Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Hidup Dan Mati Siapa Yang Tahu


__ADS_3

"Apa? Tidak mungkin!"


Tubuh Satria ambruk seketika, serasa tidak memiliki tulang penjaga. Berita yang ia terima barusan bagaikan mimpi buruk.


Mala yang melihat keadaan suaminya bingung dan penasaran. Hingga ia mendekati lelaki itu yang diam mematung dengan tatapan kosong.


"Kak, ada apa?" tanya Mala pelan. Namun, tidak ada respon dari sang suami semakin membuat Mala merasa tidak nyaman. 


Mala menggoyangkan tubuh suaminya yang seperti orang linglung. Entah apa yang suaminya dengar lewat telepon tadi. Namun, yang pasti suaminya dalam keadaan yang tidak baik. 


Tangisan Cahaya terdengar nyaring, Mala dibuat kaget akan sikap putrinya yang tiba-tiba menangis tanpa sebab. Satria yang masih menggendong sang putri memeluk erat tubuh mungil itu.


Cahaya seolah-olah tahu akan apa yang sang ayahnya rasakan. Balita itu ikut menangis.


"Kak, ada apa?" tanya Mala lagi. Kali ini bukan karena penasaran, akan tetapi merasa curiga dengan sesuatu yang tidak beres. 


"Nur," lirih Satria tidak kuasa menahan air matanya. Cairan bening itu terjun bebas tanpa ada hambatan sama sekali. 


Mala segera memeluk tubuh suaminya yang masih duduk di meja makan. Seraya mengusap pungung lelaki itu, Mala berharap suaminya merasa agak tenang. 


"Cha-Cha, jangan nangis ya? Ayah baik-baik saja," jelas Satria kepada sang putri. Sebab, Satria tidak ingin anaknya terus-menerus menangis. Hal itu tidak baik untuk sang putri. 


"Biar aku gendong Cha-Cha, Kak," pinta Mala sambil mengambil alih sang putri.


Satria menatap lekat wajah istrinya yang amat dicintai. Hari ini merupakan hari dimana ia merasa jatuh-sejatuhnya. Hati seorang Satria hancur, lelaki itu tidak bisa membendung perasaan marah dan kecewa dengan keadaan. 


Mala yang juga menatap suaminya hanya mampu membuang nafas panjang, setelah sang putri tenang. Wanita itu mengajak suaminya untuk ke kamar bersama putri  mereka. 


Cara yang baik adalah tenang dan memperbanyak zikir. Hal itu yang Mala lakukan supaya tetap terlihat tegar, sebab ia memiliki firasat buruk setelah melihat ekspresi sang suami. 


Satria masih diam seribu bahasa, ia hanya mengikuti langkah sang istri menuju kamar mereka. Sunyi menemani mereka sampai Mala pamit untuk ke dapur. 


"Kak, tolong jagain Cha-Cha dulu. Aku mau ke dapur."


Satria hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan istrinya, ia juga tahu jika sang istri belum sempat sarapan.


Cara terbaik bagi Mala ialah memberikan ruang yang cukup untuk suaminya, ia melangkah menuju dapur dan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.


Mala tidak ingin menzalimi dirinya, walaupun sulit untuk menelan makanan yang masuk kedalam mulutnya. Akan tetapi, Mala tetap memakannya.

__ADS_1


Serasa bagaikan memakan semak berduri, sakit menusuk tenggorokan. Hal itu yang wanita itu rasakan. Namun, yang paling membuatnya merasa sakit adalah bencana apa yang sebenarnya mereka timpa sampai sang suami menjadi linglung dan tidak semangat.


Setelah sarapan, Mala membersihkan meja makan dan sekalian mencuci piring kotor. Ketika ia mencuci di wastafel, tiba-tiba saja air matanya jatuh tanpa permisi. Mala tersentak, kemudian mengusap pipinya yang basah. 


"Ya Robb, aku harap ini pertanda jika Engkau sedang jatuh cinta pada kami," batin Mala.


Sebagai Manusia, Mala hanya bisa berusaha berpikir baik terhadap apa yang menimpa dirinya dan orang-orang yang disayanginya.


