
...Setelah puas menemani sang Mami di RSJ, Satria mengajak sang istri untuk pulang. Sebenarnya Satria ingin sang Mami ikut mereka pulang, namun wanita itu menolak keras dengan alasan....
"Biarkan Papimu yang jemput Mami," ucap Marissa bersikukuh ingin tinggal di RSJ.
"Baiklah, tapi jangan berulah lagi. Mami buat Satria khawatir terus setiap meninggalkan Mami," pinta Satria sambil menatap sendu sang Mami.
"Iya ..., kamu jagain istri kamu aja. Lagian kenapa kalian belum punya beby?" tanya Marissa heran. Padahal Putranya sudah menikah cukup lama menurutnya, tapi kenapa belum ada tanda-tanda ke hamilan sang istri.
"Itu---, "
"Anak itu amanh dari Allah, Mi. Jadi, kita harus membujuk Sang Robb agar mau memberikan kepercayaan-Nya."
Satria segera memotong ucapan sang istri, dan menjelaskan bahwa mereka tidak bisa memaksa kehendak Sang Robb.
"Ya, tapikan---,"
"Mi, kami pulang dulu ya? Sudah sore, nanti takut kemalaman."
...Lagi-lagi Satria memotong pembicaraan yang nantinya bisa memicu perperangan antara sang Mami dan Istri. ...
"Kalian ...!"
...Marissa sangat kesal dengan sang Putra yqng selalu menghindar jika dia menanyakan perihal keturunan....
"Ayo, Nur. Mami juga harus banyak istirahat," jelas Satria sambil mengandeng sang istri dan mencium punggung tangan sang Mami sebelum berlalu.
"Sat, kamu tega!" lirih Marissa yang melihat kepergian sang Putra.
"Makanya, Mami cepat keluar. Betah baget di sini?" ejek Satria di ambang pintu.
"Dasar anak durhaka!" teriak Marissa kepada sang Putra yang sudah menghilang di balik pintu.
"Maafkan Mami, Sat!" batin Marissa menyesal.
.
.
.
...Setelah keluar dari RSJ dan masuk ke rumah, Satria banyak diam. Hingga selesai solat isya dan makan malam pun, tidak ada pembicaraan yang di lontarkan mulut Satria sampai masuk ke dalam kamar. Sebenarnya hati Satria hancur, sebab dia tahu rahasia besar yang ke dua orang tuanya semunyikan....
"Kak,"
...Mala tidak tahan dengan sikap diam sang Suami, bahkan Suci sekalipun memilih menghindari mereka karna takut jadi kambing hitam. ...
"Apa?" tanya Satria sambil menatap sang istri yang mulai naik ke tempat tidur.
__ADS_1
"Kakak, kenapa?" tanya Mala sambil menempelkan telapak tanggannya di dahi sang Suami.
"Aku enggak demam, Nur."
...Satria heran melihat tingkah abstrak sang Istri. ...
"Apa mungkin kakak, salah makan obat?" tanya Mala binggung dengan sikap sang Suami yang berubah setelah dari bertemu sang Mami.
"Kamu ada-ada saja," jawab Satria dengan senyum kecut.
"Kakak, kenapa? Aku serus kak, aku istri mu. Mungkin orang lain bisa kamu bohongi, tapi aku tidak. Sebab aku tahu luar dalam kamu."
...Satria hanya tersenyum menangapi ocehan sang Istri. ...
"Kak, aku serius. Jangan ada dusta di antara kita," ucap Mala sambil menatap nanar sang Suami.
"Yaelah, Nur. Kamu tahu luar-dalam aku? Karna kamu yang menikmatinya," balas Satria sambil tersenyum menggoda sang Istri.
"Aku enggak main-main, kak. Ceritakan apa yang menganggu pikiran, kakak?"
...Satria menelan silvernya kasar melihat tatapan sang istri yang menandakan keseriusan dalam ucapannya....
"Aku anak HARAM, Nur," lirih Satria tidak kuasa menahan sesak di dada jika dia mengingat hal itu.
"Anak haram?" tanya Mala binggung.
"Mana ada anak haram, kak?" jelas Mala sambil mengusap lengan kekar sang Suami.
"Ada, ya aku!" tambah Satria.
"Dari segimana? Aku enggak paham," tanya Mala mencari duduk-perkaranya.
"Aku bukan anak kandung Papi Ikbal,"
...Mala masih menatap nanar sang Suami, menunggu kelanjutan cerita yang sepertinya beban yang sangat berat....
