Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Kabar Duka keluarga Peramata


__ADS_3

Baru sebentar saja mereka merasakan kebahagia, kini semua anggota keluarga berkumpul di depan ruangan UGD rumah sakit. Menunggu Mala selesai di periksa dan berharap agar ada kabar baik yang bisa mereka dengar. Satria gelisa menunggu kabar pemeriksaan sang istri, dia yang sebelumnya solat Duha dikagetkan akan kedatangan Maminya dan memberitahukan kalau sang istri dalam keadaan pingsan. 


"Keluarga Ibu Mala?" panggil Dokter Asmara yang keluar dari IGD. Dokter kandungan itu menampakan wajah tegang ketika memanggil anggota keluarga pasiennya tersebut. 


"Saya, Suaminya dok," jelas Satria mendekat. 


"Mohon maaf sebelumnya Pak, kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk Ibu Mala."


Semua orang yang mendegar penjelasan  dokter tersebut hanya bisa diam mematung, terlebih lagi Udin. Dia pernah berada di posisi Satria, jadi dia paham betul apa yang di rasakan oleh Menantunya itu.


"Nak, sabar," lirihnya sambil menepuk pelan bahu Satria. 


"Jadi Ibu Mala harus di rawat?" tanya Ikbal memperjelas ucapan sang dokter.


"Iya Pak, Kalian bisa tanyakan kepada bagian administrasi rumah sakit untuk memperjelas perincian biaya dan tindakkan lanjutan. Mohon maaf saya permisi dulu," balas Dokter Asmara sambil pamit undur diri. 


"Bagaimana Pi?" lirih Marissa. Dia lemas sebab melihat keadaan menantunya yang menyedihkan, hatinya tersentuh melihat keadaan Mala yang harus di bawa ke rumah sakit. Dia teringat bagaimana beratnya masa hamil Satria dulu. 


"Maaf, kami terlambat," jelas Marcel yang ikut menyusul setelah menunggu Azzahra  yang ingin ikut dan mengantar Azzam pulang ke rumah terlebih dahulu. Karna Azzam akan ke kampus untuk kuliah sedangkan Azzahra mengambil barang keperluannya untuk menunggu Mala selama rumah sakit nanti. 


"Sat, kamu sabar ya," pinta Elissa tulus. Mereka yang besar bersama karna hubungan bisnis antara keluarga Elissa dengan Permata Grub di Amerika. Ketika Elissa menyusul Satria karna mendapat kabar kalau Satria telah menikah, sejak saat itu Elissa menetap di tanah air dan tinggal bersama Dedynya yang mengurusa anak--cabang perusahan di sini. 


"Terimakasih," jawab Satria singkat. 


"Mohon maaf, saya mau kebagian adminitrasi dahulu. Mami, ayo!" ajak Ikbal sambil menyeret tanggan istrinya menjauh. 


"Pak, apa sakit di tinggal istri ma… ."


"Jangan bicara yang bukan-bukan," ucap Azzahra memotong ucapan Satria. 


Udin hanya duduk terdiam di samping Satria sambil memperhatikan lelaki blasteran yang duduk bersama gadis yang sebelumnya bertamu di rumah sang anak. 


"Nak, mereka siapa?" tanya Udin penasaran.


Satria memandang ke arah Marcel dan Elissa, dia teringat akan sesuatu. Satria mendekati Marcel yang duduk di samping sang putri. 


"Bapak Marcel, bisa Anda ikut saya sebentar?" tanya Satria sambil menatap nanar lelaki dihadapannya. Marcel mengangguk dan berpamitan kepada sang putri. 


"Liss, Dedy bicara sementar dengan Dia!" jelas Marcel kepada Putrinya sambil menunjuk Satria. Elissa hanya mengangguk menanggapi ucapan Dedy tersebut.

__ADS_1


Ketika mereka berada di lorong rumah sakit yang nampak sepi, Satria mengajak Marcel duduk sambil menanyakan sesuatu yang menganjal pikirannya.


"Di sini saja, Pak Marcel," jelas Satria sambil duduk di kursi yang tersedia. Marcel hanya mengangguk menaggapi dan duduk di samping Satria. 


"Apa benar Anda mantan kekasih Mami Saya?" tanya Satria sambil menatap lurus kedepan. 


"Iya, dan kamu adalah anak Saya," jelasnya. 


"Alasan apa Anda bergitu yakin?" tanya Satria mencari tahu. 


"Karna Rissa tidak mungkin mengugurkan kandungannya, setelah tahu bahwa dia hamil anak kami. Kamu adalah anak Saya bisa terlihat dengan jelas dari wajah yang kamu miliki, kalau pun kamu mengatakan Ikbal adalah Ayah kamu--Saya tidak bisa percaya hal itu," jelas Marcel berpendapat.


