JINGGA

JINGGA
171


__ADS_3

“Mereka ini siapa?” Mata nenek Kinan memandang satu persatu tamu dalam rumahnya secara bergantian.


“Ini suamiku nek, namanya Mas Fajar. Bayi kecil ini putriku namanya Gendhis, ini adalah pengasuh Gendhis namanya mbak Asih dan yang ini coba nenek ingat-ingat siapa?”


“Masya Allah, kamu sudah berkeluarga nak. Lihat suamimu ganteng dan berwibawa sekali. Dan


anakmu, lihat dia cantik sekali lucu seperti wajahmu ketika masih kecil dulu”


Gendhis berceloteh ringan dan tertawa tangannya bertepuk tangan. Bayi itu seakan turut


memeriahkan kebahagian yang di rasakan Jingga saat ini.


“Ini siapa ya?, nenek rasa dulu pernah melihatnya”


“Benar Bu, dulu saya sering kemari bersama Tuan Bramantyo dan Nyonya Ayu”


Bu Kinan terdiam dan kembali menatap lekat wajah Bi Minah, ingatannya berkelana pada tahun-tahun yang lalu, saat keduanya masih sama-sama muda.


“Bi Minah”


“Bi Minah? Benarkah? Bi Minah pengasuh Jingga waktu kecil?”


Mata Bu Kinan berbinar menatap sosok Minah yang ia kenal dulu. Sementara Bi Minah


beliau menganggukkan kepala dan tersenyum.


“Masyaallah, sehat-sehat ya bi”


Bu Kinan kembali bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah Bi Minah dan memeluknya dengan haru.


“Bagiamana kabarnya Bi? Apakah selama ini Bi Minah membersamai Jingga hingga dia dewasa


seperti sekarang?”


Jingga lekas menjawab pertanyaan Neneknya. Ia menjelaskan sekilas apa yang terjadi pada keluarga mereka. Bu Kinan hanya bisa menangis ketika mendengar rentetan peristiwa yang menimpa cucunya.


“Bi, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk berterimakasih padamu, yang telah menjaga


cucuku hingga saat ini”


“Terima kasih-terima kasih atas kasih sayang dan kesetiannya pada keluarga Bramantyo. Anak


dan cucuku pasti tenang di sana. Jika pun mereka masih ada, tentu mereka akan melakukan segala cara sebagai ungkapan rasa terimakasihnya pada Bi Minah”


“Yang lalu biarlah berlalu Bu, saat ini keluarga Non Jingga sudah tenang. Ia berada dalam keluarga yang baik menyayanginya dengan sepenuh hati”


Bu Kinan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan sejurus kemudian ia tersenyum


hangat pada semua.


“Oh ya Pak, ngomong-ngomong kapan saya di kembalikan? Saya juga harus kembali bekerja” ucap salah satu wanita yang mengantarkan Fajar beserta rombongan ke rumah Bu Kinan.


“Astaga maaf bu saya lupa terbawa suasana yang ada. Mari saya antarkan dulu. Sayang permisi


dulu ya sebentar mau mengantarkan Ibu ini”

__ADS_1


“Makasih ya mbak Diyah” ucap Bu Kinan pada tetangganya dulu. Ia tak menyangka akan pertemuan dengan cucunya hari ini. Sungguh semua ini di luar prediksinya. Bahkan ia sempat untuk mengikhlaskan Jingga, jika anak itu sudah tiada.


Fajar mulai berlalu meninggalkan pekarangan Bu Kinan untuk mengantarkan Mbak Diyah. Tak


banyak obrolan yang terjadi sepanjang perjalanan ke tempat kerja mbak Diyah. Ibu dua anak ini sibuk mengamati lelaki yang ada di sampingnya. Kegantengan dan kharisma sungguh di atas rata-rata. Selama hidupnya ia bahkan belum pernah melihat lelaki seganteng ini di desanya.


“Jingga, nenek belum masak hari ini. Nenek tidak tahu jika kamu akan datang, andai saja tahu pasti nenek akan memasakan banyak makanan untuk tamu penting hari ini”


“Tidak maslaah nek kita baru saja makan tadi”


“Bagaimana kalau saya saja yang masak Bu Kinan. Kebetulan urusan masak dan memasak adalah tugas saya” tawar Bi Minah dengan segera.