"Mami hamil duluan dengan pacarnya, lalu Papi Ikbal yang menikah Mami karna permintaan Almarhum Opa."
...Sesak rasanya dada Satria menceritakan hal itu kepada orang lain. Walau pun istri sahnya sendiri, seperti ada pisau yang merobek jantungnya. ...
"Terus?"
"Terus ..., aku anak haram artinya ..., terlahir sebelum pernikahan yang sah," jelas Satra sambil mencubit gemas hidung sang istri. Terkadang Satria suka dengan gaya sang istri jika serius.
"Itu namanya bukan anak haram, kak? Anak yang lahir ke dunia itu fitroh (suci) tanpa dosa. Tetapi, perbuatan orang tuanya yang haram. Hukum perbuatannya, bukan orangnya. Manusia tempat hilaf dan salah, akan tetapi jika dia bertobat dan membali ke jalan yang Allah Ridhoi. Mereka akan menjadi hamba yang di cintai sang Robb. Karna tangisnya pendosa lebih di cintai Allah dari pada sombongnya orang ahli ibadah."
...Satria hanya mampu tergugu mendegar penjelasan panjang sang istri, terkadang istrinya sangat tepat menampar seseorang dengan kata-kata mutiaranya. Walau kebanyakan abigu yang selalu membuat Satria kesal, namun ada kalanya sang istri menjadi pengingat akan cinta yang mereka kejar. Hakikat cinta itu sendiri kepada sang Robb. ...
__ADS_1
"Kak, siapa Ayah kandungmu?" tanya Mala tiba-tiba membuyarkan lamunan sang Suami.
"Kamu mau tau?"
...Mala mengagguk menagapi ucapan sang Suami. ...
"Tapi, jelaskan dulu tentang hukum anak haram tadi. Ada bagian yang aku belum pahami," jelas Satria yang ingin menguatkan hatinya untuk menghadapi ujian yang akan sang Robb berikan nanti.
"Kakak, bukan anak HARAM! Kakak, disebut anak ZINAH. Sebab kakak, terjadi sebelum akad nikah yang sah."
"Aku mau tanya, sebelum menyimpulkan. Kakak, ketika Mami menikah dengan Papi dalam keadaan mengandung berapa bulan? Sebab pernikahan Mami dan Papi tidak SAH, karna seharusnya Mami melahirkan kakak dulu. Jadi, setiap mereka behubungan badan itu bisa jatuh hukumnya ke pada zinah."
...Satria mengangguk-angguk mencerna ucapan sang istri. Dia teringat akan pesan Ustadnya ketika di pondok persantren tentang hukum dalam pelajaran fiqih. ...
"Aku enggak tahu, Nur? Sebab sampai sekarang jika aku menanyakan hal itu. Baik Mami atau Papi akan menghindar, sama seperti tadi di RSJ. Mami tidak menjelaskan tentang siapa yang menemuinya. Tetapi aku curiga itu Ayah kandungku, sebab wajahnya blasteran seperti aku."
...Mala tersenyum geli mendegar penuturan terakhir sang Suami. ...
"Emang, kalau blasteran pasti Ayah kandung kakak? Kayak paling tampan aja ya?" tanya Mala sambil menaik-turunkan alisnya menggoda sang Suami.
...Satria menghirup nafas kasar, terkadang sang Istri paling pintar menjatuhkan perasaan orang. Dari yang sedih menjadi senang, dari yang kesal menjadi semakin sayang. ...
"Nur, aku lahir dan di besarkan oleh Mami dan Papi. Jadi, aku sudah hafal bahkan hatam sama tabiat mereka. Aku yakin orang yang menemui Mami adalah Ayah kandungku," jelas Satria sambil menunggu reaksi apa yang akan istrinya tunjukkan.
"Kalau begitu, kenapa tidak kakak selidiki?"
...Satria terasa di tampar oleh pertanyaan sang istri. Dia hanya bernuram-juna atas apa yang terjadi tanpa mencari solusi menarasa telah kalah star dari istrinya yang abigu jika berbicara....
"Kakak, mau ke mana?" tanya Mala binggung melihat sang Suami yang bangun dari posisi berbaring dan menuju sova lalu membuka leptop miliknya.
"Mau mencari Ayah kandungku?" balas Satria sambil membuka emailnya untuk melihat ulang vidio rekaman CCTV di RSJ sang Mami.
"Untuk apa?"
"Aku ingin mengatakan kepadanya kalau aku anak Zinah, bukan anak HARAM!"
"Emang, apa perduli Dia terhadap kakak?"
Deg ....
.
.
.
...Bersambung .......
__ADS_1
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*