
"Kamu tega, Kak!"
Mala berlari keluar membawa tangisnya menuju dapur, entah kenapa? Perasaannya sangat sakit ketika suaminya membentak atau mengeluarkan kata-kata kasar terhadapnya.
Kecewa dan sesak di dadanya membuat wanita itu hanya mampu menangis sambil duduk di meja makan. Dia bingung kenapa dengan dirinya yang kini sangat lemah dan mudah sekali menangis. Padahal ia telah membentuk kepribadian yang kuat dari dulu, akan tetapi semua itu lenyap selama menyandang status seorang ibu dan istri.
"Apa seberat ini menjadi wanita? Kalau boleh memilih, aku ingin menjadi lelaki saja," lirih Mala dengan isak tangisnya.
Salahkah jika seorang ibu rumah tangga dan seorang istri mengeluh? Menanyakan dimana letak keadilan di mana seorang suami hanya memikirkan bagaimana mencari nafkah, sedangkan seorang istri harus mengurus semuanya. Dari anak dan suami, ditambah mengurus pekerjaan rumah tangga.
Lelah, kata itu yang mampu menggambarkan apa yang kini tengah rasakan. Sekuat-kuatnya seorang wanita dia juga mempunyai perasaan, ada kalanya mereka jenuh dan ingin beristirahat sejenak dari semua rutinitas yang sangat melelahkan.
"Aku tahu, jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik."
Kini pikiran Mala tengah dilanda oleh hasutan dari syaitan, di saat perasaan sedih dan merasa tidak berarti menghampiri diri seseorang. Maka, tidak jarang bunuh diri menjadi jalan yang mereka pilih. Semua sebab, menipisnya iman.
"Nur," panggil Satria seraya menghampiri sang istri.
Satria tahu ia salah karena telah membentak istrinya, akan tetapi akibat emosi yang menguasai diri sampai lelaki itu lepas kendali.
"Aku tahu, Kak. Aku bukan istri yang baik dan tidak pantas menjadi Ibu buat Cha-Cha," lirih Mala sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Satria mendekati istrinya itu sambil menggendong sang putri yang sudah lebih tenang.
"Tidak ada Manusia yang sempurna selain baginda Rasulullah, Nur. Kamu hanya bisa berusaha memperbaiki sikap, itu saja," jelas Satria seraya duduk didampingi sang istri.
"Aku tahu, Kak. Tapi, ada 4 kategori wanita yang baik untuk dijadikan istri," jelas Mala seraya mengusap wajahnya yang telah basah dengan air mata, lalu menatap sang suami.
"Nur---."
"1. Lihat nasabnya, 2. Lihat ilmunya, 3. Lihat akhlaknya dan terakhir lihat dari hartanya," jelas Mala yang memotong ucapan sang suami.
"Dan keempatnya ada pada dirimu," ujar Satria seraya tersenyum.
Namun, sang istri menggelengkan kepala menolak asumsi sang suami.
__ADS_1
"Ilmuku kurang, Kak. Aku belum bisa menjaga Cha-Cha dengan baik."
Mala tahu dimana letak ketidak mampuannya, yaitu minimnya ilmu tentang bagaimana menjaga sang buah hati. Bukan sekali ini saja, Mala membuat putrinya celaka. Keteledorannya dalam menjaga sang putri dan sudah beberapa kali membuat anaknya itu mengalami lecet.
Ada penyesalan yang menyeruak di dalam hatinya, sebagai seorang ibu. Mala tentu akan merasakan perasaan sakit ketika melihat buah hatinya mengalami musibah apa lagi itu terjadi karena ulahnya.
"Nur, kamu hanya perlu berusaha lebih memperhatikan keadaan. Kalau kamu kesulitan dalam menjaga rumah dan Cha-Cha? Kita cari orang yang bisa membantumu," jelas Satria memberi jalan keluar. Sebab, sebagai suami Satria paham tidak akan mudah mengurus semuanya seorang diri. Bahkan Satria pun memerlukan tenaga karyawan untuk membantu usahanya supaya bisa berjalan dan berkembang hingga sekarang.
"Aku ingin ada, Umi disini," lirih Mala. Dia hanya ingin ada sang umi disisinya, sebab hanya uminya yang mengerti dengan setiap apa yang tengah dihadapi dan bisa memberikan solusi yang dibutuhkan.
Sebab, kebanyakan orang hanya akan merendahkan dan menganggap remeh apa yang tengah Mala rasakan. Hal itu Membuatnya tidak pernah mau bercerita ke siapapun kecuali orang tuanya dan sang suami.
