
"Itu… ."
Satria menatap tajam Suci yang menampakkan keragu-raguan.
"Nak, katakanlah yang sebenarnya ! Bapak juga tidak paham apa yang sedari tadi kalian bahas? Akan tetapi, Bapak ingin kamu berkata jujur apa adanya."
Suci menatap nanar lelaki yang mengembangkan senyum tulus kepadanya. Dia semakin memantapkan hati untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Bang! Alasan kenapa Pak Rudy meninggalkan anak cabang di sini dan mengambil alih yang utama adalah, karena itu semua memang hak miliknya. Aku tidak paham dengan pasti, akan tetapi itu yang beliau sampaikan kepadaku. Aku hanya diminta untuk menjalankannya seperti sedia kala, beliau juga mengatakan jika anak cabang itu murni milik Abang. Aku telah berkata sejujur-jujurnya, dari apa yang beliau terangkan kepadaku. Semua terserah kalian mau percaya atau tidak? Yang pasti aku sudah mengatakan yang sebenarnya."
Penjelasan panjang--lebar Suci membuat semua orang merenungi, apa alasan Pak Rudy sebenarnya? Jika memang dia orang yang tamak? Maka, lelaki itu akan mengambil semuanya. Namun, anehnya lelaki itu menyisakan sedikit dengan alasan itu adalah hak Satria.
"Kak," panggil Mala sambil menatap sendu suaminya.
"Ada apa, Nur? Perut kamu sakit?"
Mala menggelengkan kepala menanggapi ucapan suaminya, "Kak, aku ingin Kakak ikhlaskan saja semuanya. Harta dan tahta bisa dicari, akan tetapi hati yang damai tidak! Aku tidak ingin kakak sampai merebut perusahaan yang sudah menjadi milik Suci, aku hanya ingin kakak berusaha dan bersabar mengelola perusahan yang sudah ada di tangan Kakak."
"Aku bukan pemiliknya, Mbak" lirih Suci.
"Itu sudah menjadi milik kamu, Sulastri. Tidak ada yang bisa merubahnya kecuali Allah. Aku hanya ingin hidup damai bersama keluargaku, tanpa ada yang namanya dendam dan permusuhan. Aku lelah hidup dengan penderitaan! Aku juga ingin merasakan kebahagian, bolehkan aku mencari kebahagiaanku?"
Azzahra tidak tahan lagi, dia langsung bangun dari duduknya dan memeluk Mala dengan lelehan air mata. Dia tahu sekali bagaimana menderitanya sang putri, ia juga telah bertekad akan membahagiakan putrinya tersebut dengan segenap jiwa dan raga.
"Umi, aku juga mau di peluk!" ucap Azzam merenggek dan me dekati umi dan adiknya tersebut. Dia telah terbiasa dari kecil, jika ada suka dan duka yang selalu mereka bagi bersama.
Satria dan Udin hanya diam mematung, berbeda dengan Suci yang hanya menatap sendu ketiga orang tersebut yang saling berpelukan. Perasaan gadis itu menjadi iri, ia juga ingin merasakan sebuah peluk yang hangat dari orang yang menyayanginya.
__ADS_1
"Suci! Kemari," ajak Mala sambil melambaikan tangan kepada gadis itu. Semarah-marahnya Mala, dia tidak akan pernah tega berbuat kejam apa lagi kepada orang di sekitarnya.
Suci menggelengkan kepala menolak ajakan Mala, ia sungkan. Gadis itu sadar diri, kalau telah banyak membuat masalah.
"Kalau kamu tidak mau? Biar Bapak saja yang peluk."
Penuturan Udin memulai pro kontra, Azzahra mengurai pelukannya dan menatap lelaki yang rencananya akan menjadi calon suaminya tersebut.
"Bapak! Ingat usia," ujar Satria sambil tertawa. Namun, sedetik kemudian, "Awww, sakit Nur!"
