
"Apa yang kalian ucapkan?"
Ujar umi Azzahra yang sedari tadi memandang perdebatan yang ada di depan matanya, dia bisa melihat bagaimana sifat asli ipar dan suaminya sendiri.
Azzahra yang keluar rumah mengurus surat-menyurat sang ibu yang didampingi pengacara pribadi almarhum sang ibu.
Semuanya terekam jelas bagaimana sang suami menghina putrinya di bantu sang adik ipar yang membuat ia benar-benar ingin merobek dua mulut tak berakhlak itu.
"Apa yang kalian ucapkan?"
Tanyanya lagi dengan suara yang mengema di seluruh ruangan membuat semua yang ada disana menatapnya.
"Semuanya bisa mas jelaskan dek"
Ucap abi Aziz ia sangat takut akan kemarahan sang istri.
Aziz sangat tahu bagaimana sifat dan watak perempuan yang dia pinta dari bapak Ibrahim itu.
"Apa bapak sudah merekam semuannya?"
Ucap Azzahra tidak menangapi ucapan sang suami, dia bertanya kepada sang pengacara yang diangguki oleh beliau.
"Apa yang direkam dek?" Lirih Aziz.
"Perbuatanmu"
Jawab sang istri tanpa menatapnya membuat Aziz meremang dia tahu istrinya itu pasti marah besar padanya.
...***...
Azzahra dan Aziz sudah membuat kesepakatan bahwa Aziz tidak boleh menyakiti Mala baik dari segi fisik ataupun sikis.
Kalau Aziz ingkar maka sang istri akan menendang sang adik keluar dari rumah yang memang milik Azzahra hadiah dari sang bapak mertuanya.
...***...
Aziz menelan silvernya ketika melihat sang istri mendekat.
"Sayang... "
Panggilan Aziz tidak dihiraukan oleh Azzahrah, dia memilih menatap sang putri dan bertannya.
"Apa benar kamu ingin menikah Mala? "
Tanya umi Azzahra lemah lembut kepada sang putri yang dibalas dengan angukan kepala.
"Kalau begitu temukan umi dengan calon suami pilihanmu" Ucap umi Azzahra.
Mala menatap wajah sang bapak yang membuat sang bapak mengangukan kepala.
"Besok kami akan datang kerumah umi lagi, soalnya kak Satria ada di rumah bapak"
Jawab Mala lemah lembut kepada perempuan yang telah mengasuh dan menyusuinya tersebut.
"Kemas semua pakaianmu Fatimah, ketika aku pulang nanti semuannya sudah tidak ada di rumahku"
Ucap Azzahra penuh penekanan dan enggan menatap adik iparnya itu.
__ADS_1
"Kamu gak bisa begitu dek"
Ucap Aziz berusaha menghentikan tindakan sang istri.
"Kalau begitu kemas juga pakaianmu mas aku tidak ingin satu rumah dengan seorang penghianat"
Ucap Azzahra sambil menatap tajam suaminya.
"Apa maksud mu mengatakan hal itu?" Ucap Aziz gugup.
"Nanti kita selesaikan dirumah" Balas Azzahra.
"Mentang-mentang rumah itu atas nama mu Azzahra, kamu bisa semena-mena terhadap aku dan masku" Ucap Fatimah tidak terima.
Aziz menatap sang adik tajam, dia kesal akan mulut adiknya yang selalu mengundang pertikaian antara dirinya dengan sang istri.
Azzahra tersenyum sinis menangapi ucapan adik iparnya tersebut saat ini dia enggan berdebat karna disini ada pak pengacara.
Azzahra tahu hukumnya berumah tangga yang ketika ada permasalahan usahakan orang luar tidak tahu, kecuali kalau ingin mencari solusi akan masalah, baru dia bercerita itupun kepada orang tua atau mertua saja ketika tidak menemukan kecocokan dengan sang suami.
Aziz menyeret sang adik dia tidak mau menambah keruh suasana apa lagi sepertinya sang istri sudah tahu akan rencana yang dia telah lakukan, cari aman itulah pikirnya.
...***...
Sunyi menemani malam mereka yang ada disana hingga Azzahra mengutarakan keinginannya.
"Mala dan kamu Azzam mendekatlah"
Ujar umi Azzahra menyuruh kedua anaknya itu duduk didepannya.
"Perkenalkan ini pak Mansyur beliau adalah pengacara pribadi almarhum kakek/nenek kalian"
"Silahkan pak sampaikan kepada mereka apa yang tadi bapak ingin sampaikan" Ujar umi Azzahra.
