Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Mengungkap rahasia


__ADS_3

"Maksud, Umi?" Azzahra bingung harus memberi jawaban seperti apa. 


"Maksud Umi, kita harus izin dahulu kepada Papi dan Mami. Masak, seperti itu Kakak nggak paham?" celetus Mala. 


Azzahra mengangguk membenarkan ucapan putrinya tersebut, dia bersyukur di saat antara memegang janji dan tidak mau berbohong di selamatkan oleh Mala. 


"Ya Sudah, nanti aku telepon Mami," jelas Satria.


"Kapan?" tanya Mala penasaran.


Satria mengusap - usap dagunya berfikir, "mungkin malam nanti, soalnya ada perbedaan jam."


"Sayang, kamu yakin tidak ingin dioperasi?" tanya Azzahra penasaran tentang keinginan sang putri.


"Aku mau dioperasi jika tetap menahankan anakku, Umi. Namun, jika harus membunuhnya aku tidak akan pernah mau," jawab Mala dengan tegas. 


Azzahra dan Satria hanya mampu membuang nafas kasar, mereka bingung bagaimana nantinya. Biarlah Sang Robb yang mengatur semuanya. 


.


.


.


Malam harinya. 


Setelah solat isya dan makan malam, Satria yang sudah janjian dengan maminya akan melakukan panggilan video pun bersiap-siap.


"Halo, how are you Mi?" ucap Satria ketika sambungan teleponnya telah diangkat dan menampakan wanita tersebut yang masih menggunakan pakaian piyama. 


"Halo, Sayang. Kamu mau apa?" tanya Marissa yang sudah menaruh curiga kepada putranya tersebut.


"Papi, di mana Mi?" tanya Satria mengalihkan pembicaraan.


"Ada, lagi mandi!" ucap Marissa.


"Papi tidak berangkat ke … ."


"Kamu mau apa?" ucap Marissa memotong ucapan sang putra yang terlalu basa-basi. Dia semakin curiga, pasti ada sesuatu yang membuat putranya meminta untuk berbicara lewat vidio call dengannya. 


"Begini, Mi. Nur, mau diperiksa secara menyeluruh asalkan ditangani oleh dokter wanita. Jadi, menurut Mami bagaimana?" 

__ADS_1


Marissa yang mendengar penuturan putranya mulai memikirkan keadaan menantunya yang mengandung janin dan tumor. Marissa tidak tega melihat nasib cucunya yang berada dalam rahim Mala, dia juga seorang ibu. Marissa merasa iba terhadap janin yang harus berjuang demi bisa ke dunia ini.


"Kalau masalah itu? Mami serahkan kepada kalian, soalnya Mami masih sibuk membantu Papi kamu di sini," terangnya yang seolah-olah tidak peduli. Namun, dirinya memang masih sibuk mengusut masalah pengalihan nama perusahan yang masih belum selesai.


"Baiklah, kalau begitu kami ak… ."


"Pak Marcel bukan ayah kandung Kak Satria!" teriak Mala kencang. Dia yang diam memperhatikan layar ponsel milik suaminya melihat Papi Ikbal yang keluar dari kamar mandi segera mengutarakan masalah yang masih teka-teki.


"Apa!" teriak Marissa terkejut akan pernyataan tersebut hingga ponsel miliknya terjatuh saking kagetnya. 


"Ada apa, Mi?" tanya Ikbal yang ikut kaget akan teriakan istrinya segera menghampiri wanita tersebut.


"Halo!"


Berkali-kali Satria memanggil sang mami. Namun, tidak ada jawaban. Layar ponsel yang masih menyala menampakan langit-langit kamar maminya tersebut meyakinkan Satria, bahwa wanita itu sedang syok berat akan penemuan yang tidak terduga.


"Kamu sih, Nur!  Kenapa tadi teriak dan mengatakan hal tersebut?" tanya Satria yang menyayangkan sikap istrinya tadi.


"Aku penasaran, Kak! Siapa tahu Mami memiliki rahasia yang disembunyikan selama ini?"


Satria mengusap-usap dagunya berfikir, ada benarnya yang dikatakan oleh oleh istrinya tersebut.


"Maaf," lirih Mala sambil menunduk. 


"Halo, ini masih tersambung," jelas Ikbal yang mengambil alih ponsel istrinya dan menampakkan Satria serta Mala yang menatap dirinya intens. 


"Astagfirullah, Papi!" teriak Satria sambil mengalihkan layar ponselnya dari Mala.


