
Bagaikan disambar petir disiang bolong, berita tentang keadaan Mala membuat Satria hingga jatuh pingsan.
Satria yang mengira bahwa sang istri hanya bermimpi tentang ibunya sampai keluar keringat dan terkencing di tempat tidur ternyata salah besar.
Udin yang melihat keadaan menantunya tersebut segera memanggil suster agar bisa menolong. Satria dibawa ke ruangan lain untuk diperiksa, kebetulan Dokter Dody yang menanganinya.
"Dok, bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Udin setelah melihat Dokter tersebut keluar dari ruangan Satria.
"Pasian baik-baik saja, akan tetapi mungkin karena syok saja hingga pingsan," jelasnya sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Udin sambil mengelus dadanya.
"Kalau begitu, saya tinggal ya," pinta Dokter Dody pamit undur diri.
Udin mencari keberadaan istrinya, hingga ia melihat wanita itu berlari ke arahnya dengan nafas naik--turun.
"Bagaimana keadaan, Satria?" tanyanya setelah sampai di depan sang suami.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Satria hanya syok saja," jelas Udin seperti yang dikatakan oleh sang Dokter tadi.
"Mas! Mala harus dioperasi sesar, air ketubannya telah keluar banyak! Namun, Mala belum sadarkan diri," jelas Azzahra dengan nafas yang sesak setelah mendengar penjelasan Dokter Aditya yang menangani Mala tadi.
Udin menjadi tegang seketika, ia bingung harus mengambil keputusan apa? Ditengah kebingungannya datang besannya yang berlari dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Di mana Satria? Di mana Mala?" tanya Marissa dengan wajah tegang. Dia yang mendapatkan telpon dari Azzahra yang mengatakan jika Satria dan Mala tengah berada di rumah sakit segera menarik suaminya segera berangkat.
Udin menjelaskan semuanya membuat Marissa dan Ikbal membuang nafas panjang dan berusaha mencari jalan yang terbaik.
__ADS_1
"Mohon maaf, keluarga ibu Mala?"
Mereka berempat menatap wajah Dokter Tasya yang datang dan bertanya, Marissa yang melihat Dokter wanita itu segera menghampiri lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Mala?."
"Ibu Mala masih belum sadarkan diri, kami perlu meminta persetujuan pihak keluarga untuk melakukan operasi guna mengeluarkan anaknya yang mungkin sedang kekurangan oksigen karena air ketuban yang sudah mengering."
Semua orang dibuat semakin panik dan bingung, akan tetapi Udin angkat bicara, "Saya akan memberikan izin, saya Bapak kandungnya."
Semua orang menatapnya nanar seolah meminta penjelasan akan pilihan lelaki itu, Udin sudah yakin dengan pilihannya dan Dokter Tasya mengajaknya untuk menandatangani surat pernyataan.
"Apa kamu yakin? Sebaiknya kita tunggu Satria sadarkan diri dulu," cegah Ikbal yang merasa jika Satria juga berhak atas Mala.
"Kita tidak punya banyak waktu," jelas Udin menepuk pelan bahu besannya itu sebelum berlalu.
"Pi, bagaimana?" tanya Marissa cemas.
"Kita ikuti saja prosesnya," jelas Ikbal yang sudah pasrah akan takdir Sang Robb.
Satu kata 'Trauma' wanita itu pernah berada di posisi seperti ini ketika Ibunya Mala melahirkan sang putri, hal itu membuat imannya melemah.
"Ibu Azzahra, ayo kita tunggu di sana," pinta Marissa seperti yang diperintahkan oleh suaminya yang segan untuk berinteraksi dengan wanita itu dan menyuruh sang istri karena sesama wanita.
"Ah, iya, Mi!"
Marissa tertawa melihat dan mendengar ucapan Azzahra, "Aku Maminya Mala dan Satria, jadi kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan Mami juga."
Azzahra tersadar akan ucapnya dan menjadi malu. Akhirnya mereka duduk di kursi tunggu yang berada tidak jauh dari ruangan operasi Mala yang tengah berlangsung.
__ADS_1
Ketika Udin datang semuanya segera mengelilingi lelaki itu, menunggu apa hasilnya.
"Bagaimana?" tanya Azzahra tidak sabaran.
"Apanya?" tanya Udin yang tidak paham.
"Keadaan Mala!" teriak Azzahra kesal dan ditegur oleh Ikbal.
"Ibu Azzahra bisa pelankan suaranya? Ini rumah sakit."
Udin hanya menatap sekilas wajah besannya dan kemudian memegang bahu sang sang istri menenangkan.
"Ra, aku tadi hanya menandatangani surat pernyataan saja. Tentang keadaan Mala? Aku tidak tahu, namun yang pasti? Serahkan semuanya kepada pihak Dokter yang menangani. Kita tunggu prosesnya saja," jelas Udin panjang lebar membuat tangis Azzahra pecah seketika.
Udin paham akan keadaan istrinya segera memeluk wanita itu supaya bisa melupakan emosinya.
Marissa yang melihat tangis Azzahra ikut juga menangis dan memeluk suaminya, keadaan yang mereka hadapi sangatlah berat.
"Semoga semuanya baik-baik saja," batin Udin berharap.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
... ...