
"Siapa orang itu?"
Tubuh gadis itu gemetar, dia bingung mau berkata jujur atau memilih menghindari. Namun, tarikan nafas Satria yang sangat berat membuat bulu roma semua orang berdiri.
"Hufff, jika kamu tidak mau mengatakannya? Tidak apa-apa, akan tetapi… ," dia menjeda ucapannya sambil menatap tajam Suci.
"Ah, aku mau pergi!" ucap Azzam yang merasa horor sendiri melihat Satria seperti itu. Wajah lelaki yang selalu tersenyum ramah kini berubah menjadi merah, terlihat guratan nadi yang menampakan kemarahan lelaki itu.
"Katakanlah!" bentak Satria membuat semua orang terhenyak tidak terkecuali Mala. Dia tidak pernah melihat suaminya itu marah sekali pun. Namun, sekarang terlihat jelas kalau lelaki yang selama ini lemah--lembut itu bisa menampakan kebengisannya.
Suci hanya mampu menangis sambil menundukan kepala, dia tidak pernah di bentak oleh Satria. Lelaki itu selalu membelanya hampir dalam segala hal, ada perasaan yang membuncah di dalam dada ketika lelaki itu mendesaknya seperti ini.
"Katakan!" teriak Satria lebih kencang.
"Nak Satria, coba beristighfar! Jangan menuruti hawa nafsu," ujar Azzahra mencoba meredakan amarah di dalam hati lelaki itu. Mala segera mengelus lengan suaminya, walau dalam posisi duduk sekali pun lelaki itu bisa menguasai keadaan.
"Astagfirullah." Berkali-kali lafal itu di ucap Satria, supaya syaitan tidak menjerumuskannya ke dalam lubang kehancuran.
"Bang! Aku akan katakan sebenarnya!" teriak Suci lantang sambil menatap Satria. Semua orang hanya diam membisu, entah apa yang akan disampaikan oleh gadis itu? Namun, yang pasti, itu adalah rahasia yang selama ini disembunyikan olehnya.
"Orang yang menyuruh aku adalah…. ,"
"Kalian ini sudah mau masuk neraka, kah? Masak dari tadi aku ucapkan salam tidak ada yang membalas?"
Semua orang serasa ingin jantungan akibat kedatangan tamu tidak diundang, ucapan Suci yang sedari tadi di tunggu-tunggu amyarlah sudah. Azzahra menatap tajam lelaki yang dengan santainya duduk di dekat mereka.
"Salam wajib diucapkan jika di dengar!" balas Azzahra ketus.
"Salam itu fardhu kifayah, asalkan ada satu orang yang menjawab maka terbebas yang lain"
Semua orang menatap haran ke arah Mala yang menangis secara tiba-tiba, "Kamu, kenapa, Nur?"
__ADS_1
"Kak, boleh tidak aku ganti Bapak? Aku nggak sanggup jadi anaknya!"
Ucapan Mala yang nyeleneh tersebut berhasil membuat Azzam dan uminya tertawa terbahak-bahak, seking lucu menurut mereka berdua.
"Hahaha, Bapak kamu di kasih pensiun, Dek!" ucap Azzam sambil menekan perutnya.
"Jangan, Zam! Tapi, cocoknya jadi jelangkung," tambah Azzahra menimpali putranya membuat Udin berwajah masam.
"Padahal aku kesini mau kasih kabar baik, tetapi dijadikan bulanan kalian."
Tawa Azzahra dan Azzam terhentikan oleh kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu, mereka menatap intens seolah meminta klarifikasi.
"Bapak, bawa berita baik apa?" tanya Mala penasaran. Mala memang seperti bunglon, sangat cepat berubah-ubah sesuai dengan keadaan.
"Nanti dulu! Aku masih ingin mendengar kejujuran dari Suci!" Satria menghentikan sejenak arah pembicaraan anak dan bapak tersebut, karena yang penting baginya adalah sebuah pengakuan dari Suci.
"Emangnya kenapa dengan, Suci?"
Gadis itu kembali menjadi objek sasaran dari orang di sekelilingnya yang masih menunggu jawaban dari gadis tersebut.
"Tidak apa-apa, Nak! Manusia memang tempat khilaf dan salah, akan tetapi? Bukankah Manusia itu menyadarinya dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat? Atau malahan menambahnya dengan masalah yang lainnya."