“Kalian istirahat saja, pasti capek sekali setelah perjalanan jauh”


“Tidak, kami tidak cepek” jawab kompak Asih dan Bi Minah. Sontak menimbulkan tawa semuanya.


Jingga mulai beranjak masuk ke dalam rumah neneknya. Ia menggendong Gendhis dalam


dekapannya. Sementara Bi Minah dan juga Asih sedang sibuk untuk memasak. Jingga menyusuri setiap ruang yang ada di rumah itu.


Rumah dengan bangunan tua yang besar dan megah. Semua ornamen di dalam sana bertemakan jawa. Mulai dari pintu masuk, lantai hingga beberapa perabotan yang ada di dalam sana.


“Ini adalah kamar orang tuamu dulu”


Kaki Jingga mulai melangkah masuk ke dalam kamar itu. Mengikuti sang nenek yang melangkah lebih dulu di depannya.


“Dulu nenek tidak tinggal di sini, nenek tinggal di rumah yang satunya. Rumah itu tak jauh dari desa ini. Hanya saja beberapa waktu terakir rumah di sana sering tergenang air ketika hujan tiba. Jadi nenek memutuskan untuk kembali ke rumah ini”


Jingga masih berjalan mengitari ruangan kamar yang sangat luas untuk ukuran kamar rumah di desa. Satu dipan besar berada di tengah-tengah kamar tersebut.


“Kenapa nek?”


Jingga duduk di tepi ranjang orang tuanya yang menggunakan seprei warna biru dengan motif awan.


“Nenek tak sanggup dengan segala kenangan yang tertinggal di sini. Tapi jika tinggal di rumah yang satunya nenek tak sanggup dengan genangan air yang hampir setiap bulan datang membanjiri rumah itu”


“Kalau begitu nenek tinggal saja di rumahku. Aku sedang dalam proses pengambil alihan rumah mendiang Papa dan Mama. Dalam rumah itu sepenuhnya hakku. Itu berarti rumah itu juga rumah nenek”


“Tapi nenek sudah nyaman tinggal di sini”


“Ayolah nek, nanti sewaktu-waktu kita bisa main ke sini lagi jika nenek kangen dengan rumah ini. Rumah ini tidak akan kosong, nanti biar suamiku mencarikan orang untuk menempatinya. Aku ingin menebus banyak waktuku yang terbuang bersama keluarga. Aku ingin menikmati rasanya memiliki sebuah keluarga. Hanya nenek lah satu-satunya keluargaku yang tersisa selain dari keluarga suamiku”


Jingga menggenggam tangan neneknya, tangan itu terlihat keriput dan kurus bahkan otot-ototnya dapat tergambar jelas di sana.


“Nek ayolah” Jingga kembali memohon dan menatap penuh iba akan neneknya.


“Baiklah, nanti coba nenek pikirkan dulu. Anakmu sudah tidur sebaiknya baringkan saja dia di sini”


Bu Kinan mulai bangkit dari sisi ranjang, ia mengeluarkan beberapa sarung bantal dan menggantinya dengan yang baru. Ia juga menebas kasur tersebut dengan sapu lidi selayaknya di kehidupan orang desa. Bu Kinan memanglah orang desa tapi tanah dan sawahnya tersebar luas di sana. Orang-orang di sana menjulukinya sebagai tuan tanah.


Cukup pelan Jingga mulai merebahkan bayinya di atas kasur. Ia mengelus-elus kaki Gendhis ketika bayi itu mulai berger. Beberapa menit kemudian anaknya kembali tertidur dengan sangat pulas. Bahkan bayi itu memeluk guling kecil yang konon


adalah milik Jingga waktu masih bayi.


Jingga dan neneknya masih dalam satu kamar yang sama. Kini ia mulai beranjak dari ranjang besar itu. Melihat bagian luar area rumah yang tampak dari jendela. Jendela besar yang terbuat dari besi dengan banyak lubang berbentuk diagonal di dalam sana.

