Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Aqiqah Dan Khitan


__ADS_3

Setelah membuat sang umi dan bapaknya berkelahi, Azzam meninggal rumah itu dengan perasaan riang gembira. 


Bisa dikatakan aneh, tapi nyata. Hal itu yang menjadi pengembara untuk tingkah Azzam, karena dimana-mana seorang anak akan senang jika orang tuanya akur. Terbanding terbalik dengan pemuda itu.


"Ah, cemburu! Kapan aku bisa merasakannya?" batin Azzam berharap.


.


.


.


Hari yang ditunggupun telah tiba, seperti janji yang kemarin. Bahwa setelah 40 hari setelah melahirkan Mala, mareka akan menyunat Cahaya dan sekaligus aqiqah untuk bayi mugil itu. 


Perayaan kali ini lain dari biasanya, karena Marissa yang turun tangan untuk berlangsungnya acara tersebut. Bahkan wanita itu meminta Dokter Tasya secara elkusif, sehingga Dikter wanita itu megosongkan satu hari kerjanya untuk barada di rumah Marissa.


Karena Cahaya adalah cucu pertama dikeluarga Pramata, maka Marissa ingin memberikan yang terbaik. Wanita itu melangsungkan acara dengan mewah dirumahnya. 


Satria dan Mala hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh sang mami, ingin menolak akan tetapi takut jika hal itu malah membuat sang mami kecewa. Akhirnya  mereka memutuskan untuk mengiyakan setiap apa yang dipinta. 


Bukankah menyenangkan hati orang tua merupakan sebuah ibadah yang mulia disis Tuhan.


Saat ini acara sudah mulai berlangsung, diawali dengan penyembelihan kambing yang dilakukan oleh Satria dan berlanjut kepada khitanan untuk Cahaya yang dilakukan oleh Dokter Tasya. 


Seking tegangnya melihat sang cucu dikhitan (sunat) Marissa jatuh pingsan. Dia tidak menyangka jika anak perempuan disunat seperti itu, awalnya ia negeri. Namun detik kemudian kehilangan kesadaran.


Padahal Dokter Tasya hanya mengikis sedikit saja bagian vital Cahaya, akan tetapi hal itu membuat sebagian orang yang belum pernah melihatnya memikirkan  hal yang tidak-tidak dan akhirnya pingsan seperti Marissa. 


"Mi, Mi, bangun, Mi," pnggil Ikbal berkali-kali, akan tetapi tidak ada respon dari sang istri hingga Azzahra menyarankannya untuk membawa Marissa masuk kedalam kamar.


"Pak, bawa masuk saja. Nanti kami yang akan meneruskan acara ini."


Ikbal mengagguk menyetujui permintaan bedannya tersebut dan membawa sang istri pergi dari acara yang masih berlangsung.


Walaupun terdengar suara tangis Cahaya setelah di khitan, akan tetapi bayi kecil itu kembali diam. 


Sesuai dengan permintaan Satria, istrinya pun membacakan lantunan ayat suci dan acarapun berlangsung dengan baik hingga selesai.


Azzam mendapatkan tugas yang berat yaitu memebersihkan kekacauan setelah acara itu.


"Nasip oh nasip, menjadi bujangan, semuanya dilakukan sendiri. Makanku sendiri, tidurpun sendiri … ."


"Masuk kuburpun sendiri!" teriak Tasya yang menimpali naynyian Azzam. 


Dokter wanita itu sedari tadi memperhatikan tingkah Azzam yang menurutnya lucu, berbicara dan ngomel sendiri seperti orang yang sudah tidak waras.

__ADS_1


"Salah Bu Dokter! Aku mati membawa amal baik dan buruku!"


Tasya bungkam akan kata-kata Azzam, senyum yang tadi terpancar sekertika sirna. 


"Ibu Dokter tidak percaya dengan yang aku katakan tadi?" tanya Azzam yang membuat Tasya salah tingkah. 


"Mana aku tahu?" balasnya cepat. 


"Kalau begitu, silahkan mati duluan dan kasih tahu aku nanti."


Setelan mengatakan hal itu Azzam seketika pergi meninggalkan Tasya yang melongo mendengar pernyataan pemuda itu. 


"Jangan ditanggapi ya, Bu Dokter. Azzam memang suka begitu," pinta Azzahra yang sedari tadi memperhatikan tingkah Azzam kepada Dokter Tasya. 


"Tolong jangan panggil saya Dokter, panggil saya Tasya saja," jelas Tasya yang merasa tidak nyaman dipanggil Dokter ketika diluar jam kerjanya.


