
"Ini… ," suara Satria tercekat di tenggorokan. Dia tidak menyangka kalau hasilnya seperti ini.
"Iya, ini hasilnya," terang Marcel dengan tatapan kekecewaan yang kantara di wajah lelaki itu. Dia juga tidak menyangka kalau hasilnya akan seperti ini.
"Apa hasilnya, Kak?" Mala mengulang pertanyaannya. Wanita itu penasaran sekali dengan hasil tes DNA suaminya dengan Pak Marcel.
"Aku bukan anak kandung Pak Marcel," jawab Satria pelan. Dia binggung akan teka - teki ini.
Mala menatap wajah suaminya dan Pak Marcel bergantian. Mencari kecocokan, akan tetapi haruskah dia mengakui, bahwa wajah mereka berdua yang memang blasteran.
"Emmm…, mungkin Mami selingkuh?" cetus Mala beramsumsi.
Marcel dan Satria menatap nanar wanita hamil tersebut. Ucapan Mala mungkin ada benarnya, karna jika bukan Marcel ayah biologi Satria, lalu siapa?
"Ibu Nur Mala Sari," panggil seorang petugas administrasi mengejutkan mereka dari pikiran dan praduga.
"Iya," Satria segera menuju ke tempat administrasi guna mengambil resep obat istrinya dan berlalu.
Marcel menatap nanar Mala, dia kepikiran akan ucapan wanita hamil tersebut.
"Ada apa, Pak?" tanya Mala yang risih ditatap oleh lelaki yang duduk di sampingnya.
"Dari mana kamu bisa memikirkan bahwa Raissa selingkuh?" tanya Marcel ragu. Dia yakin bahwa Satria anaknya. Namun, hasil tes mengatakan hal yang lain.
"Mungkin saja, saya hanya mengira bukan menuduh," terang Mala.
"Kak, sudah?" tanya Mala kepada suaminya yang mendekat.
"Ini, ayo pulang. Kamu harus banyak istirahat," terang Satria sambil membantu istrinya bangun.
"Sat, kamu bisa membantu Saya?" tanya Marcel ragu. Namun, dia harus mengusut masalah ini hingga selesai.
"Insya Allah, Pak. Maaf Saya tidak bisa janji, karna Mami Saya sebagai saksi kuncinya tidak berada di sini," jelas Satria.
Marcel terkejut mendegar penuturan Satria, dia baru saja bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Sekarang wanita tersebut tidak berada di sini? Lalu di mana dia?
"Raissa berada di mana?" tanya Marcel penasaran.
"Mami… ,"
"Nak, kalian di sini?" teriak Udin yang datang mendekat, membuat Satria tidak jadi melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" tanya Satria setelah lelaki itu mendekat dengan nafas ngos - ngosan.
"Ini, Bapak bawakan minuman untuk Mala," ujar Udin menyerahkan air mineral kepada putrinya.
"Maaf Satria, kamu.., "
"Maaf Pak, kami harus pulang," terang Udin memotong ucapan lelaki tersebut dan meraih tangan Mala membawa wanita hamil tersebut berlalu.
Marcel hanya menatap nanar kepergian tiga orang tersebut sambil membatin, "Siapa Ayah kandungmu, Sat?"
.
.
.
Setelah masuk ke dalam mobil, Mala tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
"Bapak tidak menyukai, Pak Marcel?"
Udin hanya mampu menelan silvernya kasar, mendegar penuturan putrinya yang duduk di jok belakang bersama Satria.
"Nur, kamu berbicara apa sih?" tegur Satria yang tidak suka dengan istrinya yang selalu curiga dan menuduh orang lain.
Udin pura - pura tidak mendegar, dia langsung menjalankan mobil dan meninggalkan pakiran rumah sakit menuju rumah kembali.
Sebenarnya Udin mendapat tugas rahasia dari Marissa. Besannya tersebut menitipkan Satria untuk di jaga olehnya, terlebih Udin harus menjauhan Satria dari Marcel yang di gadang - gadang ayah biologis menantunya tersebut.
Setelah pembicaraan tersebut mereka hanya diam selama perjalan pulang. Satria mengelus perut istrinya, dia binggung harus bagaimana menghadapi ujian ini.
