
...Setelah mendapat kesepakatan dari sang Istri, Ikbal mengajak wanita itu untuk pulang. Rindu yang selalu menganggu ingin segera di sapus dalam kelabu, dengan cara bertemu. ...
"Mami, sudah siap?" tanya Ikbal sambil menyeret koper miliknya dan sang Istri.
"Sudah, hanya itu!" balas Marissa dengan sorot mata memandang koper yang dipegang sang Suami.
...Akhirnya mereka beranjak, meninggalkan lorong-lorong RSJ yang menjadi saksi bisu sebuah perasaan depresi seorang Marissa Permata. Seorang Wanita yang cerdas dan pemilik Permata Grub, namun lemah dalam menjalani ujian kehidupan. Hidup kaya-raya tidak menjamin akan hidup bahagia. Hidup sederhana tidak juga selalu berakhir sengsara. Semua kembali kepada diri Manusia itu sendiri, bersyukur? Atau kufur akan nikmat yang telah Sang Robb berikan. ...
"Pi, mobilnya mana?" tanya Marissa sambil mengedarkan penglihatanya, mencari mobil milik sang Suami
"Enggak ada," balas Ikbal singkat sambil terus menyeret koper hingga menuju pintu gerbang.
"What? Lalu kita pulang naik apa?" tanya Merissa syok sambil terus mengekor dari belakang.
"Naik, taksi."
...Mendengar jawaban sang Suami, membuat nafas Marissa naik-turun bergemuruh menahan kesal. ...
"Emang, Papi sudah jatuh miskin?" ejek Marissa yang tahu kalau Suaminya sedang mengerjainya.
"Iya, kalau pemiliknya tidak mengurus perusahaan dan memilih tinggak di RSJ."
...Kesal, perasaan itu yang di rasakan oleh Marissa mendengar ejekan Suaminya....
"Taksi," panggil Ikbal sambil berdiri di tepi jalan.
"Papi, serius?" tanya Marissa yang masih tidak percaya akan tingkah sang Suami.
...Ketika mobil taksi berhenti tepat dihadapannya, Ikbal meminta sang Sopir membantunya membuka bagasi belakang. Kalau sebelumnya, dia meletakkan koper miliknya di samping tempat duduk. Sekarang tidak bisa, karna ada sang Istri. ...
"Sudah Pak," ucap sang sopir.
"Ayo, masuk Mi," ajak Ikbal sambil membukakan pintu mobil untuk sang Istri yang masih berdiri menatapnya.
"No, Pi!" tegas Marissa tidak mau masuk.
"Ya sudah, Papi tunggu di rumah," jelas Ikbal sambil masuk.
"Papi!" teriak Marissa kesal akan sikap sang suami.
"Masuk, atau tidak?" tanya Ikbal ikutan kesal akan sikap sang istri.
...Dengan perasaan dongkol dan terpaksa, akhirnya Marissa masuk ke mobil taksi dan duduk di samping sang suami. ...
"Ke jalan Merpati, Pak," jelas Ikbal ke pada sang sopir dan mobil pun mulai melaju.
"Lo, Pi? Kenapa kita ke situ?" tanya Marissa binggung akan arah tujuan sang suami.
"Aku rindu dengan anak-anak kita, Mi," jelas Ikbal sambil menatap keluar jendela. Ada perasan tidak enak di dalam hatinya, jika tidak segera bertemu dengan Satria dan Mala.
"Anak-anak, siapa?" tanya Marissa binggung.
"Satria dan Mala, kamu lupa ya, Mi?" tanya Ikbal sambil menatap sang istri.
__ADS_1
"Oh, kirain ada yang lain?"
"Ada, tapi belum di proses," tambah Ikbal sambil membuang wajah dari sang istri.
..."Marisaa tahu betul akan maksud ucapan sang suami. Dirinya yang sudah lama menikah, namun belum juga bisa memiliki anak lagi. Semua itu karna Marissa trauma ketika melahirkan Satria. Perasaan takut dan sakit yang amat luar biasa, membuat Marissa tidak ingin mengandung dan melahirkan lagi. ...
...Mobil taksi yang di tumpagi mereka mulai masuki halaman rumah sang putra, semua nampak sepi dari luar. Mungkin karna sudah sore, di mana sang pemilik rumah akan sibuk mengurus ini dan itu. ...
"Ini, Pak uangnya," ucap Ikbal sambil menyerah uang pecahan 100 dua lembar.
