Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Janji Yang Pernah Diucap.


__ADS_3

Tawa renyah menghiasi ruangan tamu yang diisi oleh Udin, Azzahra,  Pak Rudy, Suci, serta Cahaya. Bayi mugil amat mengemasan yang berusia baru beberapa minggu tersebut sudah bisa membius semua orang.


"Lihat 'lah,  Mas. Cahaya sama persis seperti Mala ketika masih bayi," kata Azzahra sambil memandang sang cucu yang berada digendongan Suci. 


Ada perasaan sakit ketika Udin mendengar kata-kata itu, ia yang dulu melewatkan masa kecil Mala merasa sesak didada. Udin yang dulu menyerahkan semuanya kepada Azzahra dan Aziz untuk merawat dan membesarkan Mala, merasa sangat kehilangan masa-masa emas sang putri. 


"Tri, ayo kembalikan Cahaya kepada orang tuanya. Kita akan segera berangkat."


Suara tiba-tiba Pak Rudy yang mengajak Suci membuat Udin dan Azzahra saling menatap, ada perasaan penasaran akan tetapi sungkan untuk bertanya.


"Nanti, Yah!  Aku mau menagih janji Mbak Mala," kata Suci menolak permintaan ayahnya. 


Udin dan Azzahra menegang seketika, mereka baru tahu maksud dan tujuan Suci ke sini. Karena yang mereka tah kalau gadis itu ikut Pak Rudy tinggal di Amerika. Udin yang menerima mereka dan mengajak masuk sebenarnya sudah mengira jika ada sesuatu yang membuat dua orang itu datang.


"Mala baru habis melahirkan secara sesar, serta bekas jahitan operasi sebelumnya juga belum kering," ucap Azzahra tiba-tiba membuat semua memandang ke arah wanita itu. 


"Aku tahu, Ibu Zahra. Aku hanya meminta janji Mbak Mala yang mengatakan jika aku nanti jadi Ibu buat anak-anaknya," jelas Suci yang melihat raut wajah Azzahra yang cemas. 


Azzahra menatap suaminya sambil menggeleng seolah tidak mengizinkan permintaan Suci. Udin paham akan situasi segera mengalihkan pembicaraan.


"Pak Rudy, pasti orang yang sibuk, ya? Saya sangat senang sekali anda mau mampir ke sini."

__ADS_1


Pak Rudy tersenyum dan paham akan apa yang disampaikan oleh Udin, "Iya, Pak.  Ini karena Sulastri yang ingin menemui anaknya."


Wajah Udin dan Azzahra menjadi pias seketika, karena janji yang pernah diucap akhirnya menjadi bumerang yang mengerikan. 


"Apakah Suci menginginkan, Cahaya?" batin Azzahra dan Udin. 


Pasangan suami istri itu memikirkan hal yang sama. 


***


Dikamar Satria dan Mala bersetitegang, Mala yang cemburu buta menuduh suaminya dengan tuduhan yang tidak masuk diakal. 


Satria membuang nafas kasar, sudah sekian kali pertanyaan itu keluar dari mulut istrinya dan sudah ia jawab, akan tetapi sang istri masih menuduhnya. 


"Kakak, jawab!" bentak Mala marah. 


"Nur, kamu telah meninggikan suaramu di hadapan aku? Ingat, aku adalah suamimu," jelas Satria lembut. 


Kedewasaan dan kewarasan harus ia pertahankan agar bisa menghadapi istrinya yang sekarang. 


Mala menundukkan kepalanya, ia tahu telah melakukan kesalahan. Namun, ia terlalu cemburu akan kedatangan Suci ditengah kebahagian Mala yang baru menjadi ibu. 

__ADS_1


'Janji adalah hutang dan hukum hutang wajib dibayar'


Kata-kata itu seperti nyanyian yang mengerikan untuk Mala karena ia dulu pernah meminta Suci menjadi istri untuk suaminya karena ia berpikir jika usianya tidak akan lama lagi karena tumor yang ia derita. 


Namun, sekarang ceritanya lain. Mala sudah sembuh dari tumor itu dan memiliki Cahaya, Munafik  bagi wanita itu jika tidak merasa terancam akan kedatangan wanita lain di dalam rumah tangganya. 


"Nur, aku ambil Cahaya dulu ya," kata Satria tiba-tiba yang membuat Mala menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Satria hanya mampu bersabar menghadapi istrinya yang seperti ini. 


"Semoga Allah meluaskan hatimu, Nur!" batin Satria. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2