
...Mala mengusir Anatasya dengan kasar. Sebab, kemarahan Mala sudah di ambang batas normal....
"Anda bisa keluar?" pinta Mala kepada Anatasya dengan sorot mata tajam.
"Aku baru sampai. Sudah, disuruh keluar?" jawab Anatasya yang tidak habis pikir dengan permintaan istri Satria tersebut.
"Kamu pulang aja," pinta Satria mencoba memberi pengertian kepada Anatasya. Kalau, istrinya sedang tidak menerima tamu.
"Aku enggak mau," balas Anatasya kekeh akan ke inginanya.
...Tanpa aba-aba, Mala menarik paksa Anatasya hingga ke pintu depan. Membuat Anatasya meronta-ronta dan berteriak histeris. Sebab, Mala menarik bajunya hingga robek....
"Kamu gila!" teriak Anatasya sambil menagis.
"Nur, sudah!" pinta Satria mencoba menenangkan sang istri.
"Kakak, mau ngembelain dia?" tanya Mala dengan sorot mata tajam.
...Satria mengeleng menagapi ucapan sang istri. Kali ini, Satria binggung bagaimana cara menghadapi Mala yang sudah lepas kendali....
"Lepaskan!" teriak Anatasya sambil meronta-ronta.
"Pergi!" perintah Mala.
"Gila!" teriak Anatasya sambil berlalu. Lebih baik kabur, dari pada menghadapi perempuan gila! Pikirnya.
...Setelah, kepergian Anatasya. Mala memilih masuk dan meninggalkan sang suami yang masih berdiri mematung di tempat....
...Mala lelah, dia sangat tidak paham dengan apa yang terjadi? Terlalu banyak perempuan yang mengelingi sang suami. Hingga, muncul perasaan yang tidak enak di dalam hatinya....
...Satria melihat kepergian sang istri segera menyusul. Hingga masuk ke dalam kamar....
...Mala merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba lelah di atas kasur empuk miliknya. Mala melihat sang suami masuk dan mendekat....
"Kamu baik-baik aja, Kan?" tanya Satria yang cemas melihat wajah sang istri memucat.
"Aku, enggak paham kak? Kenapa, kakak bawak perempuan lain ke sini?" tanya Mala sambil menatap sendu wajah sang suami.
"Maaf," lirih Satria menyesal. Sebab, membawa Anatasya ke rumah. Dia yang hanya ingin cepat pulang. Karna kepikiran dengan sang istri, tidak menyangka kalau kejadiannya seperti ini.
"Kak," lirih Mala.
"Iya, sayang."
...Satria segera mendekati sang istri dan mencium kening perempuan yang amat dia sayangi itu dengan penuh kasih....
"Aku kenapa ya?" tanya Mala binggung.
"Mana aku tau?" jawab Satria tak kalah binggung dengan pertanyaan sang istri.
"Mungkin aku terlalu cemburu, sampai merasa lemes."
...Satria mendegar penuturan sang istri semakin merasa bersalah. Seharusnya, dia tendang saja Anatasya di tepi jalan raya tadi.Sampai keadaan istrinya seperti ini, dia binggung harus bagaimana?...
__ADS_1
"kakak, balik ke kampus kah?" tanya Mala.
...Satria mengeleng managapi ucapan sang istri, karna memang jam kelas sudah habis....
"Kita makan siang yuk, habis itu. Solat Zuhur berjamaah," pinta Mala dengan mata berbinar.
...Satria mengangguk menaggapi ucapan sang istri....
.
.
.
...Setela makan siang dan solat Zuhur berjamaah, Mala dan Satria kembali ke kamar. Memilih bersantai di atas tempat tidur, lebih tepatnya Mala yang meminta....
"Kakak, capek enggak kuliah?" tanya Mala sambil mengelus-elus dada bidang sang suami. Entah kenapa? Mala ingin bermanja-manja dengan suami yang membuatnya cemburu tadi.
"Capek sih? Tapi, mau bagaimana lagi? Sudah menjadi tanggung jawab," jelas Satria sambil mengelus rambut sang istri.
"Tanggung jawab? Aku, juga tanggung jawab kakak!"
...Satria yang mendegar penuturan sang istri hanya mampu tersenyum. Satria sangat paham betul. Kalau, saat ini istrinya di kuasai perasaan cemburu....
"Nur, kamu ingat tidak? Kalau, kamu dulu ingin menjadi juru pakir?" tanya Satria menginggatkan sang istri akan ucapannya dulu.