"Makasih, Pak," balas sang sopir sambil keluar mobil dan membukakan bagasi untuk mengeluarkan koper milik penumpangnya.
...Marissa yang memang sudah keluar dari mobil dan meninggalkan sang suami yang sibuk mengeluarkan koper, kini sudah berada di depan pintu. Tanpa ragu, Marissa mengetuk pinti tersebut....
"Ada tamu, buka pintu kak!"
...Terdengar jelas suara terikkan Mala dari dalam rumah, ada perasan was-was menghantui Marissa ketika pintu akan di bukakan oleh sang Putra. ...
"Masak, ada tamu yang ngetuk pintu enggak pakai salam?" gumam Satria sambil membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat sang Mami berdiri memantung dihadapannya.
"Mami?" panggil Satria terkejut.
"Assalamualaikum, Nak," ucap Ikbal memberi salam kepada sang Putra.
"Waallaikum Sallam, Pi."
...Satria membalas salam sang Papi, lalu mendekat dan memeluk erat lelaki yang selalu di rindukannya tersebut. ...
"Alhamdulillah, sehat Pi," jelas Satria sambil membantu membawa koper milik sang Papi.
...Merissa yang di angap Makhluk halus oleh kedua lelaki itu menjadi kesal, dia akhirnya memilih masuk dari pada melihat ke romantisan Suami dan Putranya....
"Mami kamu, kenapa?" tanya Ikbal yang melihat sang istri masuk tanpa permisi lagi.
"Jangan, di pikirin, Pi!" jelas Satria sambil berlalu masuk.
"Ada-ada saja," batin Ikbal.
"Kak, siapa yang ...," Mala tidak jadi melanjutkan ucapannya setelah meihat sang tamu masuk.
"Kamu sehat, Mala?" tanya Marissa basa-basi. Sebenarnya dia malas untuk bertegur-sapa dengan sang Menantu, kalau bukan ada keperluan.
"Assalamualaikum, Mala," ucap Ikbal memberi salam kepada sang Menatu.
"Waallaikum Sallam, Pi," Mala membalas salam tersebut sambil mendekat dan mencium punggung tanggan sang Mertua.
"Allahuma Solih," ucap Ikbal sambil mengusap puncak kepala sang Menantu.
"Papi kapan tibanya? Ko, enggak kasih kabar? Kami bisa jemput, lagian kak Satria enggak Kuliah hari ini."
...Ikbal hanya tersenyum menangapi pertanyaan beruntun sang Menantu....
"Sudah ngomongnya? Ini, bantu bawakin!" perintah Satria yang gemas akan tingkah sang istri.
__ADS_1
"Capek kak," lirih Mala.
"Emangnya, kamu habis ngapain?" tanya Ikbal sambil menatap curiga sang Menantu.
...Marissa tidak tahan lagi di angap Makhluk tak kasat mata oleh keluarganya sendiri. ...
"Sudah ngobrolnya, Mami capek nih! Mau mandi dan makan," teriak Marissa sambil menghentakan kakinya kesal.
"Mami belum makan? Ayo kita ke dapur," ajak Mala sambil menyeret tangan Marissa.
"Mereka akan akur?" tanya Ikbal kepada Satria sambil melihat tingkah sang Istri dan Menantunya.
"Inssyaallah, Pi," balas Satria sambil berlalu menyeret koper milik orang tuanya ke dalam kamar tamu.
"Semoga rindu bisa mengobati luka-laramu Raissa," gumam Ikbal berharap.
"Anda siapa?" tanya Suci yang baru masuk dan melihat ada lelaki berdiri menatap ruangan dapur.
...Ikbal terkejut mendengar pernyataan tersebut dan menatap heran gadis dihadapannya....
"Kamu, siapa?"
...Suci heran dengan lelaki dihadapannya yang tidak menjawab pertanyaannya dan malah berbalik bertanya....
"Saya ...,"
"Suci, kamu sudah pulang?" tanya Satria sambil mendekat.
"Iya, Bang."
"Tolong, kamu bersikan sebentar kamar tamu ya," pinta Satria.
"Iya, Bang. Tapi, aku ganti baju dulu ya," jelas Suci karna gerah sebab mengurus mini market.
"Terserah kamu aja," balas Satria.
Suci hanya mengangguk dan berlalu.
"Dia, siapa?" tanya Ikbal penasaran kepada Satria.
"Dia Suci," balas Satria sambil berlalu ke dapur.
"Allahu Akbar, memang anak zaman Now," gumam Ikbal sambil menggeleng.
.
.
.
......Berambung ..........
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1