"Begini cucu-cucunya almarhum pak Ibrahim saya tadi sempat mendengar kalau ada yang ingin menjual aset-aset almarhum kakek kalian tanpa persetujuan karna sang istri yang telah tiada, jadi saya hanya menjalankan apa yang telah diamantkan beliau kepada saya untuk membagi hartanya kepada cucunya jika mereka sudah menikah, tapi jika belum menikah maka semuanya akan diurus oleh putrinya Azzahra sampai kalian menikah"
Ucap pak Mansyur sambil menatap kedua kakak beradik itu bergantian.
"Karna Mala ingin menikah lebih dulu maka umi akan memberikan haknya yaitu rumah ini dan toko kelontong di depan sisanya yaitu ruko dua tinggat yang ada di pasar akan menjadi milik Azzam kalau dia telah menikah, bagaimana menurut kalian setuju atau tidak dengan keputusan umi?" Tanya umi Azzahra.
"Kalau umi tanya aku ya pasti setuju kalau rumah ini untuk Mala kan kita semua tau kalau ini rumah bersejarah banyak suka duka kita disini, kalau ditangan Mala pasti aman dia kan amanah" Azzam beragumen.
Mala menatap sang bapak seolah paham akan keinginan putrinya pak Udin menganguk.
"Kalau Mala terserah umi saja, tapi siapa yang tega inggin menjual rumah ini biar Mala hajar dia sampai masuk liang lahat sekalian" Ucap Mala geram.
"Siapa orangnya biar menjadi urusan umi dan pak pengacara" Jawab umi Azzahra
"Jadi deal ya tidak ada penolakan atau ketidak setujuan diantara kita semua?"
Tanya umi Azzahra meyakinkan dan dianguki oleh semua orang.
Itulah umi Azzahra ia selalu meminta pendapat sebelum memutuskan ia tidak memandang tua ataupun muda seperti yang selalu dilakukan almarhum bapaknya yang selalu bertanya pendapat putrinya sebelum memutuskan sesuatu.
Hal itulah yang ia coba terapkan kepada kedua anak-anaknya supaya tidak timbul perselisihan di kemudian hari.
Ataupun perasaan iri hati yang membuat perpecahan karna merasa tidak dianggap.
__ADS_1
Kata adil yang berati mendengarkan kedua belah pihak dan memutuskan setelah menimbang baik/buruknya itulah yang selalu diajarkan oleh bapak Ibramim kepada kedua putrinya.
"Besok bapak bisa kembali lagi kan untuk mengurusi pengalihan nama rumah ini?" Tanya umi Azzahra kepada sang pengacara yang di iyakan oleh beliau.
Setelah dirasa urusan telah diselesaikan pak Mansyur pamit undur diri karna besok menjadi hari melelahkan untuknya.
...***...
Setelah kepergian sang pengacara Mala dan pak Udin pun ingin undur diri pulang kerumah, bukannya apa mereka kasian sama Satria kalau kelamaan meninggalkan pemuda itu sendirian.
"Umi Mala dan bapak mau pulang dulu ya" Ucap Mala sambil mendekati sang umi.
"Loh ko mau pulang? Nginap disini ya umi kangen sama kamu banyak yang ingin umi bicararakan sama kamu sayang"
Ucap umi Azzahra sambil menatap sang putri yang telah lama tidak dia jumpai.
"Besok aja umi sekalian sama kak Satria" jawab Mala.
"Jadi nama calon menantu umi Satria"
Ucap umi Azzahra yang hanya dibalas angukan oleh sang putri.
Mau tidak mau Azzahra merelakan kepergian putrinya itu dengan hati berat.
"Oh iya bang Azzam dimana Dog? "
Tanya Mala yang teringat akan anjing tiga kaki itu.
"Abang gak tau dek, abang sibuk ngurus ini itu jadi gak kepikiran sama Dog" Jawab Azzam.
"Nanti kita cari ya nak"
Ucap sang bapak yang sedari tadi diam.
...***...
Dia tahu kalau Mala sangat menyayangi anjing itu yang di beri nama Dog pak Udin sempat bingung kenapa di beri nama Dog yang artinya sama-sama anjing cuma beda dibahasa aja.
Tapi ternyata ada maksud dibalik itu semua sang bapak mertualah dalangnya ia enggan Mala menyebut anjing takut ada orang yang lewat tersinggung itu pikirnya.
Aneh awalnya dipikiran kebanyakan orang tapi setelah dipahami baru mereka mengerti jika mendengar orang memanggil anjing maka kita akan mengumpat terlebih dahulu berbeda dengan jika orang memanggil Dog maka kita akan melihat dulu siapa yang dipanggil.
Walaupun telah tiada pak Ibramim telah meninggalkan ilmu yang bermanfaat untuk anak dan cucunya.
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama
Bila hal baik yang selalu kita lakukan maka orang akan menggingat bahwa kita adalah orang baik begitu pun sebaliknya.
.
.
.
__ADS_1
...********Bersambung*****......
*setelah baca wajib like and comen ya 😇****