
Setelah bisa bertemu dengan sang abi, wajah Mala berseri-seri. Satria yang melihat pun merasa bahagia, "Ternyata membahagiakan orang yang kita cintai itu mudah," batin Satria.
Kini mereka berdua telah sampai di rumah, celotehan sang istri bagaikan nyanyian yang syahdu. Bagaikan penyair yang menyiram kalbu dengan syair-syair yang menenangkan hati.
Udin dan Azzahra pun ikut senang melihat dan mendengar apa saja yang diceritakan oleh sang putri, mereka juga bersyukur karena Aziz tidak berlaku kasar lagi terhadap Mala. Walaupun mereka tahu, lelaki itu baik karena ada maksud dan tujuannya saja.
Baru saja hari ini mereka lalui dengan perasaan bahagia, akan tetapi seakan Sang Robb sedang mempermainkan mereka. Satria menerima telpon dari Dokter Tasya yang mengatakan jika operasi sang istri akan dilaksanakan besok pagi.
Dokter Tasya juga menjelaskan jika tumor yang berada didalam perut sang istri, berada diluar rahim yang berarti tidak akan terlalu sulit bagi mereka mengangkat tumor tersebut. Dokter Tasya juga menjelaskan, setelah keluar hasil pemeriksaan kemarin baru mereka mengetahui hal tersebut. Karena alasan itulah operasi dimajukan dari jadwal sebelumnya guna mengurangi resiko, dikhawatirkan jika terlalu lama menunda akan membuat peluang bagi tumor tersebut semakin membesar.
Sartria menjelaskan semua yang dijelaskan oleh Dokter Tasya, Satria juga meminta agar sang umi dan bapak berada didekat mereka ketika operasi berlangsung. Satria tidak ingin jika dirinya khilaf dan melakukan tindakan yang tidak pantas atau terduga nanti.
Udin paham akan maksud menantunya, sebagai Manusia adalah hal yang lumrah untuk khilaf apalagi ketika berada di posisi kalut dan terdesak akan keadaan. Udin pernah berada di posisi itu, jika bukan almarhum sang mertua yang mengingatkan, mungkin saat itu dia sudah berada di penjara karena ingin memukul dokter yang ingin membedah perut istrinya guna mengeluarkan sang anak.
Mereka menyiapkan mental dan perasaan masing-masing, seolah ingin pergi berperang. Mereka juga telah mempersiapkan diri untuk hal yang paling ditakuti oleh Manusia yaitu kematian.
Satu kata yang pasti akan dirasakan oleh Makhluk hidup yang bernyawa. Namun, hal yang paling sulit adalah ikhlas akan ketentuan-Nya. Dia Yang Maha atas segala yang ada didunia maupun dilangit.
Sebagai seorang Hamba, kita hanya mampu berserah diri. Namun, kita juga wajib untuk ikhtiar dan berdoa, agar Sang Robb bisa mengasihi kita. Hamba-Nya yang terkadang suka melalaikan tugas dan tanggung jawab kepada-Nya.
Satria merasa gusar hingga sulit untuk memejamkan matanya, berbeda dengan istrinya yang dari makan malam langsung tertidur dengan lelapnya.
"Mungkin bawaan hamil, kamu bisa tidur dengan nyenyak seperti ini, ya Nur?" ujar Satria seraya membelai lembut rambut istrinya tang tergerai.
Berkali-kali hembusan nafas kasar Satria keluar dari rongga hidung lelaki itu, seakan tidak memiliki iman. Satria merasa berada diujung tanduk, jika boleh memilih maka ia tidak ingin esok datang.
Mala terbagun dari tidurnya disebabkan hembusan nafas sang suami yang teras panas menerpa wajahnya, wanita hamil itu duduk dan bersandar sambil sesekali menguap lalu mengucek-ucek matanya agar terbuka lebar.
Satria merasa gemas melihat tingkah istrinya yang memaksakan kesadaranya kembali.
__ADS_1
"Nur, jika mengantuk? Tidurlah, bukan memaksa matamu terbuka lebar," kata Satria seraya ikut duduk bersandar di samping sang istri.
