JINGGA

JINGGA
restu ibu


__ADS_3

Awan dan Jingga serta Hadi wijaya ayahnya Jingga,kini telah berada di dalam rumah Awan


Awan menggenggam tangan sang istri dengan erat,menuntunya menuju pada ibu yang baru saja turun dari tangga,ada juga Lintang yang keluar dari dapur dengan membawa air putih di dalam botol di tanganya


Ibu dan Lintang tak mengerti dengan apa yang terjadi,di depanya kini berdiri tiga orang dengan pakaian resmi,seperti selesaivdari acara pernikahan


Dimana Awan dengan pakaian jas rapinya,Jingga dengan kebaya putih layaknya pengantin serta tuan Hadi yang juga mengenakan jas


Tangan Awan yang saling bertaut dengan Jingga,membuat ibu semakin bingung,ada apa ini tak mungkin kan mereka menikah tanpa sepengetahuan ibu pikirnya


Tak ingin pusing sendiri ibu memilih melangkah menuju mereka berdiri dan menanyakannya


ibu mendekati mereka di ikuti oleh Lintang,ibu menuju Jingga dan menegakkan kepala Jingga yang menunduk"nak,ada apa"tanya ibu pada Jingga,terlihat wajah pucat dan sembab Jingga


"maaf bu,kami sudsh menikah,tapi baru memberi tahu ibu"Awan yang menjawabnya,dan Jingga kembali menunduk,karena ia tahu saat di mobil jika tadi Awan belom memberitahu ibu tentang niatnya itu


Ibu kaget mendengar perkataan dari anaknya,karena setahu ibu Jingga lebih memilih pergi dari Awan saat putranya itu terpuruk,tapi sekarang kini mereka tiba tiba menikah,ada apa ini


Sebenarnya ibu sedikit kecewa dengan sikap Jingga waktu itu,tapi jika memang putranya bahagia ia akan berusaha menerimanya


Setelah lama terdiam dengan pemikiranya sendiri,ibu mengulas senyum dan memeluk Jingga,lalu berkata"selamat,semoga pernikahan kalian samawa"lalu setelahnya ibu melerai pelukanya


"ibu tidak marah"tanya Jingga


"tidak,"ucap ibu,dengan mundur satu langkah lalu memegang bahu anak dan menantunya


"pesan ibu,jadilah pasangan yang saling mengerti dan bahagia"imbuh ibu


"terimakasih bu"ucap Jingga lantas kembali memeluk ibu


Mereka berpelukan sebentar,lalu kini giliran Lintang yang memeluk kakak iparnya,serta memberi selamat,lalu gantian memeluk kakak laki lakinya dan juga memberi selamat

__ADS_1


Hadi Wijaya pun mengulas senyum di bibirnya,ia juga bahagia


"oh ya,mari mari silahkan duduk"ucapnya mempersilahkan,namun Awan memilih untuk membawa Jingga istirahat di kamarnya


"bu,aku dan Jingga ingin istirahat di kamar,Jingga sepertinya lelah"ucap Awan,dan ibu tersenyum genit,mengira itu akal akalan putranya,yang ingin berduaan dengan istrinya


"iya baiklah istirahatlah"ucapnya dengan senyum aneh


Namun tidak pada tuan Hadi,wajahnya terlihat sedih di hari yang bahagia ini


Hal itu tak luput dari pandangan ibunya Awan,ia lalu meminta besanya itu untuk duduk lalu meminta Lintang untuk membuatkan minuman untuk mereka


"mari tuan silahkan duduk"ucapnya lalu menoleh pada Lontang putrinya"tolong minta bibi buatkan minum dan juga bilang sama bibi untuk memasak untuk makan malam kita nanti"ucapnya pada putrinya


