
"Kamu kenapa, Nur!" tanya Satria mulai panik.
"Aku enggak apa-apa, Kak. Cuma mau pingsan lihat pengantin baru," jelas Mala dengan gelak tawanya.
Semua orang hanya tersenyum mendengar kata-kata Mala, akan tetapi Azzam dan Tasya yang dibicarakan menjadi malu.
************************************************
Selesai acara akad nikah, mereka melanjutkan dengan resepsi hingga malam harinya.
Perayaan pernikahan yang sangat megah dan mewah tentunya, Pak Anton tidak segan-segan mengeluarkan uangnya untuk meriahkan hari berserjarah untuk sang putri.
Walaupun mungkin Pak Anton keras terhadap Tasya, akan tetapi semua itu ia lakukan karena ingin putrinya menjadi wanita yang tanggguh dan mandiri sama seperti alhmahum ibunya.
Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, akan tetapi mungkin cara penyampainya saja yang berbeda-beda. Namun tetap pada tujuan yang sama.
Bahagia itu mudah, cukup lihat orang yang kita sayangi tersenyum.
Hal itu yang Mala rasakan, mereka saat ini masih berkumpul diruangan khusus untuk keluarga pengantin.
Tidak tanggung-tanggung, Azzam menyewa satu hotel full untuk acara pernikahannya. Karean Azzam tahu kalau keluarganya tidak akan mau menginap dihotel disebabkan ada tamu luar yang bukan mahrom mereka.
Mala ikut berkumpul dengan yang lainnya setelah menidurkan Cahaya, walaupun sudah larut. Namun Mala tidak mau kehilangan momen paling berharga.
Mala dan Satria telah menyiapkan hadiah khusus untuk pasangan pengantin baru itu.
"Kak, sudah dibawa barangnya?" tanya Mala berbisik ditelinga sang suami.
"Ada nih," balas Satria antusias.
"Apa yang kalian bisik 'kan?" tanya Udin yang melihat berangai pasangan suami istri itu yang nampak mencurigakan.
"Ini, Pak. Kami mau memberikan hadiah untuk Abang sebagai kenang-kenagan," jelas Mala.
"Tidak perlu repot-repot, Dek. Mbak merasa merepotkan," terang Tasya merasa sungkan.
Sekarang panggilannya kepada Mala dan Satria telah berubah, seperti yang dipinta oleh sang umi. Jika, Tasya harus terbiasa memanggil pasangan suami istri itu dengan panggillan adik. Karena mereka adik iparnya.
"Iya, Dek. Jangan repot-repot, sekarang lebih baik kamu tidur. Kasihan anak kita," terang Azzam.
"Anak kita? Anakku, Zam! Kamu kalau mau? Buat sendiri!" balas Satria yang tidak terima akan pengakuan Azzam tersebut.
Namun kata-kata Satria membuat Tasya malu, wajah wanita itu memerah seperti tomat. Azzam yang melihat perubahan sang istri segera mengajak wanita itu untuk masuk kekamar mereka, karena menurut Azzam meladeni Satria dan Mala tidak akan pernah ada habisnya.
"Ayo, Beb. Kita masuk, anggap aja tadi tidak dengar apa-apa."
"Ehem, Bapak juga mau masuk," terang Udin yang memilih kabur lebih dulu.
"Pak, Umi dikamar kami! Tidur sama Cahya," jelas Mala sebelum lelaki itu beranjak dan mendapatkan dianggukkan kepala.
__ADS_1
Kini Azzam menarik lembut tangan istrinya untuk menuju ke kamar mereka, tidak seperti pertama kali bersentuhan dengan sang istri. Saat ini Azzam sudah mulai terbiasa.
"Bang! Tungggu dulu," pinta Mala menahan sang abang dan menatap suaminya.
Satria paham akan kode sang istri segera menyerahkan kotak kecil kepada Azzam.
"Ini apa?" tanya Azzam ketika Satria mengerahkan kota kecil berwana merah darah kepadanya.
"Inj hadiah dari kami, Bang. Walaupun tidak seberapa, setidaknya bisa bermakna untuk Abang dan Mbak Tasya," jelas Mala dengan wajah yang berseri.
Tasya menolak halus pemberian Mala, karena merasa sungkan.
"Dek, makasih sebelumnya. Tapi, Mbak merasa tidak pantas menerima hadiah dari kalian."
Azzam yang mendengar penuturan istrinya segera memberi pengertian untuk sang istri.
"Beb, kamu jangan bilang seperti itu! Mereka ini adikku? Yang berati adikmu juga," terang Azzam.
