
Pak milikku belum kering" Lirih Satria.
"Ya bapak tahu kamukan sunatnya diam-diam tapi kalau pernikahan kalian harus terang-terangan" Ucap pak Udin sukses membuat dua anak manusia itu menelan silvernya.
Di rumah Nenek Aisyah keadaan masih ramai akan keluarga yang datang mengisi tahlilan tiga malam untuk sang Almarhum.
Berhubungan Satria yang masih susah berjalan karna masih belum kering luka jahitannya pak Udin dan Mala memutuskan meninggalkan pemuda itu di rumah.
...***...
"Kan gak lucu kak kalau orang tanya kenapa kakak jalan kayak gitu"
Ucap Mala yang kesel akan calon suaminya yang memaksa ingin ikut.
"Tapi aku takut Nur" Lirih Satria.
"Pak kenapa dokternya gak potong habis, sekalian operasi jadiin perempuan aja" Ucap Mala kepada sang bapak.
...***...
Mala sudah memaafkan semua kesalahan bapaknya, rugi rasanya memelihara dendam dalam hati hanya merusak pikiran dan hatipun akan menjadi kotor.
Mala tau ada sesuatu yang membuat bapaknya melakukan semua itu biarlah waktu yang menjawab semuanya.
"Kamu memang tega Nur, pak lihat kelakuan putrimu" Adu Satria.
"Semuanya demi kebaikan kamu nak"
Jawab pak Udin ia binggung belum berumah tanga aja udah sering cek cok.
...***...
Terima atau tidak Satria tetap di tinggal sendirian dirumah mau marah tapi gak bisa, kalau ia tetap pergi nanti bikin malu keluarga masak iya mau nikah baru mau di sunat gak lucu pikirnya.
...***...
Anak dan bapaknya itu berjalan kaki kerumah almarhum sang Nenek yang memang tidak terlalu jauh dari rumah pak udin hanya berbeda beberapa gang saja.
Suatu hal ajaib bahkan bisa dimasukkan dalam keajaiban dunia itu yang ada dipikiran orang yang melihat kearah mereka.
Bukan tanpa sebab kebanyakan orang disekitar situ hanya mengetahui bahwa mang udin itu duda yang ditinggal mati istrinya.
Bisa viral lah melihat duren itu jalan sama anak gadis yang mereka tau kalau mang udin sosok yang ramah tamah.
"Mala"
Lirih sang bapak yang merasa risih akan tatapan orang terhadap mereka sambil berbisik-bisik.
"Jalan cepat aja aku ingin cepat sampai di rumah nenek"
Ujar Mala yang sudah membaca kondisi yang terjadi.
Namun gadis itu cuek bebek aja, karna dia selalu teringat akan kata-kata sang kakek.
"Jangan dengarkan omongan orang yang membencimu tapi dengarkanlah ucapan orang yang menyayangimu."
Intinya Mala tidak mintak makan kepada mereka jadi biarkan aja mereka sibuk akan penilaian mereka sendiri hanya buang-buang waktu menangapi ucapan mereka pikirnya.
...***...
Ketika didepan rumah sang nenek Mala bingung ko gak ada si Dog kemana anjing dengan 3 kaki yang selalu diikat itu.
__ADS_1
Mala masuk kedalam rumah sang nenek bersama sang bapak yang membuat semua mata tertuju kepada mereka.
"Assalamualaikum"
Ucapan salam Mala menyadarkan mereka yang ada disana.
"Ngapain kamu kesini? Tidak ada pembagian harta warisan untukmu"
Ucap abi Aziz merendahkan Mala dan bapaknya.
Pak Udin sangat geram tapi dia hanya diam karna tahu posisinya di dalam rumah itu.
Mala mendekat kearah abinya itu yang membuat sang abi mundur.
"Duggg..."
Suara kepalan tangan Mala sukses mendarat di bibir bawah abi Aziz yang membuat lelaki itu naik pitam.
"Dasar anak sialan" Maki abi Aziz.
"Jaga bicara mu Ziz"
Ucap pak Udin sambil menatap tajam suami Azzahra itu.
Mala mengangkat tangannya seolah menyuruh sang bapak untuk diam.
"Oh jadi begini cara ustad Aziz menyambut keponakan istrinya, ternyata Akidah Akhlak yang beliau sampaikan di Madrasah tidak di terapkan dalam kehidupan pribadinya" ejek Mala.
Kata-kata Mala sukses membuat para ibu-ibu disana berbisik mencela sikap Aziz yang membuatnya pergi menjauh dari sana.
