Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Bahagia Datang Bersama Duka.


__ADS_3

"Apa benar, dia Udin?" batin Aziz. 


Aziz seakan terhipnotis oleh penampilan Udin yang mengenakan baju almarhum sang bapak mertua.


Hingga mereka ada dihadapinya, Aziz masih saja melogo menatap Udin membuat yang ditatap merasa tidak nyaman dan menegur Aziz. 


"Pak Aziz," panggil Udin dan membuat lelaki itu tergagap. 


"Ah, iya, Pak Udin. Aku harus menyiapkan akad pernikahan," jelasnya tergagap dan pergi. 


Azzahra menatap heran sang mantan suami.


"Jangan diliatin terus, nanti naksir," celetus Mala menggoda sang umi yang mendapatkan tatapan tajam. 


Semuanya tertawa bahagia, hingga suara seorang MC terdengar menarik semua perhatian.


Sang MC memperkenalkan diri dan mengawali acara tersebut dengan sangat baik hingga akad pun dimulai. 


Kini Azzam berhadapan dengan Pak Anton ayahnya Tasya dengan perasaan yang gugup. 


Untuk pertama kalinya seorang Azzam merasa nervous, biasanya pemuda itu selalu percaya diri. Jika hanya berhadapan dengan sesama Manusia, akan tetapi keyakinannya seakan hilang seketika disaat Pak Anton menjabat tangannya dan mulai mengucapkan tekken akad. 


"Muhammad Azzam bin Ahmad Aziz saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Anatasya Hartono binti Anton Hartono dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


Semua kata yang diucapkan Pak Anton dengan penekanan itu membuat Azzam bungkam seketika, hingga abinya menegur putranya itu. 


"Zam, ayo jawab!" ujar Aziz dengan suara yang tegas. 


Azzam hanya menatap abinya itu sampai air matanya menetes. 


Azzahra yang melihat putranya tertekan sampai meneteskan air mata menghampiri pemuda itu, ia memeluk putranya dengan kasih sayang membuat sang putra semakin deras menangis. 


"Umi," lirih Azzam. 


Azzahra mengelus puncuk kepala Azzam sambil berselawat  agar putranya tenang, kelakuan ibu dan anak itu menarik perhatian semua orang. 


Hal yang tidak mungkin akan mereka melihat, seorang Azzam menangis. Pemuda yang sangat berbakat dan percaya diri bisa menangis, bahkan di hari pernikahannya. 


"Ayolah, sudah sinetronnya. Aku mau melihat ending bahagia!" celetus Mala yang menarik perhatian semua orang. 


Azzam melepas pelukannya dari sang umi, ia menatap sekilas adiknya dan kembali menatap Pak Anton dengan wajah yang serius. 


Kali ini Pak Anton yang dibuat gugup oleh Azzam.


"Ayo, Pak. Saya sudah siap!" ujar Azzam dengan aura yang berbeda dari tadi. 

__ADS_1


Azzahra senang melihat putranya kembali menjadi Azzam yang kuat, sebagai seorang umi. Wanita itu tahu sekali jika putranya lagi down, karena sekuat-kuatnya Manusia. Dia hanya makhluk, ada kalanya lelah dan letih. 


Tidak ada yang bisa memungkiri jika dibalik sosok yang kuat dan tegar, ada pula sisi rapuhnya sebagai penyeimbang dari garisan takdir.


Sebagaimana kita beriman akan iman yang 5 yaitu perbuatan baik/buruknya Manusia. 


Kini hati Azzam telah yakin seyakin yakin nya, jika ibadah kali ini mampu ia jalankan dengan iman yang digenggam kuat. 


"Silahkan dimulai, Pak," pinta Aziz kepada Pak Anton. Lelaki itu menjadi saksi ijab kabul pihak Azzam. 


"Baiklah, kita ulangi sekali lagi."


Pak Anton memperbaiki duduknya dan menggenggam kembali tangan Azzam dengan erat sebelum mengucapkan kalimat ijab kabul, setelah ia merasa yakin barulah lelaki itu mengulangi ucapannya. 


"Bismillahirrohmanirrohim."