Setelah selesai mencuci, Mala kembali membawa langkahnya menuju kamar. Dia ingin menemui sang suami dan putrinya. Mala yakin jika suaminya sudah lebih baik. Sebab, Mala tahu satu hal. 


Cahaya adalah penawar yang paling ampuh buat suaminya, karena selama mereka menikah. Satria tidak pernah membentaknya, kecuali jika sesuatu terjadi kepada sang putri. 


Kadang Mala cemburu melihat sikap suaminya yang sangat besar menyayangi putri mereka melebihi dirinya. Namun,  Mala mencoba melihat dengan sudut padang yang berbeda. 


Jika, apa yang suaminya lakukan adalah bentuk tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. 


Mala mendorong pintu kamar dengan pelan, dilihatnya sang suami tersenyum sambil memegang boneka putri mereka. 


Celotehan sang putri bagikan nyanyian yang menenangkan hati, Mala yakin jika suaminya akan menyembunyikan perasaannya jika bersama sang putri. 


"Main apa sih? Serius banget?" tanya Mala seraya naik ketempat tidur. Sang putri segera menghampiri dan merentangkan tangannya.


"Bu-bu," celoteh Cahaya. 


"Ko, Bu-Bu terus sih? Sekali-kali Yah-Yah dong," rengek Satria seperti anak kecil kepada sang putri. 


 "Iya Ayahku sayang, tapi Ayah janji jangan nangis ya?" Mala berbicara mewakili sang putri membuat Satria gemas dan akhirnya menghujani sang istri dengan banyak sekali ciuman.Mala sampai tertawa lepas karena kegelian.


"Hentikan, Kak!" pinta Mala yang sudah kelelahan akibat tertawa.


Setelah sang suami menghentikan aksinya, Mala menatap suaminya dengan intens. 


"Ada apa, Nur?" tanya Satria yang gemas melihat tingkah sang istri. 


"Kak, siapa yang meneleponmu tadi?" tanya Mala penuh selidik. 


Terdengar helaan nafas yang panjang dari sang suami, menandakan ada yang mengganggu pikiran suaminya itu. 


"Kalau  nggak bisa jawab? Ya, gak pa-pa 'Ko," jelas Mala yang tidak ingin membuat suaminya Kembali murung seperti tadi. 

__ADS_1


"Nur, Papi dan Mami mengalami kecelakaan pesawat," lirih Satria akhirnya menceritakan apa yang dia dengar dari polisi yang menelponya. 


Nomor yang baru yang masuk keponselnya menjelaskan jika kedua orangtuanya mengalami  kecelakaan pesawat dan belum ditemukan hingga sekarang.


Satria masih syok akan berita yang ia terima dan masih merasa semuanya seperti mimpi. 


Mala mendekati suaminya dan memeluk lelaki itu, mereka bertiga saling berpelukan meluapkan perasaan.


"Hidup dan matinya seseorang hanya ditangan Allah, Kak. Kita doa 'kan saja mami dan papi selamat dalam musibah itu," jelas Mala menguatkan suaminya agar berfikir positif.


Rencana mereka yang pagi hari ini akan menemui Pak Marcel harus berganti haluan. Satria harus ke kantor polisi guna memberikan berkas-berkas tentang kedua orang tuanya.


Karena pihak kepolisian meminta data dari kedua orangtuanya. Mala meminta izin untuk ikut. Satria pun mengizinkan sang istri untuk ikut. 


Sebab, Satria sangat memerlukan istri dan juga anaknya sebagai penguat hati. 


"Kalian sudah siap?" tanya Satria ketika mereka sudah berada dalam mobil. 


"Insya Allah, Kak," jelas Mala yang duduk disamping sang suami sambil memangku putri mereka.


"Bismillahi tawakaltu lahaula wala quata ila bilah."


Satria membaca doa sebelum menjalankan mobil, ia bertawakal kepada Allah. Menyerahkan semuanya kepada Sang Robb. Dia Yang Maha atas segalanya yang ada di dunia dan diakhirinya.


Perkara yang ada di bumi dan langit semua dalam pengetahuannya. 


"Ya Robb, kuatkanlah kami," batin Mala


Hanya berserah diri dan berdoa yang mampu  Mala lakukan. Disaat seperti inilah iman mereka sedang diuji. Mampukah mereka melewatinya? 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2