
Brak… .
Suara pintu yang di dobrak dan menampakan seorang pria bertubuh besar sedang berdiri dengan wajah sangar menatap Satria dan Mala. Lelaki itu mendekat dan berteriak kepada pasangan suami--istri tersebut.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya sampil menatap padangan itu dengan tajam.
Satria dengan santai menjawab, "Kami telah menyewa tempat ini dari Abdul, Pak."
Lelaki itu tiba-tiba terdiam sesaat, hingga tidak berapa lama teman satu kampus Satria yang tadi pergi kembali lagi dengan nafas engos-engosan.
"Pak, mereka teman Abdul!" ujarnya sambil mendekati dan menarik tangan lelaki itu. Namun, segera di tangkis.
"Bro, ada apa ini?" tanya Satria penasaran. Sedangkan Mala hanya mempererat nggenggam tangan mereka. Satria paham kalau istrinya merasa tidak nyaman dengan keadan seperti ini.
"Bro, gue tidak jad… ."
"Ini hanya salah paham, Bro. Pak ayo kita kembali, sekali lagi gue mintak maaf ya," ujarnya seraya memaksa lelaki itu untuk pergi dari sana, akan tetapi usahanya sia-sia. Sang bapak tidak berging sama sekali.
"Kalian pasangan mesum 'kan? Berapa kalian bayar anak saya? Semua akan saya ganti!" jelasnya dengan sulutan emosi yang membara.
"Maaf sebelumnya, maksudnya Bapak ini apa ya?" tanya Satria sopan, siapa tahu ini hanya salah paham.
Bapak tesebut segera menjelaskan bahwa ada kejadian yang tidak mengenakkan pernah terjadi beberapa waktu yang lalu di tempat ini. Dia pemilik rumah-rumah kecil di pesisir pantai tersebut, tempat-tempat ini di sewakan untuk para pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai di malam hari. Walaupun di dekat sini ada hotel-hotel yang bejajar. Namun, pengunjung lebih menyukai menyewa rumah-rumah kecil miliknya yang di sebut 'Gubuk Cinta'.
"Lalu, apa hubungannya dengan tuduhan Bapak kepada kami?" tanya Satria penasaran.
__ADS_1
Sang bapak pun mencerirakan bahwa yang datang muda--mudi yang bukan suami--istri. Mereka melakukan hubungan terlarang di sini hingga sang perempuam hamil. Bapaknya Abdul itu juga menjelaskan bahwa muda--mudi itu melakukan aborsi dan membuang janin mereka di sini hal itu membuat tempat usahanya sempat di larang beroperasi karena kasus itu. Tempatnya juga sempat di beri garis polisi, setelah kejadian itu bapaknya Abdul memperketat penerimaan tamu yang ingin menyewa 'Gubuk Cinta' karena tidak ingin hal seperti kemarin terulang lagi. Dia juga menjelaskan bahwa harus mengeluarkan uang yang banyak demi memperoleh surat izin beroperasi lagi, maklum ini satu-satunya tempat penghasilannya.
Satria hanya menggangguk-angguk mahami penjelasan panjang lebar lelaki itu, berbeda dengan sang istrinya yang malah menagis sesegukkan.
"Nur, kamu kenapa?" tanya Satria panik karena melihat istrinya yang menangis.
Mala hanya diam tidak menjawab pertanyaan suaminya tersebut, dia bangun dari duduknya dan mendekati lelaki itu lalu mengeluarkan buku nikahnya dari tas selempang yang dia kenakan.
Lelaki itu segera mengambil buku nikah yang disodorkan kepadanya, dengan tangan yang berkeringat ia membaca poin-poin penting di sana. Lalu dia baru menyadari kalau telah salah padam akan kedua orang yang menyewa tempatnya dari sang anak. Mereka ternyata pasangan suami--istri yang sah. Lelaki itu hanya memandang dari luar saja, karena penampilan mereka yang masih muda.
"Maafkan Bapak," pintanya dengan menundukan kepala.
"'Kan, sudah Abdul bilang!" tambah Abdul yang merasa tidak engak dengan temanya Satria.