"Muhammad Azzam putra Ahmad Aziz, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Anatasya Hartono dengan mas kawinnya seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


Pak Anton menggoyangkan tangan Azzam dan disambut dengan jawaban lantang dan berani dari pemuda itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anatasya Hartono binti Anton Hartono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Alhamdulillah!"


"Salah Pak! Jawabannya seharusnya sah," sela saksi dari pihak mempelai wanita kepada Aziz dan membuat lelaki itu tersenyum kecut. 


"Sah!" ucap semua orang kompak. 


Senyum bahagia dan lega dirasakan oleh Azzam, pemuda itu segera menghampiri sang umi dan sujud dikaki wanita yang telah melahirkannya.


"Zam, sudah Nak!" pinta Azzahra sambil mengangkat bahu sang putra dan mencium lembut kedua mata Azzam yang kembali meneteskan air mata. 


Semua orang yang melihat hal itu menjadi kehilangan kata-kata, betapa besar kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Walaupun sang anak sudah beranjak dewasa sekalipun, perasaan sayang itu tidak akan pernah memudar. 


"Ridhoi Azzam, Mi. Doakan anakmu ini menjadi anak yang soleh dan bisa mengangkat derajatmu di yaumul akhir," pinta Azzam tulus sambil menatap sendu wajah sang umi. 


"Umimu saja yang mau diangkat derajatnya? Abi tidak!" sela Aziz yang mendengar penuturan sang putra. 


"Abi juga," tambah Azzam sambil menghampiri abinya itu dan memeluk lelaki yang menjadi awal ia ada. 


Haru mengisi ruangan itu,  banyaknya tamu undangan tidak menjadi halangan untuk mereka menampakkan perasaan bahagia dan saling menghormati.


Semua semakin ricuh dikala mempelai wanita memasuki ruang itu, Pak Anton meminta pengrias Tasya untuk membawa sang putri masuk ke aula.


Seolah tersihir akan bidadari yang turun dari kayangan, Azzam mematung ketika melihat Tasya istrinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," Tasya mengucapkan salam ketika di hadapan Azzam. 


"Wa'alaikum salam."


Semua mata tertuju kepada Satria yang menjawab salam tersebut, padahal semuanya tahu jika salam yang diucapkan oleh Tasya untuk suaminya. 


"Ada apa? Menjawab salam itu hukumnya wajib," jelas Satria merasa tidak bersalah.


Azzam merasa geram akan suaminya Mala itu, akan tetapi ia tetap menjaga wibawanya di hadapan semua tamu undangan. 


"Ayo Nak, cium tangan suamimu," pinta Pak Antok kepada putrinya. 


Dengan tangan yang gemetar Tasya meraih tangan Azzam, akan tetapi suaminya itu menarik tangannya yang sudah disentuh oleh Tasya membuat semua orang menatap heran kearah Azzam. 


"Aku belum terbiasa disentuh wanita," jelas Azzam dengan gugupnya. 


Mala yang melihat hal itu segera mendekat dan meraih tangan abangnya dan Tasya, kemudian menyatukan tangan pasangan halal tersebut.


"Jangan katakan bukan, Mahram? Dokter Tasya istrimu,  Bang!"


"Makasih, Dek," balas Azzam yang terharu dengan perhatian Mala kepadanya. Mereka besar dan tumbuh bersama jadi sudah sangat mengenal sifat dan watak masing-masing. 


Setelah menyatukan dua pasangan itu, Mala berlalu. Namun ia menahan langkahnya di dekat sang abang dan berbisik.


"Ini tidak gratis."


Azzam hanya mampu tersenyum pahit mendengar kata-kata adiknya itu. 


"Dasar, adik kurang diajar," batin Azzam. 


Tasya yang pemasaran akan yang dibisikan oleh Mala, kemudian mendekati suaminya itu dan bertanya, "Apa yang dikatakan oleh Mala?"


Tubuh Azzam meremang seketika merasakan nafas sang istri yang berhembus di dekat telinganya, spontan Azzam melangkah mundur menjauh.


Tasya bingung akan sikap suaminya, "Kamu kenapa, Beb?"


"Tolong! Panggilkan ambulan!"


Teriakan Mala menarik semua perhatian orang yang berada di sana tidak terkecuali suaminya sendiri, dengan panik Satria memegang kuat bahu sang istri dan bertanya, "Kamu kenapa, Nur!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2