Meladeni Mala bisa mendatangkan malaikat maut pikirnya.
Setelah kepergian abi Aziz Mala mengajak sang bapak duduk lesehan di lantai dan mengambil buku Yassin, dia memandang ibu-ibu disekeliling yang dia tahu adalah ibu -ibu pengajian yang selalu diikuti oleh sang nenek semasa hidupnya.
Ketika sang bapak sudah duduk disampingnya Mala menepuk palan paha sang bapak yang langsung menatapnya.
"Aku bisa menjaga diri sendiri jadi bapak tidak usah repot membela Mala" Ucapan sang anak membuat pak Udin hanya mampu diam seribu bahasa.
...***...
Setelah tahlilan dan makan bersama para ibu-ibu itu pergi meninggalkannya rumah duka.
Tidak berselang lama abi Aziz datang dengan adik kandungnya ia ingin membalas perbuatan Mala.
"Ehh... Mang Udin sebaiknya kalian pergi dari sini karna gak ada yang ngundang kalian kesini" Ucapan pedas Aziz berhasil membuat suasana memanas.
Mala mendekat membuat abi Aziz mundur dan menjadikan Fatimah sebagai tamengnya.
"Mau apa kamu?"
Ucap Fatimah gugup dia tahu berangai keponakan masnya itu.
"Saya hanya mau memberitahu kalau mau menikah dalam waktu yang akan dekat"
Ucap Mala sambil menatap kakak beradik itu bergantian menunggu seperti apa reaksi mereka.
"Oohhh..."
"Jadi begini kelakuan putri Azzahra, kamu hamidun kan? "
Jawab Fatimah menunduh Mala membuat gadis itu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Buggg..... "
Fatimah sampai terjatuh menerima bogem mentah Mala tepat di perutnya, gadis itu tidak pernah main-main kalau ingin menyakiti seseorang.
"Apa yang kau lakukan Mala?"
Aziz syok melihat sang adik tekapar akibat serangan Mala.
"Jangan macam-macam dengan Mala, dia itu pemegang sabuk hitam karakte"
Ujar Azzam sambil menatap sinis abi dan tantenya.
Jujur saja Azzam sangat kesal sama mulut tantenya itu yang selalu nyengir dan membuat abi/uminya perang dingin setidaknya dia merasa terbalaskan sakit hatinya setelah melihat Mala melakukan kekerasan kepada tantenya.
"Rasain, emang enak ditonjok Mala itulah akibat mulut yang seperti tidak pernah mengucap qalam Allah aja" Batin Azzam merasa sangat senang.
Abi Aziz menatap putranya tajam dia sangat kesal akan anaknya itu yang seperti membela Mala.
"Pergi kalian dari sini, kalian tidak akan mendapatkan apa -apa jangankan harta warisan, restuku pun tak akan aku berikan" Ucap abi Aziz penuh penekanan.
"Kami kesini tidak ingin meminta warisan apa lagi doa restu anda, kami hanya ingin memberitahu saja sapa tau anda berminat untuk menyumbang suara merdu anda"
Ucap Mala mengejek abinya itu.
"Dasar anak sialan, wajar saja ibumu memilih mati dari pada hidup, mempunyai anak seperti mu hanya membawa petaka"
Ucapan abi Aziz suskes membuat pak Udin yang hanya diam menatapnya tajam.
Kalau tidak mendapatkan peringatan dari sang putri mungkin dia akan ikut menghajar suaminya Azzahra itu.
"Ooohhh... "
"Begitu jadi kenapa waktu aku bayi anda mau memelihara anak pembawa sial yang menjadi mencana dalam hidup anda sendiri"
Sindiran Mala membuat abinya itu naik darah.
"Itu semua aku lakukan hanya karena ingin membahagiakan istriku yang kasihan padamu" Kilah abi Aziz.
"Umi Azzahra menyayangiku bukan mengasihaniku" Balas Mala.
Aziz membuang nafas kesal apa yang diucapkan Mala adalah kebenaran yang membuatnya mati kutu.
"Jangan percaya diri kamu anak sialan, aku benar-benar menyesal mengizinkan masku memungut mu"
Ucap Fatimah yang tidak terima dengan kepercayaan diri Mala itu.
"Apa yang kalian ucapkan?"
Semuanya memandang sang pemilik suara, abi Aziz tegang melihat siapa pemilik suara itu.
Siapa ya kira -kira? 😏😏
.
.
.
...bersambung......
*setelah baca wajib like and comen ya😇*
__ADS_1