Ia berbaik arah berjalan mengelilingi koridor rumah sakit. Sepanjang jalan otaknya tak berhenti berfikir. Pak Hermawan menganggap apa yang terjadi pada Dahlia saat ini adalah karena Jingga. Untuk itu wanita itu harus membalas kontan semua yang terjadi pada anaknya.
Ia duduk terdiam di salah satu taman rumah sakit yang ada di samping parkiran. Duduk termenung dan masih berusaha untuk berfikir, tindakan apa yang bisa di lakukan untuk membalas Jingga.
Mata Hermawan mengedar menatap sekitar untuk sesaat. Hijaunya taman yang damai tak sedikitpun dapat mengusik relung hatinya yang telah kabut.
Sialan.
Sialan.
Hanya deretan umpatan kata kasar yang terus ia gaungkan saat itu.
Huft...
Hermawan duduk, menyandarkan punggungnya yang lelah pada sandaran kursi. Ia memilih untuk menyalakan rokok, menghirupnya dengan dalam dan lama, menghembuskan dengan pelan. Ia membiaran kepulan asap rokok itu melewat wajahnya. Benar-benar pagi yang kalut.
“Lakukan sekarang!”
__ADS_1