
"Di mana putriku?" tanya Satria tiba-tiba.
Udin membawa Satria menuju ke ruangan khusus yang disewa oleh Ikbal dan Marissa. Walaupun tidak sekaya dulu, tetapi orang tuanya Satria masih mampu kalau hanya untuk menyewa ruangan khusus buat cucu pertama mereka.
Ikbal dan Marissa tidak mau cucu mereka ditempatkan di ruangan khusus bayi, karena tidak ingin jauh-jauh dari malaikat kecil itu.
Satria masuk kedalam ruangan dan mengedarkan penglihatannya, ia melihat sebuah boks kaca dan ada bayi yang mungil tengah terbaring dengan damai disana.
Hati Satria terenyuh melihat buah cintanya dengan sang istri yang selama ini mereka tunggu-tunggu kehadirannya. Satria segera mendekat dan kini ia bisa melihat malaikat kecil yang dulu menghuni rahim istrinya.
"Sat, kita sholat subuh dulu," ajak Ikbal tiba-tiba membuat Satria menggelengkan kepala menolak.
"Nak, kita harus menjalankan perintah Tuhan dulu," ucap Udin menimpali.
Satria hanya menatap sekilas mertuanya itu lalu kembali menatap bayi mungilnya.
"Ayo! Sholat dulu. Sebelum kamu disholatkan!" omel Azzahra kepada Satria dan menarik menantunya itu menuju keluar.
Semua orang hanya tersenyum melihat tingkah Azzahra, Merissa pun merasa senang akan besannya yang mampu membawa sang putra tetap di jalan yang benar.
"Semoga selalu seperti ini," batin Marissa.
***
__ADS_1
Matahari mulai menampakkan cahayanya, menandakan waktu semua penghuni bumi bersiap beraktivitas seperti kemarin.
Para pengejar cinta Robb tengah tertawa bahagia menyambut hari yang cerah dan yang pasti kehadiran malaikat kecil yang tengah menggeliat-geliat lucu.
"Kamu sangat manis, Nak," ucap Satria dengan senyum yang terus mengembang melihat tingkah bayinya.
Setelah shalat subuh hingga pagi hari ini, lelaki itu tidak mau jauh-jauh dari putrinya.
Marissa mendekati putranya dan bertanya, "Sat, anak kamu mau diberi nama siapa?"
Satria menatap maminya nanar, pikirannya teringat akan sang istri yang masih belum diketahui keadaannya.
"Nanti aku tanyakan sama, Nur. Mami, titip putriku dulu," pinta Satria kepada maminya dan berlalu begitu saja.
"Mi, ayo kita berangkat," ajak Ikbal yang sudah siap dengan pakaian kantornya karena mereka akan menghadiri meeting penting.
"Pi, tunggu dulu. Kita tunggu Azzahra dan Udin, kasihan Cahaya Satria kalau ditinggal sendirian."
Ikbal terkejut akan ucapan istrinya, terlebih dengan kata 'Cahaya Satria'. Cukup lama ia diam hingga mengerti jika kata 'cahaya Satria' ditujukan kepada cucu mereka.
Akhirnya mereka menunggu kedatangan sang besan yang tadi pergi mencari sarapan agar ada yang menjaga Cahaya Satria.
Setelah kedatangan dua orang tersebut, mereka berpamitan karena ada meeting dan menitipkan Cahaya Satria.
__ADS_1
Udin dan Azzahra saling menatap ketika besannya itu pergi, bukan masalah mereka yang ingin meeting akan tetapi dengan sebutan 'Cahaya Satria'.
"Sepertinya sebentar lagi cucu kita akan Tasmiyah," ucap Udin sambil terkekeh.
"Iya Mas, sepertinya anak Mala memang membawa Cahaya buat Satria. Bukan hanya Satria, akan tetapi kita semua," balas Azzahra sambil tersenyum.
Namun, kehangatan yang baru mereka rasakan harus lenyap seketika karena kabar yang membuat hati siapapun menjadi sesak.
"Mohon maaf, Pak, Bu. Tolong ke ruangan Dokter Aditiya, karena sepertinya Ibu Mala mengalami sedikit masalah," jelas seorang suster yang menghampiri mereka.
Tubuh pasangan suami istri itu membeku seketika.
"Ujian apalagi ini?" batin Udin dan Azzahra.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1