Kata-kata bijak dari Udin mampu membungkamkan semua orang yang ada di sana. Mereka hanya Manusia biasa, yang tidak luput dari khilaf dan dosa. Sungguh kejam jika mereka merasa diri mereka bersih tanpa dosa dan memghakimi orang lain karena kesalahan yang dilakukan oleh orang itu.
Tuhan maha pemaaf dan penerima taubat, kenapa sebagai makhluk yang hina? Manusia merasa paling benar dan tidak mau menerima kesalahan orang lain. Semua dikembalikan kepada Manusia itu sendirian, jalan mana yang akan mereka pilih untuk menggapai Ridho Ilahi?
Suci menangis sejadi-jadinya, gadis itu sampai bersujud di kaki Udin meminta maaf. Dia tahu kesalahan terbesarnya, yaitu telah membohongi lelaki yang telah tulus membantunya.
"Sudahlah, Nak!" ucap Udin sambil memegang bahu gadis itu, "Memangnya apa kesalahan kamu sama Bapak?"
Akhirnya, tanpa di paksa oleh siapapun gadis itu menceritakan yang sebenarnya. Bahwa yang menyuruh ia menipu keluarga Satria adalah Pak Rudy asisten kepercayaan mendiang Pak Malik. Sebenarnya Pak Rudy adalah ayah kandungnya, neneknya selalu menceritakan hal bohong kepada semua orang akibat sakit hati kepada Pak Rudy yang meninggalkan almarhum ibu Suci ketika gadis itu akan lahir.
__ADS_1
Lagi, dan lagi, hal yang selalu menjadi masalah adalah harta dan tahta. Pak Rudy juga menyembunyikan fakta bahwa telah menikahi ibu Suci dengan alasan menjaga reputasinya di hadapan allahumma Pak Malik.
Semua orang tercengang akan berita yang selama ini disembunyikan oleh gadis itu, ada beban yang berat dipikul oleh Suci seorang diri. Dia tidak bisa mengelak takdir, akan tetapi tidak ingin menerimanya begitu saja.
Suci juga menjelaskan yang sebenar-benarnya, jika ia menemui Pak Rudy. Gadis itu tidak ingin menutupi semuanya lagi. Dia menjelaskan bahwa Pak Rudy memaksanya untuk menandatangani semua aset yang telah dialih namakan atasnya. Pak Rudy juga mengancamnya, jika ia tidak mau? Maka lelaki itu akan menghancurkan hidup keluarga Mala dan Satria untuk selama-lamanya.
Lelehan air mata menjadi teman setia gadis itu menceritakan perjalanan hidupnya yang pilu, berharap ada kata maaf dari orang yang tulus kepadanya selama ini. Mereka menganggap dirinya yang orang lain, menjadi bagian dari keluarga. Namun, untuk waktu yang lalu. Ketika semua orang menjadi orang lain di hadapannya, ada perasaan sakit yang ia rasakan. Hal itu membuat Suci semakin yakin untuk berkata jujur, walau harus kehilangan semuanya.
"Jadi, kamu anak Pak Rudy? Lalu, kenapa nenek kamu mengatakan jika Bapak kamu telah mati?"
Pertanyaan bodoh Udin membuat semua orang menatap geram ke arah lelaki itu. Kadang lelaki itu cerdas, akan tetapi tidak jarang juga sedikit tidak pandai.
"Aku ingin bertanya kepada kamu? Tolong beri aku jawaban yang memuaskan!"
Suci menganggukan kepala menyanggupi ucapan Satria. Sesekali Mala mengusap lengan suaminya, agar lelaki itu bisa bijak menghadapi masalah ini.
"Apa alasan kamu menyetujui menjadi penyusup di rumah ini?"
Suci menggelengkan kepala menanggapi, dengan bibir yang bergetar ia mencoba menjelaskan, " Maaf, Bang! Aku ke rumah ini, atas permintaan Bapak," Suci menatap wajah Udin sebelum melanjutkan ucapanya, "Aku di sini tanpa permintaan Pak Rudy atau menjadi penyusup."
Satria gusar mendengar jawaban Suci, ia berkali-kali membuang nafas kasar. Hingga akhirnya sesuatu yang selama ini menjadi teka-teki yang tidak terpecahkan olehnya bisa mendapatkan titik terang.
"Berikan aku alasan, kenapa Pak Rudy hanya mengambil perusahaan Utama dan meninggalkan cabangnya di sini?"
"Itu…,"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung… ....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...