...Mala mengangguk menaggapi ucapan sang suami, seraya menatap sendu....
...Kini, Mala tahu rasanya. Dulu, Mala berfikir semuanya mudah di genggam. Namun, setelah menjalani ternyata sulit....
"Kamu bisa, mana kepercayaan dirimu?" tanya Satria mencoba mengembalikan semangat sang istri yang mulai memudar.
"Aku yang dulu, bukan yang sekarang!" jelas Mala sambil cekikikan.
"Gayamu, Nur."
...Satria hanya tersenyum menagapi ucapan sang istri....
"Kak, kenapa aku, jadi pemalas ya sekarang?" tanya Mala yang masih setia memandang wajah tampan sang suami.
"Mungkin, karna semuanya telah kamu miliki?" jelas Satria.
...Mala mengangguk menagapi ucapan sang suami. Memang benar, Mala memiliki semuanya. Apa yang belum tentu orang lain miliki, terlebih suami yang tampan seperti Satria. Banyak perempuan di luar sana mengingginkan posisinya, sebagai istri sah pewaris Permata Grub tersebut....
"Kak, kalau nanti kakak lulus Kuliah? Aku bagaimana?" tanya Mala ingin mengetahui rencana selanjutnya, setelah sang suami mendapat gelar Sarjana.
"Aku akan membantu papi mengurus perusahan Permata Grub. Dan Istri cantikku ini akan menjadi sekretaris di sana," jelas Satria sambil mencubit gemas hidung sang istri.
"Tapi kak, aku cuma lulusan Aliyah yang berati sedarajat sama SMA aja. Bisa apa, aku nanti di perusahaan?" tanya Mala merasa rendah hati.
"Nur, tinggi-rendahnya pendidikan bukan tolak ukur. Ingat hal ini baik-baik ya," ucap Satria sambil memperbaiki posisi berbaringnya.
"Ilmu yang paling berharga adalah ilmu Akhlak, ingat masih pelajaran Akidah Akhlak ketika di pondok?" tanya Satria mendapat anggukan oleh sang istri.
__ADS_1
...Mala menunggu dengan sabar, kuliah singkat yang di ajarkan oleh sang suami sebagai dosennya. ...
...Suami bagi Mala, bukan hanya sebagai pengganti orang tua, atau seseorang yang bertanggung jawab memeberi nafkah-lahir batin untuknya. Akan tetapi, sebagai guru yang mengajarkan banyak hal dalam ke hidupan....
"Akidah Akhlah berasal dari kata Akidah yang artinya perbutan dan Akhlak yang artinya mulia. Akidah akhlak adalah perbutan yang mulian. Siapa kiblat akhlak mulia?"
"Baginda Rassulloh," jawab Mala antusias.
"Allahhumma sholihh," Satria berselawat atas Nabi Muhammad.
"Jadi, apa hubungannya dengan menjadi sekretaris di perusahaan?" tanya Mala penasaran.
"Banyak, sebagai seketaris kamu harus bersikap Profesional. Tidak mencampur adukan masalah pribadi dalam perkerjaan," jelas Satria memberi pahaman ke pada sang istri. Siapa tahu? Sifat emosian sesaat Mala bisa berkurang.
"Enggak nyambung kak?" jelas Mala.
"Enggak nyambungnya di mana?"
"Seletaris itu biasaanya lulusan S1 menajeman. Apa hubungganya dengan pelajaran Akidah Akhlak di pondok?"
...Satria menelan silvernya kasar. Sebab, sang istri dalam mode IQ tinggi. Itu berati, dia tidak bisa membuat jebakan. ...
"Ada apa dengan diriku ya?" tanya Satria tiba-tiba.
"Mana aku tahu, kak? jawab Mala binggung.
"Istriku yang cantik ini sudah banyak kemajuan," ucap Satria sambil mencium gemas sang istri.
"Emang, maju ke mana?" tanya Mala binggung.
"Allahu akbar,"
"Mode ambigu lagi," batin Satria menjerit.
"Kak, kalau aku jadi Seketaris kakak? Berati selalu di dekat kakak, dong?" tanya Mala penuh antusias.
"Iya, ke mana pun. Ada aku, maka ada kamu!" jelas Satria asal.
"Jadi, kalau kakak ke kamar mandi? Aku, juga ikut!"
...Mendegar ucapan abstrak sang istri, membuat Satria menagis dalam hati. ...
"Semoga hari esok, lebih baik dari hari ini," batin Satria prustasi.
.
.
.
...Bersambung .... ...
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1