Sebenarnya Azzam mual sendiri akan panggilan Beb, yang dia ucapkan. Namun demi menjaga perasaan sang istrinya, tetap ia lakukan saja. Toh menyenangkan hati istri termasuk ibadah.
"Sudah, banyak drama!" terang Saria yang geram melihat tingkah pasangan pengantin tersebut.
"Iya, Bang! Ini terima aja, jagan sungkan-sungkan. Ayo, Kak. Kita kembali," tambah Mala sambil menarik tangan suaminya pergi menjauh dari pasangan itu.
Azzam dan Tasya pun berlalu menuju kamar mereka, lelah adalah hal pertama yang pasangan itu rasakan.
Walaupun gugup setengah mati, akan tetapi coba ia tepis perasaan itu.
Tasya memanggil suaminya pelan, akan tetapi tidak ada jawaban dari lelaki itu. Tasya mulai menggoyangkan kaki suaminya, tetapi hasilnya masih sama.
Karena penasaran, akhirnya Tasya menarik tubuh suaminya agar terlentang. Tasya takut suaminya kenapa-kenapa, akan tetapi ketakutannya hanya prasangka saja
Suaminya hanya tertidur pulas, mungkin karena kecapeaan. Tasya kasihan melihat suaminya yang masih mengenakan jas lengkap, akhirnya melepaskan pakaian suaminya dengan perlahan.
Walaupun masih dengan tangan bergetar, Tasya tetap mencoba menjadi istri yang berbakti kepada suaminya.
Ketika Tasya ingin meletakkan pakaian Azzam diatas naskas, padangan matanya menagkap satu benda yang menarik.
Tasya mengambil kota merah darah pemberian Mala dan Satria.
"Kira-kira apa ya, isinya?" batin Tasya.
Karena penasaran akhirnya Tasya membuka perlahan pembungkus kado tersebut, setelah dibuka ternyata isinya membuat wanita itu tertegun.
"Lihatin apa, Beb?" tanya Azzam tiba-tiba mengagetkan istrinya.
Sebenarnya Azzam belum tidur, lelaki itu hanya ingin mengerjai istrinya. Menanti reaksi apa yang akan sang istri lakukan jika mengira ia telah tertidur.
Ternyata istrinya membiarkan dia tertidur, walaupun sempat memanggil untuk membangunkannya.
__ADS_1
Azzam yang memperhatikan istrinya diam-diam menjadi penasaran, karena sang istri yang membuka kota hadiah dari adiknya.
Pasangan suami istri yang selalu kompak dalam mengerjai dirinya.
"Lihatin apa, Beb?"
Azzam mengulangi pertanyaannya karena tidak ada respon dari sang istri.
"Ah, ini… ," Tasya gugup mau menjelaskan apa, sampai kado yang ia pegang terjatuh dari pangkuannya dan membuat sang suami melihat isi dari kotak hadiah itu.
Wajah Tasya menjadi memerah, antara malu dan kesal akan kecerobohan yang dilakukannya.
"Ini apa, Beb? Kayak balon? Tapi untuk apa Mala memberikan ini? Dasar, adik tidak berakhlak!"
Tasya hanya tertegun mendengar ucapan suaminya, dia merasa tidak percaya jika suaminya tidak mengetahui benda apa yang dipegangnya itu.
"Beb, mau kemana?" tanya Tasya yang melihat suaminya akan bagun dari tempat tidur.
"Aku mau buang balon ini, Beb. Kita bukan anak kecil dikasih beginian," jelas Azzam sambil turun dari tempat tidur.
Namun istrinya menarik tanganya dan menggelengkan kepala.
"Ada apa, Beb?" tanya Azzam yang tidak mengerti akan sikap istrinya.
"Jangan dibuang, Beb!" Tasya bingung harus mengatakan apa.
"Terus mau diapain?" tanya Azzam tidak paham.
"Itu dipakai, Beb," jawab Tasya dengan wajah memerah karena malu.
"Hahahaha… ," tawa Azzam terdengar mengisi ruangan itu membuat Tasya menatap heran suaminya.
"Beb, kita bukan anak kecil! Masa main balon? Seperti masa kecil kurang bahagia aja," kata Azzam sambil menahan tawa karena lucu akan ucapan istrinya.
"Itu balon kb, Beb," ujar Tasya sambil menundukkan kepalanya.
Entah seperti apa tanggapan suaminya, dirinya sangat malu mengatakan hal itu.
"Balon KB? Maksudnya!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1