"Tidak apa-apa, Pak! Aku malah senang, karena Bapak lebih meningkatkan pengaman di sini. Aku hamil baru beberapa minggu sering merasa sakit, jadi suamiku mengajak ke sini untuk berbulan madu, katanya heling." jelas Mala sambil tersenyum lebar kepada lelaki tersebut.
Doa lelaki itu dengan tulus, setelah mendegar penuturan Mala, akhirnya mereka duduk bersama di sova sambil bercengrama hingga matahari yang sudah meninggi, menandakan waktunya untuk mengisi tangki.
Bapak dan anak itu berpamitan, akan tetapi sebelumnya sang bapak meminta agar pasangan itu mau makan di cafe miliknya. Walau pun banyak sekali cafe-cafe yang berjejer di sana, tidak sedikitpun membuat lelaki itu berputus asa dari Rahmat Sang Pencipta. Karena selayaknya seorang Hamba, ia hanya bisa berusah dan membiarkan Tuhan memberikan yang sepatutnya di berikan kepadanya. 'Salah satu ciri orang yang berserah diri akan Rahamat Allah ta'alla'.
Setelah mengantar kepergian anak dan bapak teraebut, Satria segera menutup pintu rapat-rapat. Dia segera menghampiri istrinya yang sedang duduk melamun.
"Nur!" panggilnya seraya duduk di samping sang istri tercinta.
"Kak, kenapa ya mereka tega membunuh janin mereka? Padahal mereka membuatnya dengan suka--cita. Apa mereka bukan Manusia? Atau mereka tidak memiliki hati nurani? Kak, aku yakin jika mereka melakukan hubungan itu dengan cinta dan kasih sayang. Tetapi, kenapa mereka setega itu dengan mahkluk kecil yang tidak tahu apa-apa. Orang tuanya yang bersalah, tetapi kenapa janin yang tidak berdosa harus menerima sebab--akibat orang tuanya."
__ADS_1
Satria bungkam seribu bahasa mendegar penuturan istrinya yang panjang lebar. Air bening yang jatuh kepipi sang istri membuat Satria lemah, dia segera memeluk wanita hamil itu dan meletakan kepala istrinya di dadanya seraya mengelua punggung belakan wanita itu dengan tanganya.
"Nur! Tuhan itu Maha Adil. Dia tidak akan membiarkan mereka yang berbuat salah begitu saja. Mereka semua akan menerima ganjaran atas perbuatan mereka, baik di dunia, mau pun di akhirat. Kita jadikan semua ini sebagai pelajaran untuk hidup kita yang akan mendetang. Untung kita nikah cepet-cepet, kalau tidak? Bisa-bisa… ."
"Aku masih punya iman, Kak!" Mala memotong ucapan suaminya yang sudah ke mana-mana. Satria hanya tersenyum sambil menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Iya sudah, kita solat zhur dulu. Nanti, baru kita ke cafe Abdul. Katanya makanan di sana enak-enak."
Mala tersenyum kecut mendegar penuturan suaminya, sebelum menimpali ucapan lelaki itu, "Kak, yang namanya orang jualan? Ya, memang begitu bilangnya."
Akhirnya mereka tertawa bersama, karena mereka juga seorang pedagang. Tidak ada penjual yang mengatakan hal buruk tentang dagangan yang mereka jual. Semua penjual akan mengatakan kalau barang jualan mereka baik.
Setelah solat zuhur berjamaah dengan Satria sebagai iman dan Mala sebagai makmum. Mereka berdua segera bergegas ke cafe Abdul. Berjalan sambil bergandengan tangan, sangat romantis. Bagaikan kisah cinta yang sangat indah, dipenuhi akan khayalan-khalayan yang luar biasa.
"Satria! Satria! Tunggu!"
"Siapa, wanita itu? Kak!" tanya Mala sambil berbalik badan menatap wanita yang memanggil suaminya. Mala paling tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati Satria. Cemburu yang ia rasakan membakar seluruh jiwa--raga.
"Dia?"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung … ....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...