Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Kabar Duka Keluarga Permata


__ADS_3

...Meninggalkan perdebatan yang tidak akan habisnya dilakukan oleh pasangan suami istri yang baru merasakkan indahnya kebersamaan kita beralih kediaman oma Yolanda....


.


.


.


Di rumah oma Yolanda.


...Setelah kepergian sang putra beberapa hari lamanya, mami Marissa hanya mengisi waktunya hanya dengan melamun....


...Makan tidak kenyang, tidur tidak nyinyak, semua gara-gara memikirkan nasib sang anak yang tidak kunjung pulang....


...Merissa merasa apa yang dikatakan oleh mama nya hanya omong kosong belaka, yang mengatakan bahwa putranya akan pulang karna tidak akan bisa hidup sengsara bersama sang istri pilihannya....


...Kenyataan pahitnya sang putra tidak menampakkan batang hidungnya setelah kepergian tempo hari....


"Sat, kenapa kamu gak pulang nak? Mami rindu" Lirih Marissa sedih akan kepergian Satria bersama istrinya.


...Jika dia bisa menekan perasaan egoianya sedikit saja mungkin tidak akan semua ini terjadi. Tapi apa lah daya egois memang sudah menjadi darah dagingnya. Kesombongan adalah teman abadinya yang tidak akan pernah bisa dia lepaskan....


...Hinga lamunan Marissa terganggu akan suara sang mama yang bertriak keras sampai kekamarnya. ...


...Marissa melangkahkan kakinya keluar kamar guna untuk menemui sang mama, namun tiba-tiba dia mendengar teriakkan sang mama lebih keras dari yang tadi....


"Apa? "


"Tidak mungkin ini pasti bohong?" Teriak Yolanda histeris mendengar berita yang baru di terima dari asisten sang suami yang berada di Amerika.


"Mama, ada apa? " Tanya Marissa menghampiri sang mama yang terduduk di tempat tidur sambil menagis memegang ponselnya.


...Yolanda tidak bisa berkata-kata lagi, mulutnya seolah terkunci dia hanya menyerahkan ponsel miliknya kepada sang putri....


(Halo)


(Halo ini dengan siapa? ) Tanya Marissa ragu.


(Ini saya bu, Rudy asisten bapak Malik. Beliau kecelakaan dan meninggal dunia di tempat)


...Bagaikan sunami yang menerjang, perasaan Marissa luluh lantah setelah mendengar berita itu membuat dirinya pingsan seketika. ...


"Marissa" Teriak Yolanda panik, sambil mengangkat kepala sang putri di pangkuannya.


(Halo) Suara telepon yang masih tersambung.


(Iya Rus) Lirih Yolanda dengan derai air mata.


(Mungkin besok malam mayatnya baru akan tiba bu, kalau tidak ada halangan, soalnya sekarang masih diotopsi)


...Yolanda semakin terisak, dia tidak mengindahkan lagi ponselnya yang masih tersambung. Pikirannya melayang entah kemana....


...Jika waktu bisa diulang maka dia memilih ikut sang suami ke Amerika walau meninggalkan sang putri....


...Penyesalan itu terus masuk kedalam hati dan pikirannya membuat dia prustasi, kata jika itu menyakitkan untuk di ingat....


"Papa, aku akan menyusul mu" Ucap Yolanda dengan air mata.

__ADS_1


...Namun seketika dia tertawa, dan beberapa saat menangis. Jiwanya benar-benar terguncang akan berita kepergian sang suami....


...Ketika ART melewati kamar Yolanda yang pintunya terbuka menarasa curiga. Dirinya yang memang ingin membawakan sarapan ke pada tuanya itu terkejut melihat jeadaan yang ada....


"Nyonya" Teriaknya panik dan segera mendekati.


"Kamu siapa ha? " Tanya Yolanda seperti orang linglung.


"Nyonya kenapa? Ini ibu Marissa kenapa tidur disini? "


"Suttt, putriku sedang tidur. Kami akan pergi menyusul papa" Ucap Yolanda sambil mengelus kepala sang putri.


"Pak Bagus" Teriak ART panik melihat keadaan majikkannya.


"Iyo Num, ono opo? " Ucap pak Bagus yang baru masuk kedalam menghampiri Hanum ART yang berteriak memanggil namanya yang tengah asik menyiram tanaman dihalaman belakang.


"Ini loh ibu" Ucapnya sambil menatap majikkannya yang menangis lalu tertawa sendiri.


"Kita hubungi pak Ikbal Num" Usul pak Bagus yang juga bingung dengan keadaan yang terjadi.