"Kalau begitu, kita lakukan tes DNA. Apa Anda bisa?" tanya Satria sambil menatap lelaki di sampingnya.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan? Saya bersedia," balasnya. 


Tiba-tiba Udin datang mendekat dengan nafas engos-ngosan, "Nak, Mala sudah di pindahkan ke ruangan ICU."


Satria terkejut setelah mendegar penuturan Mertuanya, dia segera melangkah menuju ruang ICU yang di susul oleh Marcel dan Udin. 


.


.


.


Setelah melakukan pembayaran dan menandatangani surat pernyataan atas sang Menantu, Ikbal kembali ke ruangan UGD guna melihat keadaan di sana. Namun, betapa terkejutnya ia melihat sang Menantu yang di bawa dengan bankar rumah sakit menuju ruangan lain. Ikbal dan Marissa segera mengikuti Mala yang di bawa oleh anggota dokter. 


"Dok, mau di bawa kemana Menantu Saya?" tanya Ikbal panik. 


"Akan kami pindahkan ke ruangan ICU, sesuai dengan perintah Dokter Aditiya," jelas salah satu dokter yang ikut mendorong bankar Mala. 


"Pak, bagaimana dengan keadaan Mala?" tanya Azzahra kepada Ikbal, sebab dia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Azzahra dan Udin serta Elissa yang mengobrol di depan ruangan ICU dikejutkan akan kedatangan seorang dokter yang katanya memeriksa Mala. Namun, setelah dokter itu keluar, tidak lama datang dokter-dokter lain berserta suster lalu membawa tubuh Mala keluar dengan bankar tanpa memberi penjelasan yang pasti. 


"Kita tenang dulu, tunggu dokter yang menangani Mala datang," jelas Ikbal tenang walau hatinya sudah gundah--gulana begitu juga sang istri yang hanya diam sambil menggang kuat lengan Ikbal, pertanda istrinya juga ikut cemas. 


"Dimana, Nur?" tanya Satria ketika sudah mendekati anggota keluarganya yang berdiri di depan ruang ICU. 


"Kita masih menunggu dokter yang menaggani Mala datang," jelas Udin sambil memegagi tangan Satria yang ingin menerobos masuk. 

__ADS_1


"Ya Robb, ujian apa lagi ini?" lirih Satria sambil merosot--lunglai di lantai. 


"Sabar Sat, mungkin Allah sedang jatuh cinta kepada Kalian," ujar Azzhara menguatkan Satria.


Tidak berapa lama keluar dokter yang ditunggu-tunggu dari tadi. Dia adalah Dokter Aditiya, seorang dokter bedah muda dengan gemilang prestasi di dunia kedokteran.


"Dengan keluarga Ibu Mala?" tanyanya sambil menatap satu--persatu orang yang ada di sana. 


"Saya Bapaknya," jelas Udin.


"Kalau begitu ikut Saya, ada yang akan di sampaikan," jelasnya sambil berlalu. 


"Ayo Nak, kamu Suaminya," ajak Udin sambil menyeret tangga Satria untuk bangun. 


"Aku mau ikut!" pinta Azzahra yang mendapat tatapan tajam dari Udin pertanda tidak boleh.


Akhirnya Udin dan Satria masuk ke dalam ruangan Dokter Aditiya, sang dokter tengah memperhatikan sebuah gambar USG dengan teliti. 


"Silakan duduk," pintanya kepada Satria dan Udin yang masih berdiri mematung di depan pintu ruangannya. 


"Dok, apa yang terjadi? Anak Saya sakit apa?" 


Pertanyaan beruntun yang di ucapkan oleh Udin hanya di tanggapi oleh senyuman dari sang dokter. 


"Anda Pak Satria Permata?" tanyanya kepada Satria yang mendapat anggukan oleh lelaki itu. Satria benar-benar lemah--tak berdaya, karna memikirkan sang istri.


"Mohon maaf sebelumnya atas kelancangan Saya yang memindahkan Ibu Mala tanpa izin. Ketika Dokter Asmara mendatangi Saya dan meminta tolong memeriksa ke adaan pasiennya, Saya melihat ada yang tidak sesuai dengan hasil pemeriksanya maka Sa---"


Belum selesai Dokter Aditiya menjelaskan Udin sudah memotong, " Intinya apa Dok?" tanya Udin penasaran.


"Baiklah, mohon maaf sebelumnya dengan laporan yang di sampaikan oleh Dokter Asmara ada sedikit kesalahan. Ibu Mala tidak hamil anak kembar melainkan ada tumor yang tumbuh bersama janin di dalam kandungannya," 


"Allahu Akbar,"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung… ....


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2