"Nur, kita bukan anak-anak lagi. Sekarang kita sudah punya anak, kamu juga tidak boleh terlalu melibatkan Umi. Kasihan beliau, sejak kamu kecil mengasuh dan menjaga kamu. Sekarang minimal jangan buat Umi kesulitan lagi," jelas Satria yang tidak ingin sang istri menjadi anak yang durhaka, sebab membebani sang umi. Walaupun Satria tahu jika ibu mertua nya itu tidak akan pernah merasa direpotkan sama sekali.
"Bu-Bu… ."
Mala dan Satria segera menatap sang putri, Satria sampai menganggat tubuh putrinya dan mendudukkan balita itu diatas meja.
"Kamu bilang apa tadi, Cha?" tanya Satria gemas dengan tingkah sang putri yang tidak bisa diam.
"Cha-Cha, tidak boleh seperti itu," pinta Mala seraya mengalihkan tubuh sang putri untuk menghadap ke arahnya.
"Nur, kamu ingat 'kan? Jika, aku bilang jangan pernah bilang terhadap Cha-Cha," jelas Satria pelan supaya istrinya tidak terlalu merasa sedih lagi.
Sebagai suami, Satria memiliki tanggung jawab yang besar terhadap anak dan istrinya. Maka dari itu, Satria sering memperingatkan sang istri agar mengurangi berbicara dan lebih banyak geraknya saja.
Apalagi yang mengangkut tentang sang putri, kata seperti 'tidak boleh'. Tanpa, adanya penjelasan bisa membuat mental putrinya dalam ruang lingkup ketakutan.
Membuat motorik halus sang anak akan terganggu, sebab adanya perasaan mengganggu dari kata 'tidak boleh'.
Mala yang teringat akan hal itu hanya mampu membuang nafas panjang, ia tahu jika apa yang disampaikan oleh suaminya pasti sesuatu yang memiliki makna dan maksud yang baik.
"Maaf, Kak," lirih Mala. Sebenarnya ada kala dimana Mala sebagai seorang istri tidak ingin ditegur.
Wanita sebagai makhluk yang sensitif, memiliki perasaan yang mudah tersinggung dan menangis. Namun, bagi Mala yang belum menyadari hal itu menjadikan wanita itu sulit untuk beradaptasi.
__ADS_1
"Sudahlah, Nur. Kamu tidak bersalah, cuma aku minta agar jangan menangis didepan Cha-Cha. Aku cuma takut nanti putri kita mengira jika aku menyakiti Bundanya ini."
Mala menatap suaminya dengan nanar, walaupun Mala tahu apa maksud dari ucapan sang suami. Namun, Mala teringat akan celotehan sang putri yang sudah mulai memanggil namanya.
"Kak, Kakak dengar 'kan! Tadi, Cha-Cha menyebutkan Bu-Bu?" tanya Mala mengalihkan pembicaraan.
Satria mengangguk menanggapi ucapan sang istri, sebab ia juga mendengar apa yang diucapkan sang putri.
"Apa Cha-Cha akan segera berbicara?" tanya Mala penasaran.
Satria tersenyum mendengar asumsi sang istri, kemudian menjelaskan tentang proses yang dilalui oleh putri mereka.
Usia Cahaya yang memasuki satu tahun lebih, memang sudah mulai banyak berceloteh walaupun belum jelas. Namun, itu pertanda jika masa pertumbuhan seorang anak seusia Cahaya memperlihatkan pertumbuhan yang baik.
Satria juga menambahkan jika, hal itu membuat mereka sebagai orang tua harus bisa menjaga lisa. Supaya apa yang nanti didengar oleh sang putri bisa disaring dengan baik.
"Anak adalah mesin fotocopy yang canggih, Nur! Jadi, apa yang didengar itu yang akan diikutinya nanti. Makanya kita contoh 'kan kata-kata yang baik. Terlebih penting Bundanya nggak boleh cengeng."
Wajah Mala cemberut mendengar nada ejekan dari ucapan suaminya. Walaupun ia tahu apa yang dikatakan oleh sang suami adalah kebenaran. Akhirnya mereka tertawa bersama, sebab sang putri yang ikut berceloteh seolah menimpali apa yang mereka bicarakan.
"Sudah, ah… , ayo kita makan," ajak Mala menyudahi kerecohan mereka.
"Nur, aku ingin meminta izin sama kamu," pinta Satria dengan wajah serius membuat sang istri menjadi tegang.
"Apa itu?"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1