"Kak, kalau tumornya besar seperti anak kita? Kakak mau kasih nama tidak?"
Gerak tangan Satria terhenti setelah mendegar celotehan tidak berfaedah istrinya, antara kesal dan sedih. Lelaki itu hanya mampu menatap sendu wajah istrinya.
"Kita sudah sampai," jelas Udin sambil mematikan mesin mobil. Dia tidak tahan lama - lama berada dalam situasi selerti ini memilih keluar lebih dahulu. Udin yang pernah berada di posisi Satria, merasa sesak kembali. Dia yang lalai menjaga istri selama mengandung, gara - gara Ibunya Mala dulu tidak pernah berkeluh kesah akan proses selama hamil membuat Udin berfikir semua baik - baik saja.
"Bapak mau ke mana?" tanya Satria menghentikan langkah lelaki itu.
"Pulang!" teriaknya sambil melanjutkan langkahnya, membawa perasaan sakit yang kembali menyeruak. Kalau dulu Udin akan melampiaskannya kepada sang putri. Namun, sekarang dia hanya bisa pulang ke rumah sambil meratapi nasibnya.
"Bapak tidak akan pernah menyakiti perasaanmu lagi. Bapak akan berjanji, melakukan semua hal yang kamu pinta jika itu bisa membuatmu bahagia," batin Udin bertekat sambil melangkah menuju rumah. Membawa semua rasa sakit yang datang tiba - tiba.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, La?" tanya Azzahra antusias melihat kedatangan putrinya tersebut. Azzahra yang sibuk di dapur, segera keluar ketika mendegar mobil Satria datang.
"Alhamdulillah, Umi. Nanti Kak Satria mau carikan dokter wanita," jelas Mala sambil duduk di kursi tamu.
Azzahra melihat keluar, lalu menatap Satria dan Mala sekilas yang duduk sambil bertanya, "Di mana Bapak, Kalian?"
"Cie, cie, ada yang kagen nih?" ejek Satria yang mendapat tatapan tajam sang Umi.
"Suci, kamu baru pulang?" tanya Azzahra mengalihkan perhatian.
"Iya, Bu. Inikan sudah mau zuhur," terangnya sambil menundukan pandangan.
"Ibu? Umi, Suci. Biaskan panggil Umi," jelas Azzahra yang meralat panggilan Suci terhadap dirinya.
"Umi, Aku mau berbicara sebentar. Suci kamu bisa kembali kekamar, nanti kita makan siang bersama," pinta Satria yang tahu kalau gadis itu masih kaku setelah permintaan istrinya.
Azzahra kemudian duduk berhadapan dengan pasangan suami-istri tersebut setelah Suci berlalu masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya ketus.
"Umi kenapa tidak pulang?" celetus Mala yang mendapat tatapan tajam Uminya.
"Nur," tegur Satria.
"Umi, aku ingin meminta pendapat Umi tentang penyakit tumor yang Nur derita. Dia mau di periksa secara menyeluruh jika dokter wanita yang menanganinya, aku ingin meminta pendapat Umi. Jika, aku bawa Nur ke Amerika untuk berobat boleh? Di sana banyak sekali dokter wanita profesional."
Setelah mendegar penuturan Satria, Azzahra menimbang baik--buruknya sebelum memberi jawaban.
"Kalau kalian tanya pendapat Umi? Lebih baik kalian mintak pendapat Ikbal dan Marisaa terlebih dahulu, sebab Umi mendapat amanah harus menjaga kali…," Azzahra segera menutup mulutnya dengan tangan karena keceposan.
Wanita itu binggung bagaimana caranya menutupi keceleposannya tadi. Dia dan Udin yang mendapat amanah dari kedua orang tua Satria untuk tanpa memberi tahukan masalah ini malah membuat dirinya seperti memakan buah srimalakama. Maju salah mundur salah, dia pusing sendiri. Padahal dia telah menolak hal ini. Namun, Marissa memaksa dengan alasan demi kebaikan Mala, hal itulah membuat dia mau tidak mau menyanggupi permintaan sang besan.
"Maksud, Umi?"
.
.
.
...Bersambung … ....
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...