Mala tidak begitu menanggapi ucapan suaminya, wanita hamil itu malah menanyakan jam, "Kak, sekarang pukul berapa?"
Satria menatap jam dinding yang berada di kamar mereka, "Ternyata jam 2 dini hari."
Gumaman sang suami masih terdengar oleh Mala, wanita hamil itu beranjak turun dari tempat tidur. Namun, langkahnya dihentikan oleh sang suami.
"Nur, kamu mau kemana?"
Dengan mata yang belum terbuka lebar, Mala menjawab, "Aku mau ambil air wudhu, Kak. Sholat tahajud dulu."
Satria terdiam seketika, ia tahu akan amalan istrinya yang suka sekali memaksakan diri untuk sholat tahajud sepertiga malam.
Sudah sekian kali Satria bertanya kepada istrinya itu akan alasan kenapa tidak mau meninggalkan solat tahajud yang merupakan solat sunah saja. Menurut Satria, solat wajib saja sudah sulit untuknya mengerjakannya, apalagi solat tahajud. Hukum shalat tahajud pun sunah yang berarti 'jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa'.
Kecuali shalat wajib lima waktu, jika ditinggalkan berdosa. Solat lima waktu merupakan tiang agama, jika tumbang atau tidak dikerjakan sama sekali. Maka rubuhlan bagunan kita, yaitu agama.
Satria merasa malu sendiri kepada sang istri, sebab yang akan menjalani operasi adalah istrinya bukan ia. Namun, malah ia yang gusar memikirkan hingga sulit untuk tidur. Padahal ia hanya merasakan sakit batin, sedangkan istrinya nanti akan merasakan sakit lahir dan batin.
Setelah sholat istrinya selesai, Satria segera menghampiri wanita hamil itu dan memeluknya dari belakang membuat istrinya tersebut terkejut dan bertanya, "Kakak kenapa?"
"Aku takut kehilangan kamu," lirih Satria menahan isak tangisnya agar tidak pecah. Lelaki itu menampakkan sisi lemahnya dihadapan sag istri.
Tanpa melepaskan pelukan suaminya Mala tertawa, "Hahaha, Kakak itu aneh."
Satria hanya diam membisu mendengar ucapan sang istri dan bertanya, "Aneh bagaimana?"
"Kita pasti berpisah, baik hidup maupun mati! Jika hal itu terjadi, maka siapkan perasaan Kakak kembali seperti saat kita belum bertemu."
__ADS_1
Penjelasan sang istri menampar keras hati Satria, istrinya telah siap berpisah dengan nya baik hidup ataupun mati. Hal itu membuat hati Satria semakin sedih dan akhirnya tangis yang ditahan dari tadi pun pecah seketika.
Mala menjadi bingung bagaimana menanggapi sang suami yang menangis terisak tersebut, "Kak, hentikan tangismu! Nanti, dikira aku KDRT."
"Biarin! Kamu memang KDRT sama aku, Nur! Kamu sudah siap pisah dari aku, baik hidup maupun mati!"
Kini Mala mengerti, suaminya telah salah tanggap akan ucapannya. Mala melepaskan pelukkan suaminya dan berbalik menatap lelaki yang dulu telah mengucapkan janji setia dihadapan penghulu.
Seraya memegang kedua pipi sang suami Mala berkata, "Jika kita masih berada di dunia ini? Kita pasti akan BERPISAH! Disetiap sujudku kepada Allah, aku minta kita disatukan di Jannah. Disana kita kekal abadi, tidak terpisahkan sampai kapanpun. Apa Kakak bersedia?"
Deg… .
Wajah Satria memerah setelah mendengar ucapan sang istri, antara tersanjung dan malu.
"Tidak usah dijawab, cukup buktikan! Aku tidak menerima janji, tetapi hanya bukti dan perbuatan."
Setelah agak tenang, Mala kembali berbicara, "Kak, jika aku pergi menghadap Sang Khalik lebih dulu? Aku minta kamu penuhi janjiku kepada Suci."
Jantung Satria seakan ingin loncat keluar dari tempatnya ketika mendengar permintaan sang istri.
"Maksudnya? Janji waktu itu?"
"Iya."
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...