"baik bu"lalu pergi menuju dapur dan menyampaikan pesan ibu pada bibi pelayan


*


Awan membukakan pintu kamar dan menuntun Jingga istrinya masuk,terlihat dinding kamar yang berwarna abu abu,denan dekorasi warna monokrom,terlihat mewah dan cowok banget


Jingga mengambil gelas itu seraya tersenyum bahagia,ia senang di perlakukan seperti itu,ia meminum air putih itu hingga setengahnya,lalu Awan mengambil gelas itu dan hendak meminumnya juga


Namun buru buru di cegah oleh Jingga"kak,jangan itu sisa ku"ucapnya


"kenapa,sekarang kita adalah satu,hmm"ucapnya lalu meminum air itu hingga tandas,dan meletakan gelas kosong itu pada nakas di samping tempat tidurnya


Setelahnya Awan duduk di samping Jingga membawa wanita yang di cintainya itu yang kini sah menjadi istrinya kedalam pelukan hangatnya


Jingga membalas pelukan Awan dengan mengaitkan kedua tanganya di pinggang szng suami


"istirahatlah"ucap Awan

__ADS_1


Hening tak ada suara,sampai akhirnya Jingga mengeluarkan unek uneknya dalam hati


"kak ,berjanjilah setelah aku pergi nanti,kakak harus tetap bahagia"ucapnya sendu


"hmm"balas Awan dengan mantap sambil memejamkan mata,sungguh ia tak sanggup membicarakan ini,tapi ia harus kuat demi sang istri


"jangan berpikir yang tidak tidak,ayo istirahat"ucap Awan kemudian


"kak,_ _"ucap Jingga namun segera di potong oleh Awan


"kenapa membahas ini lagi"ucap Awan sambil melerai pelukan itu,dan menatap intens pada wajah sang istri,ia belai lembut wajah cantik yang kini terlihat pucat


"kak,_ _"lagi lagi ucapan Jingga harus terpotong


"baiklah"Awan menyerah,ia tak ingin mendebat istrinya


"mari kita buat waktu yang singkat ini dengan kebahagian yang berlimpah,dengan cinta yang tak terbatas,tanpa air mata dan kesedihan,hingga kenangan itu cukup menggantikan waktu hingga 50 tahun lagi atau bahkan lebih"ucap Awan panjang lebar,guna meyakinkan istrinya bahwa cintanya tak kan hilang meski apapun yang terjadi


"berjanjilah,kakak akan selalu bahagia,setelah kepergian ku"ucapnya sendu


Awan tak mampu menjawabnya,iya hanya mempu menganggukan kepala tanda setuju,lalu memeluk erat istrinya itu dalam pelukanya,hatinya sedih sekali


Jingga melerai pelukanya dengan Awan,lalu menangkup wajah tampan suaminya itu dengan kedua tanganya,ia menatap intens wajah suaminya,lalu perlahan mendekatkan wajahnya,dan menyatukan bibirnya dengan bibir sang suami


Awan menyambut ciuman sang istri,lalu ia menutup mata,dan membalas *****@an lembut dari bibir istrinya


Mereka saling *****@* dan mengisap,tak ada nafsu yang menggebu,yang terasa hanyalan perasaan cinta yang tulus


Setelah beberapa menit beradu lidah,kini Awan melepaskan lebih dulu,ia tak ingin hanyut dalam buaian Jingga,hingga ia lepas kendali


Karena jujur,ia adalah pria normal yang mudah terpancing oleh sentuhan,apalagi kini yang ada di hadapanya adalah wanita yang ia cintai,dan kini sah menjadi istrinya,yang bebas ia sentuh di manapun ia mau

__ADS_1


Tapi ia tak ingin memaksa,ia sadar kini kondisi Jingga sedang tidak baik baik saja,ia menangkup wajah istrinya,dan mengambil anak rambut di wajah istrinya itu"istirahatlah,aku bantu melepas gaunya ya"ucapnya pada sang istri


Jingga mengangguk menyetujui keinginan suaminya


__ADS_2