"Ada apa?" jawab Ikbal heran.


Satria hanya menggeram kesal akan pertanyaan tidak berdosa papinya. 


"Aurat! Aurat!" sakras Satria. 


"Oh, maaf. Mami kamu berbicaralah," pinta Ikbal yang baru sadar kalau dirinya hanya mengunakan handuk saja sebab baru habis mandi. Dia menyerahkan ponsel yang di pegangnya kepada wanita itu yang masih diam membisu. 


Satria hanya memperhatikan kedua orang tuanya, sedangkan Mala hanya memperhatikan suaminya yang serius menatap layar ponsel. Mala penasaran, tetapi dia urung untuk bertanya takut suaminya marah, lagian dia tahu kalau Papi Ikbal yang belum mengenakan baju. 


"Mami!" panggil Ikbal lagi. Dia heran akan tingkah istrinya yang tidak merespon panggilnya, "apa yang terjadi sebenarnya?" batin Ikbal. 


"Mami, kenapa, Pi?" tanya Satria penasaran. Dia semakin yakin bahwa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh wanita yang telah melahirkannya tersebut.

__ADS_1


"Papi enggak tahu?" balas Ikbal sambil menggeleng "memangnya, apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Ikbal yang penasaran.


"Bukan apa-apa!" 


Ikbal hanya menatap bingung kepada sikap istrinya yang tiba-tiba berteriak dan mengambil alih ponsel dengan kasar membuat Ikbal menaruh curiga. 


"Sat, Mami sibuk! Nanti lagi teleponnya," jelas Marissa sambil menutup panggilan tersebut. Dia merasa takut dan gelisah, tangannya sampai gemetar akibat pernyataan yang baru diterima.


"Mami! Mami!"panggil Satria berkali-kali.


"Ada apa, Kak?" tanya Mala penasaran melihat suaminya teriak-teriak memanggil Mami Marissa.


"Mami, memutuskan sambungan teleponnya," terang Satria kecewa. Dia semakin curiga dan penasaran, apa gerangan yang disembunyikan oleh maminya. Satria juga penasaran, kalau bukan Pak Marcel ayah biologisnya? Lalu, siapa?.


"Biarkan, Mami tenang dulu, Kak. Nanti, jika ada waktu?  Kita telepon lagi," jelas Mala sambil mengusap lengan suaminya menenangkan lelaki tersebut. 


Satria menatap istrinya, apa yang dikatakan wanita hamil itu ada benarnya. Jangan sampai maminya terlalu terdesak akan mengakibatkan hal terburuk terjadi, seperti kembalinya penyakit maminya yang gila akibat terlalu depresi.


"Kalau kamu kasian sama Mami? Kenapa kamu mengeluarkan pertanyaan seperti tadi?" tanya Satria yang kadang jegah akan sikap istrinya.


"Yah, aku penasaran Kak!  Emang Kakak nggak penasaran gitu?" balas Mala membuat suaminya terdesak.


"Ya, penasaran lah. Tetapi, ada cara yang baik. Jangan seperti tadi? Kamu bisa-bisa membuat Mami masuk RSJ lagi," terang Satria mengingatkan istrinya sambil mengusap puncak kepala wanita yang dia cinta karena Sang Robb tersebut.


"Maaf," lirih Mala yang mengetahui letak salahnya. 


Terkadang sebagai pasangan suami/istri pasti akan ada yang namanya ketidaksesuaian. Namun, sebagai pasangan yang baik. Sebisa mungkin kita mengingatkan dan berjalan bersama ke jalan yang diridho-Nya.


"Rahasia apa yang Mami sembunyikan? Lalu, siapa ayah biologisku?" batin Satria bertanya-tanya akan semua masalah yang masih menjadi teka-teki yang rumit. Sambil mengusap-usap puncak kepala istrinya yang ternyata terlelap. Satria menatap intens wanita hamil tersebut, banyak hal yang telah mereka lewati bersama. Perasaan Satria semakin terikat oleh istrinya, entah seperti apa jadinya jika mereka harus terpisah. Satria merasa tidak mampu, tetapi jika itu harus terjadi? Dia berharap hanya takdir Tuhanlah yang memisahkan mereka.


"Kamu adalah sumber kekuatanku, Nur! Tetaplah menjadi cahaya penerangku dalam hidup ini, untuk menghadapi ujian dari Tuhan."


.


.


.


...Bersambung … ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2