Azzahra mengangguk tanda mengerti akhirnya mereka bercerita tentang banyak  hal tentang hidup berumah tangga walaupun Tasya belum menikah. Namun ia bisa belajar dari orang tuanya.


Anak adalah  mesih foto copy yang canggih, mereka akan meniru apa yang kedua orang tuanya lakukan. Jika sang anak suka melihat yang baik dari sikap orang tuanya, maka ia cenderung akan mengikuti hal tersebut begitu pula sebaliknya.


Tasya juga bercerita tentang khitanan untuk anak perempuan, kebanyakan para Dokter bedah seperti dirinya tidak menerima panggilan seperti ini. Namun karena permintaan Marissa dan Tasya yang juga belajar jika hukum dalam islam mengkhitan anak perempuan hukumnya sunah muakad, yaitu sunah sangat dianjurkan.


Canda tawa Azzahra dengan Tasya diusik oleh Azzam, pemuda itu sok akrab dengan Tasya dan bergaya selayaknya seorang penyair yang sedang merayu permadani.


"Zam, berbicara dengan yang bukan mahrom tanpa ujur hukumnya tidak boleh!" jelas Azzahra tegas memperingatkan putranya itu.


Azzam hanya mampu menelan silvernya kasar dan mencari alasan agar bisa pergi dari sana. 


"Umi, aku bantuin Bapak dulu," jelasnya sambil berlalu begitu saja. 


Azzahra melihat putranya yang menghampiri sang suami tersenyum kecut.


"Ada saja alasannya," batin Azzahra. 


"Ibu Azzam, ayo kita masuk," ajak Tasya sopan kepada Azzahra membuat wanita itu tertegun.


"Ibu Azzam!" panggil Tasya lagi karena wanita itu tidak bergeming sama sekali. 


"Ah, iya. Ayo," ucap Azzahra tekaget dan menarik tangan Tasya masuk kedalam. 


Mereka menemui Satria dan Mala yang tengah asik menggoda Cahaya, mata bayi mungil itu menari-nari  seolah enggan untuk terlelap.


Azzahra duduk disamping Mala dengan masih menggenggam tangan Tasya. Mala menatap haran sang umi dan menegur wanita itu.


"Umi? Kenapa Umi tarik tangan Dokter Tasya?" tanya Mala bingung.

__ADS_1


Azzahra baru tersadar setelah putrinya mengegur dirinya yang tanpa sadar masih menggenggam tangan Tasya.


"Tidak apa-apa, ko', jelas Tasya merasa tidak masalah. Bagi Tasya perhatian dari Uminya Azzam itu malahan membuatnya merasa nyaman.


"Apanya yang tidak apa-apa? Jangan-jangan Dokter mau menyunat, Umi?"


Pertanyaan Mala membuat Satria tertawa, akan tetapi tatapan tajam sang umi menghentikan tawanya. 


Azzahra menatap kearah Mala dan berkata, "Kamu tidak punya bahan lain untuk ngerjain orang?"


Sekuat tenaga Satria menahan tawanya agar tidak keluar, entah mengapa melihat snag umi dikerjai oleh istrinya terasa sangat lucu. 


"Umi, mengerjai orang itu tidak baik," jelas Mala dengan bijak. 


"Lalu, kenapa kamu tanya seperti tadi?" tanya Azzahra geram akan sang putri.


"Yang mana, Umi?" tanya Mala seolah tidak tahu. 


"Yang tadi, itu! Kamu mau ngerjain, Umi? Hati-hati, nanti kualat," ucap Azzahra menakuti Mala.


"Ngerjain apa, Umi? Aku tu bertanya kepada Dokter Tasya, takut mau menyunat, Umi juga."


Azzahra semakin geram akan putrinya, akan tetapi bagaikan angin segar yang menerpa. Tasya membela dirinya. 


"Tidak, 'Ko Bu Mala. Saya disinikan mau menemui Cahaya," jelas Tasya apa adanya.


"Iya, aku tahu Dokter Tasya. Dokter 'kan yang menyunat Cahaya? Siapa tahu Umi mau disunat sama Dokter, karena sudah menarik hingga kesini."


Azzahra sampai menangis gara-gara ucapan Mala, entah siapa yang mengajari putrinya  seperti itu.


"Ibu Azzam," panggil Tasya yang terkejut melihat Azzahra menangis.


"Dokter Tasya, mau 'kan jadi putri, Umi? Soalnya Umi mau pecat Mala!"


"Apa!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2