Semua orang tertawa lepas melihat Satria yang mendapat cubitan maut Mala, mereka bercengkrama dengan hangat seolah tidak ada masalah sebelumnya. Memaafkan memang tidak mudah, akan tetapi berusaha menerima semua ketentuan Sang Robb adalah pilihan yang paling baik. Inilah hidup, ada kalanya badai menerpa membuat para awak kapal oleng dan ingin segera mengakhirinya. Namun, ada juga yang berusaha bertahan karena percaya setelah badai ada pelangi yang menggantikan.
Hidup dengan ikhlas dan menerima semua ketentuan Sang Robb, berarti kita telah termasuk Manusia-Manusia yang beriman.
Meninggalkan kehangatan mereka yang ada di rumah penuh kenangan, kita akan mengintip keresahan pasangan Ikbal dan Marissa. Pasangan suami--istri yang jika dekat selalu ribut. Namun, jika jauh akan merasa rindu.
"Ini lagi, kenapa mejanya seperti ini? Seharusnya yang elegan, gunakan kayu jati dan di pernis supaya mengkilap at… ."
"Mami!" teriak Ikbal yang sudah tidak tahan lagi. "Jika Mami ingin kantor yang bagus? Meja yang klasik? Atau apalah itu? Harus kerja! Kerja! Kerja! Kerja yang keras dan tekun, bisa?"
Ikbal mengucapkan semua itu dengan satu tarikan nafas seking kesalnya kepada sang istri yang tidak ubahnya satlantas yang mengatur jalan agar tertib dan teratur.
"Mami hanya berkomentar, ini juga mau kerja!" kila Marissa sambil duduk dan membaca berkas yang ada di mejanya.
Ikbal yang meminta staf OB untuk menambah kursi dan meja di ruangannya agar wanita itu bisa diawasi dengan baik. Bukannya apa? Ikbal sangat paham sikap dan watak istrinya. Perusahan ini tidak akan pernah maju jika mulut laknat istrinya berkicau nyaring, yang ada perusahaan akan bangkrut diakibatkan para pegawainya yang kabur.
Tenang sesaat, Ikbal bisa bernafas lega. Namun, hanya sesaat. Teriakkan dan ocehaan sang istri berlanjut. Seperti mendengar penyanyi lagu DI dengan ritme yang sangat cepat. Ikbal sangat heran dengan istrinya, bagaimana wanita itu berbicara tanpa terjeda. Berbicara seperti kereta api ekspres saja.
__ADS_1
"Mami!"
Marissa tersentak kaget mendengar teriakkan suaminya, akan tetapi di detik kemudian ia mulai membolak--balikkan keadaan.
"Papi, Mami ini cuma ngasih tahu? Ini berkasnya valid, tidak sesuai. Papi, marah-marah terus sama Mami! Untung-untung Mami mau bantuin Papi. Ini, malahan tidak dihargai, sakit Pi! Sakit!"
Marissa mendramatisir peran yang ia mainkan, seolah-olah ia lah yang di sakiti. Hebat memang yang namanya wanita, jika terdesak mereka akan memainkan peran sebagai bawang putih. Padahal, mereka itulah si ibu tiri.
Ikbal berkali-kali mengucapkan istighfar, hingga ia menemukan kata yang sangat pas untuk membungkam mulut istrinya.
"Mi, nanti kita ke rumah sakit," pintanya sambil mengembangkan senyum.
Marissa mencium aroma tidak sedap dari kata-kata suaminya tersebut sambil menggeleng, "Apa yang akan kita lakukan?"
Ikbal masih mengembang senyum, tebakannya pas. Istrinya itu akan cepat tertarik dengan yang berbau rumah sakit, "Kita akan melakukan tes DNA."
"Maksudnya?" tubuh Marissa lunglai seketika. Marissa merasa ada hal yang tidak baik akan terjadi, tubuhnya gemetar dengan keringat yang mengucur deras. Wanita itu yakin jika suaminya akan melakukan hal yang tidak bisa ia duga-duga, entah apa rencana lelaki yang dengan santainya duduk sambil membaca berkas itu. Marissa hanya mampu menatap nanar suaminya sambil membatin.
"Apa rencanamu, Pi?" batin Marissa.
.
.
.
...Bersambung… . ...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...