__ADS_1


“Suasana di sini masih sejuk ya nek”


“Benar hawa di sini memang masih sangat sejuk. Lihat saja pohon-pohon besar masi berdiri kokoh di sana”


“Apa nenek tidak kesepian selama ini?” tanya Jingga dengan mata yang masih memandang


alam luar di sana.


“Jangan tanyakan soal kesepian nak. Hati nenekmu ini hampir saja mati. Terkadang aku


juga ingin lekas menyusul kakek dan kedua orang tuamu saja ketika sepi melanda. Sejurus kemudian aku kembali teringat akan dirimu. Harusnya nenek masih berjuang untuk mencari keberadaan mu saat itu”


“Sudahlah nek, kejahatan Hermawan begitu keji dalam menghancurkan keluarga kita. Keserakahan dan ketamaannya membawa keluarga ini dalam kesengsaraan. Namun semuanya sudah terjadi. Mungkin memang seperti inilah garis dari sang maha kuasa untuk


keluarga kita”


Jingga mengikis jarak untuk mendekat pada neneknya. Ia kembali memegang telapak tangan


yang telah keriput dan menciumnya berkali-kali.


“Itu foto siapa nek?”


Jemari Jingga tertuju pada sebuah pigura besar yang terpasang di dinding kamar orang tuanya.


“Itu Papamu ketika masih muda. Lihatlah dia begitu tampan bukan? Dan wanita yang ada


di sebelahnya itu adalah Mamamu. Mereka benar-benar pasangan yang serasi.


Pantas saja kamu bisa secantik ini”


Jingga menuju pigura besar yang ada di depannya. Tangannya lekas meraih foto dalam


bingkai itu. Ia memandang lekas dua wajah pemuda yang sedang tersenyum dan saling memandang. Ia sedang mencoba untuk membayangkan wajah kedua orang tuanya.


“Ini adalah baju-baju Mamamu. Semua masih tersimpan rapi di sini. Kamu bisa memakainya untuk ganti. Aku rasa ukurannya juga akan cocok. Mamamu dulu ketika kamu seusia Gendhis postur tubuhnya juga sama seperti mu begini”


Bu Kinan tersenyum, ia bahkan membolak-balikkan tubuh Jingga dan mengamati dengan seksama. Sejurus kemudian Jingga tertarik untuk membuka almari pakaian orang


tuanya. Bukan berniat untuk menguasai akan hal itu, namun ia ingin mengenal orang tuanya lebih dekat lagi.


Tumpukan baju dengan berbagai motif dan juga warna tersusun rapi di sana. Bu Kinan benar-benar merawat semua peninggalan anaknya dengan baik. Ia tak membagikan


pada orang-orang di sekitarnya. Ia lebih memilih untuk menyimpannya sebagai koleksi. Dan ketika rasa rindu pada mendiang anak serta menantunya hadir. Ia akan membuka almari pakaian itu, mencium sisa-sisa bau yang ada di sana.


Bu Kinan bahkan menyuruh orang untuk membeli parfum khusus seperti apa yang ada di


dalam almari pakaian anaknya. Ia kerap kali ingin menghadirkan suasana masa lalu saat merindukan anak dan menantunya. Bukan ia pelit untuk tak membagikan baju-baju itu pada orang yang lebih membutuhkan. Bu Kinan lebih memilih untuk membelikan baju baru pada merek dari pada harus mengambil baju anak dan menantunya untuk di berikan pada orang lain.


Tangan Jingga terulur untuk mengambil sati baju kemeja milik Mamanya. Kemeja dengan


warna pink muda yang terkesan kalem. Dengan pelan ia membuka kancing kemeja tersebut lantas melirik pada neneknya.


Bu Kinan yang menyadari arti tatapan Jingga lekas menganggukkan kepalanya.


Kini Jingga mulai melanjutkan untuk membuka satu persatu kancing baju tersebut, ia ingin memakai baju yang pernah di pakai Mamanya. Ia ingin merasakan pelukan mendiang Mamanya melalui baju yang di kenakan.

__ADS_1


“Nek bagaimana?”


__ADS_2