"Iyo, bapak aja yang telepon"


"Awak mu ja Num, aku ora ngerti"


"Iyo wes, jagain ini" Ucap Hanum meninggalkan majikkannya bersama pak Bagus, karna dia ingin menelpon pak Ikbal menggunakan telepon rumah dilantai bawah.


Tut....


Tut....


...Hinga panggilan terjawab dari seberang sana....


(Anu pak, saya ingin berbicara dengan pak Ikbal boleh?)Tanyanya ragu.


(Boleh, namun dengan siapa ini ya? Dan dalam prihal apa? Sebab ada prosedur yang harus dilakukan jika ingin menghubungi narapidana)


...Mendengar penjelasan polisi diseberang sana membuat ART itu bingung, sebab dia tidak mengetahui penyebab keanehan yang terjadi kepada majikkannya....


(Itu pak, nyonya Yolanda sakit. Saya bingung harus menghubungi siapa?) Akhirnya alasan itu yang di kemukannya.


(Mohon maaf bu kalau ibu Yolanda sakit maka lebih baik anda hubungi dokter keluarga bukan kantor kepolisian)


...Mendengar penuturan orang diseberang sana membuat ART itu mengutuk kebodohannya....


(Oh iya pak, mohon maaf sebelumnya) Balasnya sambil menutup telepon dan menelpon Dokter keluarga Permata.


(Halo)


(Iya halo, dengan siapa saya berbicara)


(Anu pak, saya ART di kediaman Permata. Nyonya Yolanda sedang sakit, apa bapak bisa kemari?)


(Oh iya, nanti saya kesana setelah selesai praktek saya)


(Kelaman pak kalau bisa sekarang masalahnya)


...Belum selesai ART itu menyelesaikan ucapanya dirinya dikejutkan oleh teriakkan pak Bagus....

__ADS_1


"Nyonya...... "


Brukkk.....


...Yolanda menjatuhkan dirinya dari lantai dua rumahnya kelantai bawah halaman rumah dari blakon kamar....


...ART yang tadi tengah menelpon panik hinga lupa menutup teleponnya dan langsung berlari ke lantai atas....


"Ono opo pak? " Tanyanya dengan ngos-ngosan sebab berlari.


"Nyonya melompat dari balkon" Ucapnya sambil menunjuk pintu balkon yang terkunci.


"Astagfirullah allazim"


"Ada apa Bi? " Tanya Marissa yang baru sadar dari pingsannya.


"Nyonya bu" Ucapnya sambil menunjuk pintu balkon.


...Marissa melihat kearah balkon dari kaca nampak sang mama yang terbaring bersimbah darah dibawah sana....


"Mama.... " Teriaknya histeris.


"Ibu yang sabar" Ucap ART menenangkan sang majikkan.


"Aaaaaaa..... " Teriak Marisa sambil menjambak rambutnya.


...Baru saja dia mendengar berita kalau papa nya meninggal akibat kecelakaan dan sekarang sang mama yang meninggal karna terjun dari lantai atas balkon rumah....


...Hidup memang tidak pernah berjalan mulus seperti jalan tol, semuanya harus diuji guna mengetahui hamba yang mana yang masih beriman....


"Ini semua gara-gara kamu gadis yatim, kampungan, miskin. Jika Satria tidak menikah dengan mu mungkin aku masih bersama Satria dan orang tua ku" Teriak Marissa memaki Mala, menimpakan semua yang terjadi akibat kehadiran Mala.


...Itulah sifat dan watak Marissa selalu menyalahkan orang lain jika dia menerima sesuatu masalah atau musibah tanpa mau berbenah diri, menyadari kesalahan apa yang pernah dibuatnya kepada orang lain....


"Hihihi... mama... papa kemari"


"Mama.... "


"Papa..... "


"Kalian jahat tinggalin aku sendiri" Teriak Marissa depresi sambil melukai tubuhnya dengan kuku-kuku jari tangannya yang tajam.


"Ibu hentikan" Ucap ART sambil menahan tangan Marissa.


"Lepasin" Balas Marissa meronta-ronta.


...Akhir dari sandiwara yang selalu dimainkan oleh Marissa menjadi kenyataan. Dirinya kini benar-benar gila akibat kehilangan orang yang dicintainya....


...Allah kabulkan keinginan hambanya cepat atau lambat, maka berprilaku baik lah maka kebaikkan yang akan kau terima begitupu sebaliknya....


"Hubungi pak Ikbal"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung.......


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2